Gara-gara ceceran cerpen di internet, Bryan, pelajar SMA yang tinggal di Gondangdia meluncur ke daerah Senen sepulang sekolah. Bryan bertekad menjadi penulis dan tekad itu makin membaja saat dia terobsesi bertingkah bebas dan gila, kumel, dekil, rambut gondrong dan utang sana-sini sesuai informasi dari ceceran cerpen yang dibacanya itu.
Bryan bercita menjadi penulis profesional dan tentu saja cita-citanya itu dianggap nyeleneh oleh orang tuanya yang hidup di era milineal. Apalagi Ibu tak suka Bryan menjadi penulis. Ibu ingin cita-cita Bryan menjadi pengusaha sukses dan tentu saja Ibu sanggup mensukseskan cita-cita Bryan sebab Ibu diwariskan empatbelas perusahaan kelas kakap oleh Bapak. Tapi dalam kisah ini Bapak sudah lama meninggal sejak Bryan masih menyusu ibunya.
Kerna cintanya Ibu kepada Bapak yang memiliki kekayaan di luar nalar manusia (Bapak diwariskan dari Bapaknya yang sejak zaman kolonial ditakdirkan triliuner) maka Ibu tidak menikah. Bagaimana hendak menikah bila kesulitan waktu mengatur kesibukan banyak perusahaan itu? Tapi Ibu tetaplah Ibu. Dia tak pernah lalai mengurus semua keperluan Bryan. Apapun keinginan Bryan pasti terwujud tapi keinginan Bryan menjadi penulis? O, o, o, tidak. Ibu tak rela Bryan menjadi penulis. Itu pekerjaan berat yang buruk menurut Ibu. Mana bisa Bryan menjadi penulis dan untuk apa menyengsarakan diri sendiri itu? Tapi Bryan berusaha melawan kehendak Ibu. Perlawanan itu dibuktikannya saat Ibu mendapat surat teguran dari sekolah sebab Bryan sering bolos sekolah, mulai ketahuan merokok oleh guru olahraga, rambut panjang, dan busana sekolah dekil, kumel, dan bau badan Bryan busuk kerna Bryan jarang mandi.
Dikhawatirkan dalam surat teguran itu bahwa Bryan tertular virus narkoba dan atau tertular genk-genk remaja sekarang lagi ngetrend. Genk motor misalnya atau genk bercorak mirip Yakuza di Jepang. Tentu saja Ibu ketakutan mendapatkan surat teguran sekolah itu. Tapi memang, Ibu terlalu percaya kepada Bryan sehingga waktu bertemu Bryan bahkan saat waktu luang sekalipun, hari libur atau hari Sabtu dan Minggu, atau hari-hari besar lainnya yang bertanda merah dalam kalender benar-benar tidak bisa Ibu lakukan kerna Ibu lebih sering tinggal di luar negeri untuk mengawasi anak-anak perusahaan tambang emasnya. Pikir Ibu, betapa lebih penting mengawasi anak-anak perusahaan itu yang berpotensi memberikan keuntungan miliaran dolar dalam sebulan saja ketimbang mengorbankan waktu untuk bertemu Bryan.
Memang sewaktu Bryan masih kecil, Ibu lebih sering bertemu Bryan ketimbang mengurus perusahaan semenjak Ibu memberikan kepercayaan penuh untuk mengelola seluruh perusahaannya kepada seorang pria tampan yang diangkat Ibu sebagai Presdir seluruh perusahaan Ibu. Tapi pria tampan itu menelikung Ibu ketika pria tampan itu diam-diam menilep uang perusahaan. Sejak kejadian itu Ibu mulai waspada dan ketika usia Bryan menginjak remaja Ibu lebih banyak mengurus perusahaannya dan Bryan diasuh oleh pengasuh khusus yang disewa oleh Ibu dengan harga fantastis.
Hampir sebulan penuh Ibu bersiteru dengan Bryan. Ibu benar-benar kaget melihat Bryan melawannya begitu gigih. Semua nasihat dan petuah Ibu dibalas Bryan dengan kata-kata puitis. Misalnya saat Ibu menjelaskan bahwa kehidupan mereka sangat beruntung ketimbang keluarga orang lain yang kesulitan uang dan Bryan menjawab, "Aku Bryan. Aku memiliki kehidupan yang akan aku ukir sendiri dan bukan kerna keberuntungan hidup. Ibu, bagaimana bisa aku hidup dari keberuntungan yang kita dapatkan turun temurun itu? Ibu, sesungguhnya aku ini binatang jalang yang terbuang dari sekumpulanku, dan hidupku akan kumulai dari Planet Senen yang fenomenal itu. Kerna dari sanalah, masa silam itu, di warung padang dekat stasiun Senen itu, seniman-seniman dari seluruh penjuru kota Jakarta berkumpul dan membicarakan nasib kehidupan dunia ini. Tolong Ibu dukung cita-citaku ini penuh sepenuhnya dan aku takkan melupakan dukungan Ibu sepenuh-penuhnya usiaku ini."
