Sekitar tahun 1998, masa dimana aku masih duduk di bangku SD. Kala itu, aku bersama teman-temanku bermain sepak bola di lapangan.
Kami bermain dengan serunya, sampai-sampai kami tidak sadar waktu maghrib telah tiba.
"Woi! Udah mau maghrib nih, pulang yuk!"ajak Jojo.
Namun temanku Nando malah menendang bola sampai masuk ke semak-semak.
"Eh, Budi! Kamu kan kiper! Ambil gih, bolanya!"suruh Nando dengan nada paksaan.
"Eh? Kok aku? Kan kamu yang nendang! Ambil sendiri lah!"tolakku keras.
"Iya Nan, ambil aja sendiri. Ngapain nyuruh-nyuruh orang?!"seru Bonar.
"Kami tungguin kok, disini!"ucap Jojo.
Nando pun berdecih, Ia pun masuk ke dalam semak-semak. Sedangkan kami menunggu di tengah lapangan, yang sekarang semakin menggelap.
10 menit berlalu, namun Nando tidak kunjung datang.
"Nando kemana sih? Mamaku pasti marah kalau kayak gini?"keluh Jojo.
"Kita susul aja yuk, udah mau adzan maghrib loh!"ajak Bonar.
Kamipun menyusul Nando ke dalam semak-semak, Namun sesuatu terjadi terhadap Nando.
"NANDO!!"pekik kami semua.
Nando sudah berdarah-darah dengan luka di sekujur tubuhnya. Nando merintih kesakitan,
"Sakit!!".
"Nan, kok bisa begini?"tanyaku khawatir.
"Sakitt!!"rintih Nando.
Aku bersama Bonar pun memapah Nando untuk segera di bawa pulang.
Sesampainya di rumah Nando, ibunya sangat histeris.
"NANDO KENAPA??? KOK BERDARAH GINI!".
Nando di peluk ibunya yang tengah menangis histeris, sehingga membuat tetangga sekitar dan juga ibu ku langsung datang menghampiri rumah Nando.
"Eh? Kenapa ini?"tanya tetangga khawatir.
"Nak, Nando kenapa? Kok bisa begitu?"tanya ibuku.
"Enggak tahu, bu! Tadi Nando nendang bola kencang-kencang. Terus bolanya masuk ke semak-semak. Awalnya Nando nyuruh aku yang ambil, tapi aku enggak mau. Jadinya Nando yang masuk ke semak-semak. Pas kami tungguin, Nando enggak keluar-keluar. Kami nyusul, tapi pas kami lihat Nando udah kayak gitu!"ucapku jujur.
Aku pun disuruh pulang oleh ibuku, begitu juga teman-temanku yang lain. Sedangkan ibuku tetap tinggal di rumah Nando.
Setelah shalat maghrib usai dan mengaji. Aku pun langsung menghampiri ibuku yang baru saja pulang.
"Bu! Bu! Nando gimana?"tanyaku.
"Nando udah diobatin luka-lukanya. Besok ibunya mau bawa Nando ke pak kiyai. Makannya ibu sering bilang sama kamu, kalau pulang itu jangan maghrib-maghrib. Masih untung cuma kayak gitu, kalau hilang kalian gimana?"omel ibuku.
"Hilang gimana bu?"tanyaku bingung.
"Tadi Nando bilang, pas ambil bola di semak-semak. Nando ketemu sama perempuan yang nyeremin, kayaknya sih itu kuntilanak. Dia marah dan mukulin Nando pakai batang yang berduri, Nando bilang perempuan itu marah lantaran kena bola yang di tendang Nando tadi. Tapi untungnya aja kalian datang, perempuan itu langsung pergi. Kalau enggak, Nando mungkin udah lewat!".
Akupun merinding ngeri mendengar cerita itu. Syukur-syukur aku menolak mengambil bola tadi, dan syukur juga kami langsung menyusul Nando. Aku baru paham kenapa ibu sangat keras menyuruhku untuk tidak pulang saat maghrib.