"Aku menyukai darah dan kematian yang perlahan-lahan. Setiap jeritanmu bagai melodi yang menyenangkan. Darahmu manis menghapus dahaga. Dagingmu lembut membuatku kenyang."
๐ท๏ธAku Ingin Menjadi Hantu! #SekolahGaib
By.Eouny Jeje
***
Namanya Angel.
Aku tidak menyukai siswi baru itu, yang sifatnya genit dan menggoda penampilannya. Walau wajahnya cantik dan membius setiap aku meliriknya, tetapi dia terlihat menatap jijik padaku. Padahal aku adalah siswa populer di sekolah dengan predikat siswa yang selalu top ranking di sekolah, dan tampan. Oleh itu, banyak siswi yang menyukaiku. Tetapi, Angel terlihat menjaga jarak dengan mata yang mengkerdilkan dan mulut yang mencaci.
"Kamu hanya anak pembantu di rumahku," ujar Angel merendahkanku. Seketika, setiap teman sekelasku terbahak, mencemoohku, dan rahasia besarku terbongkar. Aku selalu menyombongkan status orangtuaku sebagai Kepala cabang di sebuah perusahaan besar, padahal hanyalah pekerja serabutan di rumah tangga Angel.
Harga diriku sebagai siswa teladan, kini berganti desas-desus menjadi siswa pembohong, kelas rendahan yang berkahayal menjadi kelas atas. Memalukan. Aku malu, dan tidak ingin masuk ke sekolah. Namun, dendamku pada Angel tidak pernah luntur walau aku telah berminggu-minggu tidak sekolah. Aku tidak pernah ingin kembali ke sekolah. Karena, aku cukup malu akan setiap ejekan dan diskriminasi. Harga diriku telah di injak-injak. Tetapi, untuk membalas Angel, itu bukan hal yang mudah. Sangat sulit! Angel selalu di kawal oleh beberapa pengawal dengan sabuk hitam.
Aku tidak bisa membalas dendamku pada Angel. Kecuali, aku menjadi hantu. Hantu yang mengerikan dan membunuh Angel.
๐๐๐ค๐๐๐ค๐ฎ ๐๐ฎ๐ฅ๐๐ญ. ๐๐ง๐ ๐ข๐ง ๐ฆ๐๐ง๐ฃ๐๐๐ข ๐ก๐๐ง๐ญ๐ฎ! ๐๐ค๐ฎ ๐ก๐๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐ฃ๐๐๐ข ๐ก๐๐ง๐ญ๐ฎ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฆ๐๐ง๐ ๐๐ซ๐ข๐ค๐๐ง.
Aku pun memutuskan mengendap-ngendap masuk sekolah pada malam hari. Aku bertekad ingin menjadi hantu. Yaitu,dengan duduk di sebuah bangku kosong yang berada di gudang. Bangku itu akan memberikan ajal lebih cepat, dan menjadikan diriku hantu yang menyeramkan seperti yang aku inginkan. Aku sudah lama mendengar rumor tentang bangku hantu. Namun, sedari dulu aku menolak percaya rumor tersebut. Tetapi, malam ini tekadku telah menjadi gunung yang besar dan menjulang tinggi ke langit.
๐๐ค๐ฎ ๐๐๐ซ๐ฌ๐๐๐ข๐ ๐ฆ๐๐ง๐ฃ๐๐๐ข ๐ก๐๐ง๐ญ๐ฎ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฆ๐๐ง๐ ๐๐ซ๐ข๐ค๐๐ง
Aku menuju gudang, dengan palu di tanganku. Aku mengitari gudang, dan mencapai halaman belakang tepat di belakang gudang. Ada jendela besar yang bisa menjadi penghubungku masuk.
Aku menghajar daun jendela dengan palu di tanganku. Prang! Kaca jendela pecah dalam hitungan beberapa detik, dan menjadi serpihan beragam menabrak lantai. Lalu, akupun melompat ke jendela. Tidak memperdulikan setiap daging telapak tanganku yang menancap pada setiap ujung kaca yang tajam tersisa pada kusen jendela.
Sakit dan berdarah tidak aku rasakan lagi. Hatiku lebih sakit. Berlubang-lubang dan sangat tandus.
