Scott F. Fitzgerald tak mau lagi uang. Untuknya, uang adalah sihir menipu. Dia sekarang serasa burung atau kucing setelah perseteruan terakhirnya antara sesama penulis novel yang pernah difilmkan. Bahkan kini dia membenci istrinya kerna kehabisan uang.
Scott tahu bahwa pekerjaan sebagai penulis bukan pekerjaan biasa. Menulis itu pekerjaan sia-sia. Apalagi penulis-penulis lain sebelum zamannya ini, selalu saja kekurangan uang. Memang ada yang bergelimang uang tapi tetap saja mereka mati mengenaskan akibat bingung bagaimana cara menghabiskan segunung uang. Scott ingin uang bukan segalanya tapi istrinya tidak. Kata istrinya, uang bisa membeli segala kepanikan. Uang membeli listrik, rumah, air, makanan mewah, menjadikan orang disegani, itu semua kerna uang, uang, dan uang. Bahkan kata istrinya bahwa semua pekerjaan tentu saja mengharapkan uang yang banyak. Tiada uang adalah berbahaya.
Scott terjorok di sudut kamarnya. Sebenarnya dia orang yang kuat hinaan. Dia kuat tekanan bahkan pernah mendapatkan tekanan yang menurut para ahli kejiwaan sudah sepatutnya Scott bunuh diri. Tapi dia tidak melakukan itu sebab dia penulis rasionalis. Semua buku-buku Scott adalah hasil olah batin yang mendalam. Memang, dulu Scott penghamba uang bahkan istrinya pernah muntah-muntah ketika buku novel The Great Gatsby meledak di pasaran. Saat itu berdatangan uang ke kocek Scott tanpa bisa ditahan-tahan. Bahkan ketika itu istrinya sampai memuja, "Ketika kau meludah, dahak kotor berwarna hijau, virus influenza berbahaya, bahkan agen-agen penulis itu berebutan dahak hijau kau itu! Kau tahu, Honey, bahkan akulah salah satu yang menunggu kau meludah sepanjang malam di ranjang kita."
Tapi itu dulu. Sekarang ini, Scott menjadi burung. Dia tak produktif lagi menulis setelah mengerti bahwa burung tidak memerlukan uang. Burung hanya perlu terbang dari satu benua ke benua lainnya. Burung bahagia ketika terbang dan tak pernah memikirkan uang seperti dalam kepala manusia. "Burung-burung yang terbang mana pernah mati sia-sia? Bahkan aku tak pernah melihat kapan dan di mana mereka mati," kata Scott sedikit berfilsafat. Tapi keinginan menjadi burung malahan semakin kuat ketika istrinya lepas kendali.
"Utang kita setumpuk! Rumah mewah kita di atas bukit Pearl, yang hampir menyentuh awan itu disita bank sebab utang-utang kita! Bahkan sekadar membeli penghangat udara, atau sampo lidah buayaku saja kau tak mampu beli! Hey, Scott! Ke manakah uang-uangmu itu? Di manakah pena emasmu? Aku sakit, Scott. Aku sekarat kerna uang habis! Aku sebentar lagi mati kecewa kerna uangmu habis! Apakah kau sudah menjadi lelaki tidak bertanggungjawab? Apakah kau kira uang bukan lagi segalanya? Apakah kau ingin mengajak aku tabah seperti burung? Bahkan kucing kita, Caddy, kucing hutan yang kita temukan di hutan Caddy, kucing hitam liar seliar macan kumbang, pemakan daging mentah, kita ajarkan memakan makanan kucing dari pet shop! Bahkan Caddy tak bisa lagi membaui daging mentah secara instingnya sebab Caddy tahu dan ketagihan uang! Scott, hewan saja membutuhkan uang apalagi aku!"
Kata-kata istrinya itu sudah biasa Scott makan. Bukannya dia tak peduli istrinya. Scott tahu bahwa setiap puncak karir takkan bisa lagi menembus awan ketujuh. Scott tahu betapa penulis-penulis muda bermunculan bagai cendawan di waktu subuh. Penulis-penulis muda kreatif dengan kisah-kisah spektakuler yang tak pernah dia bayangkan. Scott merasa sampai puncak karir dan sudah sepatutnya melepas jubah emas kepengarangan itu. Dia harus lekas menjadi burung agar tak gila dengan persaingan. Setiap inci perebutan karir, di bidang apa saja, pasti berintrik dan mencekam. Tentu saja semua itu bermuara uang. Uang yang bisa membuat orang saling membunuh bahkan membuat perang antar negara. Scott tidak ingin berkonflik semakin dalam di masa tuanya. Dia harus cepat menginjak rem dan menghentikan segala tulisannya yang masih saja memburu dalam setiap tarikan napasnya.
