Pagi hari Naya pergi ke rumah temannya yang bernama Ranav. Dia merupakan salah satu teman cowok yang populer di kalangan sekolahnya. Kepopulerannya yang menjulang tinggi sebab semua piala ia raih dengan mudah. Tak hanya itu. Ia juga murid di sekolah menengah yang dikenal dengan tata kramanya yang baik dan selalu menghormati semua orang tanpa memandang rendah orang lain.
Kali ini karena suatu alasan penting, membuat Naya harus pergi ke tempat Ranav dengan mau tidak mau. Sebenarnya Naya tidak dekat dengan cowok itu. Namun ia terpaksa melakukannya. Naya yang sangat disiplin, segera berangkat pagi itu juga untuk memenuhi janjinya dengan Ranav.
Sesampai di rumah Ranav.
"Assalamu'alaikum!" ucap Naya dengan sopan sambil mengetuk pintu di depannya itu. Berharap pintu segera dibuka oleh tuan rumah dan ia dapat segera masuk agar tidak dilihat orang lain di luar sana.
Kenapa lama sekali, ini aku sudah ngetuk sepuluh kali nih. Batin Naya dengan cemas sambil melihat sekeliling.
Naya melihat jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia khawatir karena sudah pukul sembilan. Tiba-tiba ia ingat sesuatu dengan hari ini yang sebenarnya padat untuk Naya. Yah. Hari Minggu sangatlah sibuk bagi Naya, seorang siswi SMA yang punya banyak tugas.
"Aduh lupa kan. Nanti aku harus kerjain PR. Juga harus nugas buat PPT pelajarannya Bu Kinan. Terus novelku juga hari ini harus update lima bab baru. Dan nanti pukul sepuluh…" Naya yang tadi berkata lirih menunggu pintu terbuka seketika terdiam saat melihat ada seseorang yang sudah berdiri di hadapannya. Ia memandang Naya sambil mengibaskan rambutnya yang basah itu ke belakang.
"Masuk." kata seseorang itu yang lalu meninggalkan Naya berdiri di depan pintu sana. Ia langsung duduk di sofa sambil mengeringkan rambutnya dengan tangannya sendiri.
Naya hanya diam tak menjawab karena hal barusan itu membuatnya terkejut. Hampir saja ia akan berteriak. Ia pun masuk dan duduk di sofa berjauhan dengan tuan rumah itu.
Untung saja aku tadi nggak keluarin ekspresi kaget. Untung jantungku masih kuat dengan hal begitu. Coba aja nggak, pasti aku udah diketawain sama dia di tempat. Apa dia habis mandi? Batin Naya.
"Aku tadi barusan selesai mandi. Jadi, maaf baru bukain pintunya." Ranav melirik ke Naya sambil mengulas senyum.
"Oh. Nggak apa-apa."
Ranav melihat Naya dengan sedikit terheran karena mimik wajah Naya yang terlihat sedang mengkhawatirkan sesuatu. Ia bertanya kepada Naya, "Ada apa?"
"Nggak.. Nggak ada apa-apa. Ayo cepat kita selesaikan masalahnya." jawabnya sambil tersenyum sekilas, mencoba bersikap ramah.
"Buru-buru?" Ranav bertanya kembali pada Naya karena penasaran apa jadwal hariannya. Karena setiap hari selama di sekolah, Ranav selalu melihat Naya membawa buku dan pulpen di tangannya. Entah waktu Naya pergi ke perpustakaan, musholla, kantin, lapangan, dan ruang komputer. Meskipun ia tak pernah melihat Naya menuliskan sesuatu di buku yang ia bawa. Namun ia selalu melihatnya membawa buku.
"Mmm… Iya." jawab Naya dengan ramah lagi. Ia harus melakukan itu bukan, kepada tuan rumah sekaligus sebagai ketua kelas.
"Ya udah ayo cepat selesaikan bersama. Gimana keputusanmu?"
"… Harus dijawab ya?"
"Iya harus lah! Aku udah nunggu jawaban darimu selama seminggu."
"Tapi kan cuma masalah sepele kenapa harus sampai begini akhirnya? Di ajaran kita kan nggak dibolehin juga. Harusnya persyaratannya jangan yang itu, diganti yang lain. Apa boleh?" tanya Naya dengan penuh harap kepada Ranav.
