Aku menyayanginya, sungguh. Dia satu-satunya sahabatku yang sangat menghargai aku dan memperlakukanku seperti satu-satunya harta yang dia miliki. Tak ada satu rahasia pun di antara kami. Hampir bisa kukatakan kalau kami sudah cocok satu sama lain, hampir tidak terpisahkan.
Dia kukenal sejak sekolah dasar. Aku, yang dulu memang mudah bergaul, sangat menyukai tingkahnya yang begitu menggemaskan. Bagaimana tidak? Waktu SD, dia selalu membawa bekal makan dari rumah dan selalu berusaha membaginya denganku. Apalagi saat ia bercerita soal giginya yang sakit karena dirapikan menggunakan kawat. Suara berisiknya memang menggangguku, tapi itulah yang mengisi kenanganku saat sekolah dasar.
Lalu secara tak sengaja, kami masuk ke SMP yang sama, di kelas yang sama. Ia selalu memaksa duduk di sebelahku dan satu kelompok tugas denganku. Apa-apa ia lakukan hanya denganku. Bahkan kelakuannya kala itu, saat musimnya cinta monyet, malah menimbulkan gosip miring tentang hubungan kami. Orang-orang bahkan menganugerahi kami gelar sebagai pasangan paling lengket sepanjang masa.
Kisah itu masih berlanjut sampai SMA. Lagi-lagi kami masuk ke sekolah dan kelas yang sama. Persis seperti masa-masa sebelumnya, ia juga memaksa duduk di sebelahku. Alih-alih sibuk dengan kegiatan organisasi seperti layaknya siswa biasa, ia malah sibuk menulis sesuatu di atas buku hariannya, dengan aku yang selalu ada di sisinya. Sisa tingkahnya masih sama: suka membawa bekal makan dan membaginya denganku, atau merengek karena suatu hal konyol. Satu hal yang mulai berbeda darinya adalah penampilannya.
Entah sejak kapan, tapi tiba-tiba citra dirinya di mataku berubah jadi lebih baik. Rambut agak gondrongnya yang acak-acakan entah kenapa jadi keren. Hidung ingusannya entah kenapa jadi mancung dan sempurna. Pipi tembamnya entah kenapa jadi tegas mengikuti garis rahangnya. Tatapan konyolnya entah kenapa jadi lebih tajam. Apalagi mata sipitnya yang makin sipit saat bibirnya tersenyum, entah kenapa jadi kombinasi favoritku. Aku bahkan tidak sadar sejak kapan tingginya jauh melebihiku.
“Nat, dua minggu lagi kan Valentine. Kamu mau aku kasih apa?” bisiknya saat pelajaran Fisika berlangsung. Sesekali ia menengok ke arah papan tulis, berjaga kalau saja Bu Lili—guru Fisika di depan sana—melihat ke para siswa-siswinya.
Aku diam saja. Suaraku malas keluar dari tenggorokan untuk menanggapi pertanyaan usilnya. Aku tahu, apapun jawabanku nanti, ia pasti akan datang ke depan rumahku sambil membawa cokelat, bunga dan boneka beruang besar. Jangankan Valentine, hari ulang tahunku saja ia selalu datang dengan boneka beruang berbagai warna dan ukuran. Jangan tanya mengapa, tapi itu memang kebiasaannya sejak SMP. Kehabisan ide, itu yang selalu jadi alasannya mengumpulkan bermacam boneka beruang di kamarku.
Memprotes diamku, tangannya mulai bergerak aktif. Sesekali tangannya menyenggol tanganku yang sedang mencatat pelajaran. Dewanggo Rendriasa, kulirik name tag seragamnya dengan kesal.
“Terserah,” kataku pelan.
Gangguannya berhenti. Badannya seolah membeku, napasnya pun ikut tertahan. Penasaran, kulihat ekspresinya yang tak biasa: mematung tanpa berkedip sekali pun.
“Ren? Oren?” panggilku penasaran dengan nada rendah. Kugoyangkan tanganku di depan matanya. Juga kugoncang bahunya perlahan, sekedar mencoba menarik kesadarannya kembali ke permukaan.
Tak kunjung sadar, kualihkan mataku mengikuti pandangannya. Lantas aku mengerti alasannya membeku seperti itu: seorang siswi baru yang sangat cantik sedang mengintip kelas kami, entah menunggu waktu yang tepat untuk menginterupsi atau memang sedang iseng saja. Aku menggeleng, ini pasti kali pertama Oren melihat orang berdarah campuran seperti siswi itu. Wajar saja kalau ia jadi super heran dan penasaran sampai membeku seperti ini.
