𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗿𝗶𝗻𝗱𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗿𝗴𝗶. 𝗞𝗮𝘂 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗶𝘀 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝗵𝗮𝗿𝗶, 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗱𝗶𝗿𝗶𝗸𝘂 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶.
#Ceritadia By.Eouny Jeje
***
Rumah Kontrakan Baru
Setelah menempati kontrakan baru. Aku selalu di ganggu mahluk kasat mata. Dari suara orang mennagis, suara benda jatuh, bahkan lintasan bayangan yang terlihat mengintipku. Aku awalnya hanya berpikir jika dia hanyalah sosok penghuni rumah kontrakan.
Namun, mahluk kasat mata itu tidak bisa menakutiku. Karena, aku sudah terbiasa mampu melihat dan berbicara dengan para arwah. Bagiku, mereka adalah sahabat dari dunia lain.
Hanya saja, sosok ini terlihat sulit bersahabat. Dia lebih condong berusaha menakut-nakutiku daripada berkomunikasi. Sampai akhirnya dia lelah mengangguku.
Aku baru saja selesai mandi. Menjatuhkan gulungan rambut dari handuk. Mengeringkannya sebentar dengan hairdryer.
Baru saja, aku akan bergerak menyisir rambutku. Pantulan bayanganku hilang dari cermin.
Aku menatap cermin linglung. Kala yang terpantul bukanlah diriku. Melainkan wanita bergaun merah dengan anggunnya duduk di kursi rias, dimana aku memposisikan diriku becermin.
"Kau siapa?" tanyaku.
"Aku Si manis."
Aku tersenyum padanya. Aku tidak pernah takut akan sosok baru yang tiba-tiba mengikutiku.
"Menjauhlah sebentar. Aku ingin becermin."
Si manis bergeser, dan terlihat berdiri di belakang punggungku. Namun, kini aku dapat melihat pantulan diriku. Aku menyisir rambutku yang tergerai lurus bak sutera hitam yang indah.
Aku berbalik menatap Si Manis yang telah duduk di tepian ranjang ku. "Mengapa kau Mengikutiku?"
"Karena aku bisa mengetahui, kau memiliki kemampuan mata batin untuk melihatku." Si Manis menghela napas, "Aku ingin kau menjadi perantara antara aku dengan anak perempuanku , dan ibuku."
"Anak? Ibu?"
Si Manis menganggukan kepala.
"Kau ingin berjumpa mereka?"
Si Manis menganggukan kepala kembali, "Mereka tidak bisa melihatku. Aku sudah bersusah payah ingin berkomunikasi dengan mereka. Namun, selalu gagal."
"Keluargamu apakah ada sekitar sini?"
Si manis mengganggukkan kepala, dan pandangan matanya terlempar pada sebuah rumah yang kami lihat bersama dari jendela besar di kamar kontrakan.
"Itu rumahku. Anakku tinggal di sana. Itu Kamarnya. Namanya Si Cantik. Ibuku bernama Si Jelita, sekarang sering tidur bersama Si cantik di kamar itu."
Aku tersenyum simpul akan penamaan mereka. Sang ibu bernama si Manis, sang anak di beri nama si cantik, Sang nenek bernama si Jelita dan kebetulan sekali, namaku Ayu. Jadi, kami berempat sangat serasi akan penamaan ini.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanyaku.
Si Manis terlihat biru seketika. Dia terlihat sedih dan menunduk, "Aku tidak bisa pergi. Karena aku melihat si cantik selalu bersedih."
Aku menghela napas. Aku menatap Si Manis sejenak. Dia masih terlihat muda dan anggun. Mengapa meninggal begitu cepat? Apakah ....
"Aku kecelakaan mobil malam itu. Malam itu aku pulang larut malam, pesta alkohol bersama temanku. Itulah membuat ajalku datang lebih awal," tutur manis seakan mengetahui arti wajah penuh tanyaku.
"Yah, aku menyesal karena hidup hura-hura ku malah membuat diriku terpisah dari keluargaku.Terutama dari Si Cantik. Tetapi, aku ingin mereka tetap berkecukupan walau aku sebagai tulang punggung telah pergi lebih awal. Aku ingin memberitahu harta tersimpanku untuk ibuku."
Aku menganggukan kepala. Menyanggupi permintaaannya.
***
Keesokan harinya, tepat pukul 8 malam. Aku mengetuk rumah Si manis. Tok -tok - tok! Ketokku panjang. Sementara Si manis berada di belakang mengikutiku.
Kret! pintu terbuka. Tampak sosok manis kecil membuka pintu.
