KEKASIHKU ABIMAYU
Karya : Enny maryani. S
#Cerpen
Apa yang harus kutuliskan tentangmu?
Pertanyaan itu bagai kegelapan yang meraba gulita pada lorong waktu yang tak mungkin kembali. Berlembar kertas telah memenuhi lantai kamarku.seperti tungau yang menghisap darah lalu meninggalkan rasa perih dan gatal di sekujur badan. Pertanyaan itu berulangkali menyeruak dalam otakku. Kata-kata bagai menghilang pergi meninggalkanku. tak kutemukan satu kalimatpun yang bisa mengisahkan tentangmu dalam tulisanku.mungkin ada baiknya kuseduh segelas kopi hitam tanpa gula.siapa tau kafein akan menyegarkan kembali ingatanku tentangmu. Bukan karena aku lupa. Bukan karena itu. tapi terasa begitu sulit menjabarkan dirimu dalam sebuah tulisan. Belum lagi kuhirup kopi ini, telpon genggamku berdering.nada dering kekasih bayangan dari penyanyi bersuara serak dan seksi Cakra khan memecah kesunyian malam. Kulirik jam dinding .jarumnya sudah menunjukan pulul 02:00 wib. Jam ini adalah hadiah darimu.aku teringat ketika itu engkau baru pulang dari luar kota. Lalu memberikan jam ini sebagai oleh-oleh, aku sempat protes. Kok oleh-olehnya jam dinding sih? "Supaya kamu nggak selalu jam karet" jawabmu sambil mengacak rambutku. Kebiasaanmu ini yang selalu membuatku rindu.
Kulihat layar telpon genggamku untuk mengetahui siapa yang menelpon. Jantungku berdebar kencang. Kau menelponku. Ya kau yang sedang menari-nari dalam otakku. Kau yang tak mampu kutuangkan dalam sebuah tulisan. Meski hanya berupa sajak atau puisi. Bimbang rasa hatiku untuk menjawab panggilan telpon darimu itu. Pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban muncul di kepalaku. Ada apa kau menelponku? Adakah hal penting yang hendak kau sampaikan? Apakah kau didera kerinduan yang sama padaku? Begitu banyak pertanyaan yang bermunculan.namun tak jua berani kuangkat telpon darimu. Ini adalah panggilan ketiga. Akhirnya telpon genggamku diam tak lagi berdering. Mungkin di ujung sana kau menggerutu kesal dan marah padaku. Biarlah, aku telah siap meminta maaf dengan berjuta alasan yang kukarang seindah dan semasuk akal mungkin. "pembohong" Hatiku memaki diri dengan sengit.lalu kucoba lagi memulai menulis tentangmu. Tapi perkataanmu di suatu ketika itu kembali mematahkan semangatku. Masih terngiang ucapmu yang bernada ketidaksukaan "Jangan pernah jadikan aku bait-bait puisimu Amelia, sedikitpun aku tak akan sudi karena cintaku nyata.bukan kata-kata gombal yang biasa dilontarkan para pujangga kesukaanmu itu".disorot matamu aku menangkap bersit kecemburuan begitu jelas. Ah, Abimayu. Padahal begitu inginnya aku menggoreskan namamu di bait-bait puisiku. Menjadikanmu satu-satunya jantan yang menguasai jiwa dan raga. Memamerkanmu pada seluruh semesta. Abimayuku nan tampan rupawan. Yang dengan lengan kokohnya selalu menyediakan bahu dan dada bidangnya untukku bersandar dan bermanja-manja.
***
Waktu berlalu cepat. Tepat jam 04:00 wib telpon genggamku kembali berdering. Lamunanku akanmu sontak buyar seketika.Ratih sahabatku yang menelpon,mau apa si gendut ini menelponku di subuh buta begini? Dengan bersungut-sungut dalam hati kuangkat telpon itu."Hallo",Dengan malas-malasan aku mulai menyapa.
