"KARENA KAU BERANI MENOLAK, KU KUTUK KAU MENJADI BURUNG PUTIH!!"
Raja Raymond yang sakti berseru sembari mengayunkan tongkatnya ke arah Pangeran Richard, putra Raja Leonard yang sudah berani menentang perjodohannya dengan Putri Annette, putri Raja Raymond yang berwajah cantik namun licik.
SLAP !!!!
Seketika itu juga Pangeran Richard yang tampan dan baik hati itu berubah menjadi seekor burung putih nan elok.
Burung jelmaan Pangeran Richard pun terbang keluar istana melalui jendela besar dan makin menjauh, entah kemana.
Raja Leonard yang menyaksikan putra mahkotanya disihir oleh Raja Raymond pun lantas mengamuk. Dia mengerahkan pasukan untuk menangkap Raja Raymond dan keluarganya yang datang tanpa diundang ke istana Raja Leonard, dan menyuruh penyihir istana andalannya untuk mengembalikan Pangeran Richard menjadi manusia kembali.
"Maaf Baginda, hamba tidak bisa karena yang bisa mencabut kutukan tersebut hanyalah orang yang mengutuknya, yaitu Raja Raymond" ucap penyihir istana.
"Hahaha... kalian akan kehilangan putra mahkota!! Dia pantas mendapatkannya, karena sudah berani menolak putriku yang cantik ini!" timpal Raja Raymond dengan nada congkak seraya terbahak.
"DASAR KURANG AJAR KAU RAYMOND!! PENYIHIR, UBAH DIA MENJADI SEEKOR CACING AGAR DIA TAK PUNYA DAYA APA-APA LAGI UNTUK BERBUAT SEMAUNYA!!"
DAN CEPAT JEBLOSKAN PERMAISURINYA DAN PUTRI ANNETTE KE PENJARA BAWAH TANAH!!!" titah Raja Leonard dengan geram.
Pasukan Raja Leonard menggelandang Permaisuri Raja Raymond dan Putri Annette ke penjara bawah tanah.
Penyihir istana segera mengeluarkan kesaktiannya untuk melumpuhkan Raja Raymond yang congkak itu, namun Raja Raymond melawan. Mereka pun beradu kekuatan.
Tetapi, kejahatan memang tak dibiarkan berjaya di muka bumi. Raja Raymond berhasil dilumpuhkan dengan cara ditikam tombak dari belakang oleh Raja Leonard, saat dia tengah berhadapan dengan penyihir istana.
Raja congkak itu pun tumbang bersimbah darah.
"Lalu bagaimana dengan nasib Richard putraku??" tanya Raja Leonard dengan sangat khawatir pada penyihir.
"Pangeran akan kembali menjadi manusia ketika ada seseorang yang dengan tulus menyayangi Pangeran saat berwujud burung, namun rela melepaskannya kembali ke sini" ujar penyihir istana.
***
"Belinda, lihat apa yang papa bawa!" seru Jordan pada anak gadisnya sembari menenteng sebuah benda diselimuti kain biru.
Belinda terkesiap. Dia yang sedari tadi duduk di teras rumah sembari memandangi langit, dengan cepat berdiri dan menatap kedatangan papanya yang tampak sumringah.
"Apa itu Pa?" tanya Belinda penasaran.
Mata birunya coba menelisik benda yang dibawa papanya.
Jordan segera menyingkap kain penutup berwarna biru itu, dan...
"Tara...! Lihat lah, apa kau suka?" tanya Jordan sambil memandang gadis cantiknya itu.
"Wah, seekor burung putih? Darimana Papa mendapatkannya?" tanya Belinda penuh takjub.
"Papa menangkapnya ketika ia sedang asyik bertengger di dahan pohon dekat sungai, saat papa pulang berdagang dan beristirahat di pinggiran sungai" terang Jordan.
"Apa kau suka, Sayang?" imbuh Jordan.
"Suka sekali Pa, dia bisa menemani hari-hariku yang kesepian ini" sahut Belinda dengan mata berbinar.
