Aku sering di bandingkan dengan anak lain yang sukses
Padahal anak yang sering ia bandingi itu hanya sebuah topeng untuk terlihat keren.
Kenapa aku punya orang tua memiliki sifat seperti iblis.
Padahal ia di hadapan orang. Ia mempunyai sifat seperti malaikat bersayap. Padahal tidak.
Kenapa aku harus hidup dan dilahirkan oleh orang tua seperti itu?
Aku ingin mencoba untuk keluar dari siksaan ini.
Karena aku tidak tahan dengan tingkah laku nya yang selalu membandingi aku dengan yang lain. Padahal ia tidak melihat kelebihan dari setiap seseorang. Ia hanya memandang sebelah mata.
Tapi aku tidak memiliki harta dan keberanian untuk keluar dari kehidupan neraka ini.
Karena itu aku mau tidak mau harus hidup dengan nya. Memanfaatkan uang nya. Berpura-pura baik dengan wanita tua berhati iblis itu.
Aku berusaha keras belajar. Agar aku bisa mengubah cara fikir orang tua ku agar aku bisa mendapat ranking terbaik dan mulut nya tidak membandingi aku dengan orang lain lagi.
Disaat itulah wanita tua itu membanggakan aku dengan khalayak lain seperti seakan selebritis yang terkenal. Padahal tidak!!! Ia orang autis tingkat akut yang berkeliaran di pasar!!!!.
Aku sangat-sangat membenci nya karena tetangga sering melirik ku sampai dimana titik batas kesabaran. Aku lari dari rumah dan pergi ke restoran.
Disaat itu aku hanya memesan sebuah jus jeruk dan duduk seakan tidak tahu aku harus kemana seperti tidak ada satupun harapan untuk hidup.
Aku menundukkan kepala ku di meja dan menangis tak menjerit. Aku menahan jeritan itu dengan menggigit bibir ku.
Tiba-tiba seorang pria tampan menggunakan jaket di restoran itu menyentuh pundak ku yang tertutupi rambut panjang ku.
Aku pun menoleh kearah asal sentuhan itu. Disitulah kami cinta pandangan pertama. Kami bertatapan cukup lama. Pria itu berjanggut tipis dan rapi. Mata nya kecoklatan. Kulit nya coklat seperti kacang almon panggang dan rambut nya sebak samping.
Pria itu bertanya kepada ku. "Kenapa kau menangis? Dari tadi aku mendengar mu menangis jadi aku mendatangi mu. Apa kau punya masalah?"
Dengan bersedu-sedu aku ucap dan ingin menceritakan seluruh beban yang aku alami kepada nya. "Apa kau mau mendengarkan seluruh cerita yang aku alami?" Tatapan serius ku muncul dan yakin ia akan mendengar nya.
Ia langsung duduk di meja hadapan ku. "Tentu saja... Aku akan mendengarkan agar beban di hati mu lega"
Aku tersenyum sedih setelah mendengar ucapan itu. Dan menceritakan semua segala beban yang aku alami berkaitan tentang wanita tua berhati iblis itu. Dari tangisan. Mencontohi ucapan wanita tua itu. Semua nya aku lakukan agar beban di hati ku puas dan tenang.
Setelah aku selesai menceritakan nya. Pria itu
Pria itu empati kepada ku. "Aku tahu apa yang kau rasakan semoga orang tua mu sadar atas apa yang ia lakukan kepada mu"
Pria itu mengecek jam dan ternyata sudah larut malam. "Astaga! Ini sudah larut malam! Biar aku yang mengantar kerumah mu," Seru pria itu kepada ku sampai ia berdiri dari duduk nya.
Aku pun menolak nya. "Aku nggak mau pulang dari rumah wanita tua itu! Aku membenci nya!"
"Jadi kalau tidak di rumah orang tua mu, kamu tidur dimana?"
Wajah ku memerah dan malu. "Aku tidak tahu... Mungkin aku akan tidur di jalan?" Ucap ku menghantukkan kedua jari telunjuk ku.
Pria itu dengan wajah yakin. Mengulurkan tangan nya di hadapan ku. "Tidurlah di rumah ku dan tinggal lah bersama ku,"
Dengan sepontan pria itu ucap. "Aku menyukai mu!"
Aku dengan nya saling kaget dengan wajah merah merona. Apa itu hal gila? Bukan?... Itu hanya sebuah kebetulan. Disaat pandangan pertama aku sedikit menyukai nya namun pada saat pria itu mengucap kata itu. Aku semangkin menyukai nya.
Detang jantungku berdetak tidak karuan. Rasa mau menangis. Karena tak nyangka ada seorang pria yang gagah ingin menyelamatkan ku dari siksaan ini.
Aku berfikir aku hanya akan menjadi sampah masyarakat. Namun tuhan berkata lain. Ia mengubah jalan takdir ku dan bertemu dengan pria gagah ini.