Suatu hari hari terakhir hidup istrinya, yang sekarat kerna ketiadaan uang, Scott di samping ranjang istrinya.
"Kau masih memakiku di saat-saat terakhirmu ini, Sayangku?"
Wajah istri Scott yang sepucat kafan dan sesuram kuburan masih tampak tersimpan dendam yang kesumat. Napas istrinya satu-satu dan dia berkata, "Tega sekali kaukatakan itu padaku! Ya! Aku akan mati mendendam kerna ketakmampuan penulis kere macam kau ini! Scott, aku mati mendendam!"
Scott terisak dan mencengkeram sprei berwarna kelabu yang berbau morfin. Sungguh dia tak mau istrinya mati mendendam kerna perbedaan pandang tentang uang. Uang bisa membeli segalanya?
"Sayang, uang tidak bisa membeli kematianmu."
"Paling tidak uang membuat aku mati bahagia. Kematian memang tidak bisa dibeli tapi kebahagiaanku bisa kaubeli!"
Scott terpukul dengan kata-kata terakhir istrinya itu. Sebelum istrinya mengembuskan napas terakhirnya, Scott berbisik, "Setidaknya ketiadaan uang terkalahkan oleh cintamu padaku, Sayang. Matilah penuh cinta dan bukan mati kerna aku tak bisa memberikan uang."
Istri Scott mati tersenyum. Tapi kematian itu benar-benar membuat Scott terluka. Kematian tersenyum itu tidak bersuara. Scott merasa masih ada kemungkinan senyum kematian istrinya itu adalah senyum kematian yang menghina dirinya. Kematian senyum atau senyum kematian? "Ah! Persetan! Aku sekarang ini adalah burung yang bebas menerbangi benua manapun aku suka. Aku sekarang sendirian di dunia ini dan tak perlu lagi manusia-manusia penghamba uang!"
Tapi setelah dua minggu pemakaman istrinya, Scott mulai merasa diganggu batinnya. Hidupnya makin tak tenang ketika dia menjauhi uang kerna sebelumnya dia terlibat dengan uang. Scott teringat betapa dulu saat uang-uang itu mengejarnya, dan dia mabuk berat uang, dia merasa menjadi raja paling berkuasa. Digenjotnya habis-habisan karya-karya novel terbarunya. Makin digenjot dan uang yang datang makin mudah dan meriah. Orang-orang memujinya. Orang-orang memujanya. Label pujian dan pujaaan itu sungguh terbeli kerna uang atau karya-karyanya? Uang? Karya? Karya? Uang?
Apalah bedanya antara karya dan uang pikir Scott. Tapi dia kini burung dan sudah memilih menjadi burung. Pilihannya sudah jatuh dan tak mungkin lagi digugat. Bahkan Caddy dia lepaskan di hutan Caddy. Scott tak peduli Caddy mati atau bertahan dengan alam barunya selagi Caddy adalah hewan dan dia manusia. Tapi setelah dia menjadi burung apakah bedanya hewan dan manusia?
Sungguh pedih hidup dalam kehidupan ini. Untuk memilih apa yang manusia percaya benar-benar tetap berujung uang!
Tapi Scott tetap menjadi burung. Sedikit dia modifikasi, burung dan uang. Tetap hatinya tak nyaman dan melihat senapan berburu miliknya yang tergantung di dinding ruang tamu. Scott ambil senapan berburu itu dan dia isi peluru.
"Aku akan meledakkan uang malam ini agar aku tahu bahwa burung dan uang tak mungkin menyatu!"
Tapi pelatuk senapan berburu itu tidak meledak kecuali bunyi klik berkarat kerna sudah tiga tahun Scott tidak menservis senapan berburu itu kerna uang tak ada.
Habis perkara!
tamat
br, 2121