Itu kamu....ya...itu kamu,...kamu tertawa...kamu terlihat senang dengan pacar barumu.
Heh..rupanya seperti itu yang kamu inginkan...
Heh..cowok yang bersih..tidak seperti aku yang pekerjaannya kotor...
Owh...okey...okey...aku bisa paham apa maksudmu...
Tapi..apa kamu tahu...bahwa perasaanku padamu sudah terlanjur cinta..kamu tahu....aku selalu merindukanmu..dan kamu..malah memutuskanku disaat aku masih sangat menyanyangimu..
Baik.....untuk saat ini kamu tertawa bersama pacarmu..kamu bangga dengannya ..tapi lihat saja..kamu akan menangisinya..kamu akan merasakan bagaimana rasanya di tinggalkan saat kamu masih sayang padanya..( bathinku saat ini)
***
Esok harinya aku memang sudah berniat mencari orang yang bisa membuat aku puas , melihatmu menangis...tunggu saja..saat itu tidak akan lama lagi.
Saat ini aku mengendarai mobilku menuju sebuah rumah seseorang yang bisa membuat bisa membalaskan dendam untukmu..
tok..tok..tok...
Aku mengetuk pintu rumah itu, dan tidak lama pintu itu terbuka dengan sendirinya. Aku terkejut karena peristiwa ini adalah baru bagiku. Hal mistis..hal yang baru pertama akan aku temui..
"Permisi....," ucapku ,ketika masuk ke dalam rumah itu. Baru saja aku melangkahkan kaki tiga langkah, tiba-tiba aku sudah berada di ruangan sebuah gua yang dingin dan gelap. Aku kemudian menggigil ,merasakan dinginnya di ruangan ini.
Aku berjalan sendiri, tapi seolah ada hawa lain yang menuntunku masuk lebih dalam ,ke gua ini. Kemudian aku di kejutkan lagi, karena tiba- tiba, aku serasa di paksa duduk oleh tangan, tapi padahal tidak ada manusia di gua ini. Apakah mereka yang tinggal di ruangan aneh ini, adalah makhluk yang tidak bisa di lihat oleh mata. Bathinku , berpendapat sendiri.
HAHH..
Aku sangat terkejut, ketika tiba tiba..seseorang sudah duduk di depanku, dengan sebuah meja dengan wadah yang tergeletak diatasnya, dan dalam wadah itu adalah cairan kental yang berwarna merah.
Aku menelan salivaku dengan berat, seketika merasa ngeri..
" Mau apa kamu ke sini?" suara berat yang berasal dari orang di depanku ini, bertanya padaku.
Aku menjadi gugup, bahkan mulutku tidak mampu mengeluarkan kata kata.
" Aaaa....Aaaa...kkkkuuuuuu...." suaraku sangat sulit hanya untuk mengucap kata itu.
BRAKK..
Orang itu memukul meja, dengan keras. Seketika kata kataku, lancar aku ucapkan.
" Aku kesini ingin meminta bantuan, untuk membalas dendam" ,kata kataku terucap dengan lancar sesudahnya.
" Hemm...rupanya kamu ingin membalas dendam.." kata orang itu, sambil manggut manggut.
Aku mengangguk berat, tiba tiba aku ragu melakukan niatku semula.
" Baik...aku akan membantumu..tapi dengan satu syarat,..kamu harus mencarikanku satu tumbal untuk itu, anggap saja itu sebagai bayaranku...apa kamu setuju?" orang itu berkata lagi ,panjang lebar kepadaku.
" Syarat?" tanyaku ,memastikannya. Aku menjadi ragu.
" Apakah ada syarat lain selain itu?" tanyaku lagi.
Orang itu memelototiku sebagai jawaban pertanyaanku lagi. Aku merasa takut, hanya dengan cara dia memandangku..itu menakutkan sekali..
" Baaa..baikkklah...aku...se..tu..ju..." jawabku sambil tergagap.
***
Setelah hampir 1 jam , aku keluar dari rumah itu, dengan cara yang sama. Aku menoleh sekali lagi, sebelum aku masuk ke dalam mobilku.
" Malam ini, bawalah satu anak kecil laki- laki kemari, sebelum pukul 11 malam hari". Syarat yang di minta oleh orang itu. Aku mulai bingung, dimana aku bisa mendapatkan anak kecil sebagai tumbalnya .Aku mengerutkan keningku dalam, memikirkannya.
" Kakak..." sapa anak pembantuku, saat aku akan memasuki rumah. Anak itu begitu menggemaskan, sehingga kadang aku betah bermain dengan anak ini seharian.
" Eh..kamu..Dodi..." balasku untuknya. Dodi lalu berlari menuju dapur, setelah membukakan pintu untukku.
***
Aku melangkahkan kaki, menuju kamarku, kemudian aku berbaring diatas kasur. Pikirannku seketika bekerja ..menyuruhku untuk memberikan Dodi ,sebagai tumbalnya.
