Hari itu Ari sedang berjalan menuju desa temannya karna ada kelerluan, tetapi sayangnya saat menuju ke desa tersebut hujan lebat membuatnya tak bisa meneruskan perjalanannya dan memilih untuk berteduh dan mencari kosan terdekat.
Saat di lihatnya tanda "Menetima kos" di depan pintu rumah joglo berdesain kuno Ari pun memutuskan untuk menginap di situ satuhari, ingin mengabari temannya handhpone nya kehabisan daya dan sinyal sulit di situ akhirnya Ari berfikir mengabari temannya besok pagi.
"Kamarmu nomor 14" ucap pemilik kosan memberikan kunci kamar kepada Ari.
"Makasi bu" ucap Ari sambil menyunggingkan senyumnnya.
"Hemm.." jawab ibukos itu lalu ia berlalu meninggalkan Ari.
"Anak kos baru ya" ucap seseorang dari belakang Ari, Ari yang mendengar itu langsung menoleh ke belakang karna merasa dirinya yang di maksud.
"Ehh.. iya mz" ucap Ari sambil mengangguk mengiya kan perkataan laki² yang menanyainya barusan.
"Hahahaaa.. tinggi juga nyalimu berani masuk kosan ini" ucap laki² itu lalu pergi sambil menenteng tas besar entah apa isi tas itu yang jelas saat sekilas di lihat di akhir slerekan tas itu ada satu jari tangan yang terjepit.
"Mz mau kemana?" tanya Ari spontan karna ingin melihat dengan jelas apa yang dia lihat tadi.
"Urusan.." ketus laki² itu seperti sadar dengan tingkahku yang melihat tas besarnya, lalu dia pergi keluar kosan.
"Aneh, sepertinya tadi aku melihat sesuatu tapi tidak jelas pasti itu benar atau tidak.. sudah lah" ucapnya yang tidak ingin ikut² madalah orang lain.
Saat menyusuri lorong di kosan itu Ari merasakan hawa yang tidak biasa, mulai dari angin yang berhembus sangat keras padahal lorong itu kedap udara dan hanya pintu depan jalan keluar satu²nya.
Kini giliran bulu kuduk Ari yang menegang entah kenapa hawa di lorong itu sangatencekam seperti rumah kosong padahal kosan itu ramai orang tapi semua orang sedang berada di dalam kamar masing² dapat di lihat dari bawah pintu kamar mereka yang tersorot lampu dari dalam menandakan bahwa ada orang di dalam kamar itu.
"10, 11, 12, 14 loh ini kamar ku bentar kayaknya angkanya ada yang kurang.. 10, 11, 12, 13 kenapa gak ada kamar nomor 13?" ucap Ari bingung karna merasa lelah setelah perjalanan mencari kosan, akhirnya diapun memasuki kamarnya.
Krrreeeeekkkk...
Suara yang membuat telinga serasa di tiupi angin membuat Ari merinding sebentar karna mendengar suara dari pintu kamarnya, seperti sudah lama kamar itu tidak di huni.
"Besok saja aku tanya bu kos untuk memperbaiki pintu sekarang aku lelah sekali" ucap Ari masuk ke dalam kamar lalu membaringkan badannya ke atas kasur entah berapa menit kemudian kini Ari sudah pindah di mensi ke alam mimpi, saat tertidur Ari merasakan ada sesuatu yang sedang menyentuh kakinya.. perlahan naik ke atas paha, lalu naik lagi ke perut terus.. naik lagi ke dada dan berhenti ke bibir.
Meski tertidur Ari samar² membuka matanya untuk melihat apa yang sedang mengusik tidurnya saat melihat sesuatu apa yang menempel pada bibirnya.
" Aaaaaaaaaaaaaaaa... " teriak Ari terbangun dari tidurnya, kini Ari sudah duduk di atas kasurnya dengan wajah syok dan keringat bercucuran dari keningnya.
"Ap.. apa itu tadi huufff.. ken kenapa ad adaa.. tangan? tangan siapa? aku.. aku mimpi iya aku hanya mimpi" ucap Ari sambil meyakinkan dirinya kalau itu hanya mimpi namun setelah itu tiba² di pintu.
Tok.. tok.. tok..
Ketukan di pintu membuat Ari kaget tapi Ari kembali menenangkan dirinya dan mencoba untuk tenang.
Setelah tenang dia berjalan menuju pintu, entah kenapa hawa yang di rasakannya saat akan membuka pintu sama dengan hawa yang tadi saat Ari berjalan di lorong, angi sepoy² masuk entah dari mana ladahal jelas² jendela yang ada di kamar Ari tertutup rapat.
Tok.. tok.. tok..
Ketukan pintu lagi dari luar kamar membuatnya resah dan bimbang, mimpi yang tadi masib terngiang² di pirannya kembali teringat ada tangan yang mengraya i tubuhnya dan berhanti di bibir hanya tangan tidak ada badan atau organ lain.
Tok.. tok.. tok..
