Tidur diranjang empuk dengan seperangkat alat tidur lainnya seperti Bantal, Guling dan selimut adalah hal paling membuat tubuh rilex dalam sekejap.
Umumnya, saat tubuh manusia mulai kelelahan, tubuh akan merespon dengan cara menguap yang membuat mata kita serasa berat dan ingin segera tidur.
Entah bagaimana proses terjadinya secara rinci, karena aku bukanlah Dokter yang mampu mendiagnosa penyakit, dan aku juga bukanlah Dilan yang mampu meramal apa isi hatimu..
Yang jelas saat kita menguap, itu tandanya tubuh kita perlu diistirahatkan dengan cara TIDUR.
****
Cerita berawal disebuah rumah sakit, yang dimana rumah sakit itu menampung satu pasien yang telah tidur dalam komanya selama 30 tahun yang bernama Deon.
Selama 30 tahun, ia hanya menghabiskannya dengan tertidur lelap di atas ranjang kamar rumah sakit yang semakin lama semakin keras tanpa pernah terbangun sekalipun, dan tidak makan tidak pernah menjadi masalah.
Orang tuanya bersusah payang bekerja keras demi bisa melihat anaknya terus hidup walau hidupnya saat ini hanya di bantu oleh alat kedokteran, hingga akhirnya ayahnya meninggal karena bunuh diri. Sekarang satu satunya harapannya adalah bangun dari tidurnya.
"Waktunya membuang boneka bernafas rumah sakit ini"
Salah satu Dokter rumah sakit itu bicara.
"Ayo, keluarkan orang aneh ini segera"
Dokter lainnya ikut menambahkan dan segera memasuki kamar pasien dan melepas semua alat bantu pernafasan.
Ketika sang Dokter hendak melepas semua alat bantu pernafasan yang digunakan Deon. Tiba tiba Deon terbangun dengan mata yang langsung terbuka, membuat para Dokter berteriak ketakutan atas bangunnya Deon si pasien no. 1
"Siapa kalian? Dokter yang merawatku bukan kalian!"
Deon berbicara sedikit panik setelah melihat kedua Dokter yang baru ia temui
"Yaampun, pasien bangun dari komanya!"
Salah satu suster tak menyangka bahwa pasien yang telah koma selama 30 tahun akhirnya terbangun.
"Jangan banyak bicara, dimana keluargaku?"
Deon segera terbangun dan mencoba untuk berdiri
"Keluargamu sudah lama pergi dan kami tidak tau keadaannya, maka dari itu kami terpaksa melepaskan alat bantu yang anda gunakan, karena tidak ada lagi yang membiayai pengobatan anda"
Dokter memberitau sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
Krek~
"Aduh aduh.. Pinggangku sakit sekali"
Deon kesakitan sambil memegang pinggangnya yang terasa nyeri.
"Bapak Deon tolong beristirahatlah terlebih dahulu.."
Dokter kembali bicara dan menuntun Deon kembali ke kasurnya.
"Bapak? Saya masih 19 tahun, jangan panggil saya bapak!"
Deon bicara terlihat kesal karena dipanggil "Bapak".
"Tapi bapak memang sudah seharusnya dipanggil bapak, karena bapak lebih tua dari saya.."
Ucap sang Dokter kepada Deon.
"Apa maksud kalian?"
Deon semakin bingung dengan keadaan yang sedang terjadi.
"Bapak telah mengalami koma selama 30 tahun, dan sekarang bapak sudah mau berumur setengah abad"
Ucap sang Dokter sembari memberikan data selama 30 tahun Deon di rumah sakit.
Tanpa pikir panjang, Deon langsung mencari sebuah cermin untuk melihat wajahnya yang mau berusia setengah abad.
Ketika menemukan sebuah cermin yang terletak di atas wastafel kamar rawat Deon, betapa kagetnya Deon bahwa ia sudah terlihat sangat tua dibanding dengan terakhir kali ia bercermin.
"Astaga! Kenapa aku bisa setua ini?!"
Deon bicara dengan nada panik.
"Anda sudah koma selama 30 tahun bapak"
Dokter kembali mengatakannya.
Deon sudah tidak bisa berbuat apa apa, kecuali menerima kenyataan bahwa sekarang ia sudah tidak lagi muda.
****
Setelah keluar dari rumah sakit, Deon berjalan menyusuri jalan yang sudah terlihat sangat berbeda dibandingkan dulu.
"Bagaimana bisa aku menjadi seperti ini, aku belum sempat nikah. Hancurlah sudah hidupku ini"
Deon berbicara sambil menyentuh wajahnya yang keriput dimakan usia.
Kemudian datang seseorang Pria muda bernama Kiyan yang mengaku bahwa dia adalah anak kandung Deon. Mendengar perkataan Pria itu, Deon semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Ayah, ikutlah pulang denganku kerumahku"
Ucap Kiyan kepada Deon.
Karena bingung akan tinggal dimana, akhirnya Deon menyetujui ajakan dari Kiyan dan segera masuk kedalam mobil milik Kiyan.
Sesampainya dirumah, Deon benar benar tidak percaya kalau dia memiliki anak yang mempunyai rumah layaknya istana.
