Sekarang aku mengerti arti dari cinta yang sebenarnya. Tapi sepertinya semua itu sudah terlambat.
💓💓💓
Hari ini adalah tanggal 14 Februari. Benar ... ini adalah Hari Valentine. Hari dimana para pasangan akan saling menunjukan kasih sayang.
Seorang gadis remaja berparas cantik dengan tas selempang sedang duduk melamun di halaman depan rumahnya. Terlihat dia seperti sedang menunggu seseorang. Sesekali dia membuka ponselnya untuk mendapat kepastian.
“Huhh ... sebenarnya, dia jadi mengajakku jalan-jalan tidak, sih?" ucapnya geram. Dia adalah Tsukira Ai, seorang gadis berparas cantik dan pintar.
Ai memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dengan kasar. Raut wajahnya terlihat sangat kesal. Tiba-tiba saja, terdengar suara langkah kaki mulai mendekati Ai. Dari balik gelapnya malam, muncul seorang laki-laki tampan mengenakan baju yang serasi dengan Ai.
“Halo, Ai! Maaf aku terlambat," ujarnya sambil meringis seolah merasa tak bersalah.
Namun, ekspresi laki-laki remaja itu langsung berubah seketika saat melihat Ai menundukan kepalanya. Ai mengepalkan tangan, menandakan bahwa dia benar-benar marah. Laki-laki itu meneguk salivanya karena dia tahu bahwa dia pasti akan terkena masalah.
“Rey ...." Ai memanggil nama laki-laki itu yang ternyata bernama Rey—dengan lirih.
“I-iya. A-ada apa, Ai?" Tubuh Rey terlihat gemetaran.
Gadis itu merubah posisi wajahnya yang semula menunduk menjadi menatap Rey. Kini, Rey dapat melihat raut wajah kekasihnya itu.
Rey Ozora namanya. Remaja tampan ini adalah seorang pemain sepak bola handal. Dia sangat mahir dalam mengolah si kulit bundar di lapangan. Tak heran jika banyak kaum hawa yang mengidolakannya.
“Hmm ... KAU PURA-PURA TIDAK TAHU ATAU BAGAIMANA?! KENAPA KAMU TERLAMBAT?!" Ai melepaskan sebuah jeweran ke arah telinga Rey.
“Awww ... Ai, sakit ...." Rey meringis kesakitan.
“Rasakan itu. Kamu harus menanggung kesalahanmu. Aku sudah menunggu lama tahu!" Ai mengencangkan jewerannya.
“Awww ... iya iya ... aku minta maaf."
Setelah mendengar ucapan minta maaf Rey, Ai pun melepaskan jewerannya tersebut.
“Lain kali jangan terlambat!" ujar Ai dengan tatapan serius.
“Iya." Rey memegangi telinganya yang terlihat memerah. “Kalau begitu, ayo berangkat sekarang!" ajaknya.
“Hmm ... baikah. Tapi aku ambil tas dulu, ya," ucap gadis kelahiran Kota Osaka itu—kemudian berbalik untuk mengambil tasnya.
“Ayo!" Setelah mengambil tasnya, Ai pun langsung berjalan. Namun anehnya, Rey tidak.
Ai menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rey. “Hei, kenapa kamu diam di situ?!"
Rey menghela napas, “Kita sepasang kekasih, 'kan? Harusnya kita berjalan sambil bergandengan tangan," ujar Rey.
“Apa?"
Rey berlari menghampiri Ai. Tanpa memberi peringatan, tiba-tiba saja Rey langsung mengenggam tangan gadis itu.
“Nah begini, ayo!" Rey langsung menarik tangan Ai. Gadis mungil itu pun hanya bisa pasrah.
Mereka berdua berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Bulan bersinar terang seolah ingin menemani pasangan kekasih itu. Setelah cukup lama mereka melakukan perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di sebuah taman yang ramai dipadati oleh pasangan kekasih. Ada yang saling suap-suapan coklat. Ada pula yang melamar pasangannya.
Semua pasangan di sini terlihat sangat romantis. Akan tetapi, Rey tampak tidak membawa apa-apa-apa.
