Valentine Berdarah.
Sore itu suasana di Kota sangat ramai dan cerah, beberapa Anak remaja berjalan keluar dari Gedung Sekolahan. Mereka tertawa dengan riang gembira, bercanda bahkan sampai bernyanyi.
Terlihat tidak ada beban sedikitpun di usia Remaja itu, ya memang benar... Biasanya kan Remaja kebanyakan tidak memikirkan suatu hal yang rumit.
Namun, ungkapan itu dipatahkan oleh seorang Gadis yang memiliki aura gelap dan suram, terlihat dia sedang berjalan di tengah keramaian, seorang diri. Rambut hitam panjang itu terurai, Bola Mata bulat dengan Retina merah menampakkan kekosongan.
Dia berdiri di dekat Halte Bus, tanpa dihiraukannya Anak-anak yang tertawa di sampingnya. Tidak lama kemudian Gadis itu tanpa sengaja mendengar sepotong pembicaraan dari kedua Gadis yang berada disampingnya.
"Beberapa hari lagi akan datang valentine, eh... Kau tahu tidak, katanya sebelum valentine tiba, akan datang sesosok Iblis dari Neraka, yang menginginkan jiwa-jiwa kesepian Manusia," ungkap Gadis berambut pirang itu yang sedang menatap kawannya.
"Iya aku sudah paham sejak lama, dia akan memberikan kebahagiaan dalam hitungan detik, namun... Tidak semudah kedengarannya, Iblis dari Neraka akan meminta Jiwa Manusia itu sebagai perjanjian diantara mereka, ih... Seram sekali ya, tapi aku tidak membutuhkan hal semacam itu! Karena hidupku sudah sangat bahagia." Dia tertawa bersama dengan temannya.
Nana yang masih berada disamping kedua Gadis itu hanya terdiam sepi. Tidak lama setelah itu, Bus yang mereka nantikan akhirnya tiba. Berhenti tepat dihadapan Nana.
Perlahan dia mulai masuk ke dalam Bus, dia tatap Anak-anak yang berada didalam tempat itu. Mereka memiliki pasangan di Kursi masing-masing.
Nana palingkan Tubuhnya, saat berada didepan Kursi nomor urut 2 samping Jendela, dekat Tangga. Dia duduk dengan tenang. Nana kembali mendengar suara tawa yang sangat riang dari balik Tubuhnya.
Segera Bus berjalan, Anak-anak yang berada didalam Bus, sedikit melirik Nana yang duduk seorang diri. "Aku sangat tidak menyukai Gadis itu," bisik salah seorang Gadis kepada temannya.
"Ssst, kecilkan suaramu. Nanti dia bisa dengar," jawab Gadis disampingnya.
Nana tidak menghiraukan hal itu. Lalu, dia melihat jalan yang menuju arah Rumahnya dari balik Jendela. Nana segera bangkit dari Duduknya dia pandang pengemudi yang berada disamping kanan.
Pengemudi itu sedikit melihat Nana dari Kaca Spion, lalu dia menghentikan laju Bus. Pintu yang tertutup itu terbuka perlahan, Nana berjalan untuk keluar dari dalam tempat itu.
Ketika melihat Nana yang sudah tidak berada didalam Bus, semua Anak-anak bernapas lega. "Akhirnya...." Ucap salah seorang Gadis yang sedang duduk sambil melipat kedua Tangannya didepan Perut.
Sesampainya di Rumah, Nana berjalan untuk dapat memasuki tempat itu. Pintu yang tertutup rapat dia buka perlahan.
Nana mulai masuk ke dalam, tiba-tiba baru saja dia menginjakkan Kaki di atas Lantai, suara teriakan terdengar jelas dari Telinga Nana.
"Kamu ya, selalu pergi terus! Pulang ke Rumah dengan kondisi mabuk seperti ini, dasar tidak tahu diri." Terlihat Mamahnya yang sedang berdiri dihadapan Nana, sambil mengomeli Ayahnya yang sedang mabuk.
Nana hanya terdiam melihat penampakan itu, lalu... Ayah Nana yang sudah melantur itu berbicara kepada Mamahnya, "kalau kau tidak memiliki uang kenapa harus pusing? Jual saja Nana kepada Laki-laki itu!" Balas Ayah Nana dengan Tubuh yang tidak stabil.
