Suasana di kamar lumayan hening dan mencekam. Pintu kamarnya yang terbuka memperlihatkan jelas apa yang ada di luar. Ia melihat kepala berbulu putih dan hitam itu sedang menongol dari pintu kamar lain.
Karena tak punya teman, ia sangat senang sebab sosok itu datang lagi kepadanya dengan sikap yang patuh. Ia memanggilnya, "Meong!"
"Miauww.."
Kucing itu berlari kecil ke arahnya. Ia mengangkat dan menggendongnya. Mungkin ia akan dibilang gila karena berbicara kucing.
"Kamu gak boleh pergi! Pokoknya gak boleh."
"Miauww!"
Kucing itu terlihat marah karena ia melarangnya untuk bebas, sedari tadi terus menyuruhnya untuk memakan ikan goreng yang mungkin sudah tak pantas dimakan oleh manusia.
"Gak suka ikan? Ini enak lho." katanya agar kucing itu mau memakannya.
"Kamu itu kucing atau apa, semua gak mau?!" ucapnya karena kesal.
"Hey kucing... Ayo main! Aku bosan di sini. Bagaimana kalau kita keluar?"
Kucing itu terlihat sangat senang dengan raut wajahnya yang manis. Ia seperti berkaca-kaca saat mendengar kata 'keluar'. Ia nyengir karena telah merasakan sesuatu yang akan membuat pikirannya meledak.
"Kamu mau keluar? Oh.. tidak semudah itu, Pus! Harus makan ikan, baru boleh pergi dari sini."
"Miauww!!" Menjauh darinya.
"Yang sudah datang tiba-tiba padaku, tidak akan aku lepaskan dengan mudah! Kamu mau pergi dari sini?" katanya dengan senyum.
Saat ini kucing itu sedang memelas. Ya ampun ia ingin meledak sekarang! Dia terlihat sangat manis dan ingin sekali ia mencubit pipinya namun tak memilikinya.
"Hey, kenapa itu? Kalau mau keluar, ayo makan dulu. Nanti kamu lapar waktu perjalanan pulang. Beruntung moodku lagi baik. Coba saja tidak, pasti sudah ku usir kamu dari rumah."
Akhirnya kucing itu makan dengan terpaksa walaupun hanya menggigit ekornya saja. Ia benar-benar ingin menyuapinya. Waktu kali ini sangat baik. Tak ada siapapun yang mengganggu waktunya bermain dengan kucing manis itu. Ponsel sudah ia charg tiga puluh menit yang lalu.
"Hey! Sebelum kamu pergi, aku mau bermain hingga puas denganmu sore ini. Aku merindukan kucingku yang sudah mati tahun lalu. Dan sekarang tak ada seekor kucingpun. Jika aku mengekangmu dan mengambilmu dari majikanmu, aku tidak bisa tenang. Mungkin dia sedang mencarimu sekarang. Dasar kucing nakal." Gumamnya kepada kucing itu.
Kucing itu menuju ke arah cermin yang terpampang di dinding tepat di depan meja belajarnya. Namun sekarang ia menjadi nakal tak seperti pertama kalinya. Naik ke tempat-tempat atas yang dapat membahayakan dirinya.
Saat mengambil kucing dari sana, dia naik lagi dan lagi, dan itu membuatnya merasa lelah dan kesal. Karena sudah tak dapat menahannya, ia mengambilnya dan mendekatkan wajahnya pada tubuh berbulu itu. Ia mengendus-endus di bagian perutnya. Kucing itu pun merasa geli dan terus menggeliat. Ia pun mengenduskan pipinya pada pipi kucing. Ia terlihat tak nyaman.
Tiba-tiba kucing itu memejamkan matanya. Ia rasa kucing itu lelah bermain dengannya. Lebih tepatnya bukan bermain, tapi dipermainkan. Ia pun keluar dari kamarnya dan mengambil air. Tak lupa ia menutup pintu sebelum keluar, karena tak ingin jika kucing itu tiba-tiba bangun dan kabur darinya.