“Hey, Ai. Tunggu sebentar, ya! Aku akan kembali." Rey berlari meninggalkan Ai entah kemana.
“Rey ... tung—" Belum selesai Ai berbicara, Rey sudah terlanjur pergi. “Huh ... kenapa dia malah pergi?!" umpat Ai lirih.
Ai pun memutuskan untuk duduk di kursi taman sambil menunggu Rey. Pasangan kekasih yang romantis berlalu lalang di depan Ai. Hal itu jelas membuat Ai kesal. Karena dia memiliki kekasih yang tidak romantis dan terkesan ceroboh.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Rey kembali. Dia menyembunyikan kedua tangannya di belakang. Sepertinya, dia sedang membawa kejutan untuk Ai.
Rey lalu duduk bersimpuh dan kemudian menunjukan benda yang tadi dia sembunyikan. Ternyata, itu adalah setangkai bunga mawar. Bebarapa bagian kelopak mawar itu terlihat sudah hilang.
“Happy Valentine, Ai-chan," ucap Rey sambil tersenyum ramah.
Namun, Ai tidak tampak senang sama sekali. Dia malah terlihat sangat marah.
“Kenapa kamu tidak romantis sama sekali, sih?! Ah sudahlah." Ai beranjak dari bangku taman dan kemudian berlari meninggalkan Rey.
“Ai, tunggu!" teriak Rey berusaha menghentikan Ai, tapi sepertinya ... hal itu sia-sia saja.
Ai berjalan pulang dengan rasa kecewa yang amat sangat besar. “Kenapa dia selalu begini? Aku hanya ingin dia romantis meski hari ini saja. Tapi kenapa dia tetap sama saja?"
Ai mempercepat laju jalannya agar bisa meninggalkan Rey.
Namun tanpa diduga, seseorang serba hitam—menghalangi jalan Ai. Gadis itu pun berhenti melangkah seketika.
“Si-siapa kamu?!" bentak Ai meski sebenarnya dia ketakutan.
Satu orang dari mereka maju dan berjalan mendekati Ai. Pria itu lalu mendongakan dagu Ai seraya berkata, “Masih berpura-pura, ya."
“Apa maksudmu?!" Ai masih tidak mengerti maksud pria misterius itu.
Dia menyeringai, seraya berkata, “Aku adalah Alex Agry, raja para vampir."
Di saat yang bersamaan, Rey menghentikan langkahnya. Mendadak mata Rey membola saat melihat Alex.
“Ah ternyata kau di sana, Adik kecil. Sebentar lagi kau akan mendapatkan keadilanmu. Tenang saja!" ujar Alex sambil tersenyum tipis kepada Rey.
“Tunggu ... ADIK?!" Ai kaget saat mendengar laki-laki itu memanggil Rey dengan sebutan adik.
Alex kemudian menyeringai, menampakan gigi taringnya. Tiba-tiba matanya berubah menjadi merah darah. Ai yang berdiri di hadapannya pun menjadi takut.
”Kau akan mendapatkan balasan karena telah menyakiti adikku!" Alex berlari dan melesatkan sebuah cakaran ke arah wajah Ai, akan tetapi tanpa diduga seseorang menangkis cakaran tersebut. Dia tak lain dan tak bukan adalah Rey.
“Dik, apa yang kau lakukan?! Cepat menyingkir, aku akan memberi manusia jahat ini pelajaran."
“Kak, sudahlah. Ini adalah urusanku. Kakak tidak perlu ikut campur," ujar Rey dan lalu melepaskan sebuah pukulan hingga membuat Alex terpental ke belakang.
“Hosh ... hosh ... kenapa kamu malah memihak perempuan ini, ha? Bukankah dia telah menyakitimu?"
Rey menghela napas. “Dia sama sekali tidak menyakitiku. Semua ini adalah salahku yang selalu ceroboh dan tidak pengertian." Rey membantah dan masih melindungi Ai.
Ai memandangi Rey dengan mata berkaca-kaca. Dia terharu dengan Rey yang masih melindunginya.
