Terlihat seorang pemuda berjalan seorang diri dengan kantong plastik putih salah satu minimarket ditangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang minuman kaleng berwarna merah. Sebenarnya dia sangat ogah pergi, tapi cacing dan mulutnya tidak bisa diajak kompromi.
setelah isi kaleng itu habis, dirinya langsung saja membuangnya sembarangan. Sesaat setelah membuang kaleng itu, tiba-tiba telinganya mendengar suara tangisan.
"hiks, hiks, hiks."
Mendengar suara itu pemuda yang bernama Gio itu menghentikan langkahnya. Lalu menatap sekelilingnya dengan jantung deg deg degan.
"Mampus. Suara siapa tuh." Katanya mulai meraba bagian belakang lehernya.
Tiba-tiba bagian belakang kepalanya, seperti ada yang melempar sesuatu yang membuatnya mengaduh.
"Aduh." Ucap Gio sambil membalikkan badannya dan melihat benda apa yang mengenai kepalanya.
Dibawah sana dekat kakinya, ada kaleng minuman yang mirip seperti miliknya tadi yang sudah dia buang.
"Lah ini kan kaleng punya gue. kok bisa ada disini ya?" Tanya Gio heran.
Kemudian Gio pun menunduk berniat untuk mengambil kaleng itu.
"Ya emang itu punyamu. Aku kembalikan." Ucap seseorang yang berada didepannya.
Mendengar itu sontak saja Gio mengangkat wajahnya untuk melihat suara siapa itu. Setelah melihat wujud dari orang dihadapannya, Gio pun langsung melempar kantong plastik ditangannya kearah sosok itu.
"Wuaaaaaa. Hantuuuu!"
Saat akan berlari, kakinya terpleset dan membuat dirinya terjatuh. Saat mau membuka suara mengaduh, Gio dibuat bingung pada sosok hantu itu yang malah menangis.
"Hiks, hiks. Ibu aku dilempar lagi sama cowok itu." Tangis sosok hantu perempuan itu.
Gio yang awalnya merasa takut pada sosok itu, kini hanya diam memperlihatkan wajah heran,bingung, takut dan kasihan.
"Hantu kok nangis? cengeng." Ucap Gio merasa aneh, tapi juga kasihan.
Mungkin jika orang lain yang ada diposisi Gio bakal lari terbirit-birit, meninggalkan tempat itu. Tapi ini, Gio malah mendekat kearah sosok menakutkan itu. Sungguh Aneh sekali wahai kamu anak muda.
"Emang sakit bukannya hantu itu tembus kan?" Tanya Gio saat sudah berada tidak jauh dari sosok yang masih menangis itu.
"Heh udah dong nangisnya. Maaf deh maaf." Ucap Gio mencoba meminta maaf.
Entah kenapa malah dia yang minta maaf, mungkin karena merasa kasian. Udah jadi hantu, masih dibuat nangis lagi. Sungguh kasian sekali kamu wahai hantu.
Sosok hantu itu mulai berhenti menangis, walaupun masih sesenggukan. Kemudian mulai menatap kearah Gio.
"Kamu minta maaf nya, tulus kan." kata sosok itu.
"Iya tulus, dan ikhlas kok. Dimaafin kan." Ucap Gio agak takut.
Tapi sosok itu malah menggelengkan kepalanya yang artinya tidak.
"Lah kok gitu. Gue kan udah minta maaf." Protes Gio.
"Ya gak segampang itu lah. Kamu udah melempar aku 2 kali. Emang aku tempat sampah apa! Aku tuh hantu." Kata sosok itu tidak mau kalah.
Gio pun menghela nafas berat, mendengar perkataan sosok makhluk itu.
"Ya udah, lo mau apaan deh. Biar gue dimaafin nih." Ucap Gio mengalah.
"Apa aja kan, semau aku?" Tanya Hantu itu memastikan.
Gio hanya mengangguk. Dirinya ingin cepat-cepat pergi dari sana dan terbebas dari makhluk astral itu.
"Beliin aku 10 butir kinder Joy. Udah itu doang gampang kan." Pintanya.
"Itu doang lo bilang. Ogah banget, gue beli makanan bocah yang mahal itu." Tolak Gio mentah-mentah.
"Lo mintanya yang enggak-enggak aja deh. Yang lain deh, jangan coklat 2 butir itu." Ucap Gio mencoba membujuk sosok hantu itu.
Hantu itu malah menggelengkan kepalanya dan terlihat bibirnya mulai bergetar yang mungkin sebentar lagi akan menangis tuh hantu.
"Hiks hiks hiks."
Tuh kan bener. Sebenarnya Gio paling gak bisa liat orang nangis apalagi itu karena ulahnya. Tapi masak dia harus menghabiskan uangnya hanya untuk membeli coklat yang isinya cuma 2 dan harganya mahal itu.
"Udah berhenti nangisnya. Iya gue bakal beliin lo kinder Joy 10 biji." Akhirnya gio mengalah.
Mendengar itu barulah hantu itu berhenti menangis. Kemudian Gio pergi menuju minimarket yang tadi dia sambangi untuk membelikan sosok hantu itu kinder Joy 10 biji.
"Bokek-bokek dah gue." Gumamnya lirih.
Ternyata belum habis penderitaan Gio. Setelah membelikan pesanan hantu itu, dia harus membakar makanan itu terlebih dahulu, untuk bisa dimakan oleh sosok hantu nyebelin itu. Tapi, yang membuat Gio tambah kesal iyalah. Hantu itu menyuruh dia untuk ikut makan coklat itu sebanyak 6 butir. Sedangkan hantu itu yang minta malah cuma makan 4 butir. Mungkin jika Gio orang yang suka makan coklat sih oke-oke aja, masalahnya dia gak suka makanan manis itu. Saat Gio mencoba menolak permintaannya, si hantu malah kembali menangis terpaksa Gio kembali mengalah pada hantu cengeng itu.
(End)
Pembelajaran adalah:
Jangan suka membuang sampah sembarang, bila tidak mau dompet kalian kosong.
*************