Malam itu aku sedang di kamar, menikmati drakor dan juga semangkok mie samyang.
Tok...tok..tok
Suara ketukan pintu kamarku, tampak sosok ibu yang tengah berdiri di sana sambil memandangku.
Aku melepas headset ku,
"Kenapa bu?"tanyaku heran.
"Hera, ibu pesan sama kamu. Jangan lepaskan headset kamu, ok?"pesan ibu yang membuatku bingung.
"Loh kenapa rupanya, bu?".
"Jangan juga turun ke bawah, sampai ibu datang lagi. Jangan membukakan pintu kalau ada yang mengetuk!"lanjut ibu yang sekarang terdengar tegas.
"Ok bu"ucapku patuh.
"Kunci pintunya sekarang, pokoknya pesan ibu harus kamu patuhi"titah ibu semakin tegas.
"Ibu mau kemana?"tanyaku.
"Diam dikamar, turuti kata-kata ibu! No debat!"tegas ibu.
Ibu langsung menutup pintu kamar ku, aku terdiam sesaat.
"Aneh?".
Dan aku langsung melakukan apa yang ibu suruh kepadaku.
Sedikit aneh tingkah ibu menurutku, tidak biasanya dia beringkah seperti ini? Apa jangan-jangan dia lagi ada masalah.
Aku lanjut menonton drakor, tapi feel nya sangat berbeda. Aku khawatir dengan keadaan ibu. Jujur aku penasaran sekali.
Karena aku memakan samyang, mulutku sedikit kepanasan. Air minumku pun tinggal sedikit, aku berfikir untuk turun ke bawah. Namun,
Tok...tok..tok..
Aku mendengar suara ketukan pintu, tiba-tiba aku teringat akan pesan ibu supaya tidak membukakan pintu.
TOK...TOK..TOK...
Suara ketukan itu semakin kencang, dan membuatku sedikit ketakutan. Aku menguatkan sedikit volume suara drakor itu.
TOK...TOK..TOK...TOK....
Suara itu semakin kencang, aku kepikiran soal ibu. Dimanakah dia? Hatiku ingin sekali membuka pintu itu, aku takut terjadi sesuatu terhadap ibu. Aku merapalkan doa tiada hentinya, berharap semoga ibu cepat datang.
Hingga pada akhirnya, suara ketukan pintu itu pun hilang.
Dari belakang aku di peluk oleh seseorang, refleks aku menghadap ke arah belakang.
"Ibu?".
"Iya, bagus kamu menuruti apa kata ibu. Semuanya sudah selesai, laki-laki dengan tongkat bisbol itu sudah pergi."ucap ibu sambil tersenyum.
Aku menitikkan air mataku, rupanya ibu tidak apa-apa. Namun satu yang aku herankan,
"Ibu lewat mana? Kan pintu kamarnya aku kunci. Sedangkan kamarku, jendelanya di terali?".