Kerna mereka divonis kanker stadium akhir maka mereka dibebaskan hidup semaunya.
Mereka dalam sangkar burung, spiral, diameter bawah 20 meter dan keliling atas berbentuk kerucut spasial. Di ruang keluarga ada cerobong asap untuk membakar kayu-kayu cendana dan albasia tua.
Mereka tak pernah bersedih hati kerna usia mereka dijadwalkan presisi oleh ahli-ahli seluruh bidang profesi yang menggabungkan seluruh kepakaran mereka.
A tanggal 2 bulan April paling panas dan mati sekitar jam 12 malam. Dia pakar Fisika.
E pergi dan mati di sekitaran beranda tempat main poker dan baccarat setelah 4 hari kematian A. Dia pakar Botani.
G mati tersedak biji nangka setelah tertawa saat berhasil mendapatkan Four of Kind (AS) dan mati bukan kerna kanker (menurut dokter ini prediksi melenceng) tapi tetap mati sesuai prediksi sekitar bulan Mei minggu kedua sebelum subuh berjamaah. Dia pakar Budaya.
Dan kematian seluruh pakar lainnya dalam impianmu semata.
Jelas mereka orang-orang hebat. Padahal kalau kau tahu kapan matimu datang itu lebih mengganggu dibandingkan matimu tidak berjadwal. Apa rahasia mereka tenang dan malahan bahagia?
C katakan dia bahagia dan tidak menyalahkan Tuhan atas derita kanker yang dijangkitnya. Getah bening C rusak. Paru-parunya rapuh. Darah selalu dicuci. Makan harus berwarna hijau. Paling berat, kemo 3 minggu sekali, "Jadi jelas kapan aku mati dan saat hari itu tiba aku bersiap dan siaga dan bisa kubayangkan kematianku sakit seperti apa," kata C.
Lain lagi dengan L. Betapa bahagia saat L mendapat kabar bahwa Dokter F kemarin lusa mati kecelakaan sepeda. Maksudnya, saat Dokter F olahraga sepeda pagi tersambar truk tanki dari belakang, "Apa enaknya mati seperti Dokter F? Mati penasaran itu," kata L.
ST lebih lagi kebahagiannya. Sekarang dia berusia 75 tahun dan terdeteksi kanker prostat 5 tahun lalu. Tapi kerna dia mendapat hadiah nobel pas 5 tahun lalu, juga, dan sungguh hadiah nobel yang banyak itu dipergunakan untuk mengobati prostatnya.
ST diprediksi mati sekitar 25 tahun lagi, "Sialnya, jadi penulis, ketika idealismeku terantukkan dengan penulis-penulis kacangan yang mendapatkan uang cepat dari tulisan-tulisan berjutaan kata di platform menulis berbayar, sampah kata-kata menggunung dan viral di sana, dan aku syok melihat pembaca menyukai tulisan-tulisan sampah.
"Sekarang aku persetan idealismeku ini. Menulis menghibur pembaca. Tak peduli ringsek dan brengseknya kata-kata. Tak peduli baku tidaknya kata-kata, tatakata? Meta dan Fora? Personi dan Fikasi? Pre dan Mis? A - lur? Sket - sa? Oh, tidak! Kata adalah bunyi Pembaca. Kata berbunyi bebas. Arti bebas yang tidak terikat aturan bunyi. Kata adalah pembaca adalah persepsi dan intensi berbunyi sama di belahan bumi mana. Kata tidak butuh diperkosa untuk dijadikan lembut, kenyal, kasar dan atau benci. Kata menjadi kekasih, kasih, dan paling besar kata adalah cinta dan tentu saja kata adalah kematian. Kematian kata-kata yang selalu digugat oleh sastrawan-sastrawan idealis dan siapakah mengangkat mereka dengan semua gelaran abal-abal itu? Akhirnya kata terserah aku, kau, mereka, sebab pembaca membutuhkan kata-kata sebagai hiburan dari penat belaka, dari layar kaca dan layar sentuh saat pembaca akan bobok dan bermimpi bersama kata-kata ringan yang bebas itu.
"Kata adalah Pembaca adalah Uang hari ini untuk penulis-penulis generasi ini yang terstigmakan sampah oleh sastrawan-sastrawan yang ternyata adalah sampah kuburan kata-kata. Kata bukan lagi keindahan tapi uang bagi penulis yang bisa menghibur pembaca secara utuh dan konsisten.
"Uang! Uang adalah idealismeku sekarang. Bajingannya, mereka pun gila uang diam-diam. Satu kaki di lubang idealisme dan kaki lainnya di lubang uang.
"Bangsatnya, hadiah nobelku ini mengapa tidak segera 30 tahun lalu? Ketika idealismeku muda menyala-nyala," kata ST menutup buku berjudul: "UANG ADALAH PEMBACA BUKAN KATA"," tutup ST. Kawan-kawan kanker lainnya tampak lega saat ST berhasil keluar dari lubang idealisme samar-samar.
Kanker menyatukan mereka di sangkar spesial itu. Mereka bebas dan merdeka dari rasa takut individual sebab kematian lebih dulu tahu dan kehidupan ini hanya ampas pikiran cemas kerna takut menghadapi persaingan mata, lidah, telinga, kaki, tangan, kelamin, kecuali hidung sebab udara tidak berbau dan berwarna, agamis dan bersuara, dan mereka isap gratis setiap milidetik dalam ukuran seimbang.
tamat
br, 2121