"Amelia, Amelia" suara Ratih beserta isak tangis terdengar parau."Ada apa Ratih,apa yang terjadi"dengan cemas aku bertanya."Abimayu lia, Abimayu mengalami serangan jantung. Abimayu meninggal lia. Sekarang aku sedang di RSUD,,,,,tiba-tiba tubuhku terasa begitu ringan bagai tak menginjak ubin. Langit-langit kamar bagai berputar di atas kepalaku. Mendadak semua menjadi gelap. Aku ambruk ke lantai. Ketika siuman aku telah berada di tempat tidurku. Ayah dan bunda terlihat begitu cemas. Teringat pada Abimayu aku langsung berteriak histeris. Tak sabar kuberkehendak agar diantarkan ke rumah sakit tempat jenazah Abimayu seperti yang di katakan Ratih. Bunda berbisik "bersabarlah lia, Abimayu telah dibawa pulang ke rumahnya.,mari kita langsung ke rumah Abimayu".selang lima belas menit perjalanan aku tiba di rumah Abimayu. Kain kuning terlihat di pagar rumahnya. Orang-orang dengan wajah berkabung begitu ramai. Ketika melihatku mereka berkata"yang tabah ya lia. Yang sabar, yang ikhlas".aku tak kuat lagi melangkah. Airmata bagai anak sungai yang bertemu di muara. Dengan dipapah bunda aku berjalan memasuki rumah itu. Di beranda ini aku dan Abimayu seringkali bersenda gurau.melepas rindu . Di beranda ini juga pertamakalinya Abimayu mengecup bibirku. Tiba di ruang tengah kuliihat sesosok jasad terbujur kaku berselimutkan kain panjang batik dengan motif bunga kamboja berwarna coklat. Di sebelah kepala jasad itu dapat kulihat mama.papa dan adik-adik Abimayu membaca surah yassin. Aku bagai tak mempercayai semua yang kulihat. Bergegas kuhampiri dan kubuka kain penutup di bagian wajah jasad itu. Abimayu, ya jasad itu memang Abimayuku, jantanku nan tampan berlengan kekar dan berdada bidang. Hanya airmata yang berbicara. Suarapun tak mampu kukeluarkan.bagai tersekat di tenggorokanku yang tiba-tiba mengering seperti sungai dimusim kemarau. Sakti adik terkecil abimayu mendekatiku. Dan berbisik "kak, ini ada surat untuk kakak dari mas Abi. Surat ini kutemukan di saku jasnya". Pelan kubuka surat dengan amplop putih itu. Di surat itu Abimayu menuliskan "Amelia sayang, kekasih terindah yang diberikan tuhan padaku. Tempat dimana rindu selalu menggebu. Sayang selalu menunggu. Sabar yang tak mau tahu.ini adalah setahun hubungan kita. Sayang, surat ini kutuliskan karena aku sangat menyesali semua sikapku padamu. Aku merasa malu untuk langsung berbicara padamu. Kecemburuan membutakan hatiku. Hingga aku tak mampu melihat begitu besarnya cintamu untukku.lewat Ratih aku tahu betapa sulitnya kau bertahan menghadapi mauku. Betapa tersiksanya bathinmu mengikuti inginku. Betapa terpenjaranya kebebasanmu karena aturan-aturanku yang seringkali tak logis. Aku begitu mencintaimu Amelia. Aku begitu takut kehilanganmu. Ternyata cinta kita sama besarnya. Hanya cara kita memperlihatkannya yang berbeda. Kau lebih suka mengungkapkan kecintaanmu pada bait-bait puisi. Walaupun nyatanya aku pun sangat suka membaca puisi-puisimu.bahkan tanpa kau ketahui aku telah mengabadikannya menjadi sebuah buku. Betapa aku tersenyum senyum sendiri membaca beberapa puisimu yang jelas-jelas menampilkan diriku di sana. Meski mungkin karena laranganku untuk menjadikan aku objek inspirasimu maka selalu saja menghasilkan akhir kisah yang tak berujung padaku dan kita. Amelia sayang, maafkanlah aku. Aku telah mengambil keputusan untuk menjadikanmu puan di hatiku. Untuk menjadikanmu ibu bagi anak-anakku. Untuk menjadikanmu satu-satunya wanita pemilik hati ini. Semoga kau mau menerima segala keinginan dan kekuranganku.menerima aku sebagai imam dalam hidupmu. Menjadi bapak dari anak-anakmu kelak. Dan mulai saat ini kau boleh menuliskan apa saja tentang aku. Tentang kita.tentang kecintaanku padamu. Tentang aku yang begitu tergila-gila pada bidadari tak bersayap dalam wujudmu. Amelia sayang, maafkan atas pertengkaran kita kemarin. Aku berjanji bahwa itu akan menjadi pertengkaran terakhir kita. Esok tak akan ada lagi pertengkaran, yang ada hanya kecintaan,kerinduaan,kasih sayang yang akan kuberi padamu hingga maut memisahkan kita. Aku berjanji kekasihku.teruntuk dirimu Amelia kekasihku tersayang. Abimayu" .Surat itu basah oleh airmataku, Abimayu kekasihku. Jantanku yang tampan. Kemarin memang pertengkaran terakhir kita sayang, esok tak akan pernah lagi kulihat rengut manja di wajahmu. Lirikan mata yang membersitkan cemburu. Tak ada lagi lengan dan bahu kekar serta dada bidang tempatku bersandar bermanja-manja. Abimayu jantanku yang tampan. Oh jantanku ,jantanku yang telah diambil tuhan. Langitku serasa runtuh.