Lalu setelah berkata demikian Bryan mencium kening ibunya sepenuh sayang dan tentu saja Ibu terperanjat demi mendengar kata-kata puitis Bryan.
Segera Ibu mengingat Bapak. Rasanya, darah seni benar-benar tak mengalir dalam tubuh Bapak. Ibu seratus satu persen yakin bahwa Bapak pebisnis tulen yang gesit dan cerdas. Darah seni siapa yang menurun kepada Bryan? Kakek dan Nenek? Paman Tajir atau Atok Dolar? Oh, bukan, bukan darah seni mereka. Ibu meyakini bahwa sedikitpun darah seni tidak mengalir dari keturunan Bapak. Benar-benar tak ada gen seni dari keturunan Bapak. Apalagi gen seni dari keturunan Ibu? Tidak, bukan. Semua gen keturunan Ibu tidak memiliki gen seni sebab keturunan Ibu keturunan orang susah makan. Boro-boro mikirin seni! Memikirkan makan nasi saja begitu sulit di masa Ibu kecil dahulu. Keturunan gen Ibu adalah keturunan pekerja kasar dan kotor. Keturunan cukup makan nasi limabelas hari dan sisa hari lainnya berutang sana-sini kepada rentenir.
Cepat-cepat Ibu membuyarkan lamunan masa kecilnya yang suram itu. Sesungguhnya Bapak yang mengangkat derajat keturunan Ibu. Bapak jatuh cinta kepada Ibu ketika Bapak menemui Bapaknya Ibu ketika meminjam uang perusahaan pelayaran milik Bapak yang saat itu mengepalai perusahaan milik Bapak Bapaknya Bapak. Bapak memberikan uang itu di rumah Bapaknya Ibu yang semi runtuh. Rumah tua warisan orang tua Bapaknya Ibu yang dihuni oleh sepuluh keluarga miskin. Saat itulah Bapak melihat Ibu yang keluar membawa teh melati. Bapak terpukau melihat keayuan Ibu dan sejak hari itu Bapak sering mengunjungi rumah Ibu bahkan sebulan kemudian rumah Ibu yang semi runtuh itu ditinggalkan sebab Bapak membelikan rumah baru yang besar dan mewah. Demikianlah kisah sejarah keturunan Ibu. Jadi, dari siapakah gen seni yang menurun kepada Bryan?
Tak perlu waktu lama. Ibu segera menyewa detektif partikelir untuk menyelidiki siapa gen seni yang menurun kepada Bryan. Ibu yakin sekali pasti ada gen seni dari gen pihak Bapak, tentu saja tak mungkin dari garis gen keturunan Ibu. Pasti ada seorang dari keturunan Bapak yang menyukai seni. Seni apa saja dan bukan seni kata-kata saja. Ibu membayar sejumlah uang fantastis untuk detektif partikelir itu. Uang bukan masalah bagi Ibu.
Tak perlu menunggu berbulan-bulan dan dengan bayaran fantastis itu, Ibu mendapatkan setumpuk laporan hasil investigasi yang tebal. Gemetar Ibu membaca hasil investigasi itu dan Ibu terkejut, tak percaya dengan hasil investigasi itu. Dikatakan bahwa dulu Ibu suka menulis dan bercita-cita menjadi penulis. Banyak puisi-puisi Ibu yang manis isinya itu disimpan di sekolah lama Ibu. Bahkan banyak guru-guru Ibu (yang masih hidup tentunya), teman-teman sekelas Ibu, didatangi oleh detektif partikelir itu. Hasil wawancara dan rekaman suara mereka dibaca dan didengarkan Ibu. Tak terasa air mata Ibu meleleh. Ibu teringat saat Bapaknya Ibu berkata, "Bukan aku tak sayang dengan pendidikanmu itu tapi aku lebih paham bahwa kau berhenti sekolah cenderung memberi lebih nasi untuk adik-adikmu. Ingatlah bahwa cita-citamu menjadi penulis itu adalah omong kosong besar! Lebih penting kau bekerja sebagai apa saja untuk uang bahkan aku rela kau menjual tubuhmu demi keluarga kita ini. Kemiskinan itu mencekik nalar dan membuntukan harapan. Hanya kenekatan hidup bisa menaklukkan kemiskinan dan tak peduli dengan moral! Ingat kata-kataku ini, ya! Selamanya!"
Ibu menangis dan mulai terkenang cita-citanya dahulu. Memang benar Bapaknya Ibu kejam tapi memang kemiskinan itulah sumber kekejaman. Bahkan Ibunya Ibu terpaksa mengadu nasib di kota menjadi kupu-kupu malam.
Ibu menjerit malam itu dan berlari kesetanan mencari Bryan. Tapi Bryan asyik di Planet Senen. Bryan tampak asyik berbicara dengan penulis cerpen yang tercecer di internet itu. Tapi orang-orang yang berlalu lalang di sana menganggap Bryan orang gila baru di Planet Senen sebab Bryan berbicara sendiri. Tertawa dan menepuk dinding Planet Senen seolah menepuk bahu penulis cerpen yang berambut keriting itu.
tamat
br, ©2121