Saat itu, aku baru saja tamat dari pesantren dan aku melanjutkan pendidikanku ke jenjang perkuliahan.
Karena aku asalnya dari daerah dan kampusku di kota, aku tinggal di asrama kampus.
Kesan pertama melihat asrama ku ini, biasa saja dan tampak normal sebagai mana mestinya.
Malam pun tiba, saat itu aku baru pulang dari kampus. Rasa penat dan lelah membuatku langsung merebahkan diriku di atas kasur yang empuk. Lalu aku terlelap.
Di tengah lelapnya tidur, tiba-tiba aku mendengar suara seperti orang sedang baris-berbaris. Aku terbangun dan mencari sumber suara.
Saat aku mengintip dari jendela, aku melihat banyak pasukan tentara sedang berbaris.
Pikirku saat itu, mungkin saja ada Apel di malam hari. Lantaran asramaku berdekatan dengan batalyon.
Aku melanjutkan tidurku lagi,
Selang 2 jam kemudian, aku mendenngar sayup-sayup suara. Namun bukan bahasa Indonesia maupun sunda. Melainkan seperti bahasa Belanda.
Sekali lagi aku terbangun dan melihat ke arah jendela, aku menyipitkan mataku dan aku melihat seragam dari salah satu tentara itu yang begitu asing menurutku.
Di lengannya terdapat bendera merah putih biru, Aku pun heran.
"Lah? Kan bendera indonesia, merah putih? Kok ada birunya".
Aku melihat sekali lagi, namun semua barisan tentara itu lenyap.
Aku pun baru tersadar saat itu, lalu aku berlari ke tempat tidur dan menutupi diriku dengan selimut.
Aku terus merapalkan doa, lantaran aku mendengar suara hentakan sepatu khas tentara. Dan juga orang menangis. Lama kelamaan aku pun tertidur.
Lanjut....
Saat paginya, aku membeli makanan di kantin asrama. Iseng-iseng aku bertanya dengan ibu kantin itu,
"Bu, semalam ada apel ya?".
"Ha? Apel? Mana ada apel malam-malam, neng!".
Sontak aku pun terdiam,
"Oh, pasti kamu anak baru ya di asrama ini. Jadi gini, dulu itu sebelum di bangun asrama ini. Waktu itu tempat pemakaman orang Belanda. Jadi enggak usah heran, kalau ada dengar serdadu tentara atau orang Belanda malam-malam. Yang penting jaga sikap aja"terang ibu itu.
Aku pun mmenganggu paham, lalu membayar makananku. Lantas aku pun balik lagi ke asramaku.
Aku baru tahu, rupanya dulu di tanah yang sedang ku pijak ini bekas pemakaman Belanda. Aku pun harus terbiasa akan hal ini.