SEPUCUK SURAT DARI KEKASIH
Karya : Enny Maryani.S
#Cerpen
Dear kekasihku sayang,
Maaf, jika akhirnya surat ini harus kutuliskan untukmu. Aku mulai merasakan jarak yang engkau buat. Namun aku berharap itu hanyalah perasaanku saja. Dulu, seringkali berulang ulang kali kukatakan padamu.Jangan terlalu meninggikanku.Jangan terlalu menyanjungku.Jangan terlalu memujaku.Jika disaat yang bersamaan kau menilai segala kekuranganku.
Aku hanyalah wanita akhir zaman yang telah banyak melalui kesakitan, kepedihan,kecewa dan luka.waktu membentukku menjadi wanita yang mungkin terkesan keras kepala, egois bahkan semaunya di matamu.Dan yang aku tahu,aku berusaha menjadi yang terbaik untukmu.Berusaha menjadi pantas dan layak berada di sisimu.Entahlah jika semua itu tak bernilai di matamu.
Aku hanya berupaya menjadikan kata aku dan kamu adalah kita.Aku hanya mencoba menjadikan kata rasa adalah cinta.Maaf jika hadirku memuramkan hari harimu.Maaf atas retakan yang tercipta di hatimu.Tahukah kau,Saat kau ragukan hatiku,saat itu aku tengah mematrikan hatimu di sanubariku.
Jangan menghilang tiba-tiba, bicaralah. Aku pun tahu bahwa perasaan tak mungkin bisa dipaksa. Andai memang telah habis cintamu untukku, bicaralahAku akan menerima semua dengan lapang dada. Toh bukan kali ini saja aku terluka. Aku sudah terbiasa menahan perih tanpa merintih.
Aku sudah sangat lelah dan mengantuk. Tolong temui aku besok di tempat biasa.aku akan ada di sana tepat jam empat sore.
Yang mencintaimu
"Kirana"
Arya melipat surat dari Kirana,perempuan yang dulu begitu ia cintai. Yang dulu sekiranya tanpa kirana dia merasa tak akan sanggup menjalani hidup.tapi itu dulu, kini dengan curang dia telah mengingkari semua janji yang telah dikrarkan ketika mereka sepakat membangun komitmen di antara mereka. Komitmen untuk saling percaya,berkata jujur dan terbuka, menjadikan cinta sebagai sandaran untuk mewujudkan impian menuju kesakralan akad menjadi halal.kini semua telah dia ingkari. Sehalus apa pun cara yang dia buat ternyata firasat Kirana lebih tajam dari sebilah pedang. Hanya saja Kirana bukan tipe wanita yang akan mengamuk membabi buta meski hatinya teramatlah hancur berantakan. Setelah mempertimbangkan semua, maka dia putuskan untuk menemui Kirana besok di tempat yang telah Kirana janjikan. Malam ini mata Arya begitu sulit untuk dipejamkan, dia berpikir keras bagaimana cara menyampaikan semua kebenaran ini pada Kirana. Beberapa kali dia membolak balikan badan, tetap saja matanya tak mau dipejamkan. Berulangkali dia menghembuskan nafas yang makin membuat sesak di dadanya semakin menjadi. Menjelang subuh barulah Arya bisa tertidur.dan dalam tidurnya Arya berkalikali mengigau memanggil nama Kirana.
***
Jam empat sore kurang sepuluh menit Arya sudah terlebih dahulu tiba di TKP 86,sebuah cafe tempat mereka biasa menghabiskan waktu untuk sekedar minum dan mengobrol. Pemilik cafe ini sudah sangat familiar dengannya dan Kirana. Maka tanpa canggung Arya langsung saja masuk dan menyapa sang owner yang kebetulan hari ini ada."Apa kabar mas Dayu? Semakin makmur saja kutengok" .sapa Arya kepada mas Dayu pemilik cafe TKP 86 ini. "Alhamdulillah, kabarku baik mas Arya. Kok lama sekali tidak berkunjung ke sini. Hanya mbak Kirana saja belakangan ini datang kadang bersama temannya,kadang sendirian".mas Dayu balik bertanya. Arya hanya menjawab sekedarnya "Kebetulan aku sering keluar kota belakangan ini mas". Tapi mas Dayu hanya membalas dengan tertawa. Sebagai teman baik Kirana pasti mas Dayu sudah mendengar soal hubungan kami yang kian renggang ini. Tepat jam empat sore aku melihat mobil Kirana memasuki pelataran parkir TKP 86. Dia memang selalu tepat waktu. Aku merasakan gugup yang mendadak saja datang menyergapku. Ketika Kirana melangkahkan kakinya mendekatiku aroma parfumnya yang begitu aku kenali menyeruak indera penciumanku. Wangi yang sebenarnya membuatku ingin berlari memeluk erat tubuh mungilnya. Kirana datang dengan pakaian kasual dan celana jins yang memang sangat dia sukai. Sebuah jilbab melekat di kepalanya. Aku sedikit terperanjat melihat hal itu. Ada yang berubah pada penampilan Kirana, meski biasanya Kirana kadang memang berjilbab. Tapi itu biasanya hanya ketika dia kerja atau ada acara tertentu saja. Tidak demikian halnya jika dia sedang bersamaku atau bersama kawan-kawan komunitasnya .Kirana terlihat semakin manis dalam balutan jilbab berwarna biru lembut. Serasi dengan wajahnya yang keibuan.walau kesan tomboy masih terlihat dari caranya berjalan serta tas selempang yang melekat di dadanya.Kirana langsung mendapatkan sambutan hangat dari mas Dayu "Waah, mimpi apa mas semalam bisa melihat bidadari datang ke cafe mas ini". Kirana membalas sapaan mas Dayu dengan cibiran di mulut mungilnya. Mas Dayu hanya tertawa mendapat perlakuan demikian dari Kirana.
