Aku begitu mencintainya. Meskipun waktu terus bergulir tanpa bisa di jeda.
Dulu merasakan hangatnya pelukan dan juga ciuman mesranya adalah candu bagiku. Tiada kebahagian yang sempurna tanpa dirinya.
Senyum manis dengan satu lesung di pipi kanannya adalah pusat intens penglihatan mataku.
Suaranya yang lembut adalah kidung rindu yang selalu hadir menemani waktuku.
"Mungkin waktu akan pergi, tapi rasa ini akan tetap terpatri." Bibir indah tampak bergetar kala kamu mengatakan kalimat itu dengan jari menunjuk dada kiri mu.
"Jika tiada waktu untuk kita bersatu, biarlah cinta ini akan abadi menetap di hati."
Kata-kata itu tak sempat aku ucapkan kala dirimu tidak pernah lagi aku temui.
Hari demi hari aku mencari sosok mu yang tidak lagi hadir dalam nyataku.
Namun mimpi tentangmu selalu menyertai setiap malam tidur ku.
"Apakah masih ada rasa dan rindu itu?" tanyaku selalu pada waktu.
***
Berpuluh tahun berlalu, dan waktu membawa rodanya sendiri.
Garis kehidupan yang terus berjalan sesuai takdirNya.
Aku dengan kehidupan keluargaku dan entah dengan dirimu.
Secara tidak sengaja kau menyapa diriku di suatu media sosial ternama.
"Hai a, apa kabar?" tulis komentar yang aku baca pada statusku.
"Siapa?" tanyaku ragu karena tidak ada keterangan jika namamu adalah teman di aplikasi itu.
Tentu aku tidak mengenalmu karena nama yang kamu sematkan bukan nama yang selalu aku rindukan.
"Ada pada waktu" jawab mu dengan emoticon tersenyum.
Buyar, ingatanku tidak sebaik yang dulu. Dan aku benar-benar tidak bisa mengenalimu.
"Ya sudah tidak apa a, semoga selalu sehat dan terus bahagia" tulis mu kembali tanpa menunggu jawaban dariku.
***
Waktu memang mempunyai rencana sendiri. Tanpa aku minta aku bertemu kembali dengan dirimu.
Kita saling memandang, menyakinkan penglihatan mata yang sudah tidak lagi sempurna.
Kamu tersenyum melihat diriku yang juga tersenyum. Melangkah maju untuk saling menyapa.
"Masih ingat?" Kamu bertanya setelah jarak kita sudah dekat.
"Ya, tentu aku ingat!" jawabku dengan yakin.
Aku sangat yakin jika mataku tidak mungkin salah mengenalimu.
"Coba sebut nama a!" Katamu kembali mencoba menguji ingatanku.
"Cintaku yang terpatri bersama sang waktu!" jawabku dengan penuh keyakinan.
Nb: sinopsis novel yang segera launching. Mohon kritik sarannya. Terima kasih 🙏🙏🙏