"Dasar ya kamu, Laki-laki tidak tahu diri!" Mamah Nana memukul Wajah Ayahnya.
"Lihat apa kamu Nana?! Cepat masuk, kunci Kamarmu, sekarang!" Bentak Mamah Nana dengan tatapan dingin dan kasar.
Nana melanjutkan langkahnya, dia berjalan untuk dapat meninggalkan kegaduhan itu. Dia mengepalkan Telapak Tangannya lalu bergerak ke arah Kamar.
Tidak lama kemudian, Nana menghentikan langkahnya saat berada didepan Pintu Kamar. Dia membuka Pintu yang tertutup rapat dengan kasar.
Nana menutupnya dengan sangat keras. "Hahaha... Hari kasih sayang?! Seumur hidup, aku sangat benci hari itu!" Nana berjalan tergesa dia mulai menjatuhkan Tubuhnya di atas Ranjang besar.
Ketika dia sedang memejamkan Mata, tiba-tiba saja dia teringat akan perkataan dari Gadis yang berada di Halte Bus. "Jika memang itu benar, aku ingin sangat ingin mendapatkan kebahagiaan yang aku rindukan, aku tidak peduli jika itu harus ditukar dengan jiwaku sendiri, aku sungguh muak dengan kehidupan ini!" Nana menangis terisak, sampai ketiduran.
Segera Kamar Nana diselimuti dengan kabut hitam tebal, lalu muncul sesosok Iblis dengan Tubuh hitam besar, Mata lebar sedang bertengger di atas Meja belajar Nana.
Nana terbangun karena menghirup asap tebal itu dengan terbatuk. Nana yang setengah sadar itu, perlahan mulai membuka Mata, dia mengedarkan pandangannya untuk melihat apa yang telah terjadi.
Bola Matanya terbuka lebar, dia melihat asap tebal yang menyelimuti Kamarnya, dan juga sosok hitam besar dengan tanduk dikedua sisi Kepalanya. Nana terkejut ketika melihat hal itu, sungguh dia sangat ketakutan. Nana menarik Selimut dan bergerak mundur.
"Hehe, tidak perlu takut begitu, bukankah kau yang telah memanggilku untuk mendatangimu?" kata Iblis besar yang menatap Wajah Nana.
Nana sungguh tidak mengerti dengan apa yang dikatakan sosok itu. Lalu, Nana mulai teringat akan permintaannya semula. Dia sungguh tidak menyangka perkataannya telah menjadi kenyataan.
"Jadi... Ini benar nyata?!" Dalam batin Nana yang mencoba untuk memastikan.
Iblis itu mulai berjalan untuk dapat menghampiri Nana, Retina merah darah terlihat sedang menatap tajam Wajah Nana. "Aku akan mengabulkan permintaanmu, hidupmu akan segera berubah, kau akan mendapatkan kebahagiaan," Mahkluk itu tiba-tiba saja menghilang ketika selesai bicara kepada Nana, kabut hitam pun sudah tidak memenuhi Kamarnya.
Nana masih merasa bingung, dia segera beranjak dari tempatnya. "Apakah itu hanya ilusi? Ah tidak mungkin," dalam batin Nana yang berjalan ke luar Kamar.
Dia membuka Pintu perlahan, Nana tidak mendengar suara gaduh apa pun, perasaannya sedikit tenang. Tidak lama kemudian, dia mendengar suara Ayah dan Mamahnya yang sedang tertawa di Ruang Makan.
Nana merasa sangat bingung, tidak pernah sekali pun dia mendengar keakraban itu. Nana berjalan untuk menuju Ruang Makan. "Bukankah sebelumnya Mamah dan Ayah sedang bertengkar?!" Dalam batin Nana yang merasa sangat bingung.
Lalu, Nana mulai melihat keadaan didalam Ruang Makan, sungguh pemandangan yang sangat langka. Orang tuanya terlihat sangat rukun, Nana tidak mampu mempercayai hal itu begitu saja.
"Nana? Kau sudah bangun? Sini kita makan sama-sama, Mamah buatkan kamu sarapan kesukaan kamu lho," Mamah Nana menatap Wajah Putrinya itu dengan tersenyum ramah.
