Aku berdiri di sisi ruangan besar ini dengan napas tersengal-sengal, aku sudah berlari mengelilingi ruangan besar dan mewah ini.
Tetapi belum juga mendapatkan jalan keluar, semua pintu ditutup dengan rapat membuat aku kesulitan mencari jalan keluar
Informasi sudah ditangan, tetapi jalan keluar sangat sulit di cari.
"Naura ... Naura keluar kamu!"
Aku tidak tahu lagi harus bagaimana?
Lelaki jahat itu, pasti akan membunuhku jika aku tertangkap.
Akut tidak mau terbunuh disini hanya karena sebuah informasi.
Ku genggam erat flashdisk berisi informasi tentang lelaki yang memanggil-manggilku itu.
"Itu dia, tangkap jangan sampai lolos!"
Mereka melihatku, dengan sigap aku berlari menelusuri ruangan besar ini.
Dor!
Dor!
Suara tembakan menggema ke seluruh ruangan megah ini, aku berusaha mengelak dan tetap berlari.
Kenapa misi kali ini terasa sangat berbahaya. Harus mengahadapi lelaki kejam, licik dan beribu akal yang membuat lawan takluk dengan mudah saat ia sudah turun tangan.
Aku terhenti.
Aku berdiri di balkon, dengan kepungan anak buah lelaki itu.
Aku sedikit memikirkan cara agar orang-orang itu bisa aku kalahkan.
Aku melawan semua anak buah Erik, dan membuat jebakan agar Erik dan lainnya tidak bisa mencariku dengan waktu yang cepat.
Bugh! Bugh!
Aku tertonjok dibagian wajah 2 kali, dan sebuah pisau tajam mengarah ke perutku, dengan sigap aku mengelak tapi naasnya pisau pengawal itu terkena lenganku. Lenganku mengeluarkan banyak darah segar, aku meringis merasa sakit.
Ku ambil pistol salah satu dari mereka yang sudah jatuh, dan menembak semua anak buah Erik tanpa ampun.
Dor!
Dor!
Dor!
Dan menghapus semua jejak yang sudah aku tinggalkan pada benda-benda ataupun tubuh pengawal Erik.
Aku kembali berlari mencari pintu keluar sebelum Erik datang lagi bersama anak buahnya yang lain, dengan tangan dan kaki yang sudah berdarah dan sakit. Akhirnya, pintu itu sudah terlihat aku berlari dengan sejengkal harapan selamat dari tempat berbahaya ini dan membawa uang untuk Ibu yang sangat aku cinta.
Pintu ruangan ini terlihat otomatis, alarm akan berbunyi jika aku menyentuhnya. Aku mencari laptop yang sudah aku letakan dibawah kursi saat tadi aku datang.
Setelah menemukan laptop itu aku mencoba untuk mengambil ahli keamanan pintu itu dengan meretas sambungan laptop ke pintu.
Akhirnya pintu itu terbuka setelah beberapa menit aku mencoba membobol ketahanan pintu itu, aku keluar dari ruangan yang mengerikan itu dengan perasaan lega.
Baru saja merasa lega, tetapi Erik dan semua anak buahnya datang dan menembak kedua kakiku, aku tergeletak tak sadarkan diri.
Sebelum benar-benar pingsan aku merasa ada seseorang yang mengangkat diriku dan banyak suara pertikaian. Sepertinya bala bantuan dari markas sudah datang dan menyelamatkan aku.
Aku bersyukur aku masih hidup dan membawa banyak uang untuk pengobatan ibuku yang terbaring lemah di rumah sakit, ini adalah misi terakhir karena uang terlahir ini akan menjadi operasi terakhir ibu agar sehat dan bisa berkumpul denganku lagi.
TAMAT.