Ada yang bilang cinta itu pilihan. Pilihan untuk lebih dicintai atau lebih mencintai. Dalam suatu hubungan tidak mungkin ada yang memiliki kadar cinta yang sama besar.
Ajeng sedang galau dan gundah. Dia dilema dengan pilihan antara berbalik memilih hati yang sudah lama menunggunya ataukah tetap menunggu hati yang ia inginkan. Jujur, Ajeng sudah merasa lelah menanti sesuatu yang tak pasti. Apa kabar Satya yang menyukainya lebih dulu sebelum Ajeng menyukai Bayu. Satya yang berjuang terlebih dahulu sebelum Ajeng memperjuangkan cinta Bayu. Padahal mungkin saja ada waktu dimana Satya diperjuangkan orang lain. Ajeng menghela napas panjang.
“Kalau aku menolaknya, apa aku nggak bakal menyesal nanti?” batin Ajeng
Satya bukanlah jenis laki-laki yang membuat il-feel perempuan. Satya termasuk menawan, baik, dan perhatian, yang tentunya banyak perempuan yang menyukainya di kantor ini. Setelah berpikir panjang Ajeng memutuskan untuk menyatakan cintanya yang terakhir kepada Bayu, jika dia ditolak lagi dia akan membuka hati dan berusaha mencintai Satya.
Ya, Ajeng sudah di tolak berkali-kali oleh Bayu seperti Ajeng menolak Satya berkali-kali. Kata orang ini yang sering di sebut karma.
“Bayu,” ucap Ajeng mengawali percakapan di rooftop kantor.
“Apa lagi sih, Ajeng?” tanya Bayu jutek.
“Aku tanya untuk terakhir kali. Apa kamu nggak ada niat sama sekali buka hatimu untuk aku?” Ajeng menatap mata Bayu.
Bayu menghela nafas.
“Jawaban aku tetap sama seperti sebelumnya. Maaf Ajeng aku sama sekali nggak punya perasaan sama kamu. Dan aku harap kamu nggak akan ngajak aku kesini lagi cuman untuk nanyain hal-hal nggak penting. Tolong lah jangan kayak anak kecil, Ajeng. Jangan bikin hal kayak begini mempengaruhi suasana kerja kita di kantor ini, Oke!”
“Apa alasannya kamu nggak bisa suka sama aku? Aku perlu tahu.”
“Suka sama seseorang itu nggak butuh alasan, begitu pula dengan benci sama seseorang. Aku nggak suka aja sama kamu. Titik! Nggak ada alasan lain.” Bayu berjalan pergi tanpa menunggu respon Ajeng. Mungkin karena dia sudah terbiasa melihat respon Ajeng saat dia tolak.
“Tunggu Bay!” teriak Ajeng.
Langkah Bayu seketika berhenti. Ia memutar kepala tanpa di suruh.
“Apalagi? Apa omonganku kurang jelas? apa perlu kali ini aku berkata kasar padamu supaya kamu mengerti?”
“Dengar aku baik-baik, Bay. Ini terakhir kalinya aku nembak kamu. Dan mulai detik ini meskipun di dunia ini laki-laki yang tersisa cuma kamu. Aku bersumpah lebih memilih jomblo daripada sama kamu! Bahkan meskipun kamu suka sama aku, berjuang mati-matian buat dapetin aku. Aku nggak bakal suka sama kamu. Aku nggak akan mau sama kamu. Mulai saat ini, aku berhenti suka sama kamu! Jadi izinkan aku pergi duluan! karna aku juga ingin merasakan gimana rasanya ninggalin kamu duluan di sini!”
“Okay, silahkan!” sahut Bayu setelah terdiam beberapa saat mencerna kalimat Ajeng.
Ajeng pergi dari rooftop tanpa melihat Bayu sama sekali.
Esok harinya pagi pagi kantor dihebohkan dengan penampakan Satya dan Ajeng keluar dari mobil Satya. Satya mengantarkan Ajeng sampai di depan ruangannya. Pemandangan itu tak luput dari pandangan Bayu yang sudah berada di kantor.
“Nanti kita pulang bareng kan?” tanya Satya pada Ajeng.
“Ya.”
“Ya udah nanti aku tunggu di lobi kantor. Aku mau ke ruanganku dulu ya,” Satya tersenyum.
Ajeng duduk di mejanya di iringi kerumunan temen-teman perempuan seruangannya yang sudah penasaran.
“Wow wow kalian sekarang pacaran? Serius?" tanya salah satu diantara mereka.
“Iya,” jawab Ajeng dengan melirik kearah meja di sebelahnya yang tak lain adalah meja Bayu.
Ya, Ajeng dan Bayu satu divisi, yakni divisi marketing. Bayu advertising supervisor dan Ajeng project coordinator.
“Sejak kapan? sejak kapan?” Heboh salah seorang lain dari kerumunan itu.
“Kemarin.” jawab Ajeng datar.
