Dreetttt.....
Dreetttt.....
"Halo Din ada apa?"
"Na tolong jemput aku ya, aku sekarang ada di rumah besar yang di ujung jalan raya itu Lo. Kamu jemput aku ke sini ya pliss"
"Ngapain kamu di rumah itu, bukannya rumahnya kosong ya?" Kata Nana yang merasa heran kenapa bisa sahabatnya itu berani berada di rumah kosong itu sendirian, bukannya dia penakut.
"Tadi aku kehujanan, jadinya aku neduh di rumah ini deh. Kamu cepet ke sini ya"
"Eh...tapi Din, halo Din....halo" Panggil Nana. "La di matiin. Gimana si Dinda ini aku kan belum selesai bicara malah udah di matiin telponnya" Gerutu Nana karena sikap sahabatnya itu.
"Terpaksa deh, aku jemput si Dinda. Padahal aku males ke rumah itu" Kesal Nana, tetapi walaupun begitu ia tetap saja pergi ke rumah kosong itu.
Nana kemudian mengambil tas dan kunci motornya lalu lalu segera beranjak ke garasi untuk mengambil motornya.
Tak butuh waktu lama hanya kira-kira butuh 10 menit Nana akhirnya sampai di depan rumah kosong itu. Tetapi anehnya sahabatnya Dinda tak ada di depan rumah kosong tersebut.
Tanpa pikir panjang lagi, Nana kemudian mulai menghubungi sahabatnya itu dan menanyakan di mana keberadaannya.
"Halo Din kamu ada dimana si, kok gak ada di depan rumah kosong ini" Tanya Nana.
"Oh iya, maaf ya Na aku lupa ngabarin kamu. Aku sekarang ada di dalam rumah kosong itu, kamu coba deh masuk ke sini gak apa-apa kok. Aku ada di lantai 2 di kamar yang pintunya putih" Kata Dinda menjelaskan tentang keberadaannya.
"Kamu gila ya, ngapain kamu masuk ke rumah kosong ini. Jelas-jelas kamu kan orangnya penakut, kenapa masuk ke situ si" Omel Nana ke Dinda.
"Ayo lah Na kamu ke sini, tadi aku melihat ada kucing kecil manis, terus karena aku suka aku kejar sampai ke dalam rumah kosong ini" Bujuk Dinda.
"Ya udah aku ngalah lagi, aku susul kamu ke sana. Tapi kamu jangan kemana-mana Lo, awas kalau kamu pindah tempat" Ancam Nana kepada sahabatnya itu jika ia pergi dari tempatnya sekarang.
"Iya deh, iya. Aku tunggu kamu ini, tapi cepat ya aku agak takut lama-lama disini" Kata Dinda.
"Iya ini aku udah mulai masuk rumah" Kata Nana sambil membuka secara perlahan pintu rumah kosong itu. "Permisi, maaf ya aku gak berniat jahat kok, aku cuma mau jemput sahabatku aja di sini" Izin Nana sambil melihat kondisi dalam rumah kosong tersebut.
"Halo Din, kamu masih denger suara aku kan?" Tanya Nana memastikan.
"Iya aku masih dengerin kamu kok"
Nana dengan hati-hati mulai berjalan menyusuri isi rumah kosong tersebut sampai ia melihat sebuah tangga yang bisa di tebak jika tangga tersebut pasti mengarah ke lantai 2 rumah ini.
"Ini pasti tangga yang menuju ke lantai 2 rumah ini" Gumam Nana, lalu mulai menaiki anak tangga tersebut.
Sesampainya di lantai 2
Nampak suasana lantai 2 tak jauh berbeda dengan lantai pertama tadi, banyak sarang laba-laba dan debu yang memenuhi setiap sudut rumah kosong tersebut.
"Din aku sekarang sudah berada di lantai 2 rumah kosong ini, kamar nya berada di mana?"
"Itu Na, kamar paling pojok"
"Pojok ya, oke oke"
Setelahnya Nana langsung mematikan panggilan teleponnya dengan Dinda.
