Pagi itu, suasana tak seperti biasanya. Ayah yang biasa ke kantor tidak pernah menyuruh ibu untuk mengambilkan barang bawaannya.
Terasa aneh bagi ku yang usiaku berumur 6 tahun.
Kakak ku laki-laki berumur 10 tahun.
Ayah:"Buk, ambilkan tas ayah dimeja. "
Ibu:"Iya yah. "
Tamara:"ibu, kenapa ayah minta tolong? biasanya sendiri bu. "
Ibu:"Ayah lagi terburu-buru dek. "
Tamara:"Ihhh ayahh jangan cubit pipi ara, nanti pipi ara tambah gendut yah. "
Gatan:"Ihhh gemesnya punya adek comel satu ini. "
Tamara:"Ibu,,, kakak Nakal. "
Ibu:"Gatan,,, no kak. Jangan jaili adek lagi. "
Ayah:"Gatan, besok kalau besar jadi seperti ayah mau? "
Gatan:"Mau dong yah, Gatan akan lindungi adek dari orang jahat yah, gatan akan tembak orang yang jahat itu yah. '
Tamara:"Ara, ingin seperti ibu, Jadi Guru. "
Ibu:"Iya adek, jadilah apa pun yang adek mau. asal tetap pada jalurnya dek. "
Tamara:"Ara sayang ibu sayang banget, ara jadi ikut ibu kerja ya? "
Ibu:"Iya sayang, ibu juga sayang kalian."
Ayah:"Udah ayok nanti Ayah telat lho. "
Tamara:"siap ayah, wekkk kakak sendiri dirumah. "
Gatan:"Biarin wekk, kakak bisa nonton TV tanpa adek ganggu. "
Mereka telah selesai siap-siap. Mereka memilih menggunakan motor. Kebetulan Ibu pingin naik motor. Di sepanjang jalan menuju sekolahan ibu.
Ibu banyak berpesan pada Tamara.
Ibu:"Dek kelak jadilah wanita tangguh. Jadilah Wanita yang kuat, pemberani.Jadi apa pun nanti kamu dek, ibu yakin adek bisa lalui rintangan itu semua.
Tamara:"Iya ibu ara akan ingat pesan ibu. Ara sayang ibu. "
Ibu:"Andai kamu tau nak, perasaan ibu hari ini tidak enak sekali. "batin ibu.
Dan tiba dari arah belakang ada bus, Dilihat dari kaca spion Ayah bus itu hilang kendali rem blong mungkin. Ayah nampak khawatir.
Tiba-tiba ibu melepas helem dan dipakekan ke ara.
Ibu:" Dek apa pun yang terjadi adek pengang tangan ibu, peluk ayah kuat-kuat. "
Tamara:"Emng ada apa sih bu? kenpa helem ibu dipake ara? Ibu gerah ya? "
Sebelum terjawab motor yang dikendarai ayah tertabrak bisa tadi.
Brak.... tabrakan beruntun pun terjadi.
Ara yang masih ingat kata-kata ibu.
Aya berpeganan erat ke jari ibu.
Ibu dan ara terpental agak jauh. Dengan posisi ara di dekap ibu. Ayah terhimpit motor satu dengan motor yang lain.
Tamara mengalami luka lecet-lecet dibagian pungggung kaki tangan.
sedangkan ibu kepala membentur aspal.
Darah di mana-mana.
Tamara:"Ibu,, ibu,, sakit bu sakit kaki ara. hick hick ayah ayah. "
Ibu:"Ara ingat pesan ibu nak, Ibu sayang ara kak Gatan dan Ayah. "
Seketika itu ibu tidak sadarakan diri.
Tamara:"Hick hick hick ibu ibu jangn tidur ibu. "
Isakan tangis itu berhenti karena ara pun taksadarkan diri.
Semua orang berhenti menolong kecelakaan beruntung itu.
Siap komandan laksanakan. kecelakaan menimpa anggota kita komandan. Pelaku melarikan diri komandan. laporan itu masuk dalam surat kabar.
Malam hari ayah dan Ara sudah sadarkan diri kaki dan tangan ayah dan ara terbalut perban.
Tit tit tit tittttttttttttttttttttttttttt...........
Bunyi alat yang terpasang di tubuh ibu berhenti.
Tamara:"Ibu... Ibu... ara mau ikut ibu. jangan tinggalkan ara itu. "
Gatan:"Ibu bangun ibu bangun. "
Pagi itu menjadi pagi terakhir bersama ibu. Ayah yang tak biasanya manja, seolah -olah menjadi pertanda, Pesan-pesan ibu ke ara, seolah itu pesan terakhir.
Dan benar pesan itu yang terakhir buat ara.
Keesokan harinya ibu dimakam kan.
sanak saudara berdatangan. memberi ucapan turut berduka cita.
Karangan bunga dari SD, dari polsek, polres, polda. ikut mengucapkan turut berduka cita.
Tatapan ara kosong.
Andai helem itu tak ibu berikan pada ara. ibu tak akan pergi tinggalin ara,
🌼🌼🌼🌼🌼
hari berganti minggu, minggu berganti tahun.
Tak terasa Gatan sudah menjadi seorang polisi seperti ayah.
Dan hari ini Tamara wisuda S1 nya.
Nampak murung.
Tamara:"Ibu,, adek berhasil tahap 1 bu, Masih ada anak tangga lagi yang harus ara naiki."
Gatan:"Dek, yuk bentar lagi dimulai, hapus air matamu. kamu mirip sekali dengan ibu dek. "
Yaa ara tumbuh menjadi gadis yang pendiam, tidak banyak bicara.
Tamara:"Ibu ara akan jadi Guru, ara ingin seperti ibu. membimbing anak-anak menjadikan mereka bisa. "
Ara berfoto bersama keluarga.
Ara tetap menggenggam erat bingkai foto ibu diwisuda itu.
Tamara:"Ibuuuu.... (sambil melempar topi wisuda nya berterik, Ara kangen ibu, ingin peluk ibu. Ara dapat nilai IPK 3,80 ibu. Ara terjatuh tersungkur di tengah lapangan. Teman-teman yang tau kisah ara mereka berlari mendekat, mendekap erat tubuh ara bersama-sama. seakan akan menyalurkan kekuatan bagi ara. Terlihan di sebrang sana kakak dan ayah ara yang menggunakan atribut lengkap kepolisian melambai dengan senyuman.
Mereka berkata, Kamu berhasil dek, kamu berhasil.
jadilah kebanggaan kami. Nilai mu tertinggi dek.
Tamara:"Terimakasih ibu, pengorbanan mu tak cukup sampai engkau mempertahankan aku untuk lahir kedunia ini. engkau berkorban nyawa untuk ke duavkalinya bu. Sekarang giliran ara yang akan berjuang ibu, akan ku ingat pesan ibu. Ara akan jadi perempuan tangguh, ara janji bu ara janji.
Bahagialah disana ibu. Tuhan samapikan salam rindu ini untuk ibu.
Aku sayang ibu, rindu ibu.
Tamat