"Hah!" Nana kembali terkejut, satu sisi dia sangat senang, namun di sisi lain dia juga merasakan kebingungan.
Nana tersenyum asing kepada Mamahnya, perlahan dia mulai melangkahkan Kaki untuk dapat menghampiri kedua orang tuanya. "Mungkinkah... Semua berkat Iblis itu? Ini sungguh keajaiban, aku mendapatkan semua yang aku inginkan!" Bisik Nana didalam hatinya.
Dia berjalan untuk dapat menghampiri Mamah dan Ayahnya, mereka tertawa di tempat itu. Nama dapat merasakan perubahan yang sangat jauh.
"Setelah sarapan kau harus cepat membersihkan diri, jika tidak maka kau akan terlambat Nana, makan yang banyak ya." Kata, Ayah Nana dengan tatapan ramah.
Nana tersenyum kaku, dia masih tidak menduga hal itu. Karena lapar Nana menghabiskan makanan yang telah disiapkan oleh Mamahnya.
'Jangankan makan bersama, tersenyum saja tidak pernah.' Dalam batin Nana dia tatap kedua orang tuanya dengan perasaan bahagia.
Beberapa saat kemudian, setelah dia sarapan, membersihkan diri kini saatnya Nana pergi ke sekolah, dia sangat tidak sabar dengan keajaiban apa yang sedang menantinya.
Nana berjalan menuju Halte Bus, pagi itu dia tersenyum cerah seperti Matahari pagi. Tidak lama kemudian, Bus yang dia nanti akhirnya tiba. Perlahan Bus berhenti dihadapannya, saat Pintu terbuka Nana mulai masuk ke dalam, Pengemudi Bus itu tiba-tiba sangat akrab dengannya. "Pagi, Nana." Dia tersenyum ramah kepada Nana.
Nana terkejut untuk kedua kalinya, dia terdiam sejenak, lalu Nana mulai menjawab perkataan dari Pria itu. "Pagi," katanya dengan ramah.
Saat dia berjalan masuk menuju Kursi dekat Jendela, tiba-tiba beberapa Anak berteriak kepadanya. "Nana... Kemarilah," kata Anak-anak itu.
Nana terkejut karena hal itu, dia tersenyum senang, sungguh dia sangat tidak menyangka. Hari itu semua berjalan dengan sangat baik, sampai akhirnya Bus berhenti tepat didepan Gedung Sekolah.
Nana segera bangkit dari Duduknya dan diikuti oleh Gadis yang lain, mereka terlihat sangat ingin berada disamping Nana, "sungguh, ini sangat sempurna!" Dalam batinnya.
Hari-harinya begitu indah, sampai lah tiba pada hari valentine. Nana yang sedang duduk di atas Kursinya, tiba-tiba dikejutkan dengan beberapa Anak Gadis yang menghampiri dia. "Nana...!" Teriakan mereka membuat Nana yang sedang membaca Buku itu terkejut.
Nana mulai menatap Gadis itu, "iya... Ada apa?" tanya Nana dengan tersenyum.
"Nanti malam kita semua akan mengadakan pesta valentine di Rumahku, kamu datang ya... Pasti itu akan sangat mengasyikkan." Ucap, salah seorang Gadis yang tersenyum ramah kepada Nana.
"Ah... Benarkah?! Tentu saja aku akan datang," balas Nana dengan ramah.
"Bagus sekali, ingat ya pesta dimulai pukul 20.00 tepat, jangan sampai terlambat Nana, kami sangat menantikan kehadiranmu," Beberapa Gadis itu segera pergi untuk meninggalkan Nana seorang diri.
Nana tersenyum puas karena hal itu, "kira-kira, hadiah apa ya yang sedang menantiku?" dalam benaknya yang terlihat penasaran.
Malam Valentine.
Terlihat Nana yang sedang bersolek didepan Cermin, dia memperhatikan dirinya yang sudah sangat rapi. Pakaian yang dia kenakan berwarna putih polos, Rambut panjang terurai, sangat anggun dan cantik.
Tit... Tit... Tit...