Ranav yang mendengar itu ingin tertawa namun dengan serius ia menjawab pertanyaan dari Naya yang sebelumnya belum pernah ia dengar. Karena Naya salah satu murid pendiam di kelasnya. Apalagi sikapnya kepada anak cowok sangatlah cuek dan tidak peduli. Namun kali ini ia mengatakan dengan panjang lebar kepada seorang ketua kelas yang paling tampan di sekolahnya.
"Tidak bisa. Keputusan sudah diputuskan sejak seminggu yang lalu. Jadi tidak dapat diubah. Harusnya kamu bilang ke aku satu dua hari setelah aku memutuskan persyaratan yang ku berikan. Jadi apa jawabanmu?"
Naya putus asa karena hal itu. Ia harus menjawab, "Iya."
Lagi-lagi Ranav menyunggingkan senyum kemenangan di wajahnya. Ia terlihat senang mendengar jawaban itu dari mulut Naya. Benar-benar tidak disangka-sangka akan jawaban yang ia dengar.
"Ok. Jadi mulai sekarang kamu adalah pacarku." Ranav tersenyum senang. Ia beranjak dari sofa macan tutul itu dengan bahagia dan mengambil sesuatu di dapur.
"Aah! Kenapa harus jadi pacar sih syaratnya!? Aneh-aneh aja dia tuh." ucap Naya dengan lirih agar tidak terdengar oleh Ranav.
Ranav pun kembali ke ruang tamu dan meletakkan nampan yang berisi dua gelas sirup dan brownis coklat yang terlihat sangat nikmat untuk dijadikan camilan. Dia tahu betul makanan kesukaan Naya. Ia menyuguhkan di atas meja yang terbuat dari kaca dan kayu jati. "Nih dimakan."
Naya hanya mengangguk dan tersenyum saat Ranav menyuguhkan jamuan manis kepadanya. "Ranav!"
"Ya?"
"Kamu nggak salah kan, menjodohkan camilannya?"
"Salah gimana maksudnya?" Ranav menyatukan alisnya yang terlihat seperti garis hitam lurus.
"Harusnya salah satu jamuannya rasanya berbeda. Kalau manis sama manis kan nggak serasi."
Ranav berfikir sebentar dan memandang Naya. Ia mencurigai Naya dengan tatapan membunuh. "Naya! Sejak kapan kamu jadi banyak bicara gini!?"
Naya terlihat bingung sendiri dengan semua sikapnya yang tiba-tiba menjadi akrab dengan Ranav. Ia sebelumnya menolak syarat itu yang diajukan Ranav kepadanya. Namun sepertinya karena sikap Ranav yang sangat sopan menjamu tamunya itulah yang membuat hati Naya luluh seketika dan merasa nyaman.
"Baru setengah jam resmi jadi pacar, kamu udah bisa leluasa?"
"Emm?? Nggak-nggak gitu. Nggak tau." seketika Naya membisu.
Aku hanya nyaman saja sama kamu. Nggak tau kenapa juga jadi tiba-tiba. Batin Naya lalu tersenyum sekilas.
Akhirnya Naya terluluhkan oleh cowok beruntung yang hanya dengan kemampuan sikapnya dapat memenangkan hatinya. Ranav hanya tersenyum kembali dan mengatakan hal serius. Memulai percakapan dengan pertanyaan. "PPT udah selesai atau belum? Mana? Aku bantu kerjain disini. Naya, besok satu minggu kedepan kita akan wisuda. Jadi harus mengerjakan PPT dengan sempurna sebagai nilai lulus atau tidaknya nanti. Oh iya. Gimana keadaan nenekmu sekarang? Harusnya tidak terlalu kritis kan? Gimana kalau operasinya diajukan sekarang aja!?"
"Iya! Secepatnya lebih baik. Kapan kita kesana?"
"Sekarang."
Naya mendongak, menatap Ranav yang beranjak akan pergi dari tempat duduknya. "Sekarang? Tapi kan ini sudah mepet waktunya. Kamu… Ada acara ke luar kota kan?"
"Aku bisa undur, kalaupun gak bisa diundur, aku gak bakalan berangkat. Aku akan izin nanti." Langsung ke kamarnya dan mengganti pakaiannya.
Rumah sakit.
"Dok! Bagaimana keadaan nenek anak ini, Dok?"
"Kondisinya lumayan kritis. Jadi…"
"Cepat lakukan operasinya sekarang, Dok!" Ranav memotong perkataan dokter yang mengurus nenek Naya tersebut.
Akhirnya dokter itu segera melaksanakan operasi untuk nenek Naya saat itu juga. Setelah proses operasi selesai, Naya sangat berterima kasih kepada Ranav karena telah memberikan sebagian uangnya untuk operasi neneknya.
