"Gas, ini surat cinta lagi buat kamu.” seorang gadis berkacamata yang merupakan teman sekelas Bagas menyodorkan sebuah amplop lucu. Bagas menoleh dan bangkit dari kerumunan kelompoknya yang sedang mendiskusikan tentang sesuatu.
Inilah surat ke 10 yang telah diterima Bagas bulan ini lain dengan bulan-bulan lalu dan sampai tas Bagas bertambah berat entah berapa kilogram hanya karena tumpukan kertas itu. Kini Bagas berpikir entah sampai kapan surat-surat itu selalu mengganggu kegiatan belajarnya, dan mulai berfikir untuk membuangnya saja.
Awalnya Bagas hanya berfikir untuk menyimpan surat tersebut sebagai kenang-kenangan nantinya, tetapi boro-boro kenangan suratnya saja sudah menggunung di beberapa tempat sampah kelas, sampai petugas piket geleng-geleng kepala dan menatap galak pada Bagas.
Adelia mulai membacakan surat itu dengan nada dibuat-buat. Maklum saja Bagas bisa dibilang salah satu cowok ganteng di SMA itu. Kali ini ada surat yang sangat menyita perhatian Bagas, surat itu selalu dihias dengan gambar malaikat cupid kemudian warna selalu berganti-ganti sesuai warna pelangi, mejikuhibiniu dan selalu diselipkan sebatang coklat di dalamnya, dan yang paling terpenting surat itu selalu hadir setiap jumat pagi.
Paling sialnya, Bagas tidak pernah tahu siapa pengirimnya karena setiap jumat pagi dia harus berjaga di pos karena dia adalah anggota OSIS yang punya jadwal bertugas hari itu dan setiap surat yang ia baca hanya tertera Inisial.
Ketika awal membukanya Bagas tergugah karena si pengrim ini memiliki kata-kata puitis nan indah berisi tentang pujian terhadap Bagas baik secara intelektual maupun penampilan, tidak pernah menggunakan bahasa bahasa alay dan lebay. Dalam surat itu juga berisi tentang kritikan, saran dan tanggapan tentang perilaku Bagas selama ini. Kata-kata puitis itu cukup mengubah sikap Bagas selama ini, tak disangka ia mulai disegani beberapa orang.
Setiap hari jumat dia selalu menyimpan surat itu di sebuah kotak kayu berwarna biru dan membacanya waktu ingin tidur atau Ketika merasa bosan. Bagas selalu penasaran siapa pengirim literatur-literatur indah ini, pernah sekali Bagas ijin sebentar ke kelas untuk melihat si pengirim tapi yang ada kelas malah kosong tanpa penghuni karena seisi kelas pergi jajan ke kantin dan ruangan kelas sudah dipel menyimpulkan bahwa tiada siapa pun disana selain keheningan yang mendalam.
Bagas beranjak pergi menuju posnya ketika sudah menjauhi ruangan kelas, ia melihat seorang gadis yang kelihatannya seperti seseorang yang dikenalnya. Tetapi itu hanya si Adelia si anak berkacamata di kelas mereka. Kemudian Bagas mengalihkan pandangannya dan beranjak pergi ke pos.
Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah memasuki bulan Agustus, sebentar lagi adalah hari peringatan kemerdekaan, sekolah pun banyak mengadakan kegiatan-kegiatan, dan jam pelajaran juga dihentikan sementara waktu. Kegiatan itu berupa perlombaan antar kelas. Perlombaannya seperti lomba kebersihan, tarik tambang, lari sendok, serta lomba basket antar kelas 11. Banyak kelas yang mempersiapkan timnya untuk bertanding, begitu juga dengan kelas Bagas.
Akhir-akhir ini, Bagas sering gelisah sendiri. Bukan, bukan karena dia takut timnya kalah dengan kelas lain. Selama ini mereka selalu memegang rekor tertinggi dalam pertandingan basket tapi keresahannya disebabkan karena surat yang selalu menjadi langganannya sekali seminggu itu sudah beberapa minggu ini tidak kunjung datang,
"Apa mungkin dia sudah tidak menyukaiku lagi atau dia sudah punya idola lain atau mungkin sudah punya pacar,"gumam Bagas dalam hati. Pikiran-pikirannya berkecamuk hanya karena memikirkan surat dari pengagum rahasianya.
Dia sangat merindukan kata-kata penyejuk itu, ketika dia sedang tidak bersemangat atau sedang bosan, dia akan membuka kertas berbentuk persegi dihias dengan penutup malaikat. Dirinya sangat berterima kasih pada si pengirim surat. Berkatnya Bagas banyak berubah ke arah positif.
Bagas berdiri di balkon kamarnya. Menatap langit malam yang di hiasi bintang-bintang...
"Hah... Pengagum rahasiaku dimana dirimu? Aku merindukanmu... Siapapun dirimu tak kan aku lepaskan..." ucap Bagas lirih tangannya menggegam sepucuk surat.
Entah sejak kapan mulai tumbuh benih rasa cinta di hati Bagas pada pengirim surat itu.
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @itsme_assyh untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