#valentinehoror
Setelah satu tahun penuh sekolah ditutup karena virus covid yang menyebar di seluruh belahan dunia. Akhirnya kami bisa kembali lagi kesekolah. Walaupun tanpa terasa sekarang aku sudah kelas 2 SMA. Namaku Arum,kelas 2 IPA di salah satu sekolah negeri di pinggiran kota.
Hari pertama kai masuk sekolah hanya diisi dengan agenda membersika kelas dan lingkungan sekolah. Tentu saja kami mersa senang, karena bisa berkumpul lagi dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu. Suasana kelaspun ramai dan ceria, walaupun saat pertama masuk kami merasa kelas terasa lembab dan beraura dingin. Tapi semua perasaan tidak enak itu cepat terganti dngan seiring banyak nya siswa yang bedatangan dan mulai membersihka kelas.
Pukul 12.00 siang kami semua diperintahkan untuk beristirahat dan membuka bekal makanan yang kami bawa dari rumah. Dan sebagian dari kami menuju mushala sekolah untuk menunaikan shalat Dzuhur.
“Arum, nanti sebelum pulang kamu keruang guru dulu ya… bagikan materi untuk kelas besok.” Ibu Pertiwi wali kelas ku memintaku menemui nya saat aku beru saja membuka bekalku.
“baik bu” jawabku.
“cie… beda ya.. murid teladan mah.. dicari wae sama guru” ledek teman-temanku.
“apa sih..” balasku sambil tersenyum.
Sesuai dengan permintaan ibu Pertiwi aku pergi keruangan guru. Tapi aku tak menemukan seorang pun disana. Aku memutuskan menunggu dI dekat meja ibu pertiwi. Diatas meja nya terdapat beberapa tumpuk kertas dan juga buku - buku lama yang bertumpuk karena sedang pembersihan.
Tiba-tiba saja aku merasa ada seseorang yang memperhatikan aku dari ujung ruangan. saat aku berbalik aku melihat seorang siswa laki-laki berdiri di ujung ruangan menatapku, lalu perlahan berjalan menghampiriku.
“sedang apa disini?” tanyanya padaku. Astaga… suaranya.., empuk sekali
“eh ini .. diminta ibu Pertiwi buat ngambil materi. Tapi bu Pertiwi nya gak ada.” Jawabku.
“emmm, siapa nama kamu?” katanya sambil mengangguk-anggukan kepalanya, lalu mennyakan namaku.
“eh.. aku Arum kelas IPA 2” jawabku, walaupun aga kaget tiba-tiba saja di Tanya nama.
“kalau …” lanjutku. Aku bingung mau mangiil dia dengan sebutan apa. Aku tidak tahu dia siapa. Tapi sepertinya dia mengerti maksudku dia langsung memperkenalkan namanya padaku.
“aku Arjuna kelas 3” jawabnya… selain suaranya yang lembut, ternyata kak Arjuna punya wajah yang ganteng dan manis. Warna kulitnya sawo matang, garis wajahnya tegas, giginya putih dan gigi taring nya sedikit panjang, itu yng buat dia keliatan manis, apalagi saa tersenyum seperti ini.
“Arum masih mau nunggu? Kalo gitu saya duluan ya..” sambungnya lagi.
“iya kak mangga, silahkan” jawabku. Saat kak Arjuna akan membuka pintu, pintu ruang guru terbuka dari luar. Ibu Pertiwi masuk kedalam ruang guru dan langsung menyapaku.
“udah lama nunggu Rum?” Tanya bu Pertiwi padaku. “maaf ya, lama soalnya tadi lagi beberes perpustakaan.” Lanjut bu pertiwi lagi.
“iya bu gak apa-apa. Lagian tadi di temenin kok bu, sama aa kelas 3” jawabku.
“aa? Hayooo loh siapa??” bu Pertiwi malah menggodaku, lalu menyerahkan lembaran materi padaku.
“itu.. tadi ibu papasan kok. Pas ibu mau masuk aa nya keluar dari sini” jawabku, sambil menerima materi. Tapi saat itu juga wajah ibu Pertiwi terlihat kebingungan.
“kalau gitu saya permisi dulu bu” pamitku pada Ibu Pertiwi. Bu Pertiwi tidak menjawabku, wajanya masih kebingungan.