Saat ini hari sudah menjelang siang. Karena Naya tadi tidak memakai kendaraan pribadi saat ke rumah Ranav, jadi Naya pulang akan diantar Ranav menggunakan mobilnya yang saat ini ia bawa ke rumahsakit.
"Dok. Saya serahkan nenek Naya kepada Anda, Dok. Tolong jaga nenek baik-baik, Dok.." ujar Ranav kepada dokter tersebut. Karena nenek Naya belum sadarkan diri, jadi mereka izin pulang dan menitipkan tanggung jawab itu kepada pihak rumahsakit. Karena ada hal penting lainnya juga yang harus mereka selesaikan.
Sesampai di depan rumah Naya.
Naya keluar dari dalam mobil dan begitu juga dengan Ranav. Kedatangan mobil hitam itu, akhirnya mereka disambut oleh kedua orangtua Naya. Naya masuk terlebih dahulu menuju rumah sederhana itu. Tak lupa Naya mengajak Ranav masuk juga.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam…" Ummi Naya kebingungan dengan seseorang yang berdiri di belakang Naya. Dia menanyakan tentang Ranav kepada Naya, "Nay! Itu siapa di belakangmu?"
Naya tersenyum saat mendengar pertanyaan dari Umminya sendiri. Ia menoleh dan menatap wajah Ranav dan menjelaskan bagaimana seorang lelaki dapat mengikutinya sampai pintu rumahnya. "Ummi. Dia temanku yang sudah membayar biaya operasi nenek." Naya mengulas senyum kembali.
Terlihat kedua orangtua Naya terkejut terlebih lagi Ummi Naya. "Benar? Nenek sudah dioperasi sekarang, Nay!?" Ummi Naya tak percaya sebab biaya operasi rumahsakit tiga belas juta. Dan nenek Naya sudah menginap di rumahsakit selama lima bulan untuk perawatan karena belum bisa memberikan uang lunas untuk biaya operasi.
Ummi Naya dengan senang hati mengundang Ranav ke dalam rumah. Seperti kedatangan raja tiba-tiba, Ummi Naya menyediakan banyak sekali jamuan untuk tamunya dengan berbagai camilan
"Ibumu seperti inikah?" tanya Ranav dengan berbisik kepada Naya.
"Maksudmu?" jawab Naya dengan berbisik pula.
"Aku seperti orang terhormat__ "
Naya menoleh ke kanan, "Kamu saat ini adalah seorang raja yang terhormat dan kami harus melayani dengan baik." Naya kembali menatap ke depan dan mulai mengambil camilan yang sudah disediakan Umminya di meja.
"Eh. Kayaknya tadi aku belum makan brownisnya…?" kata Naya kepada Ranav dengan berbisik.
Bisa-bisanya mikirin brownis.. Batin Ranav saat itu juga.
Ranav pun segera menjawab perkataan konyol Naya, "Besok aku bawakan yang baru sekotak besar."
Naya terkekeh malu, "Benar?"
"Ya. Tapi…"
Tiba-tiba Ranav bangkit dari duduknya dan bersimpuh di hadapan Naya. Dengan kelakuan tamunya yang aneh begini membuat mereka terkejut, kedua orangtua Naya bertanya kepada Ranav, "Nak… Apa yang kamu lakukan? Berdirilah!" Ummi terlihat memohon kepada Ranav untuk segera bangkit dari sana.
"Paman, Bibi. Dengarkan perkataan saya ini." ucap Ranav kepada kedua orangtua Naya.
"Naya! Karena berpacaran itu bukan ajaran kita, maka sekarang juga kita putus."
"Kalian pacaran!?" Abi Naya terlihat murka karena pengakuan Ranav barusan. Sebab Abi Naya tidak pernah mengizinkan Naya untuk menjalani hubungan itu dan selalu memantau Naya.
Ranav tidak menjawab pertanyaan Abi Naya dan melanjutkan perkataannya tadi yang sempat terputus. "Naya. Kita pacaran baru tiga jam tadi. Karena masih sedikit waktu yang kita gunakan, bolehkah aku meminta waktu kepadamu lagi?"
Dia ngomong apa sih!? batin Naya antara bingung dan ingin menyuruh Ranav untuk bangkit dari sana.
"Naya! Maukah kamu menjadi pasangan sahku dan menjalani sisa waktu yang ada bersama denganku?" menunjukkan kotak kecil berbentuk hati yang di dalamnya berisi cincin berlian.