Jordan memeluk putri kesayangannya itu dengan penuh kasih. Dia merasa iba pada Belinda karena dia harus kehilangan masa-masa remajanya yang penuh keceriaan dan aktifitas.
Belinda terlahir tak sempurna, salah satu kakinya pendek. Dengan begitu dia harus berjalan dengan satu tongkat penyangga.
Namun begitu, dia tetaplah Belinda yang sangat cantik. Mata birunya yang bening, rambut panjangnya yang ikal di ujung serta senyumnya yang menawan sanggup menaklukkan banyak pemuda yang mengenalnya.
Akan tetapi, nasib baik belum berpihak padanya. Pemuda-pemuda yang jatuh hati padanya itu harus pasrah dengan larangan keras dari keluarga masing-masing.
Keluarga mereka tak sudi mempunyai menantu cacat seperti Belinda. Hal itulah yang membuat Belinda sedih. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk sekedar merajut, melukis, atau duduk di teras sambil menatap langit seperti yang ia lakukan saat itu.
Ibu Belinda sudah meninggal dunia setahun setelah Belinda lahir akibat sakit. Papa Belinda memilih untuk tidak menikah lagi dan hanya fokus merawat dan membesarkan Belinda dibantu oleh asisten rumah tangga.
Papa Belinda adalah seorang saudagar kaya, dia juga murah hati dan penyayang. Dia memiliki beberapa asisten untuk membantunya mengurus rumah dan merawat Belinda.
"Pa, bolehkah aku menamainya 'Snowie'? Bulunya sangat putih dan indah. Aku suka sekali membelainya, dia tidak takut pada manusia"
"Iya Sayang, Snowie nama yang bagus untuknya. Kau rawat dia dengan baik ya?" ujar Jordan.
"Pasti Pa, akan aku jadikan dia sahabat" sahut Belinda.
Hari-hari berganti, Belinda dan Snowie si burung putih itu semakin dekat. Mereka benar-benar seperti sahabat.
Setiap hari Belinda merawatnya, memberinya makan dan mengganti minumannya yang sudah kotor di kandang besar itu. Snowie sama sekali tidak takut pada manusia, dia bahkan sangat jinak.
Belinda seringkali mengajaknya bicara dan Snowie merespon dengan mengepakkan sayap atau menggerakkan ekornya, seakan dia mengerti dan berbicara dengan Belinda.
Kian hari Belinda kian menyayangi Snowie. Hingga suatu ketika, saat Belinda sedang berada sendirian di halaman belakang rumah dekat kandang Snowie, dia terkejut mendengar suara seseorang berbicara padanya.
"Hai Belinda" sapa suara itu.
Belinda yang tengah duduk sembari melukis Snowie di kandangnya pun sontak terhenyak. Dia menoleh ke sekeliling, namun tak ada siapapun kecuali dia dan Snowie.
Belinda menggeleng pelan, dia tak menghiraukan suara itu lalu kembali melukis. Namun suara itu terdengar lagi.
"Hai Belinda"
Belinda sontak mengambil tongkatnya dan berdiri. Mata indahnya menyapu pandang ke setiap jengkal halaman rumahnya yang luas itu, namun tetap nihil.
"SI-SIAPA DI SANA?!" seru Belinda dengan suara bergetar.
Tak ada sahutan, hanya suara dedaunan kering yang bergerak dan jatuh ditiup angin.
Belinda terdiam beberapa saat, kemudian memutuskan untuk berhenti melukis dan masuk ke dalam rumahnya.
"Papa, aku mendengar suara seorang laki-laki di halaman belakang. Aku takut Pa!" ujar Belinda panik pada Papanya yang sedang duduk di kursi malas.
"Mungkin ada pengurus kebun tapi kau tak melihatnya Sayang" sahut Jordan santai.
"Tidak ada Papa, hanya ada aku dan Snowie" sahut Belinda masih dengan wajah panik.