***
Sudah 1 minggu sejak pertemuan aku dengan Kak Arjuna di ruang guru. Kami cukup sering berpapasan, tapi selelu diwaktu yang tidak tepat sehingga sangat sulit untuk menyapa Kak Arjuna. Jujur saja semenjak pertemuan itu, aku langsung punya perasaan khusus untuk Kak Arjuna. Ingin sekali aku kembali bicara berdua dengan nya, banyak yang ingin aku tanyakan padanya. Aku ingin lebih banyak tau tentangnya.
“Arum.. Arum..” panggil Ningsih, sahabatku.
“ehm.. apa?” jawabku
“kamu akhir-akhir ini teh aneh banget sih Arum.”
“maksudnya”
“iya.. akhir-akhir ini kamu teh sering ngelamun, sering liat keluar kelas terus suka tiba-tiba senyum sendiri. Kamu gak kesambet kan?” nada suara Ningsih terdengar khawatir.
“mungkin… kesambet Sih…, sama kakak kelas. Dia sering lewat kelas kita tau..” jawabku.
“Ahhh… masa… kamu?? Sedang jatuh cinta??” Tanya Ningsih heboh sampai terdengar oleh siswa lain.
“sssttt… malu tau” Ningsih langsung menutup mulutnya dan kami melanjutkan obrolan kami dengan suara pelan.
Tapi percuma saja, kabar aku yang sedang menyukai seorang kakak kelas menyebar dengan cepat.banyak yang bertanya-tanya siapa kakak kelas yang aku sukai. Bukan merasa sombong. Tapi dari pertama aku masuk sekolah, aku selalu menunjukan ketidak tertarikanku pada lawan jenis. Dengan nilai akademikku yang cukup tinggi membuat banyak yang tertarik dengan kehidupan pribadiku.
***
Hari ini tanggal 13 febuari, hari minggu. Tapi aku haru datang esekolah sebagai anggota osis. Kami akan mengadakan rapat untuk kegiatan isra miraj bulan depan. Banyak yang harus kami bahas mengenai agenda dan juga anggaran yang harus disiapkan.
Kami selesai rapat pukul 3 sore, semua berlomba-lomba ke toilet setelah sekian lama duduk. Selesai dengan urusanku di toilet, aku bergegas kembali menuju ruang osis melewati kelas- kelas kosong. Aku melihat kak Arjuna sedang duduk di kelas menatap keluar jendela. Dengan cepat aku menghampirinya.
“kak Ajuna? Apa kabar” tanyaku. Dia terlihat terkejut.
“eh Arum. Kabar…… baik” jawabnya. Sudah lama aku tak mendengar suara merdunya.
“sedang apa Kak Arjuna Disini?” tanyaku lagi.
“kalau kamu sedang apa disini?” kak Arjuna balik bertanya.
“aku sedang ada rapat osis kak. Kakak disini sedang ada urusan juga?” tanyaku antusias. Kak Arjuna menjawabnya hanya dengan anggukan kecil dan senyum lembut.
“aku suka kalau kakak senyum, keliatan manis” kataku spontan. Aku sendiri kaget dengan kata-kataku.
“kamu ini ada-ada aja” kata kak Arjuna sambul mengacak rambutku lembut. sayup-sayup terdengar suara teman-teman memanggilku.
“aku pamit dulu ya kak, udah dipanggil soanya.. sampe ketemu besok di sekolah ya..” pamitku.
“besok aku gak bisa masuk sekolah” jawabnya, suaranya terdengar sedih.
“eh kenapa? Kakak sakit kah?” kak Arjuna menggeleng, wajahnya menatapku sedih.
“tapi… besok kami bisa datang ke rumah ku kok. Dan kamu akan tau semuanya” katanya lagi sembari menjauh dariku.
“aku duluan ya..” lanjutnya lalu membuka pintu kelas, meninggalkan aku yang kebingungan dengan kata-kataku.
Saat aku kembali dari ruang osis, semuanya terlihat khawatir saat melihatku.
“kamu dari mana aja Rum?” Tanya ketua osis panik.
“eh.. abis ketemu kakak kelas tadi”
“kakak kelas?? Disini Cuma ada kita aja loh.. gak ada orang lain yang boleh masuk kesekolah selain anggota osis” jawab ketua osis.
“masa sih? Tapi tadi aku..”
“udah…. Udah… sekarang kita pulang aja yuk.. udah sore nih..” kata Fadil sekertaris osis. Kami semua setuju untuk pulang.