๐๐ค๐ฎ ๐๐๐ซ๐ญ๐๐ค๐๐ ๐ฆ๐๐ง๐ฃ๐๐๐ข ๐ก๐๐ง๐ญ๐ฎ.
Aku melompat dalam satu lompatan. Berpindah masuk ke dalam gudang. Aku merogoh ponselku. Dengan tangan bersimbah darah milikku sendiri, aku menggengam ponsel dan menyalakan lampu senter ponselku. Aku mengedarkan seluruh pandanganku secara acak menembus kegelapan, dan mencari bangku hantu tersebut.
Sepasang mata gelapku dengan penuh hasrat dan kebencian, akhirnya menemukan satu bangku yang terlihat usang dengan rantai dan borgol yang menggantung di setiap kaki kursi dan lengannya. Itulah bangku yang akan memberikan kematian lebih awal untukku.
๐๐ค๐ฎ ๐ญ๐๐ซ๐ฌ๐๐ง๐ฒ๐ฎ๐ฆ ๐ ๐๐ฆ๐ข๐ฅ๐๐ง๐ ๐๐๐ง ๐๐ค๐๐ง ๐ญ๐๐ค๐๐ข๐ซ๐ค๐ฎ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐ค๐ฎ ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ก, ๐ฆ๐๐ง๐ฃ๐๐๐ข ๐ก๐๐ง๐ญ๐ฎ ๐ฅ๐๐๐ข๐ก ๐๐ฐ๐๐ฅ.
Aku berjalan menghampiri kursi itu dengan setiap langkah yang aku hargai sebagai setiap detik beharga di hari terakhirku. Terakhir untuk menjadi sosok manusia yang di anggap rendah dan menjijikan. Sekarang, adalah detik-detik perubahanku. Aku akan menjadi hantu yang mengerikan di sekolah, dan aku akan menghantui mereka dan menjemput setiap ajal mereka.
Aku duduk mematung di bangku sejenak. Di saat itulah, hembusan angin menyeruak masuk menusuk tulang, memberikan hawa dingin yang membuatmu bergindik setiap detiknya. Aku bersikap acuh dan tidak acuh. Aku mulai memborgol pergelangan kakiku. Lalu, pergelangan tanganku. Memejamkan mataku. Menyerahkan diriku pada sosok yang tidak terlihat.
Perlahan, indera penciumanku mengendus bau melati yang sangat harum. Namun, itu hanya sesaat. Berganti dengan bau amis darah yang tiba-tiba terasa berada tepat di bawah hidungku. Aku bergindik takut. Namun, aku tepis segera dengan keberanian dan tekadku, aku berteriak lantang, "Ambil Nyawaku. Jadikan aku hantu yang terkuat dan mengerikan."
Swosh .... Satu sosok terasa telah hadir di belakang punggungku, dan tangannya yang putih dan berkuku panjang, terasa dingin menyentuh salah satu bahuku.
"Iyaaaaaaaa ...." Terdengar suara lirih menjawab panjang di sisi telingaku. Lalu, dia bertanya kembali, "Kematian bagaimana yang kau inginkan?"
Aku gemetar sebentar akan pertanyaan yang terlontar menggema di sisi telingaku. Aku mengumpulkan seluruh energi keberanian ku, membuka mataku perlahan.
Srettttttt .... Sosok bergaun putih terlihat bergeser cepat dan kini, berdiri di depanku. Wajahnya pucat seperti kertas, rambutnya panjang berantakan, kakinya mengambang di udara. Setiap jemari tangannya berkuku panjang dan bewarna hitam. Aku terk siap sesaat. Ini adalah pertama kalinya aku bertemu hantu dalam hidupku.
"A-aku ingin menjadi han-hantu mengerikan ...."
"Kematianmu harus mengerikan pula."
"Baik! Asalnya kematianku bisa membalas semua lukaku."
Wanita bergaun putih itu terkekeh, menjilat ujung kukunya, dia tampak berpikir Kematian bagaimana yang dia berikan padaku.
"Dalam kehidupan sebelumnya aku adalah seorang wanita yang di bunuh suaminya dengan gergaji mesin. Ini adalah rumahku. Bangku itu adalah bangku penyiksaan suamiku. Gudang ini di bangun tepat di petak rumah kecilku."