“Nat, dia cantik, ya? Mata biru cerahnya cantik.”
Itu kalimat pertamanya setelah tersadar. Kesadarannya pulih saat melihat siswi baru itu masuk dan menginterupsi pelajaran kami. Bu Lili pun dengan senang hati mempersilahkannya memperkenalkan diri dan bergabung ke kelas kami secepatnya. Seiring dengan sorakan bahagia teman-teman sekelas, entah kenapa aku malah merasa aneh.
***
“Halo, namaku Kayla, boleh tahu siapa namamu?” sapa siswi baru itu sambil mengulurukan tangannya dengan ramah kepadaku. Sudah dua hari ia pindah ke kelas kami, tetapi ini pertama kalinya ia menyapaku secara khusus. Dibanding dengan teman-teman yang lain, mungkin memang hanya aku yang bersikap dingin padanya. Oren bahkan sudah pernah sekali membelikan ia es krim sebagai penyambutannya di kelas kami.
“Nata,” ucapku seraya menjabat singkat uluran tangannya. Senyumku melengkung sedetik untuk menunjukkan betapa antusiasnya aku berkenalan dengannya. “Maaf, Kayla, aku duluan ya, mau ke kantin sama Oren. Udah janji soalnya. Yuk, Ren!” sambungku cepat-cepat sebelum Kayla bereaksi apapun. Secepat alasanku, tahu-tahu tanganku sudah menarik Oren untuk segera mengikutiku.
“Kenapa sih, Nat?” tanya Oren saat kami sudah berlalu dari kelas. Ini mungkin kali pertamanya juga melihatku seperti ini. Aku memang jarang menunjukkan perasaanku pada Oren, jadi sudah sewajarnya ia bingung dengan sikapku kali ini.
“Gatau. Aku engga suka aja sama dia. Jadi, sebaiknya kamu juga jauh-jauh aja ya dari dia. Ngerti?” jawabku asal.
Aku sebenarnya tahu. Ini mungkin bagian dari keegoisanku pada Oren. Laki-laki ini sahabatku satu-satunya. Luar-dalam ia mengerti aku, mungkin juga bisa membaca pikiranku dan kemauanku. Aku jelas harus melindungi milikku, jangan sampai kehilangan dia. Aku merasa awas, apalagi komentar pertamanya soal Kayla jauh lebih baik daripada komentarnya kepadaku dulu.
Ya ampun, aku menepuk keningku. Memangnya apa sih yang kuharapkan dari bocah tujuh tahun untuk memuji teman perempuannya yang doyan makan?
“Kamu kenapa sih, Nat? Aneh banget. Kayla kan belum bikin salah apa-apa sama kamu. Kamu harusnya engga boleh gitu, dong. Kasihan kan Kayla kalau harus kamu jauhin gitu,” sangkal Oren. Ia menepis tangannya yang kugenggam.
Aku melongo. Ini pertama kalinya Oren bertingkah begini. Biasanya ia hanya akan mengangguk dan menurutiku. Ini bukan kali pertamaku atau dia meminta hal begini di antara hubungan kami. Sudah sering aku memutus hubungannya dengan gadis lain sebelum terjadi masalah apa-apa, begitu pun dengannya kepadaku.
“Kamu kenapa berubah gini sih?” sebalku padanya.
Niatku ke kantin bersamanya luntur. Sekarang rasanya aku malas melihat wajahnya yang menawan itu. Mataku berputar saat tak sengaja tatapanku bertemu dengannya. Saat itulah aku melihat Aldi, cowok kelas sebelah yang selalu dibenci Oren saat berdekatan denganku.
Lihat saja, aku juga bisa berlaku menyebalkan seperti dia. Akan kubalas Oren saat ini juga.
“Terserah kamu deh. Kamu bareng sama Kayla aja. Aku mau ke kantin sama Aldi,” putusku cuek. Tanpa menunggu jawabannya, kakiku melangkah pergi darinya, memanggil Aldi yang sedang berjalan sendiri ke arah kantin. Terlihat di ujung mataku, ekspresi Oren berubah kesal. Benar begitu, dia harus merasakan dan mengerti sekesal apa aku dengan tingkahnya tadi.