"Ya sudah lah, mungkin kau hanya salah mendengar Sayang. Istirahat saja, kau sudah terlalu lama melukis hari ini 'kan?" bujuk Jordan.
"Hmm...ya sudah, aku ke kamar dulu"
Belinda beranjak menuju kamarnya, tetapi tidak untuk tidur. Dia duduk termenung di atas kasur empuknya, memikirkan kembali apa yang tadi dia dengar.
"Suara siapa tadi? Aku yakin telingaku tak salah mendengar" gumamnya lirih.
***
Pagi hari Belinda sudah bangun dan membuka jendela besar di kamarnya yang langsung menghadap ke halaman belakang rumah. Dari kamarnya, dia bisa langsung melihat Snowie di kandangnya.
"Selamat pagi Snowie..." sapa Belinda pada burung putih besar itu.
Snowie menoleh ke arah Belinda dan mengepakkan sayapnya lalu mengangguk-anggukkan kepala.
Belinda sangat senang melihat respon Snowie yang seakan memahami.
Belinda segera beranjak keluar kamar menuju kandang Snowie. Dia berjalan perlahan dengan bantuan tongkat untuk menopang salah satu kakinya.
"Hai Snowie, apa tidurmu nyenyak semalam?" tanya Belinda.
Snowie si burung putih itu menatap Belinda dengan tatapan tak biasa, tatapannya seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Kenapa kau menatapku begitu Snowie? Kau tampak ingin berbicara denganku?" tanya Belinda seraya balik menatap Snowie.
"Astaga! Snowie itu hanya burung, dia tidak akan mengerti ucapanku" gerutunya pelan sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Aku memang ingin bicara denganmu, Belinda" ujar seseorang yang terdengar sangat dekat.
Belinda sontak membulatkan mata indahnya, lalu menatap ke sumber suara yang berasal dari kandang Snowie.
"Snowie, apa itu kau yang bicara barusan?" tanya Belinda penasaran.
"Ya Belinda, aku bisa bicara" sahut Snowie, si burung putih.
"Ba-bagaimana bisa?? Apa kau......makhluk jahat??"
"Tidak Belinda, namaku Richard. Aku terkena kutukan seorang raja yang jahat"
"Raja yang jahat?? Apa aku sedang ada di negeri dongeng??" timpal Belinda tak percaya.
"Apa kau takut padaku?" tanya Snowie.
"Tidak, tapi jika kau tidak berniat jahat padaku dan papaku"
"Tentu saja tidak Belinda, aku bukan orang jahat dan tidak akan menyakiti orang sudah menyayangiku dengan tulus walaupun aku berwujud burung" ujar Snowie.
Snowie alias Richard itu akhirnya menceritakan apa yang telah terjadi hingga dia berubah menjadi seekor burung.
Belinda mendengarkan dengan seksama, beruntung pagi itu hanya ada Belinda sendiri di halaman belakang itu. Mungkin jika ada orang lain yang mendengar Snowie bicara lancar layaknya manusia, orang itu akan pingsan!
"Kasihan sekali kau Snowie, lalu bagaimana caranya agar kau bisa kembali berubah menjadi manusia?" tanya Belinda dengan prihatin.
"Aku juga tidak tahu, kau bisa bantu aku Belinda?"
"Andai saja aku tahu, aku pasti akan membantumu"
***
Sore hari saat Belinda sedang pergi ke taman depan rumahnya, dia bertemu dengan seorang pria tua berjubah hitam dengan rambut yang sudah memutih.
Pria tua itu menghampiri Belinda.
"Nak, apa kau memelihara seekor burung putih?" tanya pria tua itu pada Belinda.
Belinda terdiam sejenak sembari memperhatikan si pria tua tersebut dengan tatapan menyelidik.
"Anda siapa?" tanya Belinda.
"Bukan hal penting untuk tahu siapa aku, Nak. Jawab saja pertanyaanku" sahutnya.