“Ada apa itu pada gerombolan?! Ayo duduk di tempat kalian! Kerja kerja! Pagi-pagi sudah gibah. Dosa!” tegur Pak Ghani Kepala HRD menyelamatkan Ajeng dari segerombolan orang-orang kepo.
“Kamu segitunya pengen pacaran?” tanya Bayu dengan masih memandang laptopnya.
“Emang apa urusannya sama kamu?”ketus Ajeng
"Kasian aja sama pacar kamu, cuma jadi pelampiasan.” Bayu tersenyum miring seolah mengejek.
“Tenang aja, aku akan berusaha suka sama dia layaknya aku suka sama kamu dulu! Aku nggak sejahat itu mainin hati orang. Karena aku tahu betul gimana sakitnya disakitin sama seseorang.” balas Ajeng sambil tersenyum manis.
Bulan mulai berganti, Ajeng dan Satya semakin dekat dan Bayu semakin terlupakan. Bahkan hari ini akhirnya Ajeng berhasil pindah meja. Iming-iming light stick blackpink hati Tio luluh dan mau bertukar meja. Saat Ajeng sedang mengemasi barang-barangnya tanpa disangka Bayu berdiri di depan perempuan itu.
"Segitunya nggak bisa move on dari aku? kamu bahkan sampai pindah meja."
Ajeng memandang Bayu tanpa ekspresi, tatapannya dingin. Dia berdiri dan menarik Bayu keluar ruangan dan menghempaskan tangan laki-laki itu sesampainya di rooftop kantor.
“Nggak bisa ngomong pelan-pelan? Ini kantor bukan hutan dan kamu bukan mahluk primitif. Nggak cukup kamu nolak aku berkali-kali? Dan sekarang kamu pengen seluruh kantor tahu aku suka sama kamu? Gitu?" Ajeng menyilangkan tangan didadanya. Nafasnya menderu menahan amarah.
“Aku nggak suka ada Tio disebelahku. Dia itu freak. Kamu tahu aku orang yang suka ketenangan kalau lagi kerja."
“Kamu memang egois! Kamu cuma mikirin diri kamu sendiri? Kamu nggak mikirin perasaan aku sama sekali.”
“Kenapa kamu marah? Bukannya kamu udah pacaran sama Satya dan berusaha buat suka sama dia? Ya udah, terus kenapa sewot sama kata-kata ku?”
“Aku memang belum bisa move on dari kamu. Dan aku juga nggak mau ngecewain Satya. Karena itu aku pindah. Karena aku sulit move on dari kamu! Puas?”
“Kamu nggak bisa gitu nahan perasaanmu?" tanya Satya.
“Kenapa?”
“Kalau kamu nggak mau balik ke meja mu, aku bakal ngomong sama Satya. Kalau kalian pacaran tepat setelah aku nolak kamu.”
“Kamu keterlaluan Bay! Kamu benar-benar jahat!”
“Maka dari itu kemasi barang kamu dan kembalilah duduk di sebelahku. Ayo, kita jangan lama-lama disini."
“Nggak! Aku tetap pindah! Apa bedanya aku sama Tio? Bukannya kalau dia diam dan nggak ganggu kamu itu cukup? Apa yang jadi masalah? Kenapa harus aku yang disebelah kamu?”
“Aku nggak biasa dan aku nggak bisa konsen. Aku butuh waktu adaptasi sama yang lain tapi aku nggak ada waktu buat adaptasi."
“Kamu nggak suka sama aku kan?”
“Ya enggaklah!”
“Kalau kamu kayak gini terus aku bakal mikir kamu suka sama aku, karena itu aku akan ngomong sama Tio untuk diam dan nggak ganggu kamu. Oke!” Ajeng pergi begitu saja meninggalkan Bayu yang menghela napas panjang.
Dan benar saja, Bayu kehilangan fokus pada pekerjaannya. Padahal Tio tidak melakukan hal aneh-aneh. Bahkan Bayu tak mendengar suara Tio sedikitpun. Tetapi tetap ia tak bisa fokus mengerjakan laporannya. Dia terus saja melihat kearah meja Ajeng. Mungkin ini karena kebiasaan Bayu melirik Ajeng di sela-sela ia bekerja. Meja mereka sekarang terpisah cukup jauh jadi butuh perjuangan bagi Bayu untuk melihat Ajeng. Sesekali tertutup oleh karyawan lain yang mondar mandir, mengakibatkan Bayu tak bisa fokus hingga jam makan siang tiba. Bayu frustasi. Bayu juga tak ada kesempatan lagi untuk bicara pada Ajeng karena perempuan itu selalu pergi karena mengerjakan proyek barunya.
Pulang kerja pun begitu, Satya akan langsung datang ke ruangan Ajeng untuk mengajaknya pulang. Melihat mereka berdua pergi bersama membuat Bayu merasakan sesuatu yang aneh. Dan semakin hari Bayu semakin merasa ada sesuatu yang hilang seiring menjauhnya Ajeng dari kesehariannya, yang membuat Bayu bertanya-tanya pada diri sendiri. Mungkinkah dia menyukai Ajeng sekarang?
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @itsme_assyh untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