***
'𝙰𝚢𝚘 𝚋𝚎𝚛𝚋𝚊𝚒𝚔𝚊𝚗. 𝙰𝚔𝚞 𝚖𝚒𝚗𝚝𝚊 𝚖𝚊𝚊𝚏.'
Itu isi dari sticky note yang tertempel di sampul buku catatanku. Tanpa ditulis pun aku tahu siapa pengirimnya: pasti Oren. Namun, permintaan maaf ini malah membuatku muak. Dia menulis begitu, tapi sikapnya sangat berlainan. Sama sekali tak ada penyesalan yang kulihat di matanya. Setelah satu minggu berpisah meja dengannya, ia masih tampak baik-baik saja, bahkan semakin dekat dengan si baru Kayla.
Kesal, kuremas sticky note itu dan membuangnya sembarangan. Awas saja kalau saat Valentine besok dia muncul di depan rumahku.
“Nat, Aldi nyariin kamu di depan kelas tuh,” panggil Meta nyaring. Sial si Meta. Dia mau bikin gosip baru antara aku sama Aldi apa? Apalagi di kelas kan masih ada Oren. Tuh, lihat, ekspresi Oren langsung masam kan. Eh, malah bagus sih. Ini yang namanya karma.
Tanpa sadar bibirku tersenyum memikirkan Oren yang semakin kesal, sampai-sampai saat menyapa Aldi pun nadaku masih super ceria, “Ada apa Aldi?”
“Eh, Nata, makin cantik aja ya,” ucap Aldi sambil menggaruk tengkuknya salah tingkah, “aku cuma mau nanya, besok kamu ada acara engga? Kalau engga ada aku mau ajak kamu ja—”
“Aku kosong kok. Yuk, besok jalan. Sambil ngerayain valentine kayaknya seru juga,” potongku bersemangat. Kupastikan jawabanku pada Aldi dapat didengar jelas oleh Oren. Oren harus tahu kalau besok aku tidak punya waktu untuknya.
Aldi tersenyum manis. Sama seperti Oren, Aldi juga hampir tak punya cacat. Untuk ukuran orang biasa, dia terbilang ganteng. Apalagi postur tubuhnya memang bagus karena dia atlit basket. Tak ada ruginya juga buat aku dekat dengan Aldi.
“Oke. Besok aku jemput kamu jam 9, ya. Biar kita bisa keliling kota,” janjinya senang. Kubalas kalimatnya dengan anggukan, “baiklah. Aku cuma mau sampein itu aja. Aku balik kelas dulu, ya, bentar lagi udah bel masuk,” sambungnya lagi sambil mengacak lembut rambutku.
Begitu aku kembali ke kursi, Oren sudah ada di sana menungguku sambil memegang sticky note yang sudah kubuang. Demi apapun, aku sekarang sedang malas sekali berurusan dengannya. Aku takkan peduli kalau dia merengek padaku kali ini.
“Apa maksudmu? Kamu mau jalan sama Aldi besok? Lalu bagaimana janjimu denganku? Aku kan—” buru Oren begitu aku meletakkan pantatku.
Cepat-cepat tanganku bergerak menutup telinga, menunjukkan betapa enggannya aku mendengar suaranya.
“Nata, jawab aku!”
Kesal, kuhembuskan napasku keras-keras.
“Dengar, ya, Dewanggo Rendriasa. Aku tidak pernah punya janji apapun denganmu di hari Minggu, tanggal 14 Februari 2021. Kamu cuma tanya soal hadiah yang kuinginkan, tanpa membuat janji. Kamu bebas di hari itu, begitu pun aku. Kalau kamu bener-bener mau bertemu denganku di hari itu, yakinkan aku soal hadiahmu. Aku mau bertemu kalau kamu bawa hadiah yang kusuka. Mengerti?”
Oren bergeming. Kuambil remasan sticky note yang ia pungut dari lantai. Sekali lagi, tepat di hadapannya, aku merobek permintaan maaf di sticky note itu jadi potongan kecil-kecil. Lantas menaruhnya kembali di tangannya, memintanya untuk membuang sendiri kertas sampah itu.
“Sekarang, tolong minggir. Aku mau belajar. Kamu kembalilah sibuk dengan Kayla-mu itu,” usirku dingin.
