Namaku Intan, ini adalah hari pertamaku masuk sekolah di sekolah swasta yang cukup terkenal di daerahku, bukan hanya karena sekolah ini sudah berdiri sejak lama, tapi juga terkenal akan keangkerannya.
"Katanya, bagunan ini dibangun diatas makam belanda, lho." Ujar salah satu teman sekelasku.
Aku tidak percaya dan tidak mau memikirkannya, karena yang terpenting buatku sekarang adalah belajar dan lulus dengan nilai yang baik. Cita-citaku adalah menjadi seorang jaksa, maka dari itu aku harus belajar dengan giat agar cita-citaku bisa tercapai.
Disekolah aku tidak memiliki banyak teman, bahkan teman-teman SMP ku yang sekarang satu sekolah 'pun, tidak terlalu akrab denganku. Wajar sih, karena aku juga tidak lerlalu memikirkan bermain dengan yang lainnya. Sampai hari itu pun terjadi.
Sebagai murid baru dan tidak pernah berkeliling sekolah, hari itu adalah hal tersulit pertama yang kualami semenjak masuk sekolah. Guruku memintaku untuk mengambil beberapa barang di gudang sekolah, dan aku tidak tahu dimana letaknya.
Beruntung ada seseorang yang kutemui dibelakang gedung. Anak wanita yang memakai dress putih itu mengantarkanku sampai ke gudang. Berkat dia aku bisa menyelesaikan tugas dari guru.
Keesokan harinya aku sengaja membawa bekal lebih untuk kubagi dengan anak itu sebagai tanda terima kasih. Selain itu, aku juga merasa dia sangat kesepian.
"Hai!" sapaku saat kulihat dia sedang duduk diatas ayunan yang terbuat dari ban mobil bekas. "Kamu sedang apa?" tanyaku kemudian.
"Aku sedang menunggumu." Jawabnya sambil tersenyum manis.
Kalau aku anak laki-laki pasti sudah jatuh cinta padanya. Ditambah wajahnya yang blasteran dengan mata coklat yang cantik sekali.
"Oh ya? Kebetulan dong. Aku bawa bekal lebih nih, kita makan sama-sama ya. Kamu pasti suka deh,ayam goreng buatan mamaku tuh yang paking enak." Ajakku.
Anak itu tersenyum padaku lalu turun dari ayunan ban, lalu kami pun memakan bekal yang kubawa dibawah rindangnya pohon rambutan yang rindang. Satu-satunya pohon rambutan yang ada di sekolah ini. Tapi anehnya tidak pernah ada yang datang kemari meskipun sedang berbuah lebat sekalipun.
"Nama kamu siapa? Namaku Intan" Tanyaku sekaligus memoerkenalkan diri.
"Johanna." Jawabnya.
"Kamu tinggal dimana? Apa kamu anak penjaga sekolah?" tanyaku penasaran.
"Aku tinggal disini." Jawabnya.
Sebenarnya aku bingung dengan jawaban dia, tapi kemudian aku berfikir mungkin dia tinggal disekitar sini.
"Kamu nggak sekolah?" tanyaku lagi.
Dia hanya menggeleng pelan sambil menggigit ayam goreng ditangannya sedikit demi sedikit.
"Kalau begitu, mau nggak kita belajar bareng tiap istirahat? Aku bakal ajari kamu semua pelajaran di sekolah ini, gimana?" usulku tanpa curiga apapun.
"Iya. Aku senang kamu mau main denganku." Jawabnya setuju.
"Justru aku yang berterima kasih, soalnya kemarin kamu juga sudah bantu aku, dan sekarang kamu mau jadi teman belajarku. Disekolah ini aku nggak punya teman sama sekali." Ucapku senang.
Mulai hari itu aku selaku datang ketempat itu intuk belajar bersama teman baruku, dan aku semakin jauh dengan teman sekolahku yang lainnya.