Lalu Nana mulai mengedarkan pandangannya kesejuru ruangan dan berakhir melihat ke arah pintu kamar yang berada paling ujung dan pojok di lantai 2 ini.
"Itu kali ya kamarnya pintu warna putih sesuai kata Dinda, aku langsung ke sana aja lah" Gumam Nana dan berjalan menuju kamar tersebut.
Tok tok tok
"Dinda.... Din.....kamu ada di dalam kan" Panggil Nana.
Tetapi setelah beberapa kali Nana mencoba memanggil nama Dinda, sahabatnya tersebut tidak kunjung juga menyahuti panggilannya.
"Kok aneh ya, kenapa Dinda tak menjawab panggilan ku" Heran Nana. Karena merasa curiga akhirnya Nana memutuskan untuk membuka pintu kamar tersebut, dan bertapa terkejutnya Nana di saat ia membuka pintu kamar itu ada sesosok orang yang berpakaian hitam dengan tudung di kepalanya.
"Si... siapa kamu?" Takut Nana.
"Kamu harus MATI" Kata sosok itu sambil menekan kata terakhir.
"Ka...mu sia....pa dan mau apa kamu"
Sosok itu tidak menjawab pertanyaannya dari Nana dan terus berjalan mendekat ke arah Nana.
Nana yang merasa jika sosok di depannya ini berbahaya, akhirnya dengan keberanian yang dia punya berusaha untuk kabur dari lantai 2 tersebut dan lari menjauhi sosok misterius tadi.
Sesampainya di lantai bawah Nana langsung berlari menuju ke pintu utama rumah kosong tersebut, tetapi setibanya di situ entah kenapa pintunya tiba-tiba terkunci dan tak bisa untuk dibuka.
"Lo kenapa pintunya gak bisa dibuka" Kata Nana yang dengan gemetaran mencoba untuk membuka pintu tersebut.
Sedangkan di belakang Nana sosok itu mulai menuruni tangga dengan membawa sebuah pisau daging di tangannya.
Sreekkkk.......
Sreekkkkk.......
Sreekkkkkk.......
Rasa takut langsung memenuhi pikiran Nana karena suara seperti asahan pisau yang tiba-tiba masuk ke dalam pendengarannya.
"Makhluk tadi mengejar ku, gawat aku harus pergi ke mana" Karena ketakutan akhirnya Nana tak tau jika ia malah berlari ke arah kamar tidur yang berada di lantai satu itu, dan berakhir dengan jalan buntu.
"Kenapa aku malah masuk kamar ini, sekarang bukannya jalan keluar tetapi malah jalan buntu yang aku temui" Sesal Nana.
"Oh iya aku harus kunci kamar ini supaya makhluk tadi tidak bisa masuk kesini". Nana langsung menggeser meja yang berada di kamar tersebut ke depan pintu kamar tersebut agar kamar itu tidak bisa di buka dari luar.
"Aku harus mencoba menghubungi Dinda, siapa tau ia juga dalam bahaya", Lalu setelah itu Nana mulai menelpon Dahlia lagi berharap jika ia akan mengangkat telponnya.
Hingga pada panggilan ke 3 akhirnya Dinda menjawab panggilannya.
"Halo Din. Kamu dimana, apa kamu baik-baik saja. Tolong bantu aku Din, aku dalam posisi tersudut sekarang ini, ada orang yang ingin bunuh aku" Kata Nana kepada Dinda.
"Nana kamu di mana, aku sekarang ada di lantai satu rumah ini" Sahut Dinda.
"Aku juga ada di lantai satu rumah ini tapi aku ada di dalam kamar"
"Kamar yang mana?" Tanya Dinda
"Aku gak tau kamar yang mana, soalnya tadi aku terburu-buru kabur" Kata Nana sambil memelankan suaranya dan bersama dengan itu sambung telpon dengan Dinda pun terputus.