Gantian Oren yang menghela napas berat. “Baiklah, kalau begitu tak ada alasanku untuk menolak ajakan pergi Kayla. Kau, selamat bersenang-senang dengan Aldi,” katanya lirih.
𝘑𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘺𝘭𝘢?
Oren sialan. Kukira ia benar-benar berniat rujuk dan berbaikan denganku. Namun, ternyata dia ke sini hanya untuk mengatakan itu.
Lihat saja, aku akan membalasnya dengan lebih kejam besok. Tunggu saja sampai dia mendengar aku jadian dengan Aldi. Aku penasaran seberapa frustasinya dia nanti.
***
Hujan deras malah turun. Aku dan Aldi yang berniat ke wisata alam air terjun terpaksa meneduh ke gubuk reyot di pinggir jalan menuju ke sana. Aku mengeluh dalam hati. Andai saja aku tidak setuju dengannya yang mengusulkan wisata alam di daerah pegunungan ini, aku pasti tidak akan basah kuyup begini. Apalagi ini memang musim penghujan, jadi daerah pegunungan seperti ini pasti akan lebih sering turun hujan.
“Dingin, ya? Masuk aja yuk, siapa tahu di dalam lebih hangat,” ajak Aldi saat melihat badanku menggigil sambil tak henti menggosokkan kedua telapak tangan. Tak lupa ia sampirkan jaketnya yang setengah basah ke punggungku.
Aku menurut. Aku memang benci dingin. Jadi kupikir tak ada salahnya mengikuti sarannya, lagi.
Di dalam gubuk ternyata tidak seberapa bagus. Hanya ada satu dipan duduk di sana. Dindingnya yang tak sepenuhnya tertutup masih menghembuskan beberapa angin dingin, terutama dari arah pintu masuk. Tapi setidaknya ini lebih baik, atapnya masih cukup bagus untuk menahan air hujan yang turun deras.
“Nat,” ujar Aldi pelan, “aku sebenarnya ingin menyampaikan ini lebih awal di sekolah, tapi waktu kamu setuju untuk pergi denganku hari ini, aku jadi ingin menyampaikannya saat kita meihat pemandangan yang bagus. Tapi ternyata kita malah terjebak hujan di sini hampir setengah hari, haha.”
Gerakan tanganku terhenti. Entah kenapa sepertinya aku tahu arah pembicaraannya. Jadi, kuputuskan untuk mendengar baik-baik kalimatnya. Siapa tahu dia bisa berguna untukku.
“Aku suka sama kamu, Nat. Mau ngga kamu jadi pacarku?” tanyanya tanpa ragu. Tangannya menggenggam kedua tanganku yang sudah berhenti menggosok.
Aku seharusnya senang. Ini berjalan seperti rencanaku. Namun, otakku malah menolak. Tiba-tiba saja deretan kenangan dengan Oren terputar ulang. Laki-laki itu yang selalu ada untukku, kapan pun dan dimana pun. Seharusnya aku tidak mengkhianatinya seperti ini, bahkan hanya untuk membalas dendam.
Mulutku masih membisu saat otakku berpikir yang lain. Mataku hanya menatap Aldi dengan bingung dan hampa. Bahkan aku merasa buruk pada diriku sendiri karena sudah mempermainkan orang lain.
“Nat? Kamu masih dengar aku, kan?” panggil Aldi lagi, “maaf kamu bingung ya gara-gara aku mendadak bilang gini. Tapi please, pikirin pertanyaanku baik-baik ya. Tolong jangan libatkan Oren dalam pertimbanganmu.”
Dahiku mengernyit. “Oren?”
“Iya. Aku tahu kamu sebelumnya dekat dengannya. Tapi, dia bukan cowok baik-baik. Aku tahu itu,” jawabnya yakin. Tanpa sadar, tanganku melepas genggamannya. Aldi pasti sadar perubahan sikapku. Maka dari itu ia melanjutkan lagi kalimatnya, “Aku tahu dia pernah membunuh orang. Aku engga mau kamu terluka. Jadi, kamu harus jauh-jauh dari Oren.”
Aku membeku. Aku terkejut bagaimana Aldi bisa tahu hal itu. Oren selalu berhati-hati dalam bertindak. Tidak mungkin ada orang yang tahu. Tanganku mengerat memegang tas selempangku.
“Maaf, ya. Aku engga bermaksud bikin kamu kaget gitu. Tapi, tenang aja, mulai sekarang ada aku di sisimu.”