Nana memalingkan Wajahnya ke arah kanan, dia melihat alarm yang sudah dia atur, saat itu menunjukkan pukul 20.00 tepat.
"Hah?! Sudah saatnya, aku harus cepat sebelum terlambat, mereka pasti sedang menunggu aku." Nana, merapikan Pakaiannya, lalu berjalan keluar dari dalam Kamar.
Saat itu Nana menunggu Bus di Halte, akan tetapi dia dikejutkan dengan sinar terang yang sangat menyilaukan Mata. Nana menutupi Wajahnya dengan kedua Tangan.
Tin...
Tin...
"Nana, hai." Ucap seorang Gadis yang berada didalam Mobil.
Nana segera membuka Mata, "Mei Lin, hai." Balas Nana dengan ramah.
"Ayo cepat masuk, semua sudah menunggumu," kata Mei Lin yang segera menurunkan Kaca Mobilnya.
Tanpa berpikir panjang Gadis itu segera membuka Pintu Mobil dan masuk ke dalam. Tidak lama Mei Lin memutar setir dan melaju dengan sangat cepat.
Nana hanya terdiam sedikit pun dia tidak merasa curiga, akan sikap Mei Lin yang berbeda. Kemudian sampailah dia di depan Rumah Kiya, Nana terlihat sangat bingung dengan suasana yang sangat sepi.
Dia keluar dari dalam Mobil hitam, "di mana yang lainnya?" tanya, Nana yang sedikit melirik diri Mei Lin, dengan tatapan bingung.
"Ah, rahasia, hahaha...." Mei Lin tertawa sambil menepuk Pundak Nana, dia mendorong Gadis itu untuk segera masuk ke dalam.
Nana dipaksa masuk ke dalam Rumah besar yang sepi itu. Tiba-tiba, semua temannya keluar dari dalam persembunyian mereka. "Kejutan!" Sorak Gadis itu dengan senang.
Nana sangat terkejut akan hal itu, dia sungguh tidak menduga sama sekali. "Teman-teman," Nana terharu melihat kebaikan dari mereka.
Ling Ling si pemilik Rumah, segera mengeluarkan Kain merah panjang. Gadis itu menutup Mata Nana dengan Kain itu. Nana terkejut untuk ke dua kalinya, "apa yang akan kalian lakukan padaku lagi?" tanya, Nana dengan perasaan bingung, sambil menyentuh kain itu.
"Tenang saja, kami masih mempunyai kejutan yang lain untukmu Nana," Ling Ling mendorong Tubuh Nana ke arah depan, semua Gadis itu turut mengikuti Ling Ling yang sedang membawa Nana.
Nana terlihat sangat penasaran, dan juga bingung, hatinya merasa sangat senang. "Kalian ini." Ucap, Nana dengan tersenyum.
Blubuk... Blubuk...
Terlihat Wajan besar berisikan Minyak panas, Nana merasa sangat aneh, tubuhnya berkeringat, dan tidak nyaman. "Panas sekali, kemana sebenarnya kalian membawa aku pergi?" tanya Nana dengan curiga.
"Ka suatu tempat yang pasti akan kau sukai," Penutup Mata itu segera Ling Ling lepas. Nana menggelengkan Kepalanya, lalu dia mulai memastikan pandangannya.
Terkejut Nana ketika melihat Minyak panas yang berada dihadapannya itu. "Hah?! Kalian...!" Nana mulai memalingkan Wajahnya, dia tatap sekelompok Gadis itu, Wajahnya terlihat kaku dan pucat.
Saat melihat teman-temannya sedang menatap Wajah Nana dengan dingin, mereka membawa Pisau tajam. "Aku paling benci dengan Gadis yang sempurna, Nana... Pergilah dengan tenang." Kata, Ling Ling dengan tatapan membunuh.
"Tidak... Ini tidak mungkin, mengapa semua menjadi begini, ini mustahil, tidaaaaaak....!" Nana menengadahkan Wajahnya ke atap Rumah dengan Mata yang terbuka lebar.
Gadis itu menusuk Tubuh Nana dengan bergantian, Gaun putih bersih seketika berganti menjadi merah, lalu Ling Ling mendorong diri Nana ke dalam Wajan berisikan Minyak panas itu.
Tamat.