***
Keesokan harinya saat pelajaran pertama berlangsung,aku kembali di panggil osis, aku diminta sebagai perwakilan kelas untuk menghadiri peringatan 1 tahun meninggalnya salah satu siswa sekolah kami. Sepulang sekolah semua perwakilan kelas berkumpul diruang guru. Kami akan bersama –sama pergi kerumah duka menggunakan mobil kepala sekolah. Di perjalanan mereka semua membicarakan almarhum siswa dan penyebab dia meninggal.
“kalo gak salah sih, dia meninggal pas pulang dari sekolah. Di hari terakhir kita sekolah.. tahun kemaren sebelum kita belajar online dirumah .” kata seorang siswi yang duduk di kursi tepat di belakang kepala sekolah.
“kasian ya… padahal masih muda banget” timpal sisiwi disampingnya.
“aku denger-denger dia ganteng lagi.”
“masa sih”
“jurusan apa sih?”
“kalo gak salah mah kelas IPA, kalau kecelakannya tahun kemaren berarti harus nya sekarang kelas 3 ya?”
“sssttt…., gak baik ngomongin orang yang udah meninggal.” Timpal Fadil seketika semua orang diam. Aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hatiku. Siapa orang yang mereka maksud? Kenapa hatiku merasa aku akan mengalami hal yang buruk?
Sesampainya kami di rumah duka, keadaanya sangat sibuk. Karena acara sebenarnya baru akan di laksanakan setelah shalat Maghrib. Orang tua dari almarhum datang menghampiri kami. Dan sedikit terkejut saat melihatku.
Kami semua di jamu dengan baik oleh keluarga almarhum setelah sedikit berbincang-bincang, kepala sekolah menyerahkan sebuah amplop pada keluarga dan kamipun berpamitan pulang. Tapi ibu almarhum tiba-tiba saja menarik tanganku.
“kamu nak Arum kan” Tanya nya tiba-tiba. Semua menoleh kearahku keheranan.
“iya bu” jawabku sopan
“bisa ikut ibu sebentar?” tanyanya sembari menarik tanganku untuk mengikutinya . mau tidak mau aku mengikutinya. Tidak ada satupun yang mengikuiku dari belakang.
Ibu itu mengajakku kelantai 2 rumahnya dan berhenti di sebuah pintu kamar.
“nak Arum, sebelumnya ibu minta maaf. Karena mungkin saja saat ibu menunjukan ini pada nak Arum. Nak Arum akan merasa jijik . tapi ibu mohon maklumi ya..” nada suaranya semakin terdengar sedih. Aku semain kebingungan tidak mengerti.
Saat ibu itu membuka pintu kamar, aroma yang kukenal mengguar dari kamar tesebut. Aroma yang sangat kurindukan. Tiba-tiba saja aku merasa taku untuk masuk kedalam kamar itu. Sendi di lututku mendadak rusak rasanya berat sekali untuk melangkah. Ibu itu masuk terlebih dulu kedalam kamar dan menyalakan lampu kamar. Baru terlihat dengan jelas siapa pemilik kamar itu. Fotonya terpampang jelas di dinding. Itu foto kak Arjuna.
Seketika itu air mataku terjatuh tiada hentinya di pipiku, dadaku terasa sesak. Seluruh nafasku rasanya terheni saat aku melihat foto di dinding itu. Aku memasuki kamar itu dengan langkah berat, nafasku tak beraturan, dengan air mata yang terus mengucur hanya ada satu kata dalam kepalaku saat ini. Bohong!!! Ini semua bohong!!! Hatiku terus mengatakan itu untuk menguatkanku.
Mataku melihat sekeliling kamar itu dan terpaku pada 3 buah bingkai foto yang berdiri diatas mej belajar. Foto itu, fotoku!!! Diambil secara candid. 1 foto di ambil saat aku mengenakan seragan SMP dengan hiasan rambut dari tali rafia dan berkalung beberapa macam makanan. 1 foto lagi saat aku mengenakan seragam basket dan dalam keadaan sedang menagis. Foto terakhir saat aku menggunakan seragam SMA biasa dalam keadaan tersenyum. Hatiku terasa semakin perih, air maaku tak bisa berhenti.
“kak Arjuna…” hanya itu yang bisa ku katakan saat ini. Ibu kak Arjuna memelukku erat. Setelah sedikit tenang, ibu kak Arjuna melepaskan pelukannya dan memberikanku sebuah kotak kecil padaku.