"Dia Si Cantik, puteriku ...," bisik Si Manis terisak di telingaku.
Si cantik dengan mata bulat basah menatapku. Tak lama, bibir mungilnya bergerak membuka mulutnya, merangkai kata, "Siapa Tante? Apa Tante bawa mami?"
Aku terhenyak akan pertanyaan tersebut.
'Ya ... ibumu bersamaku ...,' jawabku hanya dalam hati.
"Siapa itu?" tiba-tiba sosok seorang wanita paruh baya tampak tergopoh-gopoh ke arah pintu, menemuiku. Dia terlihat takut bercampur panik karena gadis mungil itu membuka pintu untuk orang asing.
"Dia adalah ibuku. Dia lah yang menjaga si cantik untukku setelah kepergian," jelas Si Manis dan terisak. Dia maju perlahan, ingin merekuh tubuh renta yang tampak mengurus itu.
"Ibu, kau pasti lelah mengurus Si Cantik di usia senjamu. Aku minta maaf, Bu. Aku menyesal menghabiskan masa mudaku. Aku meminta maaf ibu. Aku malah pergi lebih dulu daripada kau. Aku akhirnya hanya menyusahkan dirimu, di usia senjamu. Aku melanggar janjiku, yang akan senantiasa merawatmu hingga tua, " tutur manis dan terisak di penghujung kalimatnya.
'Kematian menjemput tidak melihat umur manis. Bahkan banyak yang lebih muda usia lebih dulu menghadap langit mendahului yang lebih tua," sahutku dalam hatiku.
"Kau siapa?" suara serak wanita paruh baya itu
Aku tersenyum pada wanita paruh baya tersebut, mengulurkan tanganku, dan berkata, "Aku hanyalah teman baru Si Manis."
'Si Manis.' Tampak Nenek Jelita terlihat tercengang sesaat, dan tangan rentannya menggenggam tanganku, membawaku masuk ke ruang tamu. Si Cantik pun mengikuti masuk, tanpa menyadari tatapan Si Manis terus jatuh menatapnya dengan perasaan yang merindu sangat dalam.
"Apa Manis bersamamu?" tanya Nenek Jelita mengejutkanku. Apakah dia tahu maksud kehadiranku datang.
Aku menatap pada Si Manis yang sudah bersisian dengan diriku.
"Dia tepat di sisiku, nek."
Nenek Jelita meraih Si cantik duduk berpangku dengan dirinya. Dia tersenyum mengembang dengan sepasang mata yang berkaca ke arah manis.
"Ibu ...," sapa Si Manis tersedu sedan kemudian.
"Cantik, Mami ada duduk di sisi wanita baik ini. Dia datang, tapi tidak kelihatan. Ayo tersenyum manis padanya," rujuk Nenek Jelita. Si Cantik turun dari pangkuan neneknya. Dia berdiri dengan tersenyum, dan berjalan mendekati Si Manis. Seakan sepasang mata kecilnya mampu melihat sosok ibu kandungnya yang terlihat kasat mata.
"Mami, aku merindukanmu. Selamat datang, mami."
Si manis segera ingin merekuh memeluk tubuh kecil puterinya. Namun hanya udara yang dia peluk.
"Manis ...," lirih Nenek Jelita memanggil. "Aku tahu kau datang setiap saat ke rumah ini. Walau aku dan Cantik tak bisa melihat dan merasakan kehadiranmu. Namun, aku tahu sebelum kau benar pergi pasti akan menemui kami. Nak, pergilah dengan tenang."
Nenek Jelita menyeka air matanya yang segeja jatuh setelah penghujung kata yang dia ucapkan.
"Ibu, aku hanya meminta maaf. Telah pergi begitu awal dan memberikan beban di usia senjamu," ujar Si Manis.
Aku pun menyampaikan dengan mengulang perkataan yang di ucapkan Si Manis, "Manis berkata : Ibu, aku hanya meminta maaf. Telah pergi begitu awal dan memberikan beban di usia senjamu."
Nenek Jelita terlihat nelangsa dan biru seketika lebih dalam seakan air asin telah membendung begitu banyak pada setiap kelopak mata bawahnya, "Kau tidak meninggalkan beban, nak. Usia tidak ada yang bisa menebak. Namun, kematian tidak akan bisa memisahkan silsilah keluarga yang telah di tetapkan dari awal. Aku tetap ibumu yang bertanggung jawab terhadap dirimu dan si cantik, dan Si cantik tetaplah anakmu yang akan selalu mengingatmu. Maut tidak akan pernah bisa menghapus hubungan darah yang telah mengalir dalam setiap nadi kita. Bagaimana kau menyebut beban? Jika kita adalah keluarga. Aku dan dirimu adalah ibu dan anak, tidak ada beban jika aku hanya mengganti tugasmu lebih awal. Pergilah dengan tenang, nak."