Aldi mendekat. Tangannya mendekap tubuhku dalam hangatnya, berniat menenangkan aku. “Kamu tahu darimana?” tanyaku lirih.
Masih sambil memelukku, suara Aldi mulai terdengar. Ia bercerita kalau dulu dia punya adik perempuan semasa SMP. Adiknya itu kebetulan seorang gadis yang cantik, jadi banyak bocah laki-laki yang suka, termasuk Oren yang saat itu kakak kelasnya. Katanya, Oren selalu mengekorinya kemana-mana. Saat adiknya berbalik suka pada Oren, ia malah dicampakkan. Ada gadis lain yang dekat dengan Oren dan merebutnya. Kenangan terakhir Aldi dengan adik perempuannya adalah waktu Lola—adik perempuannya—pamit untuk menemui Oren dan mempermalukannya. Selepas itu muncul kabar bahwa Lola mengalami kecelakaan parah yang menyebabkan badannya hancur sampai meninggal.
“Oren memang begitu. Aku akan membantumu lepas perlahan-lahan dari Oren. Kamu tenang aja,” tutup Aldi sambil mengeratkan dekapannya.
Setelah mendengar ceritanya, badanku bergetar, menahan tawa yang mendadak ingin muncul. Namun, Aldi salah mengartikannya: ia menganggapku gemetar karena takut. Selama cerita panjangnya diam-diam tanganku meraih belati kecil dari dalam tasku. Waktu pelukannya semakin erat, kutusukkan belatiku kuat-kuat ke arah jantungnya lantas memutarnya perlahan-lahan. Dapat kurasakan dadaku mulai basah karena darah.
Sampai kuyakin Aldi susah payah mempertahankan hidupnya, tanganku menepis dekapannya. Kudorong badannya sampai terjatuh ke lantai demi melihat tatapannya yang terkejut setengah mati. “Ke-napa?” lirihnya sambil memegangi dada kirinya, mencoba menahan darah yang terus mengalir dengan lancar.
Aku menghela napas dan memutar bola mata. Bisa-bisanya dia masih bertanya alasannya. Apa harus kujelaskan baik-baik sebab dari karmanya?
“A-ak-ku eng-ga ngher-ti. Na-tha?” sengalnya meminta penjelasan.
“Gini, ya,” ucapku memulai penjelasan, “aku sebenernya udah mau terima kamu kalau aja kamu engga ngalihin topik tentang jeleknya Oren. Kamu harus tahu kalau adikmu ga sepolos itu. Bukan Oren yang suka, tapi dia yang selalu nempel setiap lihat Oren keluar kelas. Kayak engga tahu malu aja. Kalian memang beda sekolah, tapi kamu harusnya ke sekolah adikmu untuk memastikan.”
Aku berjongkok. Darah yang menutupi belati kubersihkan menggunakan celana jeans yang dipakai Aldi. Sengaja kuperlihatkan betapa tajamnya belati yang kubawa.
“Tahu engga kenapa belatiku terlihat sangat tajam?” tanyaku retoris tanpa memperhatikan ekspresi pucat Aldi, “itu karena Oren yang selalu mengasahnya. Dia selalu mengingatkanku untuk membawa ini kapan pun dan ke mana pun aku pergi. Itu karena dia tahu bahaya seperti ini akan bisa muncul kapan saja. Dan aku harus punya pertahanan diri.”
Saat aku mengoceh tentang baiknya Oren, Aldi mengambil kesempatan untuk menarikku tanganku dan meraih belatinya. Untung niatnya tertangkap oleh ujung mataku. Spontan langsung kutancapkan belatiku ke pahanya yang tersaji di depanku. Kalau di luar sana tidak turun hujan deras, sudah pasti teriakan Aldi akan terdengar nyaring. Mungkin Tuhan juga sedang membantuku.
“K-kau sebenarnya si-ap-pah?” tanya Aldi sambil tersengal. Mungkin nyawanya tinggal separuh, tapi dia masih bersikeras untuk tahu banyak hal.
Aku terkekeh setelah meninggalkan sobekan panjang di pahanya. Fokusku kembali terkumpul saat laki-laki terus menatapku dengan menyedihkan. Oh, ayolah, sebentar lagi kan dia mati, harusnya dia nikmati saja detik-detik terakhirnya, bukan malah menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan receh itu.
