“Aku enggak mau dengar penjelasan kamu lagi!” teriak seorang gadis berseragam putih abu-abu.
“plis, dengar dulu Cinta, aku mohon.”
“Enggak mau!”
Gadis berseragam putih abu-abu tadi berlari dengan kencang meninggalkan sang pria. Namanya adalah Cinta Kaysarah, gadis SMA. Cinta dan Abadi—pacarnya sedang ada masalah.
Cinta yang tak sengaja melihat Abadi bersama gadis lain, merasa cemburu. Dia berpikir bahwa Abadi selingkuh.
Abadi terus mengejar Cinta, tapi sayang, Cinta sudah lebih dulu masuk ke dalam taksi.
“Akh!!” jerit Abadi, jujur saja dia sangat prustasi.
***
Sesampainya di rumah, Cinta langsung masuk ke dalam kamar, tak lupa ia menutup pintu dengan keras. Ketrin—mama Cinta, sangat bingung oleh tingkah anaknya itu.
“Dasar pria menyebalkan! Aku benci Abadi!” teriak Cinta sambil melempar bantalnya.
Ketrin yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya mengetuk pintu kamar Cinta.
Tok.. tok.. tok..
“Cinta,” panggil Ketrin. Tidak ada jawaban.
“Cinta, Mama mau bicara, Sayang,”
Akhirnya pintu kamar terbuka, dan menampilkan wajah lusuh Cinta. Ketrin langsung memeluk putri semata wayangnya itu. Dan segera membawa Cinta ke ranjang.
Kamar Cinta sudah seperti kapal pecah. Bantal berserakan di mana-mana, dan buku-buku tergeletak dilantai.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Ketrin sembari mengelus punggung Cinta.
“Abadi Ma ... dia selingkuh,” jawab Cinta dengan senggugukan.
“Memangnya sudah pasti kalau Abadi selingkuh?” tanya Ketrin lagi. Dia tidak percaya, karena menurutnya Abadi anak yang baik.
“Sudah, Ma. Cinta liat sendiri Abadi lagi sama perempuan,”
“Sayang dengar, bersama perempuan lain belum tentu selingkuh. Siapa tahu Abadi ada tugas kelompok bersama teman perempuannya, jadi, kamu jangan salah mengartikan,” jelas Ketrin.
“Enggak mungkin, Ma. Orang Cinta liat sendiri, Abadi pegang tangan perempuan itu. Pokoknya Cinta benci Abadi!”
Ketrin membuang napas dengan gusar, putrinya ini terlalu sensitif. Dia jadi teringat saat dirinya muda dulu, dan sifatnya juga tak jauh beda dari anaknya.
“Cinta uda tanya sama Abadi tentang apa yang Cinta liat?”
“Belum. Tadi Cinta langsung marah-marah terus pulang,” ucap Cinta, sambil memajukan bibirnya.
“Harusnya Cinta tanya dulu dan boleh perlu dengerin penjelasan Abadi. Jangan langsung marah-marah, ‘kan kasihan Abadinya. Kalaupun Abadi selingkuh, tanya sama dia, kenapa bisa selingkuh?”
Cinta hanya diam sambil memilin baju sekolahnya.
“Besok ditanya ya, Sayang,” ucap Ketrin sambil mencium kening Cinta.
“Iya, Ma.” Cinta tersenyum.
***
Pagi-pagi sekali Cinta sudah tiba di sekolah, dengan ceria dia terus melangkah sembari menebarkan senyumannya. Keadaan sekolah sangat sepi, mungkin karena masih pagi.
Cinta masuk ke kelasnya, belum ada satu pun siswa yang datang selain dia. Niatnya, hari ini dia ingin meminta penjelasan dari Abadi, seperti apa yang dikatakan Ketrin—mamanya.
“Cinta!” teriak seorang gadis yang tak lain adalah Mona—teman sekelasnya.
“Iya, tumben cepat Mon?”
“Is kamu. Aku cepat salah, lambat juga salah.” Mona menjawab dengan cemberut.