Setelah kembali dan membuka pintu kamar, ia dikejutkan dengan seorang pria yang sedang berbaring di ranjangnya. Dia terlihat membelakanginya. Sempat ingin berteriak, namun segera mengurungkan niatnya. Ia mulai menutup pintu kamar itu kembali dan mendekat ke arahnya supaya dapat melihat wajahnya dengan jelas.
"Apa ini kucingku? Tapi, kenapa berubah jadi manusia? Tapi aku yakin kalau ini kucing yang tadi. Kalau bukan, di mana kucing yang tadi bermain denganku coba?"
Ia pun mulai naik ke ranjang dan memperhatikan wajahnya. Sebab ranjangnya berdempetan dengan dinding dan harus naik ke atas jika ingin melihatnya dengan jelas.
Setelah melihatnya, ledakan ini rasanya benar-benar akan terjadi di hatinya. Dia benar-benar seorang pria tampan yang manis. Sangat manis dari kucing tadi. Seketika terhipnotis oleh kulitnya yang putih mulus itu, dan ia ingin sekali mencubit pipinya yang lumayan chubby.
Ia terus memandangi wajahnya dan berkata pada dirinya sendiri, "Jika saja benar bukan mimpi, aku ingin memilikinya. Bagaimana bisa seseorang berubah menjadi seekor kucing? Apa dongeng itu benar-benar terjadi padaku? Entah, aku ingin melihatnya saja. Aku yakin kamu akan pergi dariku. Aku makin tak rela membiarkanmu pergi..."
Ia memanyunkan bibirnya karena hal itu pasti akan terjadi. Ia harus mandi sekarang. Ia mengambil pakaian ganti lalu melihat pria itu sekilas, masih tidur. Padahal ia sudah menunggu kurang lebih selama tiga jam. Ingin sekali ia membangunkannya karena tidur sore tidak baik untuk tubuh. Namun tak akan rela dan tak akan berani.
Beberapa menit kemudian setelah mandi dan memakai pakaiannya, ia berharap semua baik-baik saja di kamar.
Setelah selesai dan kembali ke kamar.
"Hufft! Akhirnya kembali segar.. Eh?" Melihat selimut terbuka dan terlihat sedikit wajahnya. "Apa ada seseorang yang masuk ke kamarnya?"
"Veri?!"
Ia segera menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia hanya menghidupkan lampu belajarnya agar kamarnya ada sedikit cahaya, karena tadi belum menyalakannya. Ia kembali memperhatikan pria itu. Dia belum bangun juga. Padahal ini sudah akan adzan.
Apa dia akan tidur terus!?
"Emmm~!" Pria itu menggeliat kecil dan membuka matanya lalu memandang sekeliling.
"Terima kasih," ujarnya dengan tatapan datarnya. Sepertinya mata sipit itu ingin kembali tertutup.
"Eh,"
Pria itu kembali menatap ke arahnya. "Apa?"
"Kamu siapa, kenapa berubah wujud?"
"Hmm? Apa yang kau bicarakan?" tanya pria itu dengan bahasa asing.
"Oh. Tidak paham.."
Aku lupa kalau dia orang asing. Dia Korea ya.. Ok! Karena aku gak lancar jika mengucapkannya langsung, jadi harus menulis hangul di kertas.
Pria itu terlihat menatapnya dan bertanya, "Ini rumahmu? Kenapa sangat bagus dan nyaman?"
Nyaman menurutmu? Memang nyaman sih. Tapi aku gak bisa melakukan aktivitas rekamanku dengan baik.
Ia pun selesai menulis dan menyerahkan kertas itu untuk dibaca olehnya. Dia mulai mengerti. Dan menjawab semua apa yang tertuliskan di sana.
"Aku tersesat dan nyasar kesini. Alasanku berubah wujud dari seekor kucing menjadi seperti yang kau lihat ini, aku dikutuk orangtuaku karena membantahnya. Kemudian aku… Aku.. Hey! Apa kau tak mengenalku?"
Ia mengangguk-angguk paham. Namun jawaban di pertanyaan terakhir, lumayan membuatnya tercengang. "!? Aku baru melihatmu." Ia lupa dengan bicaranya yang berbicara dengan bahasanya sendiri.
"Aku pusing mendengarmu bicara bahasa lain. Bisa kau tulis lagi untukku?"
"Oke!"
