Pada tengah malam, di kamar yang hanya diterangi oleh lampu yang agak redup, seorang perempuan dewasa sedang menulis puisi sambil menangis. Ada suatu rahasia yang telah ia lama sembunyikan. Ia tahu kematian akan menjemput dirinya sebentar lagi, oleh karena itu ia ingin segera membuka rahasia yang ia coba tutupi. "Aku harus cepat memberitahu tentang hal ini sebelum diriku tiada." katanya. Tak lama setelah selesai menulis puisi itu, ia pun terjatuh, ia sudah tak merasakan apa-apa di dalam tubuhnya, ia tak bisa bergerak walau sesenti. Jiwanya sudah terpisah dari tubuhnya, malam itu.
***
1 bulan kemudian...
Izinkan aku untuk memperkenalkan diri dan keluargaku terlebih dahulu.
Namaku Albern Kaleb, panggil saja aku Albern, umurku 12 tahun, aku duduk di bangku 1 SMP, masih awal baru diriku berada di lingkungan SMP, jadi aku masih belum terbiasa. Nama ayahku Bagus Poertono. Ayahku bekerja di kantor, tak jauh dari rumahku. Aku diasuh oleh pengasuhku saat ini. Bagaimana dengan ibuku? Ia telah meninggal sebulan lalu. Nama ibuku Lareina Christine. Aku belum tahu penyebab ibuku meninggal, tapi saat itu aku melihat secarik kertas dekat mayat ibuku, kertas itu tertulis puisi yang berjudul "Sang Peri Mimpi Baik". Saat itu aku tak terlalu peduli pada kertas itu, jadi aku taruh saja kertas itu di laciku.
Belakangan ini aku selalu mengalami mimpi buruk, sehingga tidurku tak terasa nyaman. Ini terjadi setelah ibuku meninggal. Bukan pertama kalinya aku mimpi buruk, sebenarnya sudah dari dulu, tapi mimpi buruk yang kualami sekarang tak sesering dan semenakutkan dulu. Mungkin karena aku sedih dan takut karena tiada ibuku di sisiku, sehingga aku terus memikirkannya dan akhirnya aku mengalami mimpi buruk setiap hari. Oh ya! Aku teringat pada puisi itu, mungkin puisi itu ada kaitannya dengan kejadian yang kualami saat ini.
Aku buru-buru membuka laciku, lalu mengambil secarik kertas puisi itu, lalu aku pun membacanya.
Ditulis oleh: Lareina Christine
Ibu terpaksa menulis ini, ibu tahu kamu mengalami mimpi buruk selama ibu tiada, baca puisi ini saat kau mengalami mimpi buruk.
SANG PERI MIMPI BAIK
Malam datang menghampiriku
Kini diriku lelah
Waktu yang tepat tuk tidur
Oh mimpi baik
Temani diriku
Beri kebahagiaan
Di saat diriku menutup mata
Jadikan 'ku perisai
Di antara mimpi buruk
Diriku tak mau ketakutan esok pagi
Kemari
Ku mohon kemarilah
Aku pun selesai membaca puisi itu. Namun tiba-tiba sesuatu datang menghampiriku, sebuah cahaya yang menyerupai manusia, kalau dilihat-lihat ia sangat cantik, manis, dan eh! Ia punya sayap? Mengejutkan! Aku semakin penasaran, perlahan-lahan cahaya itu sudah membentuk manusia - tapi punya sayap. Setelah ia memperkenalkan dirinya aku pun tahu siapa dia.
Ia adalah sang peri mimpi baik.