Tapi kemudian hati kecilku berteriak" jangan",
Ha' aahhh...entahlah...aku jadi bingung sendiri.
Hari sudah hampir magrib, ketika Bi Romlah( pembantuku), pamit akan pulang, karena telah selesai melakukan pekerjaannya. Dodi sudah menggandeng tangan ibunya itu ,dengan wajah yang riang seperti biasanya.
" Bi...Dodi biar tidur di sini saja , nemenin saya ." celetukku seketika ,ketika melihat anak imut itu.
Bi Romlah menolak permintaanku dengan halus, tapi Dodi, wajah anak kecil itu, nampak kecewa.
Dodi memandang ibunya, dengan wajah memohon, dan tangannya mengayunkan tangan ibunya. Bi Romlah menjadi tidak tega, dan akhirnya mengabulkan permintaanku.
***
Malam ini sudah pukul 10 malam. Dodi sudah tertidur pulas, setelah bermain denganku. Anak itu nampak damai saat tertidur seperti ini.
Aku kembali terngiang akan ucapan orang gaib itu, agar segara membawa anak kecil sebelum pukul 11 malam. Aku melihat Dodi dengan perasaan ragu, untuk tega dan tidak tega.
Tapi egoku terlalu kuat untuk aku musnahkan dari pikiranku, dengan kedua tangan, aku mengangkat Dodi yang sedang tertidur, lalu membawanya ke mobilku. Aku menyetir mobilku, menluncur ke tempat gaib itu.
***
Aku memarkirkan mobilku seperti tadi siang di tempat ini. Dodi masih tertidur, kadang dia sedikit mengigau. Dengan pelan aku mengangkatnya, membawanya keluar dari mobil.
Dengan tiba tiba, dua orang makhluk tinggi , dan berbadan besar, muncul di depanku.
HAH!
Aku terkejut dan memekik keras, sehingga Dod seketika bangun.
" Kakak..." panggil Dodi, sambil mengucek matanya, dan beralih posisi, memelukku erat.
" Kakak...kita mau kemana?" tanyanya dengan polos.
Seperti sebelumnya, mulutku tidak bisa di gerakkan di hadapan makhluk menyeramkan ini. Aku hanya tercengang melihat dua makhluk itu di depanku.
" Turunkan anak itu!" ucap makhluk itu dengan mata merah yang melotot. Jari jarinya sangat besar dan panjang, terulur ke depanku.
Aku memandang Dodi sekilas, dan malah mengencangkan pelukanku pada anak kecil ini.
Aku menolak memberikannya.
"Tidak.." balasku pada makhluk itu.
" Kakak...kakak bicara sama siapa?" tanya Dodi yang ada di gendonganku. Aku menoleh pada wajah anak itu, anak itu tidak terlihat takut.
" Kamu...kamu tidak takut ..." balasku.
" Takut...aku tidak takut, aku kan pemberani.." sahut Dodi ,seolah kata kataku main main.
Aku terbelalak menatap Dodi,...lalu menoleh ke depan , kini memandang makhluk besar itu.
" Dodi, kamu tidak melihat makhluk di depan kita ini?" tanyaku lagi.
Dodi kemudian memandang ke depannya. Anak itu menggeleng.
" Tidak..Dodi tidak lihat siapapun kok ."
Aku malah merasa lega, karena Dodi tidak bisa melihat makhluk besar itu.
" Baiklah kalo begitu,...kita akan pergi dari sini." ucapku dengan mulai membalikkan badan dan akan berlari menuju mobilku.
***
Dengan langkahnya yang panjang, kedua makhluk itu mengejar kami. Saat aku membuka pintu mobil, pintu mobil itu tidak dapat di buka sama sekali.
Aku mulai panik, dan Dodi juga berteriak ketakutan.
" Kakak..ada itu ..ada itu...cepat...cepat..makhluk itu kesini..."
" Kamu melihatnya..." tanyaku.
" Iya...kakak..dia menyeramkan dan menakutkan kakak..."
" Baik...kita lari saja sekarang...." Aku berlari sambil menggendong Dodi.
Tiba tiba tempat ini berubah menjadi sebuah gua yang kemarin aku berada di dalamnya. Aku dan Dodi sudah terjebak, dan tidak akan tahu bagaimana nasib kami.
***
Aku hanya pasrah mungkin saja aku akan mati sekarang, dan aki merasa bersalah pada anak kecil ini. Aku diikat oleh tali yang kuat, begitupun Dodi. Dia menjerit, takut dan kesakitan.
" Maafkan aku Dodi, karena rasa ingin balas dendamku , malah membuat aku mengantarkan nyawaku dan juga merampas kehidupanmu...." Aku hanya menyesali tindakan bodohku.
* tamat*