Kenapa aku harus bertemu dengannya? Aku takut jika mulai suka dan sedih saat sungguhan akan pergi, batinnya sambil menulis jawaban di kertas lain.
Ia menyodorkan kertas itu dan dia membacanya dengan mulut komat-kamit. "Oh, begitu. Jadi kamu... Aman."
"Hah?"
"Ya. Jika kamu penggemarku, berarti kamu sedang berpura-pura tidak mengenalku dan itu akan berbahaya bagiku. Tapi tidak sekarang."
"Mmm??!"
"Mungkin aku yang akan berbahaya disini...?" Menyengir sehingga matanya menjadi sipit.
Oh tidak! Benar. Dia berbahaya bagiku. Aku ingin bernafas dengan tenang, kenapa sekarang gak bisa?
"Kenapa? Kau mulai merasakannya?"
"Yah. Itu sangat danger," ujarnya dengan tak percaya dengan sosok di depannya ini.
Kakinya serasa tak ingin bergerak karena keram. Sudah setengah jam ia menemaninya bicara. "Hah! Aku lupa!"
"Hey kau bicara apa lagi!?"
Ia tak menjawab dan langsung beranjak dari ranjang. Tanpa diduga, terjatuh dengan cepat ke lantai. "Aduh!"
Aku lupa kalau kakiku keram.. batinnya.
"Baikkah?" tanyanya.
Ia berusaha bangkit, namun kesulitan karena keramnya makin terasa dan menusuk.
Aku gak bisa berdiri sekarang… Dia kenapa lihat aku terus?! Malu lah, batinnya sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
"Kenapa?"
Pria seperti ingin menolongnya dan ia segera mencegahnya. "Jangan mendekat!"
"Kau bicara apa lagi!?" Tetap bergerak.
"Stop! Don't..."
Bergerak, bahasa Inggrisnya apa sih!? batinnya saat tak mengetahuinya.
"Jangan apa?" Pria itu sudah berhenti dan kembali duduk seperti semula.
"Don't.. apa sih, aku lupa..!" Melirihkan kalimat terakhir seperti sedang berpikir.
"Sudah kubilang jangan katakan apa yang membuatku tidak mengerti! Aku rasa, aku ingin memakanmu."
"Kenapa?"
Aduh! Lupa lagi, batinnya.
Pria itu terlihat semakin mendekat dan wajahnya yang diatas bertatap-tatapan tepat dengan wajah di bawah yang sedang mendongakkan kepalanya.
Danger ah! batinnya merasakan degupan jantungnya yang sangat kencang.
"Are you hungry?" ucapnya tiba-tiba dan membuat pria itu akhirnya mundur dari wajahnya.
Hah! Baru sekarang aku ingat satu kalimat bahasa Inggris itu.
"Hmm," jawabnya.
Ia berusaha bangkit setelah merasa lebih baik. Saat ia akan pergi keluar kamar, pria itu bertanya singkat, "Siapa namamu?"
Ia berhenti dan menoleh.
"Aku Yangi." jawabnya sambil tersenyum. "Don't get out!" ucapnya lalu segera pergi dan menutup pintunya.
Beberapa menit kemudian, Yangi datang dengan membawakan makanan. "Let's eat!"
Di sela-sela mereka makan, Yangi mengajaknya bicara, "Who's your name?"
"Won. Habiskan makananmu baru bicara!"
"No! I'm afraid that you will leave," ucap Yangi.
"Siapa yang akan pergi, jika aku tersesat begini? Aku akan menjadi temanmu."
Yangi kebingungan.
"Mmm?"
"Aku tahu jika kau kesepian dan butuh teman. Aku mendengar semua perkataanmu ketika wujudku seekor kucing. Kau menyayangiku dengan tulus. Aku yakin kutukan itu sudah hilang, karena kau menciumku."
"When!?"
"Kau mencium telingaku tadi!"
"May be, I don't know.."
"Aku tak bisa pulang karena tak punya apapun sekarang. Aku harus bekerja terlebih dahulu. Karena kau sudah menciumku, kau harus menjadi milikku."
"Ha!?" Yangi meletakkan sendoknya.
"Ya. Maukah jadi teman hidupku?"