***
"Terang bagai pagi hari, jernih bagai kristal. Akulah peri mimpi baik, sang penabur mimpi baik dan pelindung dari segala mimpi buruk. Terima kasih sudah memanggilku untuk datang kemari." Ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tongkat putihnya. "Namaku Maribel Prisca, nama kamu siapa?" Aku pun menjawab, "Namaku Albern Kaleb, peri." Aku agak sedikit takut dan terkejut, bagaimana bisa ada peri di dunia ini? "A..aku sedang tidak bermimpi kan?" aku memastikan. "Ya, kamu memang sedang tidak bermimpi, Albern" ucapnya sambil tersenyum. Aku masih tidak percaya, kucubit pipiku keras-keras, ternyata ini memang bukan mimpi! Hei kenapa selama ini manusia tak tahu kalau ada peri di dunia kita? Sudah tak terhitung jumlah manusia di bumi ini, tapi kenapa tak ada satu pun manusia yang mengetahui dan memberitahu tentang adanya peri di dunia nyata? Dan kenapa hanya aku yang tahu? "Kau sudah membaca puisi itu, makanya kau bisa melihat peri, kata-kata dari puisi itu tersimpan kekuatan-kekuatan dari alam kebaikan." Ia seperti bisa membaca pikiranku dan langsung menjawab pertanyaan yang ada di pikiranku. "Sekarang dimana kertas itu?" Aku memberikan kertas puisi yang ditulis ibuku, lalu memberikannya kepada peri itu. "Apa, ini bukan kertas dari alam kebaikan, ini kertas palsu! Kau menyalin dari siapa, hah? Jangan macam-macam dengan kami! Puisi ini hanya diberikan oleh orang yang terpilih saja, dan bukan sembarang orang yang mendapatkannya!" Peri itu marah, aku ketakutan, aku tak tahu apa-apa tentang ini, aku juga tidak memalsukannya, aku mendapatkannya dari tulisan ibuku. "Itu aku dapat dari kamar ibuku, aku tak menyalinnya, sungguh." ucapku jujur. Lalu peri itu membaca ulang puisi itu. "Tunggu sebentar, aku mengenal bentuk tulisan ini." kemudian ia melihat bagian atas puisi yang tertulis "Ditulis oleh: Lareina Christine" Ia terkejut, kemudian bertanya, "Di... dia ibumu?!" "Ya." Jawabku singkat. Ia seperti tak percaya dengan apa yang ia lihat, kemudian peri itu menangis. "Aku tak percaya, ia ada di sini. Kami para peri mencarinya bertahun-tahun. Ia sepertinya masih menyimpan masa lalu itu." Suasana menjadi membingungkan. Apa maksud peri ini, kenapa para peri ingin mencari ibuku, dan apa masa lalu yang disimpan ibuku? Aku pun penasaran, lalu mencoba bertanya, "Apa maksud peri? Aku sama sekali tak tahu apapun. Tolong jelaskan peri!" Peri itu pun mencoba berhenti menangis, lalu mencoba menjelaskan semuanya kepadaku. "Sebenarnya ibumu dulu adalah seorang peri..." Apa? Aku tak menyangka, kalau ibuku dulu bukanlah manusia. Aku pun memotong perkataan peri itu dan bertanya, "Apa benar peri?" Peri itu pun menjawab, "Ya, Albern. Dimana ibumu? Aku ingin menemuinya!" Aku pun menjawab, "Ia meninggal sebulan lalu, peri." Peri itu terkejut, lalu seperti ada kesedihan dalam dirinya. "Apa?! Oh tidak, pasti para peri mimpi buruk sudah menemukan keberadaan ibumu dan membunuhnya." Aku sama sekali tidak mengerti tentang ini. Ibuku sama sekali tak pernah menceritakan padaku bahwa dia dulu adalah seorang peri, aku juga tak tahu apa hubungan ibuku dengan peri mimpi buruk. Aku ingin menanyakan kepada peri itu tentang masa lalu ibuku. "Tolong ceritakan masa lalu ibuku kepadaku peri, aku ingin mengetahuinya!" Peri itupun menjawab, "Baiklah Albern, aku akan menceritakannya. Ibumu pasti malu untuk menceritakannya padamu, karena ia dulu pernah berbuat kesalahan di alam peri."
