Dari beberapa kisah yang pernah aku lewati, aku ingin mengungkap sedikit tentang diriku. Aku yang terlihat sangat kuat, sangat tegar, begitu kokoh, bahkan terlihat sangat bahagia justru adalah manusia yang begitu lemah dan rapuh. Aku manusia paling munafik. Terkadang, aku ingin orang lain melihat airmataku agar mereka tau aku tidak sekuat yang mereka fikirkan. Tapi lagi lagi, aku tidak pernah sanggup untuk berbagi luka kepada siapapun. Aku menyimpan untuk diriku sendiri, untuk ku nikmati sendiri. Akupun manusia biasa, sama seperti manusia yang lainnya. Akupun ingin berbagi luka agar beban dalam hatiku sedikit berkurang, tapi ketika aku mencoba berbagi luka, tak ada satupun manusia mengerti hatiku. Mereka menertawakan lukaku, mereka menganggap apa yang kuhadapi hanya hal kecil yang terlalu ku dramatisir.
Seketika aku ingin berlari ke tempat dimana aku bisa berteriak sekencang kencangnya agar bebanku berkurang. Berjuta manusia dibumi ini tapi tak satupun dari mereka memahami lukaku. Tuhan Aku bukan manusia yang kuat! aku manusia yang sangat lemah. Aku juga butuh bahagia, aku butuh kedamaian, aku lelah dengan semua yang kau buat seperti ini. Aku sudah cukup kuat menjalani rintangan demi rintangan yang kau beri untukku selama ini. Aku ingin istirahat, Aku ingin tidur panjang ditempat yang penuh kedamaian.
Aku pernah merasa sangat bahagia ketika ada seseorang yang mungkin raganya tidak berada disampingku, tapi hatinya selalu bersamaku. Aku sangat bahagia. Dia malaikat yang Tuhan turunkan untukku berbagi bahagia, luka, kecewa, semuanya. Dia selalu menyediakan telinga ketika aku ingin mengungkapkan semua yang membuat aku lelah, dia selalu memberi aku motivasi, semangat, dan dia juga selalu menunjukkan padaku bahwa aku masih punya dia, aku tidak sendiri di dunia ini. Disitulah aku benar benar kembali hidup. Aku percaya bahwa aku tidak melewati ini sendiri. Aku kuat karena dia, aku bangkit pun karena aku percaya aku punya kekuatan yaitu dia.
Tapi... Ada suatu hari dimana mungkin dia merasa lelah mendampingiku. Dia lelah dengan semua keluh kesahku selama ini. Dia lelah menjadi telinga tempatku berbagi luka. Dan dia pun mengakhiri semua kebahagiaan yang selama ini kita rajut, dia pergi sangat jauh melepas genggam tanganku yang semakin erat menggenggamnya. Seketika aku berlutut, aku merintih, aku lumpuh. Aku tidak tau apalagi yang harus aku lakukan. Aku telah hancur menjadi kepingan kepingan kecil, bahkan untuk mengangkat tubuhku sendiripun untuk berdiri aku tak sanggup. Tuhan, apa yang kau mau dari aku? Belum cukupkah lukaku selama ini? Tidakkah kau sediakan waktu lebih lama untuk aku menghirup nafas kebahagiaan?
Lukaku semakin menumpuk. Aku harus berusaha tegak berdiri walaupun aku telah lumpuh. Aku harus melanjutkan hidupku dengan beribu luka dalam hatiku. Kebahagiaanku, kekuatanku, tak lagi ada untukku. Tuhan telah mengambil dan menyuruhnya untuk pergi jauh meninggalkanku. Aku kembali merasa sendiri dan ternyata selama inipun aku hanya sendiri.
Saat ini, aku sedang berusaha berdiri tanpa bantuan siapapun, aku menghapus setiap tetes airmata itu dengan tanganku sendiri. Aku kembali mengurai senyum dan tawa dihadapan setiap manusia agar tak ada yang mampu melihat ada luka memar disekujur tubuhku. Aku kembali menjadi seorang laki-laki yang periang, laki-laki tanpa masalah apapun, meski sebenarnya aku memendam semua dihatiku. Ini tentang Aku dan Lukaku. Aku dan beberapa peristiwa yang membuatku seakan lumpuh. Tapi aku percaya, Allah akan memberika ke indahan suatu saat nanti. Aku percaya ujian Allah dan mungkin inilah ujian dalam jalan crita hidupku. 😁