Dinda adalah anak gadis tunggal dikeluarga Bimantoro. Kerjaan sehari-harinya hanyalah bermalas-malasan. Sampai suatu ketika, hari valentine tiba. Hari yang paling dibenci oleh Dinda.
Dan dihari itu, semua teman-teman sekolahnya berbagi kasih sayang. Saling memberi cokelat dan bunga mawar untuk sepasang kekasih yang berbahagia. Bahkan, para murid jomblo yang lain mengikuti acara itu dengan mengacau yang pacaran disekolah.
Ketika Dinda asik dengan hape nya di bangku paling ujung, yang biasanya tempat anak-anak nakal hobi berkumpul. Sebuah kotak tiba-tiba terlempar ke hadapan Dinda. Membuat gadis itu berteriak kaget sangking terkejutnya. Matanya menelisik ke arah kotak berbentuk hati itu. Sepetinya sebuah cokelat, pikir Dinda.
Dia memilih mengabaikan kotak itu. Barang kali milik orang lain, dan Dinda tak mau ikut campur. Namun, keadaan hening yang melanda sekitarnya membuat bulu kuduk Dinda mulai meremang. Hembusan angin yang menerpa kulitnya membuat dia merinding. Berusaha untuk menghiraukan, dia tetap fokus pada hapenya.
Tiba-tiba jendela kaca disampingnya diketuk, diiringi dengan jatuhnya sebuah buku yang terletak di meja samping Dinda. Gadis itu mulai penasaran, jantungnya sudah berdebar tak karuan. Akhirnya, dia memilih mendongak. Mencari tau siapa yang sudah bertingkah usil.
Namun ruangan kosong yang sunyi menjadi pemandangan pertama untuknya. Gadis itu langsung berdiri sangking terkejutnya. "Hallo? Apa ada orang?" Tanyanya berusaha tenang
Wush
Hembusan angin yang seolah berlari dibelakangnya membuat Dinda menoleh ke belakang, diiringi suara pintu yang tertutup dengan kencang. Dinda mulai dilanda kepanikan dan ketakutan yang luar biasa.
"Jangan bermain-main! Aku tak duka diganggu!" Teriak Dinda. Gadis itu hendak berlari ke arah pintu. Namun sebuah kotak yang tiba-tiba terlempar ke arahnya membuat gadis itu termundur kebelakang sangking kagetnya. "K-kotak itu?" Ujarnya terbata
Brak
Jatuhnya barang-barang yang terletak diatas meja guru memberikan sensasi menyeramkan kembali untuk Dinda. Dan sebuah bayangan hitam tiba-tiba berlari melewati jendela kaca transparan hingga gorden berwarna putih itu terbang melayang-layang. "Siapa itu?"
Mencoba menahan ketakutannya, Dinda mendekati gorden itu. Dia menyibaknya dengan asal. Namun tak ada siapapun. Merasakan semilir angin berhembus dibelakangnya Dinda menoleh ke belakang. Kotak itu lagi.
Dinda yang sudah penasaran untuk tau siapa yang sedang mengusilinya akhirnya mendekati kotak berbentuk love itu. Barangkali disana ada petunjuk. Jantungnya sudah berdebar kencang, harumnya aroma bunga mawar tiba-tiba menyeruak di indra penciumannya.
Dinda tetap fokus. Mencoba membuka kotak yang menjadi awal dari permainan ini.
Klik
Ketika kotak itu terbuka, Dinda begitu terkejut.
Kelopak bunga mawar tiba-tiba berjatuhan dari atas mengenai kepalanya, bungkusan-bungkusan cokelat ikut terlempar dari sekelilingnya kepada Dinda.
"Happy Valentine days sayang!" Teriak beberapa orang
Dinda menatap mereka dengan datar, sudah ku duga! Pasti keusilan mereka. Pikir Dinda
"Kalian tau. Aku paling tidak suka dipermainkan." ujar Dinda yang segera berdiri
"Sayang, Papa ada kejutan untukmu" ujar Adi-Papa Dinda
"Aku tak peduli." Dinda tetap melanjutkan langkahnya.
Namun ketika hendak keluar dari pintu, seseorang menabraknya dengan keras. Hingga membuat Dinda terjatuh. Gadis itu memejamkan mata, kesal setengah mati pada semua orang disini.
"Happy Valentine days. Bisakah kita berpacaran? Aku sudah menyukai mu sejak lama" suara teduh itu berhasil membuat Dinda membuka matanya.
"Kamu." Dinda sangat terkejut. Mulutnya terbuka lebar, berusaha mencerna semua ini.
"Ya, aku." Lelaki berwajah tampan itu tersenyum manis. "Aku yang akan membuat mu merasakan indahnya kisah percintaan"
"Maaf atas kesan sedikit horor tadi" lanjutnya
"Aku tak bisa" Dinda akhirnya kembali berlari pergi. Diiringi teriakan para orang-orang disana yang menyayangkan jawaban Dinda.
"Maaf," Gadis itu berteriak kala merasa telah menyakiti hati seseorang. Namun apadaya, dia memiliki banyak kenangan pahit ketika hari Valentine.
Dan akhirnya, Dinda tetap tak bisa menerima hari Valentine. Kebencian yang tersimpan dalam dirinya begitu besar. Waktu dimana Mamanya tertembak di hari Valentine selalu terngiang-ngiang dikepalanya.