“Aku Nata yang sama, yang kau kenal di sekolah. Hanya saja, sebagian dari diriku dan Oren memang tak bisa jujur pada semua orang. Oren adalah sahabatku. Dia selalu bersamaku sejak kecil, selalu ada untukku. Aku tahu semua hal tentang dia, begitu pun Oren. Aku menutupi semua rahasianya, menyelesaikan kesalahan-kesalahan kecil yang selalu dia tinggalkan. Apa pun yang kumau, dia pasti mengerti. Dia teman terbaik seumur hidupku,” jawabku panjang lebar.
Aldi merintih, matanya membelalak saat kutekan belatiku ke pusat perutnya, lalu mengoyaknya ke sana kemari seolah bermain dengan kardus bekas. Mulai bosan dengan rintihan putus asanya, tanganku beralih ke arah tenggorokan, bersiap memutusnya saat tangan kanannya mencengkeram lenganku.
“Ja-di, ga-dis … yhang ber-sha-ma O-rhen sa-at … SMP … it-hu kha-mu … ?”
Ya ampun. Dia sudah mau mati, tapi masih penasaran soal hal itu?
Baiklah, daripada jadi arwah penasaran kuputuskan untuk menjawabnya dengan anggukan ceria.
Cengkeramannya terlepas. Kulihat Aldi susah payah menelan air liurnya. Sepertinya ia sudah bersiap untuk menerima momen terakhir dalam hidupnya.
Tanpa ragu lagi, kutusukkan belatiku di tengah kerongkongannya. Lantas menggerakkannya secara horizontal sampai muncratan darahnya mengenai sebagian wajah dan rambutku. Aku puas saat melihat tenggorokannya terpotong, bertepatan dengan napas terakhirnya yang berhembus.
Buru-buru kuambil ponsel dari dalam tasku. Oren harus melihat karya terbaikku sejauh ini. Akan kukirimkan ini sebagai hadiah Valentine-nya tahun ini.
Namun, Oren tetaplah yang terbaik. Ia sudah terlebih dahulu mengirim pesan video permintaan maafnya dan benda yang akan jadi hadiahku: sebuket bunga, coklat, dan boneka beruang besar dengan manik mata biru cerah. Aku melonjak kegirangan saat ia mengirimkan stiker imut begitu statusku online. Cepat-cepat kusetujui tawarannya yang ingin menjemputku pulang.
Sebelum pulang, aku harus membersihkan jejakku. Pertama-tama aku akan menumpuk semua barang yang kupegang, termasuk mayat Aldi ke tengah-tengah gubuk. Lalu kuambil bensin dari motor Aldi yang terparkir di luar sana, sekaligus membawa motornya ke dalam gubuk. Kususun ulang benda-benda yang seharusnya terbakar lebih dahulu agar memberiku cukup waktu untuk keluar dengan aman. Sengaja bensinnya kusiram hanya di bagian tengah, tempat mayat dan barang-barang Aldi berada. Aku jelas tidak mau ikut terbakar saat motornya meledak.
Untung saja gubuk reyot ini dibangun dari bahan yang mudah terbakar seperti jerami dan kayu. Jadi, aku tidak perlu menyiram seluruh bangunannya dengan bensin agar hangus oleh api.
Sebelum memantik api, kupastikan tidak ada orang lain yang melihatku. Secepatnya aku harus pergi dan menyelinap ke balik hutan di seberang jalan. Di balik hutan itu aku bisa menunggu Oren menjemputku sambil membersihkan badanku dari darah kotor Aldi.
“Selamat tinggal, Aldi. Sampaikan salamku ke adikmu yang pembohong itu, ya,” ucapku lembut sambil menjatuhkan pemantik api yang menyala.
Dari balik hutan, dapat kulihat nyala api mulai membesar. Sampai menyentuh tangki motor, akhirnya gubuk itu meledak, meski suaranya masih cukup tersamar oleh hujan deras. Aku yakin, meskipun orang-orang menemukan mayatnya, tapi mereka tidak akan bisa menemukan pelakunya. Semua jejakku sudah terhapus sempurna oleh api dan air.
Sebentar saja, aku harus bersabar dalam dingin. Oren akan datang menjemputku. Aku bisa percaya dia karena Oren adalah sahabat terbaik sepanjang hidupku. Oren takkan pernah mengkhianatiku, sama sekali.
_##The End##_