Aku memasuki kelas yang sudah sepi, tatapan ku beralih pada sebuah tas yang tergantung di dinding dekat papan tulis. Mataku mulai berair dan aku menunduk sedih, ya inilah yang aku terima sejak aku bersekolah di sekolah umum dan bukan sekolah khusus penyandang cacat seminggu lalu.
Setiap hari aku selalu menjadi bahan usilan teman teman sekelas. Saat pelajaran computer selesai mereka selalu berlari berlomba menuju kelas hanya untuk mengerjai ku. Aku tidak pernah mengadu pada ibu karena pasti ia akan sedih dan aku tidak bisa mengadu pada guru, mereka pasti akan menyalahkan ibu karena menyekolahkan aku di tempat biasa bukan di tempat khusus.
Aku menunduk sedih dan menghela nafas panjang namun tiba-tiba wajah ku terangkat ketika seseorang menepuk pundak ku dan berkata “hai”. Aku menoleh dan melihat wajah yang tampan itu tersenyum.
“belum pulang?” tanya nya dan aku bisa langsung mengenali saat pertama melihat bahwa ia adalah ketua osis di sekolah ini.
Aku menggeleng untuk menjawab bahwa aku belum pulang.
“maaf atas perlakuan teman-teman ku” ucap nya lalu tersenyum pada ku.
“tidak apa-apa” aku menggerakan jari ku dan berharap ia mengerti apa yang aku maksud.
“aku hary” ia menjabat tangan ku dengan bibir terus tersenyum.
Aku sempat kaget dan dada ku kini mulai bertingkah aneh. Ada rasa sesak seperti sesak nafas tapi juga ada rasa nyeri yang entah berasal dari mana. Ini pertama kalinya aku merasakan rasa yang aneh sejak aku bersekolah di sma ini.
“akan aku bantu untuk mengambil tas mu, anak-anak memang sangat keterlaluan” gerutu nya dan itu tidak lepas dari pandangan ku.
“bagaimana kamu tahu?, kamu tidak sekelas dengan ku dan bukan kah kamu ketua osis disini” aku bertanya padanya dengan jemari yang bergerak jelas.
“aku tahu, dan kalau kamu bertanya bagaimana aku tahu aku tidak akan memberi tahu mu” jawab nya seraya tersenyum jahil.
“bagaimana kamu tahu apa yang aku maksud?, apa kamu mengerti bahasa ku?” tanya ku
“aku tahu karena aku belajar” jawab nya lagi
Aku tersenyum kecil, sekarang aku benar-benar beruntung karena di sekolah ini masih ada orang yang bisa mengerti bahasa ku dan memperlakukan aku dengan baik.
—
Aku terus tersenyum di dalam kamar, ibu membuka pintu dan mengajak ku untuk makan bersama. Dengan sekilas ibu sudah menebak apa yang sedang aku rasakan.
“apa kamu sedang merasa senang?” tanya nya lembut
“ibu, aku mau cerita”
“cerita apa, ibu akan mendengarkan kamu”
“saat di sekolah tadi, aku berkenalan dengan kakak senior ku dan dia bisa mengerti apa yang aku katakan.” cerita ku penuh semangat
“apa ia mengerti bahasa isyarat?”
Aku mengangguk dan terus tersenyum.
“apa kamu menyukai nya?” tanya ibu penasaran.
Wajah ku langsung murung. Suka? Perempuan mana yang tidak menyukai laki-laki tampan seperti dirinya apalagi dia sangat ramah tapi pertanyaan nya apakah dia juga menyukai ku? Gadis yang tidak bisa berbicara seperti ku? Inilah yang membuat aku menjadi murung.
“tuhan itu menciptakan manusia dengan sangat sempurna, yang membedakan manusia satu dengan yang lain nya ya manusia itu sendiri. Kalau kamu merasa kurang sempurna itu berarti kamu tidak mempercayai tuhan jadi jangan pernah merasa kamu berbeda.” ucap ibu memberi nasihat.