***
Peri Maribel Prisca pun menceritakan semuanya kepadaku. "Dahulu ibumu adalah seorang peri mimpi baik. Ia adalah peri terbaik di sepanjang alam kebaikan, ia selalu dikagumi oleh peri-peri mimpi baik yang lain. Ia juga selalu memberikan kebahagiaan kepada peri mimpi baik yang sangat sedih dengan sihirnya. Ia memiliki seorang sahabat - yang juga seorang peri mimpi baik. Sahabat ibumu sangat indah di mata ibumu. Ibumu dan sahabatnya selalu menjalani kebahagiaan bersama. Tapi ibumu memikirkan hal yang sangat menyedihkan, ibumu takut dirinya akan tiada, karena memang cepat atau lambat, ibumu akan kehilangan nyawa, dan jika itu terjadi, ibumu berpikir bahwa ia takkan dikagumi lagi oleh peri-peri mimpi baik. Dan dari itulah hal buruk terjadi, ibumu melakukan perbuatan jahat untuk pertama kali. Suatu hari ibumu sedang berjalan sendirian, menikmati indahnya alam. Tiba-tiba para peri mimpi buruk, musuh kami, yang selalu menabur mimpi buruk pada manusia, datang menghampiri ibumu. Kemudian para peri mimpi buruk membujuk ibumu untuk bergabung dengan komplotannya. Ibumu jelas menolaknya, ia ingin tetap selalu berada di jalan yang benar. Tapi para peri mimpi buruk tak pernah menyerah, mereka pun menawarkan bahwa jika ibumu bergabung dengan mereka, ibumu tak akan mengenal 'kematian', ibumu akan hidup di dunia selamanya. Ibumu menyetujuinya begitu saja, Albern, penawaran dari para peri mimpi buruk itu menggelapkan hati ibumu, hanya demi melenyapkan hal menyedihkan ibumu itu. Ibumu pun sering menghilang dari alam kebaikan setelah kejadian itu. Para peri mimpi baik, termasuk sahabat ibumu, merasa ada hal yang mencurigakan terhadap ibumu. Saat ditanya ibumu pergi ke mana, ia hanya menjawab, 'Hanya ke alam ini saja, aku tak ke mana-mana, hanya saja kalian tak menjumpaiku.' Tapi para peri mimpi baik tetap saja merasa ada hal yang aneh, karena biasanya ibumu selalu terlihat sepanjang hari, tak pernah selalu luput dari pandangan para peri mimpi baik. Berminggu-minggu berlalu, sahabat ibumu semakin penasaran dengan keberadaan ibumu, maka dari itu sahabat ibumu memutuskan mencarinya di tempat yang kelam dan berbahaya, di alam kejahatan, tempat tinggalnya para peri mimpi buruk. Betapa terkejutnya sahabat ibumu, karena ibumu ada di sana. Ibumu terlihat sedang tertawa ria bersama para peri mimpi buruk. Sahabat ibumu benar-benar tak menyangka bahwa ibumu telah bergabung dengan kelompok peri mimpi buruk. Namun, sahabat ibumu tak sadar, kalau ada salah satu peri mimpi baik yang membuntuti sahabat ibumu dan juga melihat bahwa ibumu ada di alam kejahatan. Salah satu peri mimpi baik itu pun langsung pergi menuju alam kebaikan untuk memberitahu bahwa ibumu mengkhianati para peri mimpi baik. Saat salah satu peri mimpi baik itu baru saja mengepakkan sayapnya, sahabat ibumu pun langsung melihat ke belakang dan menyadari kalau ia telah dibuntuti. Sahabat ibumu pun menyusul salah satu peri mimpi baik itu. Saat sahabatmu datang ke alam kebaikan, semua peri mimpi baik terlihat sedang membicarakan tentang ibumu, rupanya peri mimpi baik yang sebelumnya membututi sahabat ibumu telah memberitahu semuanya. Tiba-tiba ada suatu hal yang mengejutkan, para peri mimpi buruk - termasuk ibumu, datang ke alam kebaikan. Ternyata mereka tahu kalau sahabat ibumu mencoba datang ke alam kejahatan. Tapi para peri mimpi buruk datang dengan memakai topeng, jadi para peri mimpi baik tak tahu yang mana ibumu. Para peri mimpi baik berusaha untuk mencari yang mana ibumu, tapi nihil. Salah satu peri mimpi buruk meminta untuk menyerang para peri mimpi baik. Perang pun dimulai.
***
"Perang berakhir dengan kekalahan jatuh ke tangan para peri mimpi baik. Betapa sedihnya ibumu melihat para peri mimpi baik terluka. Ibumu sadar kalau ia telah berbuat jahat, ia menyadari kalau seharusnya ia memberikan kebahagiaan kepada para peri mimpi baik, bukannya memberikan penderitaan. Ibumu pun akhirnya melepas topengnya dan menunjukkan dirinya. Sahabatmu pun langsung menghampiri ibumu dengan luka-luka di badannya yang sangat banyak. Sebagai sahabat, sahabat ibumu mencoba menguatkan ibumu, ia berkata bahwa semua peri pasti pernah melakukan kesalahan, ia mencoba membangkitkan semangat ibumu untuk memberikan kebahagiaan kembali. Tetapi sayang, ibumu justru tetap merasa bersalah, ia merasa dirinya tak pantas lagi untuk menjadi peri. Maka dari itu ibumu memutuskan untuk pergi dari alam kebaikan maupun kejahatan, sebelum ia pergi, ia berkata bahwa ia akan mencabut sayapnya. Para peri mimpi buruk marah karena ibumu telah keluar dari kelompok mereka, mereka berjanji suatu hari nanti akan membunuh ibumu. Ternyata setelah bertemu denganmu aku sudah tahu kalau ibumu pergi ke bumi, dan keberadaan ibumu sudah diketahui oleh para peri mimpi buruk."