“Juna bilang, dia akan melamarmu setelah kalian lulus. Dia meyiapkan ini untuk hari itu. Diamembelinya menggunakan gajinya dari membantu pamannya menjaga toko. Setelah aku menerima kotak itu ibu kak Arjuna meninggalkan aku sendiri di kamar kak Arjuna. Aku membuka kotaknya perlahan. Aku kembali menangis saat melihat sebuah cincin indah dengan ukiran sederhana disana. Kenapa? Kenapa baru saat ini aku mengetahuinya? Kenap aku begitu terlamabat?
“Arum..” seseorang menepuk bahuku, aku menoleh kearahnya. Dan aku melihat kak Arjuna disana. Dia tersenyum lembut kearahku.
“kak Arjuna..” tanpa pikir panjang aku memeluknya. Aku bisa menyentuhnya..
“Arum.., ada yang ingin ku jelaskan. Mengenai perasaanku padamu selama ini. Selama ini aku menyukaimu , mungkin kamu tidak menyadarinya. Tapi sejak pertama kali aku melihat mu aku selalu memperhatikanmu. Aku menyukaimu sejak pandangan pertama.tapi.. aku selalu tidak punya kesempatan untuk mengutarakannya padamu.”
“aku.. aku juga suka kakak, dari pertama kita bertemu diruang guru. Aku… aku sangat menyukai kakak. Kenapa?? Kenapa harus seperti ini?” dalam tangisku aku mencoba mengatakan seluruh isi hatiku padanya.
“aku bahagia mendengarnya Rum, terimakasih. Terimakasih kamu sudah mau membalas perasaanku di hari valentine ini” kak Arjuna tersenyum. Senyum nya membuat hatiku berdenyut nyeri.
“jangan pergi kak.. teruslah berada disisiku, aku membutuhkanmu kak” pintaku dalam pelukannya bercampur dengan tangisku.
Kak Arjuna mendorong lembut tubuhku untuk membuat sedikit jarak, dia mengelap air mata yang jatuh dipipiku. Melihatku dengan tatapan lembut. aku melihatnya menangis
“terimakasih, terimakasih banyak Arum.. atas cintamu padaku. Tapi aku harus pergi. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Selamat tinggal. Aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaan lainnya. Lupakan aku Arum” katanya lalu mencium lembut dahiku dan perlahan menghilang dalam pelukanku. Aku menangis sejadi-jadinya… seluruh perasaanku meledak dalam tangisan. Membuat seluruh teman-temanku dan juga kepala sekolah bergegas menemuiku di kamar kak Arjuna, namun aku yakin saat mereka menemukanku, aku sudah dalam keadaan pinsan tak adarkan diri.
***
Satu tahun berlalu…
Aku berdiri di depan batu nisan kak Arjuna, mengenggam seikat bunga mawar putih. Hari ini 14 Febuari hari kematian kak Arjuna. Tahun lalu aku dilarikan kerumah sakit setelah mereka menemukanku tak sadarkan diri dan kesulitan bernafas di kamar kak Arjuna. Aku dirawat selama 1 bulan. Bukan karena penyakitku yang tak kunjung sembuh, tapi karena aku tak punya semangat hidup. Saat itu yang aku tau aku ingin bersama dengan kak Arjuna. Sampai ibu kak Arjuna datang menemuiku, dia memintaku untuk tetap hidup dan bahagia untuk menggantikan kehidupan kak Arjuna. Aku harus bahagia. Itu satu-satunya yang kak Arjuna minta
“kak Arjuna, sekarang aku kelas 3. Tahun depan aku akan kuliah. Aku masih sangatmerindukanmu kak.. aku masih mencintaimu kak. Kakak tahu? Hari ini aku embolus sekolah untuk menemui kakak. Aku merindukanmu kak” gumamku sambil menahan tangis. Aku meletakan bunga ,mawar putih yang aku bawa di makamnya .
“tahun depan aku akan kembali kesini, tahun depanya juga aku akan selalu kesini. Aku akan terus kesini sampai aku bisa memperkenalkan seseorang yang bisa menggantikan kakak di hatiku. Maka bersiaplah, jika saat itu tiba, aku… aku akan melupakanmu seperti permintaanmu”
Setelah memanjatkan doa untuknya aku berjalan meninggalkan makam kak Arjuna. Dalam hatiku yang terdalam aku ucapkan semoga kau tenang di alam sana.
TAMAT