"I-iya, aku memang memiliki seekor burung putih. Memangnya kenapa?" timpal Belinda.
"Bisakah kau memberikannya padaku?" tanya pria itu.
"TIDAK, burung itu sahabatku!!!" seru Belinda lantang.
"Apa kau menyayangi burung itu?"
"Ya, aku sangat menyayangi Snowie. Dia sahabatku satu-satunya!"
"Jika kau menyayanginya, lepaskan dia atau berikan padaku karena itulah yang sebenarnya dia inginkan"
"Omong kosong!!" tukas Belinda.
Dia berbalik badan lalu mulai beranjak meninggalkan si pria tua.
Saat Belinda baru beranjak beberapa langkah, dia menoleh ke belakang untuk memastikan si pria tua itu tidak mengikutinya. Tapi justru mata Belinda tak menangkap objek apapun di belakangnya.
Belinda terkesiap, dia memandangi sekitar namun tetap tak melihat siapapun.
"Kemana pria tua itu? cepat sekali dia pergi?" gumam Belinda.
***
Snowie melihat Belinda sedang duduk termenung di halaman belakang rumah. Dia mengepakkan sayapnya berkali-kali berharap Belinda memperhatikannya.
"Nona, burung putih itu selalu mengepakkan sayapnya. Dia seperti ingin diperhatikan" ujar salah seorang pelayan di rumah Belinda.
Belinda menoleh ke kandang Snowie dan memang Snowie masih terus mengepakkan sayapnya.
"Bi, tolong tinggalkan aku sendiri bersama Snowie" pinta Belinda pada pelayan itu.
"Baik Nona" sahutnya.
Pelayan itu segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Belinda sendiri di halaman belakang. Belinda beranjak mendekati Snowie.
"Ada apa Snowie?" tanya Belinda.
"Aku sudah terlalu lama menjalani kutukan ini Belinda, aku ingin kembali menjadi manusia" sahut Snowie memelas.
Belinda terdiam, lalu teringat pada pria tua yang tadi ia temui di taman.
"Aku bertemu seorang pria tua yang tidak kukenal tadi, dia menanyakan tentangmu Snowie"
"Menanyakan ku?"
Belinda mengangguk, lalu dia bercerita pada Snowie.
"Apakah jika kau menjadi manusia lagi, lalu kau akan meninggalkanku Snowie?" tanya Belinda dengan suara bergetar, dia sedih.
"Aku berjanji akan kembali kemari untuk menemui mu Belinda"
"Tapi aku tidak punya sahabat lagi jika kau pergi" rajuk Belinda, air matanya mulai menetes.
Sejenak suasana menjadi sendu, Snowie terdiam dan memandang Belinda dengan rasa iba.
"Sayang, ada apa? Kenapa kau menangis?" Jordan tiba-tiba datang menghampiri Belinda yang tengah tersedu.
"Aku sayang Snowie, Papa.. tapi Snowie ingin pergi" sahut Belinda diiringi tangis.
Jordan terhenyak, dia tak mengerti maksud Belinda.
"Tidak sayang, Snowie-mu akan tetap di sini. Dia tidak akan ke mana-mana" hibur Jordan.
Belinda masih menangis, lalu Jordan memapahnya untuk masuk ke dalam kamar.
"Istirahatlah, kau mungkin lelah" bujuk Jordan.
Belinda menurut, dia berbaring lalu memejamkan mata.
Dalam tidurnya Belinda bermimpi bertemu dengan pria tua yang pernah ia lihat di taman. Pria itu berujar pada Belinda.
"Burung putih itu sejatinya adalah manusia. Dia terkena kutukan oleh seorang raja jahat. Jika kau menyayangi burung itu, lepaskan dia. Karena hanya dengan begitu, dia akan terlepas dari kutukan"
Belinda tersentak dan terbangun dari mimpinya. Dia duduk di atas kasur dengan nafas yang memburu.
Tak lama kemudian Belinda memutuskan pergi menuju kandang Snowie. Dia membawa sebuah keranjang dan sehelai kain hitam.