Tok
Tok
Tok
Brakkk
Brakkk
Suara ketukan pintu tersebut semakin lama kian bertambah kencang dan malah menjadi sebuah dobrakan. Karena ketakutan akhirnya Nana memilih untuk sembunyi di dalam lemari yang berada di dalam kamar tersebut.
Tak lama pintu tersebut terdengar sudah terbuka dan terdengar ada suara ketukan sepatu yang mulai berjalan menuju ke arah Nana bersembunyi.
Keringat dingin mulai mengucur deras dari pori-pori kulit-kulit Nana.
"Bagaimana ini, apa hidup ku harus berakhir disini"
Belum sempat sosok itu membuka pintu lemari yang di tempati oleh Nana, tiba-tiba ada suara seperti orang sedang adu jotos dalam kamar itu.
BRUAAKKKK
DUAAKKKK
Nana yang merasa penasaran pun akhirnya memilih untuk mengintip dari celah lemari tersebut dan dapat dilihatnya jika saat ini ada sosok berpakaian putih yang sedang menghajar sosok hitam itu.
Merasa jika ini adalah kondisi yang tepat untuk ia melarikan diri, akhirnya dengan hati-hati Nana mulai membuka pintu lemari yang ia tempati dan mulai berjalan dengan perlahan keluar dari dalam kamar tersebut.
"Akhirnya....tapi aku harus cepat menemukan pintu keluar dari sini" Gumam Nana dan tepat saat itu tiba-tiba ada seekor kupu-kupu hitam yang terbang ke arahnya seakan-akan ingin berkata 'Ayo ikuti aku, aku tau jalannya'.
Akhirnya Nana memutuskan untuk mengikuti kemana kupu-kupu itu terbang menuntunnya.
Setelah beberapa saat mengikuti kupu-kupu tersebut, akhirnya Nana melihat ada sebuah pintu kecil yang terbuka dan langsung mengarah ke luar rumah.
Dengan sangat senangnya akhirnya Nana berterima kasih kepada kupu-kupu tersebut dan langsung berlari keluar melalui pintu tersebut.
Di saat sudah berada di luar rumah Nana pun langsung menaiki motornya dan pulang ke rumahnya.
Tetapi anehnya lagi ketika Nana sudah sampai di rumahnya ia mendapati jika sang sahabat Dinda sudah ada di dalam rumahnya dan sedang mengobrol dengan ibunya.
"Lo Din kok kamu sudah ada di sini?" Tanya Nana.
"La harusnya aku yang nanya, kamu dari mana aja kok baru pulang" Tanya balik Dinda kepada Nana.
"Kan kamu tadi yang minta sama aku untuk di jemput di rumah kosong ujung jalan raya sana, kenapa kamu sekarang ada di sini" Sumpah saat ini Nana benar-benar heran dan bingung kenapa Dinda bisa ada di rumahnya, jelas-jelas ia kan masih di rumah kosong tadi dan belum sempat bertemu dengannya.
"Kamu ngigo ya Na, jelas-jelas aku seharian ini ada di rumah. Dan baru sore ini aku keluar ke rumah kamu gara-gara di suruh sama ibuku untuk nganterin nih makanan ke rumahmu, kalau gak percaya tanya aja ibuku" Jelas Dinda ke Nana,
"Satu lagi, tadi kamu bilang kalau aku nyuruh kamu jemput aku. Aku aja malahan gak pernah ngerasa jika aku nyuruh kamu untuk jemput aku apalagi di rumah kosong itu pula. Kan kamu tau sendiri aku ini orangnya penakut". Kata Dinda yang mana ada keseriusan dan kejujuran dari sorot matanya saat Nana melihatnya.
"Terus kalau itu tadi bukan kamu, siapa dong yang nelpon aku?"
TAMAT
Maaf ya jika masih banyak typo bertebaran di dalam ceritanya.🙏
Jadi jangan heran jika semisal kata-katanya ada yang kurang nyambung ya hehehe....
Aku harap cerita ini bisa sedikit menghibur hati pembaca sekalian. Terimakasih ya untuk yang sudah mau meluangkan waktunya membaca nih cerita😉