“Hhh ... inilah alasan kenapa aku selalu melarangmu untuk berhubungan dengan manusia apalagi perempuan. Kau pasti akan menjadi lemah." Alex kembali berdiri. “Sekali lagi aku perintahkan kamu untuk minggir, jika kamu masih membantah, maka aku terpaksa harus mengalahkanmu," imbuh Alex—mengancam Rey.
Namun ancaman sang kakak tidak berhasil membuat laki-laki keturunan kerajaan vampir itu ketakutan. “Aku tidak akan pernah pergi dari sini. Jika kau menginginkannya, maka kau harus melewati aku dulu," ujar Rey dengan wajah kesal.
“Wah ... wah ... wah ... adikku sekarang sudah berani menentang. Bagus, tapi ingatlah, kau tak akan bisa mengalahkanku," kata Alex.
“Tck ... jangan banyak omong!" Rey berlari maju dan menyerang Alex. Berbagai serangan dilepaskan oleh Rey, mulai dari tendangan, pukulan, hingga cakaran. Tapi sayangnya, Alex mampu menangkis mentah-mentah semua serangan adik laki-lakinya itu.
“Hanya ini kemampuanmu?" Alex meremehkan Rey.
“Hosh ... hosh ... masih belum." Mata Rey berubah menjadi merah darah. “Rasakan ini!" Rey memukul wajah Alex hingga terpelanting di udara.
Serangan Rey tidak berhenti di situ. Dia melompat dan menghampiri tubuh kakaknya. Rey kemudian melepaskan sebuah pukulan ke arah Alex lagi.
Brukkk!!
Tubuh Alex terbanting ke tanah. Sementara Rey perlahan mulai turun dari langit. Tidak ada tanda-tanda pergerakan Alex. Sepertinya, pertarungan ini telah berakhir.
Namun, tanpa diduga-duga, dari balik debu tanah, Alex melompat dan memukul perut sang adik. Pukulan Alex berhasil menembus perut Rey. Darah Rey terlihat berceceran dimana-mana.
“Rey ...!" teriak Ai saat melihat perut Rey sudah bolong karena tinju yang dilepaskan oleh Alex.
“Sudah kubilang, kamu tidak akan bisa mengalahkanku," lirih Alex.
Pandangan mata Rey mulai kabur. Namun, dia masih belum menyerah. Rey mengeluarkan pisau dari sakunya dan kemudian menikam perut kakaknya.
”Ughh ...." Alex merasakan sakit saat Rey menancapkan pisau di perutnya.
Akhirnya, mereka berdua pun tumbang dan tergeletak tak berdaya di tanah. Ai bergegas menghampiri Rey yang kini tengah sekarat.
“Rey!" Ai menempatkan Rey dalam pangkuannya.
Rey membuka matanya dan menatap wajah Ai.
“Ai ... a-aku benar-benar minta maaf. Aku selalu ceroboh, lambat, tidak bisa diandalkan, dan selalu menyusahkanmu. Aku minta maaf karena tidak memberi tahu identitasku," ucap Rey dengan terbata-bata.
“Tidak ... harusnya aku yang minta maaf, Rey. Aku selalu memarahimu dan tidak menghargaimu. Aku selalu berpikir bahwa pasangan romantis adalah pasangan yang memberikan hadiah-hadiah bagus. Namun setelah melihatmu tadi, aku memahami arti dari pasangan sebenarnya. Jadi, aku mohon, tetaplah bersamaku. Tak peduli kau vampir atau apapun, aku ingin selalu bersamamu." Ai tak bisa membendung tangisnya.
Rey mengangkat tangannya dan mengusap air mata Ai. “Terima kasih, Ai. Tapi maaf, aku tidak bisa bersamamu. Meski begitu, cintaku akan selalu ada untukmu. Ai-shiteiru." Sesaat setelah mengucapkan hal itu, tangan Rey langsung jatuh ke tanah. Dia menutup mata sambil tersenyum.
“Rey ... bangun, Rey!" Ai menepuk pelan pipi Rey, berharap dia akan kembali bangun. Namun, semua sudah terlambat.
—Tamat—