[Dear diary.. aku masih menyimpan rindu dan perasaan yang sama padanya. aku melihat senyumnya yang begitu indah dimimpiku. inginku sentuh wajahnya dari dekat. tapi tanganku tak mampu. aku memendam rasa ini tanpa orang lain tahu. aku menyukainya. tapi sulit untuk bersanding dengannya. kapan kepura-puraan ini akan terus berlanjut??? hanyalah waktu yang bisa menjawab.
love you Tama]
Sebelum tidur Nadin selalu menulis buku diarinya terlebih dahulu. Nadin menyukai Tama sejak SMP. Tapi dia tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepada Tama.
Sudah 5 tahun Nadin tidak pernah bertemu Tama lagi karena Tama bekerja diluar kota. Terakhir bertemu pun waktu perpisahan SMA. Itu adalah kesempatan terakhir nadin mengatakan perasaannya, namun kenyataan pahit yang dia dapat. Tama menyatakan cintanya pada Nita, teman nadin. Teman sebangku Nadin, yang ia anggap dekat, yang selalu ia ajak curhat. Tapi nita malah menusuk dari belakang. Sungguh teman yang tak punya hati nurani.
****
Hari ini adalah hari diadakannya reuni SMA Nadin. Dia sebenarnya tidak ingin menghadirinya, tapi karena paksaan dari teman-temannya akirnya Nadin pun mau.
Nadin bukan gadis culun seperti dulu lagi. Dia berubah menjadi cantik dan modis. tentu saja karena termotivasi pas waktu patah hati dulu, jadi dia berubah total.
Nadin berangkat menuju gedung reuni. Dengan dandanan yang cantik, gaun yang indah, sepatu hak tinggi serta rambut yang lurus sepinggang membuat penampilannya terlihat sempurna.
Sesampainya didepan gedung dia bertemu seseorang yang amat sangat tidak ingin dia temui. Siapa lagi kalau bukan Nita. Penampilan Nita sama saja persis seperti 5 tahun lalu. Pura-pura polos tapi menusuk dari belakang.
"hai..!!! Nadin ya....??? beneran ini Nadin??" sapa Nita.
"hai.,. iya. kenapa? apa lupa wajahku??" jawab Nadin datar.
" em... nggak sih. cuma nggak percaya aja kok berubah ya?? " ucap Nita.
" oh.. emang...!, maaf permisi..." Nadin berlalu pergi meninggalkan Nita.
Nita melirik sinis kepada Nadin. Dia tidak menyangka Nadin bisa secantik itu.
Di dalam ruangan Nadin bertemu teman-teman sekelasnya. Tapi matanya berputar memperhatikan sekeliling berharap dia bisa melihat Tama.
Hari ini Nadin berniat mengungkapkan isi hatinya yang terpendam begitu lama kepada Tama. Dia tidak perduli apa pendapat semua orang. Nadin sudah tidak bisa lagi membendung perasaannya.
Tak lama kemudian seseorang datang melewati pintu masuk. Suara langkah kakinya membuat jantung Nadin berdegup kencang. Nadin berbalik badan, dan.... benar saja itu adalah Tama.
Tama semakin tampan dan mempesona. Senyumnya yang menawan membuat semua gadis tergila-gila padanya. Hidungnya yang mancung, rambutnya yang hitam, serta badan yang tinggi dan atletis membuat kharismanya bertambah.
Semua orang memperhatikan kedatangan Tama. Tak terkecuali Nadin. Dia sampai tak berkedip melihat Tama. Rasa rindu yang dalam seakan terobati seketika.
Tama berjalan menuju ke arah Nadin.
Thokkkkkkk...... Tama menggetuk kening Nadin dengan kedua jarinya.
"au..... sakit......." Nadin kaget dan bangun dari lamunannya.
" hai nona.... air liurmu netes tuh!!!" ledek Tama
seketika Nadin salah tingkah karena gurauan Tama.
"Ah.... dasar......!!!!!! nggak usah ngeledek deh!" ucap Nadin.
" iya... iya... lama tidak bertemu. apa kabar Nad???" ucap Tama.
"em.... baik kok...." jawab nadin.
mereka terdiam sejenak. Nadin bingung harus bicara apa kepada Tama. mereka sudah lama tidak bertemu, jadi suasana canggung diantara mereka tidak terelakkan.
" kamu tambah cantik sekarang." kata Tama.
" makasih...." jawab nadin.
(apa aku katakan saja disini ya??? tapi disini sangat ramai. kayaknya tidak pas tempatnya.) kata Nadin dalam hati.
"em..... Tam... ada yang ingin aku katakan. tapi kita ke taman gedung saja yuk!! disini terlalu ramai soalnya ." kata Nadin.
" em... boleh. emang mau bicara apa?" tanya Tama.
" sudahlah ikut saja." jawab Nadin.
Lalu mereka keluar menuju taman gedung tempat reuni.
"em,.. mau ngomong apa sih?" tanya Tama
"emmm... tapi janji kamu tidak marah ya... janji ya. ."
"apa sih??? pakai janji janji ...." imbuh Tama.
" sebenarnya.... em.... sebenarnya.... aku...."
"sayang.. ..." terdengar suara dari belakang Nadin.
Nadin berbalik badan dan melihat seorang wanita cantik yang anggun., berjalan menghampiri Tama.
Wanita itu langsung memeluk Tama dengan erat. Tama pun membalas pelukannya dan tersenyum lebar.
" sayang... tidak nyasar kan cari gedungnya???" tanya Tama.
Nadin yang melihat dan mendengar dengan mata kepalanya sendiri bagai terkena petir yang menyakitkan. Matanya memerah dan air matanya hampir tumpah. Dia patah hati untuk kesekian kalinya.
" oh iya... Nadin ini kenalkan tunangan aku. Sarah." kata Tama.
" hai sarah..." ucap nadin.
"ini siapa Tam??" tanya Sarah kepada Tama.
" sarah sayang.... ini Nadin. Teman baikku." imbuh tama. " oh ya Nad tadi mau bicara apa??" tanya Tama lagi.
"oh... nggak. nggak jadi. cuma mau tahu teman kita yang belum datang siapa saja. itu aja kok." ucap nadin.
"oh... aku juga nggak tahu. kan baru sampai akunya." ucap Tama.
" em... aku kira kamu tahu. ya udah kalau gitu aku masuk dulu ya .... have fun kalian berdua." ucap Nadin.
Nadin berbalik meninggalkan Tama dan tunangannya. Nadin tak kuat melihat pemandangan itu. Air matanya mengalir deras dipipi. Dia tak sanggup menahan semua sakit hatinya. Nadin berlalu begitu saja meninggalkan tempat itu. Dia meninggalkan cintanya disana. Cinta yang akan abadi terkubur didalam hatinya.