Jangan Buka Pintu Bila Ada Yang Mengetuknya Saat Dini Hari!
Yang aku perlukan sekarang adalah tempat kos murah dengan fasilitas standar lengkap beserta wifi yang aktif. Setidaknya itu yang aku pikirkan dalam dua hari menjelang habis kontrakan yang aku tempati bersama teman-temanku waktu itu. Bukan kami tidak suka untuk tetap tinggal di kontrakan tersebut. Namun alasan yang mendasari kami ingin mencari kamar kosan adalah karena keempat senior yang mengontrak rumah bersama kami sebelumnya sudah wisuda dan berencana untuk kembali ke tempat asal. Aku dan Budi yang masih menjalani semester tahun ketiga ini mau tidak mau harus mencari kamar kos karena rumah kontrakan tidak diperpanjang.
Dan aku sendiri cukup sial karena tabiatku yang suka menunda-nunda pekerjaan. Temanku Budi sudah mendapatkan kos terlebih dahulu. Sedangkan aku masih berleha-leha dan belum menemukan satu pun yang cocok untukku. Padahal rumah kontrakan sudah dibersihkan dan tinggal menunggu kami berdua untuk hengkang dari tempat itu.
“Ah kamvret lu Bud! Sekalian kenapa kemaren gak booking-in dua kamar sekaligus?”, celaku pada Budi karena tidak sekalian mencarikanku kamar kos.
“Bukan begitu Bay! kemaren itu memang pas aku ke sana kamarnya tinggal satu. Aku udah desperate banget ini, soalnya susah nyari kosan belakangan ini”, jawabnya menghardikku sambil nyengir.
“Lu ada info kosan nggak Bud?”, tanyaku lansung kepadanya. Dia menggeleng.
“Eh... Bentar! Kayaknya Nana kemaren kirimin aku info kosan cowok deh di sekitar Condong Catur bagian atas”, sela Budi terkesiap karena ingat kiriman WhatsApp dari pacarnya. Dia scrolling smartphonenya lalu kemudian menunjukkan kepadaku teks info kos untuk laki-laki tersebut.
“Oke lah! Habis kuliah nanti siang gue langsung surv....”, jawabku sumringah karena bebanku dalam mencari kosan baru sudah terangkat dari pundakku.
“Eh bukannya nanti siang ada kuliah pak Anton yak?”, tanya Budi memotong kalimatku yang belum selesai. Aku mencibir, sembari menaik-turunkan kedua alisku, memberi kode.
“Lu masih punya copy-an surat dokter dari om lu itu kan? Gw minta lagi dong!”, jawabku sambil menepuk-nepuk pundak Budi. Dia menghela nafas panjang. Dan singkat cerita, bertandanglah aku ke tempat dimana info kosan laki-laki itu berada.
Sampailah aku di tempat kos yang dimaksudkan oleh Nana, pacar Budi dalam pesan chatnya itu. Kosan ini cukup besar dengan struktur bangunan yang mirip seperti asrama dengan dua lantai yang pintu-pintu kosannya menghadap keluar. Aku sendiri mendapatkan kamar yang bersebelahan dengan tangga naik turun dan pintu yang menghadap ke arah balkon. Dari situ aku bisa langsung melihat jalan kampung yang berada di depannya yang merupakan rumah warung makan yang sangat ramai di siang hari.
Dan kau boleh percaya padaku atau tidak, kosan ini harganya terlampau sangat murah karena bisa dibayar per bulan hanya dengan uang sekitar 350 ribu dengan kamar mandi dalam dan wifi yang gratis. Pemilik kos adalah bapak yang mungkin berumur sekitar 50an yang terlihat santun. Tanpa pikir panjang aku langsung menyewa tempat itu selama setahun penuh.
“Ini pak biaya kos untuk satu tahun!”, ucapku sembari memberikan uang cash kepada pemilik kosan tersebut.
“Iya, terima kasih mas! Di sini tidak terlalu ketat mas aturannya. Boleh membawa tamu sampai jam 9 malam dan pintu harus dibiarkan terbuka”, ucap bapak pemilik kos kepadaku.
“Oh iya pak, saya kebetulan kuliahnya di UII atas, jadi sepertinya teman-teman saya akan jarang main ke sini, soalnya jauh dari daerah kampus, hehe...”, jawabku terkekeh.
“Dan di sini ada jam malam, dengan gerbang depan akan ditutup sekitar pukul 10 malam karena orang yang mengurus kosan sudah pulang jam segitu”, tuturnya menambahkan.
Tentu aku tidak bisa habis pikir, kenapa orang yang mengurus kosan harus pulang jam segitu? Padahal bukankah jam-jam 10 ke atas merupakan jam yang sangat krusial untuk menjaga kosan dari hal-hal yang tidak diinginkan? Terlebih biasanya yang memiliki jam malam adalah kos perempuan. Sangat jarang kos laki-laki memiliki jam malam. Aku menggaruk kepalaku sembari meminta keringanan kepada bapak pemilik kos.
