Di suatu hari yang dingin, terdapat sebuah keluarga kecil di desa, betapa indahnya desa itu dan warga yang sangat baik hati selalu ada di desa.
tapi tidak akan di sangka jika desa itu akan mengalami musibah yang besar, dan bahkan banyak orang yang meninggal karena ini.
mulai kedatangannya setan yang sangat suka membunuh umat manusia, warga desa sampai tidak ingin keluar, bahkan harus tetap bersembunyi di rumah masing masing seperti kelinci yang ketakutan.
salah satu dari mereka tidak ingin menjadi kelinci seperti yang lain, dan memberanikan keluar rumah waktu malam, karena setan setan itu akan keluar di malam hari.
pemuda itu bernama Hinweji kime, dan dia hanya warga biasa yang suka mencari kayu bakar di dekat hutan.
"Cih mengapa kita selalu tidak di bolehkan keluar jika malam hari?!"
"Hinweji jangan terlalu banyak bicara, ibu sudah menunggu di rumah dan juga ayah, ayo kita pulang"
"humm baiklah kak"
di desa-
"hey Hinweji, apakah kau mau ini? aku akan memberikanmu jika ingin"
"tidak usah paman, ini juga jualan milik paman, mengapa paman selalu memberikan ini kepada kami?"
"haha ini untuk terima kasih atas bantuan ayahmu kemarin, dan juga kami sangat berterima kasih, jadi ambillah ini"
"umm terima kasih paman Wei"
"ya, hati hati di jalan"
"kak ini kau bawa saja, kayu kayu ini sudah berat jika aku membawanya maka tambah berat pula nanti"
"haha masa anak laki laki tidak kuat membawa ini, ya sudahlah sini aku bawakan"
"
"ini, oh ya apakah kakak besok akan memburu setan tidak berperasaan itu lagi?"
"ya memang kenapa?"
"apakah semua akan baik baik semua seperti semula, jika setan itu dimusnahkan"
"bisa jadi, jadi tumbuhlah secepatnya agar kau bisa ikut dengan kakak"
"umm baiklah"
1 bulan setelah pemburuan selesai, mereka pulang dari medan pertempuran di luar, tapi saat mereka sampai di desa banyak pemburu yang tewas dan hanya menyisakan sedikit orang.
kakak juga ikut berburu bulan ini, tapi kakak hampir tidak bisa di selamatkan karena lengannya putus karena setan setan itu.
Hinweji sangat marah saat mendengar tentang itu dan bahkan menyaksikan lengan kakaknya yang putus dengan mata kepalanya sendiri.
3 tahun telah berlalu, Hinweji sudah berumur 20 tahun dan sudah waktunya ia keluar untuk ikut bertarung di medan tempur.
tapi sebelum ia mati atau bahkan terluka, kakaknya memberi pedang yang selalu ia gunakan saat pertempuran berlangsung dan pedang itu pemberian dari kakek, dan pedang itu bernama pedang kematian.
walau sekarang kakak Hinweji tidak bisa bertarung, tapi sekarang Hinwejilah yang akan melanjutkan perintah ini.
"nak tolong kembali dengan sehat, jangan biarkan setan setan itu membunuhmu"
"ibu tenanglah, aku sudah besar dan juga bisa bela diri bahkan jika aku mati di sana, maka itu berarti kurang dalam melakukan bela diri"
"tapi ibu sangat mengawatirkan mu dan sekarang kakakmu tidak bisa apa apa sehingga lengannya putus hiks"
"tenanglah, Hinweji sangat kuat, dan bahkan ia bisa menebas batu besar saat masih berumur 17 tahun, ia pasti bisa pulang dengan selamat"
"Hinweji bawalah pedang ini, ini pedang pemberian kakek dan itu bisa membantumu"
"humm baiklah kakak, kalau begitu Hinweji pamit pergi dulu"
"tidak, jangan pergi huhu"
"sudah sudah, itu juga pemikiran ia sendiri, kita hanya bisa berdoa"
"Hinweji huhu"
semua pasukan berkumpul dan menaiki kuda milik masing masing prajurit, semua pun akhirnya mulai berjalan dan pergi untuk membunuh setan setan itu.
setelah seharian menaiki kuda, semua akhirnya sampai di tempat yang di tuju, bahkan siap siap untuk melawan setan setan yang jahat itu.
semuanya akan bertarung di pagi hari besok, dan sekarang semua pasukan istirahat agar bisa melawan dengan benar besok.
tapi Hinweji malah keluar di malam itu, dan menyerang sedikitnya setan setan yang lemah agar bisa berkurang, ia dengan beraninya melawan tanpa suara dan bahkan bisa membunuh setan.
pedang kematian adalah pedang kutukan, pedang itu jika menusuk di tubuh akan mengakibatkan kematian yang tidak di duga dalam sekejap.