Aku pun meraih tangan nya dengan lembut. "A—aku ju—juga sedikit menyuka—kai mu.." Ucap ku berbata-bata karena pria itu menyukai ku.
Ia menggenggam tangan ku dengan erat. "Apa kau mau?"
Dengan yakin dan tak peduli dengan orang tua dan keluarga nya, aku menjawap nya mengnganggukan kepala ku. "Ia aku mau,"
Ia membawa aku menuju keluar restoran. Ia menggandeng tangan kanan ku.Seperti pengantin baru yang baru saja keluar dari akat pernikahan. Aku pun menyentuh lengan nya yang di selimuti jaket dan menggenggam dengan erat.
(Kenapa lengan nya berbentuk?)
Aku mencoba untuk meraba seluruh lengan nya. Dan di benak ku, yang aku sentuh seperti sebuah roti sobek.
Sesampai di depan restoran. Aku melihat ia merogo kantong nya dan mengeluarkan sebuah kunci mobil dan menekan tombol di kunci itu.
Kuuuiitttt!!!! Kkuuuuiiittt!!!
Suara mobil itu berbunya dengan keras. Kami pun mendatangi arah suara itu dan masuk kedalam mobil itu.
Pria itu duduk di bangku pengendara karena ia yang mengendarai mobil itu. Sementara aku, duduk di sebelah nya. Aku merasa kampungan karena tidak pernah duduk di mobil semewah itu dalam hidup ku.
Pria itu hanya tersenyum karena aku terlihat lucu di mata nya. (Tingkah nya semangkin lama semangkin imut saja...)
Aku berfikir kenapa pria itu. (Apa ini yang di sebut sugar daddy Yang ada di novel itu? Apa dia ada mau nya setelah tinggal di rumah nya?. Jangan berfikir aneh! Lah!!)
Kami pun sampai di rumah pria itu. Terdapat gerbang besar dihadapan kami dan pria itu menepuk tangan nya dua kali dan tiba-tiba saja gerbang itu terbuka dengan sendiri nya. Aku dengan nya masuk meninggalkan mobil mewah itu di depan gerang.
Ada seorang bapak tua menghampiri di hadapan kami dan membungkukkan badan nya. "selamat malam... Tuan dan nyonya... Air hangat sudah siap untuk kalian berdua,"
Aku yang masih mempunyai sopan santun yang tertanam dalam diri ku sejak kecil. Berhenti. Ikut membungkukkan badan ku di hadapan bapak tua itu. Pria itu ikut berhenti karena aku membungkukkan badan ku di hadapan bapak tua itu "Trimakasih pak..." Pria itu memberikan sebuah kunci yang kami pakai untuk naik mobil mewah itu tadi.
Kami berdua terus berjalan menuju depan rumah. Aku sibuk melihat pepohonan berbaris di kedua ujung kanan dan kiri aku yang rapi. Aku pun mulai sedikit lelah karena jarah pagar rumah nya sampai rumah cukup jauh.
Aku menoleh kearah pria itu. Ternyata Ia sedang fokus menatap ku dari tadi sampai ia tidak sadar kalau aku melihat nya juga. "Apa kamu baik-baik saja pak?" Ucap ku sambil mengayunkan tangan ku di hadapan nya.
Ia pun sadar dan memalingkan wajah nya dari ku dengan wajah merona. (Sial!! Kenapa semangkin lama aku melihat nya. Dia semangkin cantik?!)
Kami pun kembali melanjukan menuju rumah itu. Namun... Tiba-tiba aku melihat pria itu sedang membuka jaket nya. Ia memakai kaos lengan pendek.
Aku melihat dada bidang nya. Perut nya berbentuk roti sobek dan lengan nya berotot dengan jelas. (Apa ini? Kenapa tangan dan perut nya berbentuk semua??)
Aku pun mencoba mendekati nya dan menepuk dan meraba perut. Dada dan lengan nya. "Kenapa perut mu berbentuk semua? Apa yang kamu lakukan sampai seperti itu?"
Kami behenti di tiga perempat jalan karena aku menyentuh bidang dada nya. Aku melihat wajah pria itu sangat merah merona dan bercucur keringat. Dada nya mulai membasah karena ia berkeringat. "Kamu jangan panggil aku bapak... Panggil aku Hans nama aku Hans,"
Aku senang setelah mengetahui nama nya. Dan merasa akrab dengan nya. "Kalau begitu Hans... Ayo kita lomba lari! Mumpung Hans sudah berkeringat. Jadi ayo kita berkeringat sama-sama! Siapa yang sampai di depan rumah, dialah yang menang! "Aku berlari sangan kencang sampai rambut ku yang panjang terkibas kemana-mana.