“Bukan salah. Aku Cuma tanya saja, sensitif banget sih kamu.” Cinta tertawa, sedangkan Mona semakin cemberut.
“Eh, kamu tahu enggak?”
“Ya, enggak. Kan kamu belum ngomong.”
“Iya juga. Kemarin aku liat Abadi sama si Rika, di cafe.”
“Rika, siapa?” tanya Cinta dengan muka serius.
“Teman sekelasnya,”
Cinta dan Abadi memang beda kelas. Cinta berada di kelas XIII1 Ipa, sedangkan Abadi berada di kelas XIII2 Ipa.
“Mereka kayak bicara serius gitu. Sayang banget aku gak bisa dengar.”
Mona terus ngomong panjang lebar, Cinta mendengarkan sambil mengepalkan tangannya. Sepertinya tuduhan awalnya memang benar, bahwa Abadi selingkuh.
Dengan gerakan cepat Cinta menuju pintu kelas.
“Mau ke mana, Cin?” tanya Mona sambil terus mengejar Cinta.
“Ke kelas Abadi.”
Cinta semakin cepat, dia benar-benar tidak sabar untuk bertemu Abadi.
Namun sayang, ketika Cinta sampai di kelas Abadi tak ada seorang pun di dalamnya. Cinta terus berpikir, tidak mungkin jam segini Abadi belum datang.
Sekarang dia mengerti, dengan langkah cepat dia menuju belakang sekolah—tempat awal Abadi bersama perempuan lain. Mona masih terus mengejar Cinta.
Dugaan Cinta benar, ternyata Abadi ada di belakang sekolah bersama Rika—wanita yang dimaksud Mona. Cinta segera melangkah untuk menghampiri dua orang itu, tapi Mona menahannya dan membawahnya bersembunyi dibalik tembok.
“Kamu kok bawa aku kesini Mon? Aku mau labrak mereka,” ucap Cinta sambil memandang Mona.
“Kita pastikan dulu, Abadi selingkuh atau tidak.”
Akhirnya dengan bujukan Mona, Cinta mau bersembunyi dulu. Samar-samar mereka mendengar percakapan Abadi dan Rika.
“Aku enggak bisa, Ka,” ucap Abadi dengan nada tegas.
“Kenapa, Di? Kenapa?” Rika mengguncang-guncang tubuh Abadi.
“KARENA AKU HANYA MENCINTAI CINTA!” Abadi menekan setiap kata-katanya.
“COBA SEKALI SAJA KAMU CINTA SAMA AKU!”
Rika selalu mengajak Abadi untuk bertemu, dia melakukan ini semua karena dia sangat mencintai Abadi.
Cinta kaget, ternyata dugaannya tentang perselingkuhan itu salah, ternyata pria yang ia tuduh sedang memperjuangkan cintanya. Dia merasa bersalah, dengan cepat dia berlari dan memeluk Abadi dari belakang.
“Aku juga cinta kamu,” ucap Cinta sambil terus memeluk erat Abadi.
“Asal kamu tahu, Ka. Aku dan Cinta adalah dua orang yang saling mencintai dan akan tetap seperti itu sampai kapan pun.”
Abadi membawa Cinta pergi meninggalkan Rika.
“Aku enggak selingkuh, ‘kan?” tanya Abadi sambil menaik turunkan alisnya.
Cinta nyengir kuda sambil terus memegang tangan Abadi.
“Maaf aku salah karena uda tuduh kamu.” Cinta memandang lekat Abadi.
Abadi tersenyum sambil berkata, "Iya, dan kamu juga enggak perlu cemburuan lagi, karena Abadi cuma milik Cinta. Dan Cinta milik Abadi, kita ini Cinta Abadi, yang akan bersama selama-lamanya.”
Mereka tersenyum sambil berpelukan.
The End
Dengarkanlah dulu penjelasan dari mereka yang mungkin kita curigai, karena semua terjadi karena ada hal yang mungkin masih belum bisa mereka ungkapkan.
Semoga kita bisa dapat pasangan kayak Abadi yah. Hihihi.
Jangan lupa baca Novelku juga yah😚