Aku tersenyum dan ibu membalas senyum ku dengan senyum kedamaian. Aku mengerti sekarang dan aku merasa aku sama dengan yang lain nya. Aku memeluk ibu dan mengucapkan terima kasih, ibu mengangguk mengerti dan balas memeluk ku erat.
—
Hari berganti dan aku semakin dekat dengan hary. Kami sering mengobrol sepulang sekolah di taman belakang dekat kantin. Aku selalu menunggu saat jam sekolah usai agar aku bisa mengobrol dan bercanda dengan nya. Hari ku berubah semenjak aku bertemu dengan nya dan setiap hari aku selalu tersenyum bahagia.
“jika aku menatap langit, disana di satu tempat di langit sana. Ada ayah yang juga pasti tersenyum karena aku telah mengenal orang yang baik yang bisa membuat aku tersenyum bahagia.” suara hati ku pada langit siang ini.
Aku masih menunggu di bangku taman belakang sekolah, aku menggoyang goyang kan kaki tak sabar menunggu saat dia datang tapi ini sudah 1 jam aku menunggu nya dan tak ada tanda tanda sedikitpun akan kedatangan nya. Kemana dia? Apa dia sudah pulang? Atau mungkin dia sedang sibuk?
Ingatan ku kembali pada saat jam istirahat tadi. Aku melihat nya tersenyum dan tertawa senang begitu seorang teman perempuan nya berbicara padanya. Apa dia sudah memiliki pacar?, apa aku selama ini yang terlalu percaya diri kalau dia menyukai ku?, ya wajar jika ia memiliki pacar, wajah nya tampan, dia ketua osis dan yang paling penting dia pintar jadi sah sah saja jika ia memiliki pacar dan teman nya tadi juga cantik.
Perasaan ku semakin tidak karuan, kepalaku terisi penuh pertanyaan pertanyaan yang membuat dadaku menjadi tidak enak. Aku mulai bertingkah tidak normal, aku menghentakan kaki dengan kesal dan menoleh ke kanan dan kiri dengan harapan dia ada tapi ternyata dia tidak juga muncul.
Terpaksa aku pulang dengan wajah lesu, ku langkahkan kaki dengan berat dan sesekali aku menengok ke belakang berharap dia mengikuti ku tapi sampai aku sudah menjauh dari sekolah pun dia tidak muncul juga. Aku menunduk lesu dan kembali berjalan pulang.
Langit berubah gelap dan beberapa kali suara petir kecil terdengar. Aku tidak peduli dengan suara petir itu besar atau kecil yang jelas saat ini aku benar-benar kesal dan untuk pertama kali nya aku memaki seseorang yaitu dia.
“aku tahu aku tidak sempurna, aku tahu itu! Tapi aku juga manusia yang juga bisa menyukai manusia lain nya seperti mu tapi hari ini aku menyadari mungkin kamu hanya baik pada teman yang terlihat menyedihkan seperti ku!, aku benci kamu! Aku benci keadaan ini!, dan aku benci semua nya!!” maki ku
Hujan turun dan marah ku semakin besar, aku berlari dengan kesal menuju pohon besar di ujung jalan dekat perempatan jalan raya. Aku terpaksa berteduh karena baju ku sudah basah semua.
Angin semakin kencang dan hujan pun semakin deras, aku mulai kedinginan dan seketika aku menggigil, ku peluk erat tas ku agar aku tidak kedinginan tapi bibir ku terus bergetar menggigil.
Seseorang tiba-tiba datang saat aku dalam keadaan menggigil, ia memakai topi hitam dan baju putih. Tinggi orang ini sama seperti tinggi hary tapi aku hanya menatap sekilas dan tidak perduli.
Ia mengeluarkan jaket di dalam tas nya dan memakaikan jaket itu pada ku. Aku menoleh terkejut dan ketika mata kita bertemu aku bisa mengatakan kalau orang ini benar-benar hary.