Pria itu tersenyum remah kepada ku yang sudah lari melewati nya. "Kalau begitu!" Ia melepaskan jaketnya kelantai dan lari sangat kecang. "Kita lihat siapa yang menang!!"
Aku menoleh kebelakang sambil berlari. Dan ternyata Hans berlari mengejar nya dengan cepat. (Haa!! Kencang sekali!! Aku harus cepat!! Sedikit lagi aku akan sampai di depan rumah!!) Aku berlari sekuat-kuat nya agar aku bisa menang.
Siapa sangka... Hans berlari sangat kencang menggapai ku tak peduli dengan jaket nya yang mahal itu kotor.
"Sedikit lagi! ayo!" Aku berlari dengan ketakutan kalau aku akan kalah.
"Ayo tinggal empat langkah lagi!"
Pria itu sudah tepat di belakang ku dan berusaha meraih bahu ku tetapi gagal. Aku sudah sampai di depan rumah. "Yeeyy!! Aku sudah sampai di depan rumah! Aku menang! Aku menang! Aku menang!" Aku berseru ria. Menari-nari seperti penari hebat.
Pria itu sudah di sebelah ku sebagai juara kedua. Membungkukkan badan nya. bernafas mengap-mengap karena susah kelelahan mengejar ku. "Curang! Kan kamu yang lari duluan!
Aku menepuk rok ku "Oh!! Iya!! Aku lupa memberi tahu nama ku," Aku menodorkan tangan ku kepada nya. "Perkenalkan nama ku Davira! Senang berkenalan dengan mu!"
Ia menangkap tangan ku dan menggayunkan nya. Tangan nya yang lebar. Lembap setelah berlari tadi. Ia membukakan pintu rumah nya kepada ku. "Ayo kita masuk kerumah ku?"
Aku masuk kedalam rumah nya dan berjalan santai mengikuti pria itu. Aku menoleh seluruh sekitar rumah nya. Lampu kaca besar menghiasi rumah nya yang sangat megah. Ibu-ibu menggunakan pakaian pembantu membungkukkan badan nya kepada ku
(Besar sekali rumah nya...)
"Anu... Hans? Apa kau punya keluarga juga?"
"Tidak?.. Kenapa? Apa Davira takut kalau ada orang tua ku yang memarahi mu?"
"Ti-tidak kok? Aku hanya cuma tanya saja kok"
Kami masuk kedalam lift dan pria itu menekan nomor tiga. Disaat dalam lift kami saling mencium bau tidak sedap seperti bau keringat. Padahak bau keringar itu dari mereka sendiri setelah lomba lari.
Aku menoleh ke sekujur sudut lift namun tidak ada bau aneh. Aku pun menoleh ke arah pria itu dan ternyata ia juga menoleh ke arah ku juga. "Apa bau nya juga berasal dari..." Ucap serentak aku dengan pria itu.
Beberapa lama setelah kami serentak mengucap kata itu. "Ggghhhghaaaaaa!! Hahahahagahhhah!!!!" kami tertawa sekuat-kuat nya kerena kami masih di dalam lift.
Lift itu berbunyi dan pintu lift nya juga terbuka. Kami keluar dan pria itu membukakan sebuah ruang kamar. Kamar itu besar dan masih ada kamar yang lain juga di dalam kamar itu. Pria itu menyuruh Aku untuk masuk kedalam kamar itu. Pada saat itu aku teringat dengan orang tua ku dan diam membeku sesaat. Namun tiba-tiba saja hal buruk yang ia sering lakukan kepada ku mucul menutupi wajah nya di benak ku
Dengan tanpa ragu aku masuk dengan nya satu kamar dengan pria itu.
Aku duduk di kasur nya yang empuk itu dengan lega karena ia sudah lelah setelah lomba lari dengan pria itu. "Akhirnya bisa duduk juga!.. Lelah juga ya setelah kita lombar lari Hans!"
Hans duduk di sebelah ku dengan wajah takut. "Davira? Apa kau takut kalau aku melakukan hal buruk kepada mu?"
Aku memiringkan kepala ku kepada nya. "Kenapa Hans? Aku tahu kalau Hans itu orang baik kok! Aku percaya kalau kamu itu orang baik!" Aku tersenyum kepada nya dan yakin bahwa ia adalah orang yang baik.
"Kan kita satu kamar?"
"Kenapa? Aku tahu kamu orang yang baik semenjak kita pertama kali bertemu di restoran itu, aku merasa kau yang paling baik dan sayang kepada ku, padahal kita baru saja kenalan. Kita langsung akrap lo!"
Tiba-tiba saja ia memeluk erat ku dengan senang. Mencium keningku "Terima kasih telah mempercayai ku Davira... Aku menyayangi mu,"
"Aku juga menyayangi mu Hans..."
Kalau ini sebuah mimpi. Tolong jangan bangunkan aku