"Ayah, beristirahatlah.. Aku akan membuatkanmu teh hangat dulu"
Kiyan segera pegi ke dapur untuk membuat teh untuk Deon.
Deon sama sekali tidak membalas pembicaraan Kiyan, dia masih saja melirik ke kanan dan ke kiri melihat seluruh bagian dalam rumah orang yang mengaku anaknya itu.
Setelah teh yang dibuatkan Kiyan datang, Deon segera menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi 15 tahun lalu, ayah pergi meninggalkan kita entah kemana dan tidak pernah kembali saat aku masih berumur 7 tahun"
Ucap Kiyan kepada Deon.
"15 tahun lalu? Lalu dimana ibumu? Siapa dia? Apakah kamu punya saudara kandung? Tapi.. Aku baru saja itu.. Anu apa ya...
Deon mendadak lupa dengan apa yang ingin ia katakan.
"Ayah, sebaiknya ayah pergi tidur untuk beristirahat. Jika ayah tidur, saat bangun maka ayah akan merasa lebih baik. Soal pertanyaan itu, ayah akan mengetahuinya seiring berjalannya waktu."
Kiyan membantu Deon yang benar benar sudah seperti orang tua yang lemah untuk masuk ke kamar.
"Ayah tidurlah, saat bangun nanti semuanya akan baik baik saja"
Kiyan menyelimuti Deon dengan selimut dan segera pergi keluar.
Saat Kiyan sudah pergi, Deon benar benar berpikir keras, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Karena berpikir terlalu keras, Deon akhirnya malah merasa kesal dan mulai mengantuk.
****
Saat Deon akan segera menutup mata, saat itu juga Deon berpikir, bagaimana jika dia tidak pernah terbangun lagi jika dia tidur.
"Ahh sial, hampir saja aku melakukan kesalahan"
Deon bernafas begitu tergesa gesa karena panik akan terjadi hal yang sama sebelumnya.
Cekreeek~
"Ayah, kenapa ayah belum tidur? Tidurlah ayah, aku jamin saat ayah bangun ayah akan baik baik saja."
Kiyan bicara di pintu yang sedikit terbuka dan kembali menyarankan Deon untuk segera tertidur.
"Baiklah, aku akan segera tidur"
Ucap Deon kepada Kiyan.
Setelah Kiyan pergi, Deon mencoba untuk tidak memejamkan matanya karena takut akan kejadian yang sama akan terulang.
****
Disepanjang malam, Deon terus terjaga dan melakukan segala cara agar tidak tertidur. Berjalan bolak balik, berkhayal dan
Melihat keluar dari jendela.
Hingga pagipun tiba, Deon mendengar langkah kaki yang mendekati kamarnya. Seketika Deon langsung lompat ke kasurnya dan pura-pura tertidur.
Ternyata Kiyan yang masuk ke kamarnya yang langsung melihat kearah Deon dengan tatapan aneh.
"Ayah, aku tau kau pura-pura tidur, bangunlah.."
Kiyan berbicara sambil bersandar di tembok.
"Eh, bagaimana kamu tau?"
Deon membuka mata sambil melontarkan senyum bodoh pada Kiyan.
"Sudah aku katakan, ayah harus tidur jika ayah ingin tenang."
Deon mulai berbicara serius.
"Tenang? Apa maksudmu tenang? Aku tidak ingin tidur, karena aku takut aku tidak akan pernah terbangun lagi."
Ucap Deon penuh dengan kehawatiran.
Mendengar perkataan Deon, Kiyan mengajak Deon untuk keluar rumah dan menunjukan sesuatu kepada Deon.
"Ayah lihatlah ke langit, apa yang ayah lihat?"
Ucap Kiyan bertanya kepada Deon.
"Yaampun, langit tidak berwarna, bagaimana mingkin ini bisa terjadi?"
Deon bicara keheranan setelah melihat langit dan awan yang berwarna hitam putih.
"Apa ayah ingin kembali melihat langit berwarna?"
Kiyan kembali bertanya kepada Deon.
"Ya, aku ingin kembali melihat dunia yang dulu lagi."
Ucap Deon dengan air mata yang menetes di matanya."
"Kalau begitu, ayah tidurlah dan semua akan kembali seperti semula."
Ucap Kiyan sambil menepuk pundak Deon.
Setelah mendengar ucapan dan tepukan dari Kiyan, Deon mendadak merasa mengantuk yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya dan langsung tertidur dan semua mulai terlihat gelap.
****
Setelah itu Deon terbangun di kasur dan mulai melihat sekeliling, yang ternyata dia sedang berada dikamarnya.
"Astaga! Ini dikamarku, apa yang terjadi?!"
Ucap Deon sambil terbangun dari ranjangnya.
Seketika Deon berlari menuju cermin yang berada di dekat tempat tidurnya. Dan betapa terkejutnya Deon melihat dirinya yang kembali ke umurnya yang 19th.
"Yaampun, aku kembali lagi.. Syukurlah tadi itu hanya mimpi"
Ucap Deon sambil menghela nafas panjang.
Ternyata semua yang telah terjadi hanyalah sebuah mimpi yang dialami oleh Deon dalam tidurnya yang dalam.
THE END
*Pesan
(Sebelum tidur, baiknya kamu membaca do'a, supaya tidak mimpi yang aneh aneh.. Hhhe)