“maaf aku tidak bisa menemui mu tadi. Aku harus menyelesaikan rapat sebelum aku pulang.” ucap nya dengan nada penuh sesal.
“aku menunggu sangat lama, aku tidak mau menunggu mu lagi. Aku menyadari sesuatu yang salah disini” aku menunjuk dadaku dengan kesal
Hary sedikit bingung dan berkata “aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf dan ada apa dengan dada mu apa dada mu sakit?, apa kamu sedang tidak enak badan?”
Aku memejamkan mata menahan kesal, ternyata dia tidak mengerti maksud ku.
“aku mulai menyukai mu dan maaf karena aku menyukai mu dengan tidak bercermin siapa aku dan siapa kamu. Aku mulai memahami sesuatu kalau aku dan kamu hanya cocok sebagai teman baik, terima kasih karena sudah menjadi teman ku” aku mulai jujur dengan perasaan ku, ya aku mengakui kalau aku mulai menyukai nya.
Hary tersenyum manis dan menggenggam tangan ku erat. “aku tidak menyuruh mu bercermin, aku dan kamu sama tidak ada yang berbeda dan aku tidak menyalahkan mu kalau kamu mulai menyukai ku. Seperti ini, ini seperti kita lebih dari sekedar teman dan aku merasa ini yang paling baik” ucap nya dengan bibir terus tersenyum dan tangan nya menggenggam tangan ku dengan erat.
“maaf tapi aku tidak mau menjadi seseorang yang menyukai mu lalu kamu hanya tersenyum tanpa berkata sesuatu yang jelas. Aku menjaga hati ku agar aku tidak terlalu berharap dan berangan hingga saat aku menyadarinya hati ku akan sangat sakit” aku menggerakan jari jemari ku dengan serius.
“aku menyukai mu, ya aku juga menyukai mu. Aku mulai menyukai mu saat pertama kali kamu datang ke sekolah dan saat aku melihat kamu tersenyum. Sejak aku tahu kamu tidak bisa berbicara aku belajar keras tentang bahasa isyarat. Setiap hari aku mempelajari nya sampai saat aku memberanikan diri menemui mu dan membantu mu. Di sini aku juga menyukai mu dan jangan menyerah, ayo kita bergandengan tangan seperti ini” ucapnya lalu menarik tangan ku untuk kembali digenggam.
Aku tersenyum mendengar nya, dia pun sama. Kami berdua tersenyum menunggu hujan reda di bawah pohon besar dengan tangan saling menggenggam erat.
“cinta pertama ku di bawah pohon besar, di sini aku menjadikan pohon ini sebagai saksi bahwa seseorang seperti ku bisa memiliki cinta dan dicintai orang yang sempurna. Terima kasih tuhan, untuk semua keadaan hingga aku bertemu dengan nya sampai sekarang aku menggenggam tangan nya” suara hati ku
“aku tidak pernah berfikir bahwa aku akan memiliki pacar yang sempurna, pertama kali melihat nya aku merasa melihat hal yang berbeda, perbedaan tidak pernah buruk dan sekarang aku akan berkata bahwa perbedaan itu indah. Aku menerima banyak hal baru yang menyenang kan dan aku beruntung telah mengenal bahkan menggenggam tangan nya seperti ini” suara hati hary
Waktu terus berlalu, kami mejalani hari dengan biasa. Aku masih suka menunggu nya di taman belakang sekolah dan kami selalu pulang bersama. Kami tidak berfikir ada apa di hari esok, yang kami mau hanya kami menikmati setiap hari dengan baik dan senyum yang terus mengembang.
Terkadang tuhan menciptakan yang kamu sebut sebagai perbedaan tapi tahukah, tuhan tidak menciptakan perbedaan untuk membuat mu menangis dan bersedih. Tidak ada yang tidak mungkin dan itu terbukti pada ku sampai saat ini, aku dan dia tetap bergandeng tangan bersama dengan senyum bahagia di bibir kami.