Setelah aku hidup 12 tahun di bumi ini, aku baru tahu tentang kehidupan masa lalu ibuku. "Kalau ibuku dulu adalah seorang peri, kenapa aku tidak punya sayap seperti ibuku?" tanyaku. Peri itu menjawab, "Ibumu sudah mencabut sayap dari badannya, jika sayap peri sudah tercabut, maka peri akan berubah wujud menjadi manusia, itu sebabnya kamu tidak punya sayap." Aku mengangguk paham. "Kalau para peri mimpi buruk berkata bahwa ibuku akan hidup selamanya, kenapa ibuku bisa meninggal?" tanyaku lagi. Peri itu menjawab, "Suatu yang jahat tetaplah jahat, apa yang dikatakan para peri mimpi buruk hanyalah sebuah kebohongan, para peri mimpi buruk hanya ingin ibumu tergiur dengan permintaan mereka." Aku mengangguk lagi. "Aku tahu kenapa ibumu menulis puisi ini. Saat para peri mimpi buruk ingin membunuh ibumu, ibumu merasa lemas. Ibumu punya firasat kalau ia lemas karena akan dibunuh oleh peri mimpi buruk. Makanya ibumu menulis puisi ini untukmu, ia takut kau akan jadi korban dari peri mimpi buruk, karena peri mimpi buruk akan mudah memberikan mimpi buruk pada orang yang sedang memiliki perasaan takut dan sedih. Keputusan ibumu untuk menulis puisi ini sangatlah tepat, jadi aku akan menganggap ini adalah kertas puisi asli." Aku akhirnya mengerti kenapa aku selalu mengalami mimpi buruk, karena aku selalu merasa takut dan sedih karena ibuku meninggal, akhirnya peri mimpi buruk mudah menaburkan mimpi buruk padaku. Ibuku memang sangat sayang padaku, karena sampai ibuku pun tahu dirinya akan tiada, ia tetap melindungiku, tak peduli ibuku pernah berbuat kejahatan. "Baiklah, aku akan memberimu perlindungan, apakah kamu siap?" Aku mengangguk mantap, aku tak mau mimpi buruk kembali menghantuiku. "Mimpi baik, aku memanggilmu. Berikan ia kebahagiaan dalam mimpinya, jangan biarkan kejahatan menabur keburukan dalam mimpinya!" Peri itu mengatakan kalimat tersebut sambil menggoyang-goyangkan tongkat putihnya, kemudian tongkat itu diarahkan kepadaku. Lalu tongkat itu menyala, kemudian memancarkan sinar dan membentuk garis yang mengarah padaku. Dan itu pun terjadi...
Aku sudah tak lagi mengenal mimpi buruk.
***
Hari-hari berlalu, aku tak kembali mengingat kesedihan yang kualami, mungkin sihir yang diberikan peri Maribel itu membuatku merasa lebih bahagia supaya aku tidak bersedih dan peri mimpi buruk tidak akan bisa menabur mimpi buruk padaku. Aku awalnya tidak percaya kalau manusia bermimpi karena ulah peri, tapi saat aku melihat puisi yang ditulis oleh ibuku dan sosok peri, aku pun mempercayainya.
Aku tak memberitahu hal ini pada orang lain karena peri Maribel menyuruhku untuk merahasiakannya pada orang lain. Hanya orang yang diberikan kertas bertuliskan puisi itu sajalah yang berhak tahu tentang kaum peri. Aku pun akhirnya tahu kenapa tak semua manusia tahu tentang kaum peri, karena itu telah dirahasiakan.
Tapi sekarang aku penasaran...
Siapakah sahabat ibuku itu?
***
Peri Maribel Prisca sedang duduk sendirian, menghirup segarnya udara di alam kebaikan, sambil menikmati indahnya alam kebaikan. Ia berbicara sendiri dalam hati, "Dahulu kita selalu bersama, Lareina Christine. Tapi setelah kejadian itu engkau memisahkan dirimu dengan aku. Oh Lareina, aku tetap mengagumimu, tak peduli kamu pernah berbuat kejahatan. Aku, satu-satunya sahabatmu, tak akan pernah melupakanmu Lareina...
~ TAMAT ~
Follow IG ku: @rainhard.frealdo
Follow MLBB ku: TheCircleOfFire. ID: 635724455
Jangan lupa untuk membaca cerpen karya saya yang lain di bawah ini ya :) 👇🙏
Jangan lupa juga untuk membaca novel pertama saya: "Dunia Langit". 🙏🙏