Tema C
Nama peserta : Miku Nakano
Judul : Dimana Aku?
Aku berjalan di tempat sunyi nan senyap, ku edarkan pandangan ke setiap penjuru tempat ini.
"Aku di mana?" gumamku pada diri sendiri.
Aku berjalan terus, dengan pandangan tak tentu arah, jantungku berpacu seirama dengan rasa takut yang mendera di setiap jengkal urat syarafku. Kegelapan yang pekat, membuat pandanganku terhalang, netraku tak mampu menembusnya.
Dimana aku? Aku pun tak mampu menjabarkan nya, tempat ini terlalu asing di netra ku, gelap pun nampak mendominasi tempat ini. Aku mengamati sekitar, mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri.
"Hey, ada orang di sini?" teriakku lantang, aku berharap ada yang menjawab teriakanku.
Tapi tidak terdengar suara orang yang menyahut teriakanku. Aku masih tidak mengerti kenapa aku bisa ada di tempat gelap nan mencekam ini. Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?
Dengan langkah pelan, aku berjalan menyisir tempat gelap gulita ini, berharap dapat menemukan jalan keluar. Sudah cukup lama aku berjalan, akan tetapi aku tak kunjung menemukan titik terang.
“Halo ...!" teriakku sekali lagi. Namun tetap saja, aku hanya mendengar pantulan suaraku sendiri.
Detik demi detik ... menit demi menit ... dan jam demi jam telah berlalu. Aku masih belum putus asa. Pokoknya, aku harus keluar dari tempat misterius ini.
Namun tiba-tiba saja, kakiku terasa sangat sakit. Aku pun jatuh karena kehilangan keseimbangan.
“Hahh ... hahh ... ibu ... ayah ... tolong aku!" pintaku dengan suara lirih karena kelelahan.
Saat sedang bingung harus berbuat apa, tiba-tiba aku mendengar suara-suara dari arah kanan. Aku menoleh ke sumber suara tersebut. Atensiku teralihkan kepada sebuah cermin.
Cermin itu memperlihatkan sebuah gambaran sepasang suami istri yang sedang menangis di atas kuburan. Mereka tampak tidak asing bagiku.
“Ibu ...? Ayah ...?" Aku mengubah posisiku menjadi berdiri lagi dan bergegas mendekati cermin itu.
“Ibu ... ayah ... tolong aku!" seruku seraya menggoyang-goyangkan cermin itu.
“Ini semua tidak mungkin, Pah. Reina masih belum meninggal, 'kan? Dia masih hidup, 'kan?" Ibuku tampak menangisi gadis yang meninggal.
“Bu, ikhlaskan saja! Kita berdo'a supaya Reina tenang di alam sana, ya?" Ayahku berusaha untuk menenangkan ibuku.
'Siapa Reina? Kenapa mereka sampai menangis sesegukan seperti itu?' tanyaku dalam batin.
“Tunggu ... mereka bilang Reina? Bukankah itu namaku?" Aku baru menyadari bahwa namaku adalah Reina. “Jadi maksudnya, aku sudah ...?"
—Tamat—