Setelah menyapa dan memberikan daftar menu mas Dayu meninggalkan kami berdua. Susana untuk beberapa saat terasa sangat kaku. Sampai akhirnya Kirana yang lebih dahulu menyapaku. "Mas Arya apa kabar? ". Kami benar-benar bagai dua orang asing. Biasanya ketika bertemu kami akan langsung berpelukan sambil saling memberikan ciuman. "Kabar mas baik, bagaimana kabarmu dik? ". Aku balik bertanya. Mencoba memecahkan kebekuan yang ada."Kabarku kurang baik mas". Kirana menjawab sambil menatap lekat mataku. Dia seakan-akan mencoba mencari jawaban atas semua pertanyaan yang ada di pikirannya. Aku merasa ditelanjangi. Aku tak sanggup menatap balik bola mata yang sedikit sipit itu. Dalam hati aku memaki diri sendiri. Kirana meneruskan "Mas Arya, karena mas sudah ada di sini, berarti mas sudah membaca surat yang kutitipkan pada Putra.tujuanku bertemu mas malam ini hanya untuk mendengar sebuah penjelasan dari mas tentang mengapa mas seperti menjauhiku dan sebenarnya apa yang mas inginkan. Tolong jelaskan kepadaku, tidak perlu ragu-ragu dalam menyampaikan apa pun yang memang seharusnya mas sampaikan. Kita bukan anak-anak lagi, dan aku akan mencoba berlapang dada atas apa pun yang nanti akan mas jelaskan". Dengan begitu mantap hati dan tegas Kirana menyampaikan keinginannya. Aku tahu Kirana tidak sedang bercanda. Keseriusan begitu jelas terlihat dari tatapan matanya yang tak sedikitpun beralih dari wajahku.
***
Sebelum menjawan pertanyaan Kirana, aku menarik nafas dalam-dalam. Memang sebaiknya semua harus dengan jujur kusampaikan padanya. Agar tak semakin memperuncing keadaan. Arya mereguk minumannya,mencoba membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba dirasa sedemikian kering.
"Baiklah dik, mas akui jika belakangan ini mas menghindar untuk bertemu atau kontak denganmu. Sesungguhnya inipun begitu berat bagi mas. Tapi mas tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya padamu. "Apakah ada wanita lain? ". Kirana tiba-tiba menyela pembicaraanku. "Tidak dik, bukan itu. Hingga saat ini tidak pernah ada wanita lain yang begitu mas sayangi selain dirimu". Kirana memegang tanganku yang terletak di atas meja "Lalu apa mas? ".mengapa mas berubah. Mengapa mas membuat jarak denganku? Apa aku ada melakukan kesalahan pada mas? ". Kirana bertubi-tubi menghujani Arya dengan pertanyaan.
Aku balas menggenggam tangan Kirana, kemudian berdiri dan duduk di sampingnya. "Kuharap jika engkau mendengar penjelasanku ini, kau akan tabah dan ikhlas menerimanya dik,Sebenarnya kita adalah saudara kandung adikku, semua ini baru kuketahui ketika aku menemukan buku nikah orangtuaku dan di sana terdapat akta kelahiran dirimu dan juga diriku. Engkau adalah adik kandungku yang hilang ketika musibah banjir bandang berpuluh tahun yang lalu itu datang. Aku selama beberapa bulan ini mencari tahu tentangmu adikku. Ketika semua kuketahui aku bagai kehilangan pegangan. Aku sempat mengutuki kenyataan. Tapi inilah kenyataan yang meski pahit harus kuterima dengan lapang dada. Kemarin aku diam karena aku masih belum tahu bagaimana cara menyampaikan kepadamu atas kenyataan ini. Maafkanlah aku dik". Kirana menatap mataku mencoba mencari kejujuran di sana. Saat dia yakin bahwa yang didengarnya adalah benar, Kirana menghela nafas dalam-dalam. Tak sedikitpun airmata menetes di pipinya. Dia berdiri, sebelum melangkah pergi Kirana berkata " Beri aku waktu, sebagaimana aku memberimu waktu mas". Kirana berlalu dari hadapan Arya yang hanya bisa terdiam. Dia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Kirana saat ini. Tapi setidaknya kebenaran ini telah ia sampaikan. Semoga Kirana pun menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Meski ia tahu itu tidaklah mudah.