“Hm... Kalau misalnya saya minta kunci gerbangnya saja bagaimana ya pak? s
Soalnya saya sering ada acara di luar sampai malam. Saya janji nggak akan macem-macem kok pak!”, ungkapku merayu pemilik kos untuk memberikan duplikat kunci gerbang kosnya. Raut wajah pak kos seolah menunjukkan rasa khawatir dan keraguan. Tersimpan satu cerita bisu yang ingin ditutupinya dalam gelagatnya. Namun akhirnya dia memberikan duplikat kunci gerbang kepadaku.
*****
Sudah terhitung selama dua hari aku menempati tempat baru ini. Namun entah perasaanku saja atau bagaimana, kosan baru yang aku tempati ini agak aneh. Bukan karena struktur bangunannya yang tua memang tampak membuat kos ini memiliki kesan yang seram dan mungkin memiliki semacam cerita hantu atau apa. Tetapi untuk ukuran kos khusus laki-laki, tempat ini terlampau sangat sepi. Kalian yang pernah menjadi anak kos di tempat kos khusus laki-laki pasti tahu betul betapa biasanya kos semacam ini sangatlah ramai, terutama di jam-jam lewat 9 malam.
Laki-laki cenderung lebih berisik di malam hari. Entah main game dan seru-seruan bersama teman-teman di kamar. Berisik karena ada kawan yang mampir berkunjung. Atau berisik karena sang pacar kebetulan datang. Segala jenis kebisingan yang merupakan hal wajar untuk kosan laki-laki seolah nihil di tempat ini. Aku bahkan sempat berpikir, apakah kebanyakan yang bertempat di kos ini adalah anak rumahan yang baik-baik dan alim?
Namun aku tidak terlalu peduli dengan hal itu dan tetap melakukan kebiasaanku yang sering nongkrong dan pulang malam. Hingga suatu malam yang dingin, aku dengan jaket kulit hitamku masuk ke parkiran kosan ini dengan santai sekitar pukul 2 dini hari setelah nongkrong bersama teman-teman di salah satu warkop kekinian di daerah Kridosono.
Suasana kosan saat itu sangatlah mencekam dan sepi sekali. Jalan depan yang bisa kulihat dari balkon depan kamarku di lantai dua yang di siang hari sangatlah padat, tampak sangat sepi tanpa ada jejak-jejak kehidupan di malam itu. Hanya beberapa suara ayam jago milik tetangga yang bersahutan bersama dengan suara gonggong anjing yang tak henti-hentinya menyalak di pagar rumah sebelah kosan ini yang dibatasi oleh talang air.
Aku hanya menyerana, menaiki satu demi satu tangga naik menuju kamarku. Setelah aku masuk ke kamar, aku mulai merebahkan diriku di atas kasur sembari menyalakan tabletku untuk melihat-lihat beberapa meme lucu dari situs-situs humor sebelum tidur. Memang aku cenderung mengalami insomnia pada malam hari, apalagi setelah pulang ngopi. Mataku benar-benar tidak mau terkatup. Dalam posisi pw tersebut sayup-sayup aku mendengar suara-suara kecil di balik pintu kamarku.
Tak... Tak... Tak...
Suara itu merupakan suara seolah-olah ada benda kecil yang sedang dilemparkan ke pintu kamar kosanku yang berupa kayu itu. Awalnya aku tidak terlalu menggubrisnya, karena kukira itu hanya semacam suara dahan-dahan pohon yang secara kebetulan terhembus angin dan mengguguh papan kayu atau apapun itu yang berada di balkon.
Tak... Tak... Tak... Tak...
Suara itu semakin menjadi-jadi, hingga aku benar-benar yakin bahwa suara itu memang merupakan suara kerikil yang dilemparkan pada pintu kamarku. Suara mengganggu itu berlangsung beberapa saat tanpa henti sampai aku merasa jengah dan dongkol pada hal itu. Namun ketika aku bangkit untuk memeriksa asal suara itu, suasana kembali menjadi hening.
“Ck... Kamvret banget ah! Lrang udah pw juga malah digangguin! Siapa lagi tuh orang iseng malem-malem gini nimpukin pintu orang?”, dalam hatiku berkata dengan geram. Aku pun kembali pada posisiku semula sembari asyik dengan tabletku. Namun beberapa saat kemudian, suara yang awalnya hanya terdengar sebatas suara lemparan benda-benda kecil kepada pintu kamarku, mendadak menjadi suara seretan langkah-langkah kaki yang berat.
Karena kamarku berada tepat di samping tangga akses naik turun kosan ini, aku bisa mendengar langkah-langkah berat yang terdengar gontai tersebut menaiki tangga demi tangga. Indera pendengaranku menajam bersama degub jantung yang bisa kudengar dalam lematnya malam itu. Jejak kaki itu sampai di balkon lantai dua, dan kemudian berhenti tepat di depan kamarku.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan pintu pelan di depan kamarku. Aku menelan ludah sembari beranjak dari tempatku sedang bersandar. Sayangnya jendela kamarku adalah jendela yang entah kenapa oleh orang yang menempati sebelumnya ditempeli dengan potongan kertas koran. Jadi aku tidak bisa melirik siapa gerangan yang sedang mengetuk pintu kamarku waktu itu dari balik jendela.
