(Cerpen Kehidupan)
Kebodohan ku
Hai , nama ku Shafira aku sekarang adalah seorang psikolog dan berusia 20 tahun, aku juga memiliki pacar yang sayang pada ku dan pacar ku seorang dokter , juga orang tua dan saudara ku yang sangat menyayangi aku ,mungkin kalian berpikir aku sudah bahagia dan memiliki segalanya, tapi nyatanya belum.
Aku disini ingin berbagi cerita kepada kalian, cerita tentang kebodohan yang pernah aku lakukan .
Aku ingat saat pertama kali aku mengenalnya, saat itu aku berusia 7 tahun dan dia adalah sosok sahabat yang selalu ada untuk ku, tapi itu di rumah saja , jika di sekolah dia seperti tidak menganggap aku sebagai sahabatnya bahkan seperti orang yang dia tidak kenal.
Itu terjadi dan aku sadari saat kami masuk SMP dan satu kelas , hati ku rasanya sangat sakit , tapi aku berusaha untuk terlihat biasa saja , dia memang sangat populer di sekolah bisa dikatakan dia good looking dan banyak cowok yang menyukai nya , tapi apa dia tidak pernah bisa menganggap aku ada .
Kalian tahu , kalau waktu aku SMP , aku seperti babunya yang dia perlakukan , dia hanya datang kepada ku saat meminta aku mengerjakan tugasnya , lalu dia pergi bersama teman-temannya , dia tidak pernah memperdulikan aku.
Setiap hari di kelas , dia selalu membuat lawakan yang lucu , tapi lawakan itu seperti menghina ku dan semua orang tertawa di kelas , dan aku....., aku hanya bisa terdiam dan berpura-pura baik-baik saja , padahal hatiku sangat sakit.
Bahkan pernah , saat itu hujan turun dengan deras, dia meminjam jaket ku dan memaksa ku untuk meminjamkannya dan bodohnya aku , aku justru meminjamkannya , padahal dia saat itu pulang bersama temannya memakai kendaraan ,sedangkan aku , aku pulang jalan kaki dengan kebasahan.
Sebenarnya dulu waktu sd , aku dan dia pernah berbicara di rumah , kami berjanji akan pulang bersama dengan berjalan kaki , dan tidak akan membiarkan salah satu dari kami pulang sendiri jalan kaki.
Tapi , saat SMP , dia menginkari janjinya , kalian tahu dia mengatakan kepada ku , jika dia Malu kalau pulang dari sekolah harus berjalan kaki , yang aku pikirkan sebenarnya adalah dia malu mengakui aku sebagai sahabatnya dan bodohnya aku , aku selalu merasa dia adalah orang yang selalu ada untuk ku sehingga aku tidak pernah marah kepadanya.
Meskipun begitu , setiap pulang sekolah dia selalu datang ke rumah ku dan rasanya dia seperti sahabat ku dan aku bahagia , tapi setiap sekolah aku merasakan sakit hati dengan perlakuannya, tapi aku tidak pernah marah kepada dia.
Karena aku selalu berpikir dia adalah orang yang sangat mengerti aku dan sangat peduli pada ku , padahal dia sama sekali tidak peduli tentang ku , itu yang membuat aku tidak pernah marah atas sikap yang dia lakukan.
Aku sudah menyadari semua itu saat aku SMP , tapi entah mengapa aku tak pernah bisa untuk tidak melakukan hal seperti itu , padahal orang tuaku sudah melarang aku untuk tidak terlalu dekat dengannya lagi , mereka bilang aku dan dia memang sudah kenal lama tapi , bukan berarti hanya dia yang bisa menjadi teman ku .
Saat di SMA , aku mulai memperbaiki diriku sendiri, ya pada dasarnya saat SMA bisa di katakan aku sudah good looking , dan ternyata aku sangat terkenal di sekolah.
Dan rasanya aku bahagia , di saat itu aku memilih untuk membalas kan dendam ku dan membuat dia merasakan apa yang aku rasakan.
Aku melakukannya , saat itu dia merasakan bagaimana rasanya di acuhkan dan tidak di peduli kan , bahkan aku juga sering sengaja mengerjainya dan pada akhirnya hubungan ku dengannya pun berakhir di SMA , saat tamat dari SMA aku memilih untuk mengejar impian ku dan lanjut kuliah di luar kota.
Setelah aku tamat , aku pun menjadi seorang psikolog dan saat menjadi psikolog aku menyadari hal yang aku lakukan adalah sebuah kebodohan.
Sekarang aku kehilangan dia , dan dia pun sekarang telah meninggal , sebelum aku ingin mengembalikan pertemanan kami ,aku sadar dia meninggal karena mendapatkan nilai kelulusan yang pas-pasan , karena biasanya aku selalu membantu dia agar mendapatkan nilai yang bagus , tapi karena denda ku aku mengakhiri hubungan kami , aku sangat merasa bersalah pada saat itu , dan aku menyadari kalau aku seharusnya tidak melakukan apa yang telah aku lakukan.
Semua itu masih terbayang di kepala ku sampai sekarang dan rasanya hati ku sangat sakit , dan aku kehidupan rasanya seperti kosong.
Kalian harus tahu , jika ingin membalas dendam sebaiknya kalian jangan lakukan , memang sebenarnya balas dendam itu boleh di lakukan , tapi sejajar dengan yang mereka lakukan kepada kita , dan kebanyakan yang kita balaskan ke mereka itu lebih menyakitkan dari yang mereka berikan sakitnya ke kita.
Dan aku juga menyadari , seharusnya aku menghargai diriku dan sikap ku yang salah bukan dia , aku yang selalu berkata iya ke dia sehingga dia memperlakukan aku seperti babunya .
Dan kalian harus tahu , waktu itu adalah segalanya dan hargailah waktu , tapi bagiku bukan waktu yang segalanya tapi diri kita jadi hargailah diri kita sendiri.