Belakangan aku mengetahui kalau dia sebenarnya bukanlah manusia. Tapi aku tidak mau mempermasalahkannya, dan aku masih terus menemuinya. Tapi semakin lama aku berteman dengannya, aku semakin merasa aneh dengan diriku sendiri. Bahkan aku sampai merasa aku ini pembawa sial.
Beberapa kali aku berselisih paham dengan teman sekelasku atau anak-anak dari kelas lain, dan setiap kali aku menceritakannya pada Johanna, keesokan harinya, anak yang berselisih paham denganku pun jatuh sakit, dari demam, mual-mual, bahkan ada yang sampai mintah darah.
Bahkan parahnya lagi, aku pernah bercerita tentang guru kiler yang selalu mencubit setiap kita mendapat nilai dibawah standar, dan yang terjadi keesokan harinya adalah, tangan guru itu bengkak dan bernanah. Bahkan sampai harus dioperasi untuk menyembuhkannya.
Rumor tentang hantu sekolah menjadi semakin heboh dan menghubung-hubungkan antara hantu penunggu sekolah dengan sakitnya mereka.
"Dia pasti kesambet deh. Salahnya sendiri kencing sembarangan." Celetuk salah seorang siswi.
"Bukan, mungkin dia habis ngambil buah rambutan yang dibelakang itu, makanya dia muntah darah." Sahut yang lainnya.
"Ih, jahat banget ya. Masa minta rambutannya aja nggak boleh." Sahut yang lain lagi.
"Hush! Jangan disebut-sebut lagi, nanti setannya nongol, lho." Jawab anak itu bergidik ngeri.
"Dia itu temanku." Gumamku saat itu.
Meski marah padanya, aku mencoba bertanya pada Johanna apakah itu perbuatan dia atau bukan. Akuningin mendengar langsung penjelasan dari dia. Dan ternyata dia langsung mengakuinya begitu saja.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Karena mereka sudah menyakitimu." Jawabnya sambil tersenyum manis seperti biasanya.
"Tapi bagaimana caramu melakukannya?" tanyaku.
"Kamu tidak perlu tahu. Yang penting sekarang kamu tidak perlu khawatir lagi, jika ada yang menyakitimu lagi, aku akan membalasnya untukmu." Jawab dia lagi.
"Jangan, kumohon jangan pernah lakukan itu. Aku memang marah, tapi aku sudah memaafkannya, tolong kamu jangan sakiti mereka lagi. Demi aku, oke?" pintaku.
"Baiklah." Jawabnya.
Dihari kelulusanku, dia menangis tak bersuara saat aku berpamitan padanya, dia bilang dia akan selalu menungguku disana sampai aku datang.
Lima tahun kemudian, aku kembali kesekolah itu sebagai guru. Iya, aku tidak menjadi jaksa seperti yang aku cita-citakan karena ternyata nilaiku tidak memenuhi standar. Dan akhirnya aku mengambil pendidikan guru dan mendaftar PNS
Dihari pertamaku mengajar, bukanlah ruang kelas yang pertama kali ku datangi, tapi gudang belakang sekolah tempat sahabatku Johanna menungguku.
Rambut coklat yang panjang itu tergerai tertiup angin setiap dia berayun diatas ayunan ban bekas yang terikat dibatang pohon rambutan yang kokoh.
Wajah yang masih sama dengan wajah delapan tahun yang lalu saat pertama kali kami bertemu, matanya terpejam, dan senyum tipisnya terukir indah dibibirnya, wajah yang sangat aku rindukan. Wajah yang menjadi alasanku ngotot ditempatkan di sekolah ini.
Dialah temanku, hantu penunggu sekolah. Satu-satunya temanku yang tidak pernah mengeluh tentang aku, selalu tersenyum padaku dan tidak pernah sekalipun marah padaku.
"Hai, Johanna." Sapaku.
Hantu cantik itu langsung membuka kedua matanya dan menoleh padaku. Senyum tipisnya langsung mekar dan merekah saat melihatku.
"Selamat datang kembali, Intan." Sambutnya.