Ini kali ketiga pintu Ari di ketuk tapi kali ini lebih rendah dari ketukan sebelumnya hampir seperti tidak ada suara ketukan sama sekali, kini Ari sudah berdiri di depan pintu kamarnya memegang hendel pintu tinggal memutarnya untuk membuka pintu dan melihat siapa yang mengetuk pintu sedari tadi, entah kenapa kini perasaan nya kembali bimbang antara membuka pintu atau tidak Ari pun menguatkan tekatnya untuk membuka pintu karna Ari juga penasaran siap yang mengetuk pintu kamarnya.
Krrreeeeeekkkkkk....
Pintu terbuka perlahan sampai pintu menabrak dinding kamar namun pandangan Ari melihat kebawah karna masih merasa resah, saat Ari melihat ada kaki yang berdiri di depannya Ari pun lega dan perlahan menegakkan kepalanya melihat siapa yang berdiri di depan kamarnya saat kepalanya berdiri tegak menghadap seseorang yang ada Di depannya sontak membuat mata Ari melebar besar bukan hanya itu, sekatang sekujur tubuhnya brigidil ngri campur takut, Ari menelan ludahnya dengan sangat susah payah melihat hal yang ada di depannya.
Bbbrrrraaaakkkk...
Ari menjatuhkan dirinya ke lantai lalu pingsan.
beberapa menit kemudian dia terbangun di kursi ruang tamu di kosan yang dia tempati dan melihat orang ada di sekelilingnya perlahan Ari melihat satu persatu orang yang ada di sampingnya lalu pandangan tertuju pada seseorang yang sedang tersenyum melihat Ari yang terbaring di sofa.
"Kaubsudah sadar? apa yangbterjadi padamu?' tanya seseorang yang berada di sebelah Ari sehingga fokus Ari kepada seseorang yang tersenyum padanya pun teralihkan.
" Ak.. aku.. di mana?" tanya Ari dengan gagap karna masih kaget dan syok.
"Kau habis melihat apa?" bukannya menjawab orang yang tadi menanyai Ari malah balik bertanya entah siapa orang itu di lihat dari dandanannya seperti bukan orang kos melainkan sudah berumur.
"Aku.. emm.. melihat.." ucap Ari menggantung karna ragu dengan kata² nya.
"Bicaralah, tidak apa aku akan membantu mu" ucap laki² berumur itu sambil mengudap kepala Ari pelan.
"Aku melihat perempuan tanpa ta.. tang.. tangan dan dan.. dan kep.. kepala.." ucap Ari dengan gemetar dan sedikit mengingat² orang yang berdiri di ambang pintu kamarnya tadi.
"Dia ada di sini?" tanya laki² itu lagi dengan nada rendah.
"Iya tadi.. kemana dia? tadi dia ada di sini di sebelah san.. di.. di mana dia" ucap Ari sambil menunjuk namun tempat yang di tunjuk kosong tidak ada orang.
"Hemm.. dia tumbalnya kak" ucap seseorang yang ada di samping laki² itu.
"Iya, sudah waktunya dia makan" ucap Ibu kos.
Ari langsung terduduk karna mendengar perkataan Orang² tadi meski tak paham tapi Ari yakin kalau dirinya dalam masalah dan harus segera pergi dari tempat itu.
"Aku.. aku akan pergi.." ucap Ari sambil ber jalan menuju pintu keluar tapi di hadang oleh laki² yang tadi siang membawa tas besar.
"Bantu kami dulu, baru kau bisa pergi" ucap Laki² itu dengan senyum entah kenapa senyumnya seperti tidak bersahabat seperti ada tujuan lain dari senyumannya.
"Tidak.. aku.. aku harus pergi.." ucap Ari kini berlari keluar ruang tamu dengan cepat entah kenapa rasanya dadnya sesak dan sulit untuk bernafas, tapi Ari tidak gentar untuk terus berlari keluar dari tempat itu.
"Kos kosan ini aneh aku harus cepat pergi.. Aaaaahhh... " ucap Ari saat kakinya tertusuk panah dan saat berbalik ternyata laki² yang tadi menghadangnya sedang mengarahkan panah lagi ke arahnya.
Ari tetap Berjalan sambil menghindari tembakan panah dari laki² itu darhnya mengalir sangat deras membuat jalanan terpenuhi dengan darahnya, kini jalannya pun susah jadi sulit untuknya berlari dan hanya bisa bersembunyi lalu ber jalan menjauh.
Bbbrrruuuukkkk...
Kini Ari terjatuh di atas tanah kakinya seperti mati rasa mungkin panah tadi sudab di lumuri racun oleh laki² yang menembakkan anak panah kepadanya tadi jadi kakinya sulit untuk bergerak pandangannya kini semakin buram dan semakin redup tidak ada alagi hal yang bisa di lakilukannya selain pasrah karna rasanya kini badannya pun sudah sulit untuk bergerak nafasnya ter pompa dengan cepat jantuk berdegup kencang dan yang paling utama dia melihat orang berjalan ke arahnya dan Aripun pingsan.
Ciitt.. Ciittt.. cciitt...
Bunyi burung membangunkan Ari dari tidurnya, Ari mengerjimpak matanya mengumpulkan nyawanya saat merasa sudah siap untuk bangau dia teriangat lagi dengan peristiwa kemarin malam dan.
"Ken.. kenapa.. kenapa aku ada di kuburan dan.. makam siapa ini" ucap Ari dia sekarang sedang tertidur di makam.