Gadis itu memandangi situasi sekitar, langkahnya pasti dan terlihat anggun. Ia merasa semua orang mulai memandanginya karena kecantikannya, ia terus berjalan dengan pedenya dan saat ini malah semakin menjadi, ia melangkah bak seorang model, tersenyum sana dan sini. Tiba-tiba wajahnya terhalang oleh sebuah badan yang menjulang tinggi dan kekar. Ia mundur beberapa langkah dan mendongak ke atas, ada seorang cowok yang berdiri di depannya.
“Halooo... Permisi, jalan gue ketutup nih!” Dinda berusaha minggir dan berjalan lagi, tetapi cowok itu kembali menghalangi jalannya.
“Hey? Mau lu apa sih? Gue kan udah bilang permisi, gue mau lewat!” Dinda menatap cowok itu tajam.
“Rok lu belom di resletingin tuh” cowok itu berkata dengan suara datar dan berlalu. Semburat merah muncul di pipi Dinda, malu, sangat malu. Dinda langsung berlalu dan berlari menuju kamar mandi. Suara tawa terdengar begitu keras mengiringi Dinda yang berlari di depan sana.
Dinda hanya tertunduk sejak pagi tadi, setelah kejadian tadi pagi, ia merasa menjadi orang yang paling bodoh.
"Bodohnya gue! Udah gaya-gayaan kayak model eh tau-taunya pada ngelihatin gara-gara rok gue belom di resleting. Malu parah! malu malu malu!" batin gadis itu. Amarahnya tidak tertahan.
“Din? Lu denger cerita ada anak yang lupa nyeletingin roknya, belom? Katanya orangnya kocak banget deh” Femi sudah duduk di samping Dinda dengan segala jajanan yang ia beli.
Dinda sempat terbelalak, karena pasti cerita tadi pagi sudah menyebar di seantero sekolah ini, apalagi semua teman-temannya adalah orang yang suka menggosip. Beberapa kali Dinda mengedarkan pandangannya ke luar kelas, tidak ada siapa-siapa. Dinda menghembuskan napas kasar.
“Din? Udah denger belom?” Femi kembali bertanya dengan makanan yang memenuhi mulutnya dan beberapa makanan muncrat ke arah Dinda.
“Telen dulu tuh makanan di mulut lu! Kebiasaan banget deh. Dasar jorok!” Dinda melotot seolah marah besar, tangannya mulai menunjuk-nunjuk, seperti seorang guru yang sedang mengomel.
Dinda mengamati kelasnya yang antah berantah, hari ini semua guru melaksanakan rapat, mengakibatkan semua siswa dan siswinya menjadi seperti berandalan yang tak berakhlak. Di kelasnya sendiri terlihat semua temannya bergerombol, ada yang bergosip, ada yang joget dangdutan, ada yang makan, ada yang main gitar dan lain-lain dan yang pasti semuanya membuat Dinda pusing. Akhirnya Dinda memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sekaligus berusaha untuk melupakan kejadian tadi pagi yang menurutnya sangat memalukan.
“Dinda, kenapa ke perpustakaan? Gurunya nggak ada? Tolong seperti biasa ya isi dulu daftar hadir kunjungannya." ucap penjaga perpustakaan mulai berkicau seperti burung beo, Dinda hanya tersenyum dan menggangguk untuk menjawab semua pertanyaan dari penjaga perpustakaan yang usianya masih 20 tahunan itu. Setelah mengisi daftar kunjungan, Dinda segera mengambil novel dan menuju tempat kesukaannya, yaitu jendela besar yang di depannya tersedia balkon dan pemandangan indah.
Dinda mulai membuka novel yang ia ambil, halaman pertama, kedua, ketiga dan seterusnya hingga ia larut dalam cerita dan mulai melupakan kejadian tadi pagi.
"Grrr... Grrr... Grrr..." terdengar suara seseorang sedang tertidur. Awalnya Dinda tidak menanggapinya, tapi suaranya semakin mengeras dan mengganggu. Akhirnya Dinda segera melihat ke arah balkon dan ada seorang siswa yang sedang tidur di sana. Dinda sesekali bergidik karena melihat siswa itu dengan segala tingkahnya. Dinda masih memegangi bungkus sampah yang berisi kulit kacang dan memandangi wajah siswa tadi dan ‘Grookk’ Dinda terkejut setengah mati dan menyebabkan bungkus sampah yang ada di tangannya terjatuh dan beberapa kulit kacang itu masuk ke dalam mulut cowok itu, Dinda panik dan mulai mundur, ketika ingin berbalik tangannya sudah dipegang sangat erat oleh cowok itu.
“Berhenti!” seru cowok itu suaranya serak dan berat. Dinda diam terpaku ketakutan.
“Gara-gara lu, mulut gue kemasukan kulit kacang!” cowok itu menyentak tangan Dinda dan berdiri, ia tinggi dan juga gagah. Cowok itu mengusap-usap celana abu-abunya yang panjang dan menatap Dinda.
“Hey, ternyata lu lagi!” cowok itu menunjuk wajah Dinda, tetapi Dinda hanya menunduk.
“Ma..Maaf, gue nggak sengaja, sumpah!” Dinda mengangkat kedua jarinya berbentuk huruf V.
“Gara-gara lu gue sial mulu!” cowok itu langsung berlalu dari hadapan Dinda dan menjauh pergi, semakin tak terlihat. Dinda hanya menghela napas panjang.
“Din? Lu tahu nggak anak cowok yang tinggi itu? Yang ganteng tapi judes banget itu loh." Amel teman sekelas Dinda bertanya sambil membetulkan rambutnya yang panjang. Dinda berpikir dan menerawang ke atas. Sepertinya ia tahu cirri-ciri cowok itu, tapi ia tidak tahu namanya.
“Hmmm.. nggak tau. Coba lu aja tanya sama anak 10-B siapa tahu mereka kenal.” saran Dinda.
Dari kejadian itu, Dinda menjadi lebih berhati-hati dan waspada agar tidak ceroboh lagi. Dinda juga lebih sering mengawasi cowok itu dari jauh, saat cowok itu beraktivitas, entah itu main bola basket, sedang melakukan penelitian, ataupun sedang melakukan observasi di lingkungan sekolah.
Ternyata kelas mereka berdekatan, namun dari kejadian saat itu Dinda tidak berani untuk menyapanya dan melihat wajahnya. Dan Dinda selalu mempertanyakan hal yang sama dalam hatinya, sampai saat ini. "Siapa namanya?"
Tamat
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @itsme_assyh untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