"sial mengapa mereka sangatlah banyak, tidak! tidak akan aku biarkan kalian hidup dengan indah di dunia kami!"
syut sing-
Hinweji berhasil membunuh mereka, dan langsung mengincar yang berkuasa jdari mereka semua tanpa ragu.
Hinweji akhirnya menemukan penguasa dari setan setan ini dan ingin menusuknya, tapi sayangnya itu tidak berhasil di cegah.
"owh ternyata ada tikus kecil yang berhasil masuk ke dalan rumahku ya, tapi tunggu mengapa kau sangat persis dengan orang yang kuat itu?"
"karena tangan orang yang kau patahkan adalah kakakku, mengapa kalian harus ada di sini sebaiknya kalian matu saja!"
"hehe bagaimana kau akan membunuhku dengan pedang sekecil itu hah?!"
"bukan hanya dia, tapi kami juga akan membunuh kau juga!"
"ba..bagaimana kalian bisa masuk?! Bukankah kalian sedang istirahat di bagian barat!?"
"itu karena Hinweji yang telah membunuh anak buahmu dan saatnya kau yang mati, ayo semua serang!"
"kalian..?"
"aku tidak akan pernah kalah, sebaiknya kau saja yang harus mati kalian ini, hyaaaa"
Brak Brak bumm-
"arggg"
"arggg!"
"jangan, jangan bunuh mereka di depan mataku!"
"haha memang kau ingin apa hah, kau hanya anak kecil ingusan!"
"tutup mulutmu, kalian pergi dari sini, ia akan meledak sebentar lagi!"
"baik"
bummm bumm bumm duar-
"yeahh setelah selama 5 tahun ini, mereka bisa musnah"
"haha akhirnya kita bebas kembali"
"syukurlah jika kalian senang uhuk"
"heh Hinweji bangun, astaga tubuhnya terluka parah"
"ayo kita kembali ke desa dan bawa prajurit Hinweji pulang dengan cepat"
"yaaaa!"
semuanya cepat cepat pulang karena luka parah milik Hinweji, karena ia adalah tokoh utama dalam prajurit kali ini.
setelah sesampainya di desa, Hinweji pun di obati dengan sangat cepat, karena luka yang terlalu parah dari pada milik kakaknya sendiri.
"huhu sudah aku duga Hinweji memang tidak cocok dengan pertempuran ini"
"tenanglah dokter masih mengobatinya, dan jangan memikirkan hal hal yang buruk ok"
"tapi tubuh miliknya memiliki luka yang terlalu berat untuknya"
"ibu tenanglah, Hinweji adalah anak yang sangat kuat, dan bahkan ia bisa membunuh ketua setan dalam satu serangan"
"humm"
"Dokter bagaimana dengan keadaan anak kami Hinweji?"
"maaf ibu, anak kalian Hinweji tidak bisa di selamatkan, dan bahkan ia berpesan sebelum meninggal begini"
'ibu, ayah tenangkan diri kalian, walau Hinweji tidak kuat untuk melawan rasa sakit ini, tapi Hinweji sangat senang bisa membuat desa ini kembali seperti dulu'
'Hinweji pernah bicara kepada ibu, kalau Hinweji mati dalam pertempuran, maka Hinweji kurang saat latihan dulu'
'selamat tinggal ibu ayah, Hinweji akan menunggu ibu dan ayah di atas sana, dan pedang yang di bawa kakak ada di sampingku sekarang dan bawalah itu sebagai barang kenangan terakhir dari Hiwenji"
"huhu Hinweji, mengapa kau begitu cepat pergi"
"i..ini tidak mungkin, Hiwenji bisa mati dalam pertempuran!"
"dan pesan terakhir miliknya ' kakak jadilah pemimpin dari desa ini, dan itu satu permintaan terakhir aku' itu sebelum jantungnya berhenti"
"bagaimana aku bisa menjadi pemimpin jika, keadaanku seperti ini?!"
"hime, tepatilah permintaan adikmu itu"
"ukh baiklah huhu"
kakak dari Hinweji akhirnya menjadi pemimpin desa yang sekarang, dan permintaan Hinweji terkabulkan.
saat kakak dari Hinweji di angkat menjadi pemimpin desa, ia berkata 'karena penyelamat dari desa ini sudah tiada, maka aku meresmikan ia menjadi pahlawan desa dan menyebutnya Prajurit pemberani'.
sebutan itulah yang di inginkan oleh Hinweji sedari kecil dan itu mungkin sangat berharga untuk dirinya dan akan menjadi julukan yang sangat membanggakan untuk dirinya dan keluarganya.
~selesai~