Aku hanya menatap tidak peduli. Aku tidak tertarik dengan masalalu hantu wanita ini. Aku hanya bertekad ingin segera menjadi hantu dan membalaskan kebencianku.
"Aku di potong-potong dengan gergaji mesin." Wanita bergaun putih tersebut berurai air mata darah hitam, dan dia menjatuhkan seluruh bagian tubuhnya bak potongan daging kotak yang tergelak di atas lantai. Menjijikan untuk pertama kali aku lihat hal seperti itu. Namun, dalam sekejap potongan daging itu kembali menyatu perlahan dan membentuk sosok wanita berkimono dengan pakaian indah. Dia terlihat cantik di saat perubahan keduanya. Aku menatap lekat akan sosok cantik yang terlihat jelas dengan gaun kimono merah bermotif sakura indah. Rupanya hantu wanita ini masih dalam garis keturunan Jepang. Terlihat dari setiap fitur tegas dan garis wajah Jepang yang terlihat kental mendominasi.
"Kau seperti Wanita Jepang."
"Ya .... Namaku Ayumi."
Ayumi menatapku lekat, dan dia mencubit daguku, "Kau pribumi yang tampan. Aku ingin kau menjadi temanku di sini."
Aku mengulas senyum. Rasa takutku hilang sekejap. Ayumi membalas senyumku, dan mencium keningku. Sentuhan bibirnya sangat dingin.
"Apa kau takut gergaji mesin? Rasakanlah apa yang telah aku rasakan? Berbagi sakitlah bersamaku," bisiknya menggoda dengan bibir yang menempel.
Aku tergagap sesaat antara terbuai godaannya dan rasa ngeri. Gergaji mesin. Aku tidak berani membayangkannya. Bagaimana setiap tubuhku di potong dengan gergaji mesin. Tetapi kebencianku pada Angel dan teman-temannya, bagai tembok yang tingginya telah melampaui setiap ketakutanku. Aku sudah menemui jalan buntu. Kebencianku menuntut aku mati dan menghantui setiap orang yang mengekerdilkan diriku.
"Tidak takut!" teriakku lantang menjawab.
Ting! Tak lama muncul satu gergaji besar di dalam tangan wanita bergaun kimono merah. "Aku menyukai darah dan kematian yang perlahan-lahan. Setiap jeritanmu bagai melodi yang menyenangkan. Darahmu manis menghapus dahaga. Dagingmu lembut membuatku kenyang."
"Kita mulai, dari setiap jemari kaki."
Gergaji mesin terdengar menyala nyaring memecahkan keheningan malam, derrrrtttt ... derttttt ....
"Aaaaa ...," teriakku terkejut dan sakit. Satu jempol kakiku telah terpotong. Aku hanya memejamkan mata dan mengira hal ini akan cepat berlalu. Ternyata tidak. Ternyata rasa sakit yang aku terima, telah memperingatiku bahwa aku telah dibodohi oleh rasa kebencianku.
Derrrrtttt ... Derttttt .... Dengan cepat gergaji telah memotong setiap jemari kaki kiri dan kananku.
"Apa kau takut dan merasa sakit?" Ayumi menyeringai akan setiap aroma darah yang menetes ke ubin lantai.
Aku berkedip sesaat, menggelengkan kepala,dan hanya menatap setiap jemariku telah berserak di lantai dengan jejak-jejak darah yang menetes dari setiap pangkal jemari-jemari kakiku yang terlihat buntung.
"Sekarang aku akan memotong setiap jemari tanganmu."
Derrrrtttt ... Derttttt .... Dengan cepat gergaji telah memotong setiap jemari tangan kiri dan kananku.
"Argggh ...." ringisku tak tertahankan. Sangat sakit.
"Sekarang aku akan memotong tubuhmu menjadi dua bagian."
Aku terbelalak sesaat. Memotong tubuhku menjadi dua bagian. Tetapi, aku telah pasrah dalam siksaan demi kebencianku. Aku mengangguk mempersilakan Ayumi melanjutkan aksinya.
Derrrrtttt ... Derttttt .... Tubuhku terbagi dua. Dari pinggang ke kepala dan bagian tersisa lainnya, dari pinggul ke kaki. Aku menghela napas, menahan rasa sakit dan nyeri. Ingin rasanya aku meminta Ayumi mencabut jantungku segera. Aku ingin mati dan menjadi hantu yang mengerikan seperti dirinya.
