Aku hanya termenung memandangnya dari tempatku berdiri. Ada ketakutan yang menghinggapiku jika aku memilih mendekat.
“Aku pulang. Terimakasih sudah mendengar ceritaku” pamitnya lalu berlalu pergi. Meninggalkan aku sendirian di taman ini.
Namanya Karenina. Nina biasa kusapa dia. Anak perempuan satu-satunya dengan 2 kakak laki-laki. Si bawel yang membuatku jatuh hati. Masih terekam jelas saat pertama kami bertemu, di kantin kantor saat jam makan siang 3 tahun lalu.
“Jadi, Ki, begitu, dia cuek banget...” kata Nina lalu mengambil duduk disampingku. Ia nampak sibuk sendiri dengan Hpnya. Ia menyeruput minumanku yanng terparkir didepannya.
“Sst..Nina..Nina...” panggil seseorang dari meja depan.
Nina mendongakkan kepalanya. Perempuan dimeja depan melambaikan tangannya seolah isyarat agar dia segera pergi. Beberapa detik kemudian aku akhirnya melihat manik mata indah itu. Senyum indah itu.
“Maaf, kak..” ucapnya pelan lalu bergegas pindah.
Aku hanya bisa menahan tawa. Begitu juga beberapa orang yang tidak sengaja menyaksikan tingkah konyolnya.
Nina, Nina, Nina, jujur aku sangat terpesona dengan anak itu.
**
Hari ini Nina ceria. Sejak pagi senyum tidak surut dari wajah cantiknya. Ia menyelesaikan pekerjaan sambil sesekali bercanda dengan Kiki dan Abdul. Dari tempatku berdiri, aku dapat mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.
“Kau baik-baik saja kan, Nin ?” Tanya Abdul hati-hati. Suaranya dipelankan.
“Kenapa ?” Nina balik bertanya.
“Iya ini si Abdul ada-ada saja, emangnya si Nina kenapa ?” Kiki mencoba mengembalikan suasana yang mulai canggung.
“Aku suka berbicara dengannya. Apa salah ?” Nada suara Nina meninggi lalu meninggalkan Abdul dan Kiki.
Aku hanya tersenyum. Nina masih mencintaiku, sangat mencintaiku. Walaupun Abdul dan Kiki sering melarangnya menemuiku di taman dekat kantor kami tapi setiap malam dia pasti ada disana.
Tapi sepertinya hal itu tidak sesuai harapanku. Nina dijemput oleh Kakaknya. Aku tidak bisa mendekat. Dari dulu hubunganku dan Nina tidak disetujui orang-orang terdekatnya. Kak Gilang itu aneh. Kak Gilang itu misterius, begitu suara-suara yang mempengaruhi Nina.
Maafkan aku Nina tapi aku tidak bisa tidak melihat wajahmu malam ini. Aku menyusul kerumahnya. Syukurlah Nina seolah mengerti aku, ia nampak duduk termenung di balkon kamarnya. Wajahnya terkena cahaya bulan purnama. Cantik sekali.
Terima kasih, terima kasih, terima kasih Nina.
**
2 hari kemudian, badanku seolah dipaksa untuk kembali ke rumah Nina. Aku tersenyum menyeringai. Oh jadi ini maksud mereka sampai mengizinkan aku masuk ke rumah mereka. Di depanku sekarang tampak Nina yang didudukkan dalam keadaan setengah sadar. Diantara kami banyak terdapat sesajen dan aroma kemenyan merebak diseluruh ruangan. Keluarga Nina berada disisi kanan ruangan. Ada juga Kiki dan Abdul. Sementara seorang Kakak laki-laki Nina ikut mondar-mandir bersama Dukun yang kini sibuk membaca mantra.
“Jangan diam disitu, kemarilah lebih mendekat. Apa kau takut Gilang ?” Suara berat Dukun sepuh mengalihkan pandanganku dari Ninaku.
“Apa maumu ?” Kataku to the point. Ingin rasanya aku mencopot gigi palsu Dukun itu tapi ini akan menjadi adegan komedi.
“Tinggalkan Nina. Berhenti mengikuti Nina. Apa kau tidak kasihan dengan tubuh Nina. Semakin hari tubuhnya semakin lemah karena ulahmu”
“Huh, lucu. Kau yang membuat tubuhnya lemah. Kau memberikan jimat bodoh itu agar aku tidak bisa mendekatinya. Jimat itu yang menyerap energinya”
“Hantu keras kepala...”
Si Mbah Dukun dengan cepat menyipratkan air kearahku. Aku kepanasan. Belum sempat aku berbalik menyerang Si Mbah sudah berkomat-kamit membacakan mantra. Tubuh Nina melayang ke udara, aku kian meringis kesakitan.
“Berhenti mengikuti Nina. Kau dan Nina kini berbeda alam. Sudah takdir jika kau dan Nina tidak bisa bersama-sama” seru si Mbah Dukun.
Aku meringkuk kesakitan. Mbah dukun memerintahkan 2 orang kakak Nina dan Abdul untuk melemparkan sesuatu kearahku. Aku kian tak berdaya. Perlahan-lahan kurasakan badanku menghilang dan menjauh pergi.
Nina ? Bagaimana dengan Ninaku ? Apa dia baik-baik saja ?
**
Aku bahagia. Seminggu setelah kejadian itu, Nina akhirnya datang menemuiku. Dengan rok pink pastel itu dia nampak anggun.
“Kemarilah Kak, jangan takut” kata Nina. Ia membuka gelang pemberian dukun itu lalu membuangnya dengan asal.
Aku menghampirinya. Duduk disampingnya dan memegang tangannya. Ia tersenyum, begitupun diriku. Dan yang membuat hatiku senang adalah ketika mata Nina menghitam seluruhnya.
Aku tersenyum. Itulah Ninaku. Nina yang akan menjadi milikku selamanya.
**
Cover by pinterest