"Snowie, aku akan membantumu lepas dari kutukan itu" ucap Belinda lirih sambil menangkap Snowie lalu memasukkannya ke dalam keranjang, lalu ditutupi dengan kain hitam.
Belinda menutup kembali kandang Snowie lalu berjalan keluar rumah menuju ke sebuah tanah lapang.
"Snowie, pergilah. Aku sudah rela melepaskan kau kembali pada takdirmu" ujar Belinda sambil memegang tubuh burung putih itu.
"Apa kau benar-benar merelakan ku Belinda?" tanya Snowie menegaskan.
Belinda mengangguk mantap dengan senyum. Tak tampak lagi air mata dan wajahnya yang sendu.
"Apa kau siap Snowie??" tanya Belinda.
Snowie mengangguk. Belinda mengangkat kedua tangannya yang menggenggam tubuh Snowie lalu menghempaskan burung putih itu ke udara.
Snowie mengepakkan sayapnya lalu terbang tinggi ke angkasa, kembali ke negeri asalnya dan menjalani takdirnya.
***
Beberapa waktu kemudian..
"Selamat siang Tuan" sapa seorang pemuda tampan pada Jordan yang sedang duduk di kursi teras depan rumahnya.
"Siang" sahut Jordan singkat sembari berdiri dan menatap pemuda yang tampak asing itu.
"Saya ingin bertemu dengan Belinda, Tuan" ujar pemuda itu.
"Belinda? Darimana kau mengenal putriku?"
Pemuda itu tersenyum.
Belinda yang mendengar papanya sedang bicara dengan seseorang pun menjadi penasaran, dia keluar menemui papanya.
"Ah, Belinda. Apa kau mengenal dia?" tanya Jordan sembari menunjuk ke arah pemuda itu.
"Hai Belinda" sapa pemuda tampan itu.
Mendengar suara sapaan yang begitu khas di telinganya, Belinda lantas terhenyak. Dia menatap pemuda itu dengan lekat dan seakan tak percaya.
"Kau.... S....Snowie?? ah, maksudku Richard??" tanya Belinda penasaran.
"Ya Belinda, ini aku Richard. Apa kabar mu?"
"A-aku... baik-baik saja. Kau... kembali?"
"Ya, sesuai janjiku. Aku akan mengajakmu untuk tinggal di negeriku"
"Apa-apaan kau seenaknya ingin mengajak putriku?? Aku bahkan tidak mengenalmu, Anak Muda!" sergah Jordan dengan tegas.
"Papa, jangan marah. Biar aku jelaskan" bujuk Belinda.
Mereka bertiga duduk bersama lalu Belinda dan Richard pun bergantian saling bercerita tentang kisah Richard.
Jordan tampak tak percaya begitu saja, dia masih menatap Richard dengan curiga.
"Tuan, ikutlah bersama kami menuju negeriku. Aku akan memperkenalkan kalian dengan keluargaku" ajak Richard dengan lembut.
Belinda membulatkan mata indahnya yang berbinar, berharap sang papa mau menuruti ajakan Richard.
Melihat putrinya yang tampak bahagia, hati Jordan pun luluh. Dia mengangguk dan memenuhi ajakan Richard.
Pada akhirnya, Belinda dan papanya berhasil diajak ke negeri tempat tinggal Richard dan dikenalkan dengan Raja Leonard, ayahanda Richard dan juga ibunya.
Melihat kedatangan Belinda dan Jordan, Raja Leonard pun menyambut mereka dengan hangat. Apalagi saat mengetahui bahwa Belinda dan Jordan adalah orang-orang yang sangat baik, murah hati sekaligus penyayang.
Ibunda Richard pun terkesima dengan kecantikan dan kelembutan Belinda. Dia sama sekali tak peduli jika Belinda cacat.
"Ayah, Ibu, bolehkah aku menikah dengan Belinda?" ujar Richard meminta izin.