"Aku menyerah Ayumi. Cabutlah jantung sekarang. Hilangkan rasa sakit ini."
Ayumi menyeringai, "Aku menyukai jantungmu yang masib terdengar berdetak di telingaku." Ayumi tidak memperdulikanku. Dia hanya kembali mengangkat gergajinya dan memulai memotong setiap daging dan tulangku dengan mudah. Aku hanya bisa meringis dalam setiap siksaan yang di beri Ayumi. Akupun masih bisa bernapas dengan jantung yang mulai berdetak pelan dan sangat pelan.
Derrrrtttt ... Derttttt! Ayumi memotong putus kepalaku dari batang leherku. Sepasang mataku membola besar, dan di saat itulah jantungku mulai berhenti. Lalu, ruhku perlahan merangkak keluar dari setiap ragaku yang telah di cincang seperti daging berbentuk dadu.
"Selamat datang teman." Aku terkekeh menerima uluran tangan Ayumi, dan menyambut gergaji darinya dalam genggaman tanganku.
"Sekarang aku akan membunuh Angel lebih dulu."
Ayumi tersenyum dan tiba-tiba hilang begitu saja.
"Ayumi ...," lirihku heran. Namun, di detik selanjutnya aku tidak memperdulikan kekosongan Ayumi dalam ruangan. Seakan telah menjadi hantu baru dengan kekuatan baru yang besar. Aku membulatkan niatku, dan dalam satu kedipan aku telah mencapai rumah Angel, musuh besarku.
Angel terlihat duduk di kamarnya sendiri. Dia terlihat menangis tersedu-sedu. Tetapi, rumah Angel terlihat ramai. Terlihat setiap orang berkumpul dan membaca Alquran, dan berdoa mengelilingi Angel.
Aku berkedip bingung. Mengintip jendela. Terlihat sosok tubuh yang di tutup kain kafan. Aku menggerakan angin, dan kain penutup wajah jenasah itu terbuka. Terlihat wajahku seputih kertas.
"Mengapa mayatku berada di sana?" Aku bingung. Tidak Sudi, jenasahku berada dalam rumah musuh besarku. Aku segera ingin menerobos masuk dan menampakan diri pada Angel.
Namun, setiap bait doa terdengar di telinga, ruhku bergindik takut. Namun, semua itu terlantun merdu dan indah. Langkahku perlahan membawa ruhku ingin mencabik Angel. Baru saja aku akan mencapai pintu. Ruh ku jatuh terpental oleh perisai doa yang mengelilingi rumah Angel. Perlahan setiap bait doa yang aku dengar mulai menyiksa ruhku dan aku seperti merasakan membuat api yang membakar dan rasanya sangat panas.
Tidak kuat. Aku memutuskan pergi dari rumah itu. Menemui Ayumi. Aku kembali ke gudang. Hanya melihat police line kuning mengitari gudang.
"Ayumi!"
Tidak ada jawaban.
Samar-samar aku dengar suara dua orang yang sedang berbincang. Aku mengintip dari kegelapan, dan mencuri dengar pembicaraan dua penjaga sekolah tersebut.
"Kasihan yah. Karena nggak kuat di bully, Siswa teladan sekolah kita berpikir pendek dan kejam dengan diri sendiri. Mutilasi diri sendiri."
Aku terkejut. Mataku membulat marah. Di saat itulah Ayumi muncul dari kegelapan. "Kau yang membunuhku."
Ayumi menggelengkan kepala, "Kau bunuh diri bukan aku yang membunuhmu. Hantu tidak bisa membunuh manusia. Begitupula kau.Seumur hidup tidak akan bisa membunuh Angel, walau kau menjadi hantu."
"Mengapa?" tanyakan histeris.
"Karena menjadi hantu adalah kesalahan besar. Jika kau masih berwujud manusia. Kau bisa bangun berdiri dan membalas setiap orang yang mengejekmu, dengan menjadi orang yang lebih baik, daripada mereka. Tuhan mengizinkan luka. Namun menyediakan obatnya pula."
****
Tamat๐ท๏ธ