Langit yang berwarna biru itu mulai memudar diterpa warna sang senja. Andi seorang siswa sma yang mengikuti eskul musik daerah seperti biasa pulang dengan temannya, Rendi, dengan naik motor.
"Makasih ya Ren, udah nganter. Mau mampir dulu enggak? " tanya Andi seusai ia sampai di rumah.
"Enggak deh, kapan - kapan aja. Udah malem ini. Aku takut nanti ada sapu terbang dirumah. Hehehe".
"Hah? Sapu terbang? Sapu terbang apa? "
"Itu sapu berkekeuatan emak - emak yang bakal terbang kalau aku telat pulang."
"hahahaha.. Yaudah hati - hati ya! "
Mereka belum tahu tentang rahasia ruang seni yang mereka pergunakan untuk latihan saat ini. Maklum mereka baru saja diterima di sekolah itu setelah kelulusan mereka dari smp.
"Ehh Ren, Nanti kamu latihan enggak? Katanya 3 bulan lagi ada lomba lho, dan kita terpilih kata pelatih. " tanya Andi.
"Ya latihan lah. Nanti jangan lupa ongkos ojeknya."
"Ongkos - ongkos. Orang rumah kita searah juga. Woo. " jawab Andi kesal.
Minggu demi minggu mereka latihan untuk lomba itu hingga minggu terakhir mereka latihan, mereka belum tahu mengenai rahasia ruang seni itu.
"Bagus.. Bagus! Gini dong! Yaudah minggu ini tinggal satu pertemuan lagi, terus kita gladi bersih. Okehh? ". ucap pelatih.
"Okehh! "
Waktu itu jadwal latihannya sedikit diperpanjang hingga usai waktu magrib. Andi merasa ada yang aneh dengan ruangan seni itu. Ia sekilas melihat gong yang berada di dalam ruangan itu seperti bergerak karena dipukul.
"Ehh! "
"Kenapa An? "
"Enggak ada Ren, udah ayok keburu kemalaman." tegas Andi sambil naik ke punggung sepeda Rendi.
Sampai rumah Andi masih kepikiran dengan hal itu. Kejadian itu seakan masih berputar - putar di kepala Andi.
"Tut.. Tut.. Tut.. " suara telpon.
"Ehh Rendi? Mau apa, telpon? "
"Iya kenapa Ren? ". Tanya Andi sambil mengangkat telponnya.
"An, besok kamu latihannya minta antar jemput bapak kamu aja ya, soalnya aku besok diajak kerumah nenek aku. Jadi enggak bisa latihan besok. "
"O, gitu? Besok latihan terakhir sebelum gladi bersih lho, Ren. "
"Iya, gimana lagi. O, iya. Ijinin aku juga ya. Kemungkinan 2 hari aku enggak masuk sekolah. "
"Iya. Tapi kamu ikut gladi bersihnya, kan? "
" Iya lah. Orang pas gladi bersih aku udah pulang. "
Hari latihan terakhir pun datang. Andi yang di antar bapaknya, latihan sampai usai waktu magrib.
"Tut.. Tut.. Tut.. ". suara telpon dari bapak.
"Iya halo, Pak? Kenapa? "
"Bapak agak telatan ya jemputnya. 15 menit lagi bapak jemput. "
"Okehh deh, pak."
Setelah menerima telpon dari bapaknya, Andi hanya duduk dan menunggunya di depan ruang seni yang tersinari cahaya lampu. Ia kemudian kaget mendengar suara gong yang dipukul tiga kali dengan sangat kencang.
"Lah, kok itu? Kan, semuanya udah pulang. Ruangannya juga sudah dikunci. Kenapa ada yang mukul gong itu yah? ". Andi pun pergi melihat kedalam ruangan itu melalui cendela ruangan tersebut. Tanggannya memegang senter dari hpnya yang di arahkan kedalam ruangan tersebut.
Dia di buat kaget dengan spidol yang melayang sendiri menulis angka - angka tidak jelas di white board tempat pelatih menulis notasi musik. Kemudian ia melihat ke samping kiri ruangan tersebut, tempat alat - alat musik itu berada.
"Aaaaa.. Itu itu". Alangkah kagetnya Andi melihat alat musik itu memainkan dirinya sendiri.
Suara gamelan itu semakin lama semakin keras dan tak beraturan. Andi yang ketakutan berjalan mundur perlahan dengan tubuh yang berpeluh - peluh dan kaki yang seakan mati rasa. Kemudian ia merasa pundaknya seperti di pegang oleh seseorang dari samping, seketika ia menengok kesamping dan jatuh dengan posisi terduduk karena kaget.
"Ka.. Kamu siapa? " tanya Rendi kepada perempuan yang berpakaian penari dengan mata yang mengeluarkan darah. Perempuan itu terus mendekatinya.
Andi berusaha menjahui perempuan itu dengan keadan kaki yang sudah lemas. Ia mundur dengan keadaan tubuh yang terduduk di lantai depan ruang seni itu.
"Jangan mendekat! "
Ia berusaha berdiri dan lari dengan menutup matanya. Tapi ia seperti menabrak seseorang di depannya.
"Brukk! "
"An, Andi kamu kenapa lari - lari? " tanya orang yang ditabrak Andi yang tak lain adalah bapaknya.
"Anu itu, pak. Di situ tadi ada perempuan berpakaian penari terus tadi, tadi juga gamelan di ruang seni itu bermain sendiri. " ucap Andi sebari menunjuk ke arah perempuan tadi dengan tangan yang gemetaran.
"Ngomong apaan sih kamu? Udah ayok pulang. Kata penjaga sekolah 5 menit lagi gerbangnya bakal ditutup."
" Iya pak. " jawab Andi sambil menaiki motor bapaknya.
Hari dimana gladi bersih itu pun tiba. Seuasainya, Andi mengajak duduk Rendi dan menceritakan tentang kejadian itu, tapi Rendi tak percaya dan hanya menangapi dengan tertawa kecilnya.
"Hahaha mana ada sih, palingan kamu halu kali."
"Enggak sumpah, Ren! Beneran, ada perempuan berpakaian penari terus gamelannya itu bermain sendiri. "
"Ehh kalian cerita apa sihh? ". Sapa kakak kelas mereka yang tiba - tiba datang dan duduk di samping mereka.
"Anu, kak. Waktu itu aku melihat perempuan di depan ruang seni, pas aku selesai latihan. Perempuannya itu serem banget pokoknya, terus gamelan yang berada di dalam ruang seni itu memainkan dirinya sendiri. " ucap Andi.
"Emangnya kalian belum tau ya, cerita tentang ruang seni itu? "
"Enggak kak. "
Kakak kelas Andi dan Rendi itu pun menceritakan bahwa dulu di ruangan itu pernah terjadi bunuh diri, tepatnya sekitar 2 tahun lalu. Katanya, yang bunuh diri itu seorang siswi yang ikut eskul tari yang kebetulan waktu itu latihan di ruang seni itu. Kakak kelas itu menjelaskan kalau siswi itu bunuh diri karna dirundung teman - temannya karna kehamilannya yang tidak jelas, siapa bapak dari anak yang dikandungnya. Sejak saat itu Andi selalu menjadi anak yang pertama kali meninggalkan ruang seni usai latihan.
----------------------------------------------------------------------------------------
Maaf kalau ceritanya kurang menarik atau jelek, dan maaf kalau ada salah ejaan. Ehe, maklumi baru coba buat≥﹏≤