Dengan mantap keduanya pun mengangguk dan tersenyum. Belinda merasa bahagia sekali karena ini pertama kalinya ada keluarga yang sama sekali tidak memandangnya cacat.
"Tuan, apakah saya boleh menikahi putri Anda, Belinda?" tanya Richard pada Jordan.
Jordan menatap mata Richard. Dia melihat ada ketulusan dan cinta di sorot matanya.
"Aku harus memastikan pada putriku jika dia pun mau menikah denganmu, Anak Muda" sahut Jordan.
"Sayang, bagaimana?" tanya Jordan sambil menatap putrinya yang tersipu malu.
"A-aku..." sahut Belinda malu-malu.
"Yakinkan hatimu Sayang, tidak akan ada yang bisa memaksamu" tegas Jordan.
"Jika Richard dan keluarganya benar-benar menyayangiku dan mau menerima keadaanku yang seperti ini, aku akan menerimanya" sahut Belinda.
"Kami menerimamu dengan hati terbuka Belinda. Kami tidak memandang fisikmu, melainkan jiwamu yang penuh kasih sayang. Kau layak bahagia bersama putraku" sahut Raja Leonard yang direspon anggukan dan senyuman dari sang permaisuri.
"Kalau begitu... aku.... mau menikah denganmu, Richard" ujar Belinda dengan wajah memerah menahan malu.
Richard dan keluarganya tersenyum bahagia, begitu pula dengan Jordan.
"Putriku sudah memberi jawaban, saatnya aku memberi restu untuk kalian berdua. Tolong, jaga putriku baik-baik Richard. Bahagiakan dia" ujar Jordan sembari menepuk pundak Richard.
Richard mengangguk dengan hormat.
Acara pernikahan antara Belinda dan Richard pun tak lama lagi akan digelar. Namun ada rasa gusar di hati Belinda.
"Kenapa kau terlihat gusar Sayang?" tanya Richard.
"A-aku sebentar lagi akan mengenakan gaun pengantin yang cantik, tapi bagaimana dengan tongkatku? Tentu akan sangat mengganggu" ujar Belinda sedih.
"Kau tak usah risau. Sebentar" Richard menenangkan Belinda lalu pergi menemui seseorang. Tak lama kemudian Richard kembali bersama seseorang, si pria tua yang Belinda lihat di taman.
"KAU?!" seru Belinda.
Pria tua itu membungkukkan badannya pada Belinda untuk memberi hormat.
"Zach, bisakah kau menyempurnakan kaki calon istriku?" pinta Richard pada pria tua itu.
"Tentu saja, Pangeran" sahutnya.
Zach menjulurkan jari telunjuknya ke kaki Belinda yang pendek. Sebuah sinar terang yang menyilaukan tampak berpendar di kaki Belinda.
Hanya butuh beberapa detik, Zach kembali menarik jari telunjuknya dan sinar itupun lenyap.
Namun keajaiban terjadi bersamaan dengan hilangnya sinar itu. Sebelah kaki Belinda yang cacat itu sudah berubah normal!! Tidak ada lagi bentuk kaki yang lebih pendek itu. Belinda tercengang!
"Wow!! Ini benar-benar ajaib!! Bagaimana bisa??" pekik Belinda penuh takjub.
"Sekarang tidak ada alasan lagi yang membuatmu gusar kan? Gaun cantik itu akan sangat cocok dipakai gadis secantik dirimu, tersenyumlah" rayu Richard sembari tersenyum lalu meninggalkan Belinda untuk memakai gaunnya.
Upacara pernikahan antara Pangeran Richard dan Belinda pun dihelat. Rakyat di negeri itu turut menyambut bahagia sepasang pengantin yang terlihat sangat serasi itu.
Raja Leonard dan istri, beserta Jordan papa Belinda tampak terharu menyaksikan momen bahagia putra-putri mereka.
Karena keikhlasan dan ketulusan Belinda, akhirnya dia hidup bahagia bersama pria yang benar-benar mencintainya.
S E K I A N