Si Manis mengatupkan matanya. Rasa sesaknya menusuk dan mengisi dadanya. Dia menangis tersedu seakan penyesalannya telah datang terlambat untuknya, "Ibu ... Aku menitip cantik untukmu, dan aku pun berharap kalian berdua dapat berkecukupan setiap saat, Bu. Aku meninggalkan sesuatu untuk kalian, Bu. Maafkan aku yang telah pergi dari awal."
Akupun menyampaikan ulang ucapan Si Manis. Lalu, aku mengikuti pergi langkah Si Manis yang masuk ke kamarnya. Di ikuti dengan Nenek Jelita dan puterinya, Si Cantik.
Di dalam kamar, Si Manis menunjukkan suatu lukisan yang bergantung di dinding.
"Turunkan lukisan itu," perintah Si Manis.
Akupun mengikutinya. Menurunkan lukisan itu, dan brankas tersembunyi terlihat kemudian.
"Kata Sandi tanggal lahir Si cantik," ujar Si Manis memberitahuku.
"Nek, kata si Manis : Buka Brankas dengan kata sandi yang merupakan tanggal lahir Si cantik."
Nenek Jelita menghapus air matanya. Beberapa Minggu ini, dia hanya bisa berharap sanak keluarga membantu dirinya dan cantik untuk makan sehari-hati. Karena tulang punggung keluarga adalah Si Manis. Kepergiaan Si Manis, merupakan pukulan terberatnya menghadap ekonomi untuk membesarkan si Cantik. Tetapi, siapa sangka Tuhan masih memberi kesempatan untuk Si Manis untuk membuang beban di punda sang ibunya yang telah berusia senja.
Nenek Jelita dengan langkah ringkih menuju brankas dan memutar angka brankas mengikuti tanggal lahir Si Cantik. Krek! Brankas terbuka.
Nenek Jelita terlihat ingin menjerit dengan banyak emas dan uang tunai dalam brankas, di sertai surat-surat berharga di dalam Brankas. Akupun ikut melongo akan harta yang menumpuk itu. Untung saja, aku bukan perampok. Aku hanyalah perantara dua orang dengan dua alam yang telah berbeda ini.
"Manis ini terlalu banyak, " jerit Nenek Jelita menangis, duduk merosot meraung di lantai yang dingin.
"Andai aku bisa memilih. Aku lebih memilih Manis hidup daripada di temani harta."
Si Manis tersenyum getir, "Takdir berkata lain, Bu."
Si Manis menghapus air matanya, dan menatapku dengan lekat, "Sampaikan pada ibuku,rawatlah dirinya dan biarkan Si Cantik di urus pengasuh. Dia tidak boleh sakit hanya karena mengurus cucunya. Karena yang di miliki Si Cantik, hanyalah tersisa dirinya."
Aku menganggukan kepalaku, dan dengan sikap memenangkan Nenek Jelita, aku menyampaikan pesan manis kembali. Nenek Jelita terhuyung menangis, dan di saat itulah aku melihat Si Manis mulai menghilang dari ujung kakinya, perlahan menguap ke udara, dan air matanya terlihat berderai, meskipun senyum terlihat menunjukkan kelegaan hatinya. Lalu, dia benar-benar hilang, dan hanya menyisakan satu pesan lagi.
"Jangan merindukan orang yang sudah pergi. Kau menangis setiap hari, tidak akan membuat diriku kembali. Berdoalah setiap hari, agar kalian yang masih hidup, saling merindukan dan saling menguatkan, dan sadar bahwa setiap detik jantung yang berdetak itu penting, untuk berbahagia setiap detiknya. Agar kau tak menyesal kala ajal menjemputmu lebih awal."
Aku menghembuskan napasku, setelah menyampaikan pesan Si Manis untuk Nenek Jelita dan Cantik. Pesan Si Manis benar-benar membuatku harus menghargai setiap detik hidupku yang beharga.
***
Tamat ❤️❤️❤️
Jika kau memiliki orang yang kau cinta, maka berusahalah hidup, hindarilah kematian. Tetapi jika kau tidak menghargai hidupmu sendiri, maka kematian datang mencolong kebahagian yang kau lihat biasa biasa saja. Kau akan menyadari setelah benar-benar terpisah dengan dunia ini.