Tok... Tok... Tok... Suara ketukan pintu itu semakin lama semakin cepat.
“Siapa ya?”, tandasku sedikit mengeraskan suaraku. Namun tak ada sahutan apapun. Dan suara ketukan itu masih terus berlanjut. Aku mendekati papan pintu dan menempelkan telingaku, berharap bisa mendengar suara di balik ketukan pintu itu.1
Grak... Grak... Grak...
Engsel pintu bergerak-gerak yang menandakan siapa pun yang berada di balik pintu ini ingin memaksa masuk ke dalam. Aku terkesiap tegas dan mulai muak dengan semua ini. Kuputar kunci pintu yang terpasang di lubang kunci pintu dan segera membukanya dengan cepat sembari mengeluarkan suara membentak.
“APA Ap... aan nih?”
Suaraku melirih, dan keberanianku meredup. Kakiku tak bisa berhenti bergetar. Tremornya melemahkan nurani. Sosok yang kulihat di depan pintu itu bukanlah sosok manusia iseng yang sengaja mengetuk pintu di waktu dini hari. Matanya dengan urat-uratnya yang kotor melotot ke arahku di antara rongga-rongga matanya yang dipenuhi kulit-kulit gosong dan mengelupas. Bau darah yang amis dan anyir dengan disertai aroma pedas asap cengis dari sekujur badannya menggugah kengerian.
Mulutku entah seperti kehilangan tuturnya. Dia ingin berteriak, namun terbungkam oleh mentalku yang mengecil seketika. Sosok itu merintih sembari tetap berdiri dengan badannya yang melepuh itu. Lidahnya terjulur dengan rahangnya yang tampak pengkar ke bawah. Dalam situasi seram itu, sosok itu bergumam pelan kepadaku.
Too... Too... Toolooong...
Bersamaan dengan itu, aku jatuh tersungkur kehilangan kesadaran. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tak sadar dalam liputan malam penuh hesitansi dan pertanyaan-pertanyaan yang ingin kucari jawabannya.
*****
“Mas... Mas... Bangun mas...”, sebuah suara menyadarkanku. Aku yang tak sadar mulai meraih kewarasan diriku. Aku berhanyut sembari meraba-raba sekelilingku tanpa tahu apa yang hendak kucari.
“Mas, tenang mas! Nggak apa, mas minum aja dulu!”. Orang yang ternyata merupakan penghuni kamar sebelahku itu menyodorkan satu gelas air mineral kepadaku. Aku meminumnya dengan segera. Aku mulai menenangkan diri.
Seolah tahu dengan apa yang dilakukan, orang tersebut menepuk-nepuk pundakku dengan pelan sembari bertanya apakah aku adalah penghuni kos baru di sini? Aku menganggukkan kepalaku, mengisyaratkan kata iya.
“Oh pantesan! Berarti mas tadi malam bukain pintu pas ada yang ngetuk pintu ya? Seharusnya mas jangan buka pintunya, cuekin aja!”, kata orang tersebut yakin. Aku bertanya alasannya kepadanya. Dan ternyata alasannya berhubungan dengan satu cerita hantu yang terkenal di daerah ini.
Usut punya usut, alasan pemilik kos untuk memberlakukan jam malam di kosan ini adalah karena hal itu. Dulu sekali, di depan kosan ini ada beberapa pohon rimbun dimana pohon itu mulai semrawut dengan kabel-kabel listrik yang ada di situ. Seseorang mencoba merapikannya tanpa berkonsultasi dengan pihak PLN terlebih dahulu. Naas nasib orang tersebut yang kemudian tewas tersengat listrik saluran kabel itu.
Tidak ada seorang pun yang berani menolongnya. Orang-orang sekitar hanya bisa menyaksikan orang tersebut menderita terguncang badannya bergelayutan pada kabel listrik di sana hingga sedikit demi sedikit badahnya bersimbah darah dan gosong. Beberapa saat setelahnya, pihak PLN mulai membantu evakuasi korban bersama anggota kepolisian. Dan kasus itu dinyatakan sebagai kecelakaan.
Sejak saat itu, mulai beredar kabar cerita hantu bahwa sosok orang yang tersengat aliran listrik itu sering menghantui rumah-rumah warga sekitar dan kosan ini dengan mengetuk-ngetuk pintu di waktu dini hari untuk meminta tolong. Semenjak teror hantu tersebut, seolah ada semacam aturan dimana ketika ada seseorang yang mengetuk pintu di waktu dini hari, maka sebaiknya tidak dibukakan. Karena kemungkinan itu adalah hantu orang yang mati tersengat listrik tersebut yang arwahnya tidak tenang di alam baka.
SeKiAn