"Kalau sudah dicabut....mereka tidak boleh kena tanah, atau pun dilangkahi, baik manusia atau pun hewan, mengerti?"
Kata seorang kakek pada cucunya. Cucunya mengangguk dan tersenyum
*****
Di sebuah bus tampak seorang pemuda memakai kaos merah dan celana jeans hitam sedang asik mendengar suara musik. Seseorang menepuk pundaknya. Pemuda itu berwajah mirip dengannya hanya saja usianya tampak terlihat lebih tua, memakai kemeja biru berlengan panjang.
"Sudah sampai, ayo turun."
Tampak dua bersaudara turun dari bus. Lalu menuju sebuah rumah.
"Wohoho... cucu kakek sudah besar."
Dua bersaudara itu mencium tangan pria tua itu. Dan juga wanita tua yang disebelahnya.
Wanita tua itu berkata : " Nenek kangen..." lalu memeluk kedua pemuda yang didepannya.
Ketika ingin mencubit pipi cucu termuda, anak itu berkelit melindungi wajahnya dengan tangannya.
"Nenek aku sudah SMU sekarang.!"Semua yang ada disitu tertawa.
"Berapa lama kalian akan disini?" Kakek bertanya sambil berjalan.
"Satu minggu kek."
Jawab cucu-cucunya bersamaan. Lalu pemuda berkaus merah dengan gembira melangkah masuk kerumah. Kakek dan Nenek tersenyum senang.
***
Terdengar suara ayam jantan milik kakek berkokok tanda sudah pagi. Kakek mengeluarkan ayam-ayam dan kambing-kambing sementara nenek memulai kegiatan memasak didapur. Kedua bersaudara itu belum bangun. Selesai memasak nenek membangunkan kedua bersaudara tersebut.
"Mandi sana biar sarapan."
Dua bersaudara menanyakan kakeknya. Dan nenek memberi tahu kakek dihalaman belakang sedang memberi makan ayam serta kambing.Beberapa menit kemudian seluruh penghuni rumah berkumpul dimeja makan.
"Emmm enak."
"Toni kalau makan jangan ribut, kayak anak kecil aja!"
"Alahhh aku hanya memuji masakan nenek."
"Biarlah Dion, ayo Tomi makan yang banyak.!"
"Baik nek." Toni tersenyum manja.
Semua menikmati makanan tersebut dengan lahap.
"Kakek berangkat dulu ya."
"Kemana kek?" Tanya Dion
"Ke hutan."
"Ngapain kek? Ikut dong!"
Toni ikut bicara sementara tangannya masih sibuk bermain game.
"Mengambil obat."
"Ikut kek." Pinta Dion.
"Aku nggak deh!" Toni lanjut fokus ke game di hpnya.
Memang seperti biasa kalau kakek kehutan untuk mengambil tanaman obat, maka Toni tidak akan ikut. Ia lebih suka kehutan jika kakek mengajaknya berburu tupai.
Dihutan kakeknya mengambil berbagai tanaman. Tanaman tersebut akan diolah menjadi minyak urut. Kakeknya adalah tukang pijat di desa. Dion ikut membantu mencari , dan membawakan tanaman obat tersebut dalam keranjang rotan. Keranjang rotan tersebut memiliki dua tali disisinya. Sehingga Dion bisa membawanya seperti ransel.
"Ingat ya kalau sudah dicabut dari tanah, mereka tidak boleh lagi terkena tanah atau pun dilangkahi manusia, atau pun hewan."
"Baik kek."
Keranjang rotan hampir penuh.Meski terlihat hampir penuh keranjang itu tidak berat sama sekali.
"Sepertinya sudah cukup untuk hari ini. Sudah hampir tengah hari. Ayo kita pulang, nenek pasti sudah menunggu."
Dion berjalan mengikuti kakek dari belakang dan membawa tanaman obat dengan hati-hati.
"Wahhh sudah pulang, kebetulan aku sudah lapar."
"Makan saja kau tau." Dion mencibir adiknya.
"Biarin wekkk!"
"Sana mandi dulu Dion, biar kakek yang simpan ini!" Sambil membantu menurunkan keranjang dari balik punggung Dion.
"Wah banyak ya kek."
Toni melihat dari jauh dan tidak mendekat. Karena dari kecil mereka diajarkan untuk tidak melangkahi tanaman obat tersebut jika sudah dicabut dari tanah. Jadi lebih baik jaga jarak dari tanaman yang hendak dijadikan obat tersebut.
***
Setelah selesai makan kakek mengambil tanaman obat meletakkannya dimeja mencuci dengan bersih. Lalu mengeringkannya diatas rak kayu yang ada dihalaman belakang. Disana tampak nenek membuat api dengan menggunakan kayu bakar. Dion dan Tomi mengangkat kuwali besi yang besar dan berat. Kuwali di letakkan diatas tungku lalu diisi air perasan kelapa yang kental. Tampak keempatnya sibuk dengan proses pembuatan minyak urut tersebut. Dan proses membuat minyak berjalan lancar.
***
Kesokan harinya seseorang datang untuk mengambil minyak. Kata nenek dia terjatuh saat memanjat pohon dihutan. Tulang kakinya patah dan sekarang melakukan rawat jalan. Kakek mengusuk kaki orang tersebut dengan perlahan tapi orang tersebut menjerit dengan kuat. Sehingga Dion dan Toni memilih keluar dari rumah.
"Kita kesungai yuk?" Ajak Toni pada Dion.
Dion berpikir sejenak . Lalu kedapur mencari alat pancing kakek.
"Ayok, eh tunggu pamit sama nenek dulu."
"Ya sudah pergilah . tapi kalian harus pulang sebelum matahari terbenam."
Ternyata nenek mengamati tingkah Dion saat mencari kail kakeknya di dapur.
*****
"Tom jangan cepat-cepat lah..."
"Alahhh jalan jangan kayak kakek kakek!"
"Bukan begitu disini banyak tanaman obat bisa-bisa nanti terpijak olehmu!"
"Memangnya kenapa, kakek kan sudah membuat minyak ."
"Awas ...!"
"Ada apa !"
"Dibawah kakimu ada tanaman obat.!"
Toni melihat kaki kanannya menginjak tanaman obat yang berdaun merah . Itu tanaman langka namun bisa tumbuh dimana saja. Tapi tidak pernah tumbuh dalam jumlah banyak.
"Hahh!! kalau tidak dijadikan obat ini hanyalah rumput!!" ucap Toni tegas.
Toni berjalan tanpa rasa bersalah. Dion yang kemarin ikut kehutan mencari tanaman tersebut tahu sulitnya menemukan tanaman obat tersebut. Di desa itu banyak tanaman obat-obatan dan sepertinya hampir rumput-rumput yang tumbuh disana adalah jenis tanaman obat yang sering dipakai oleh kakek. Dion jadi merasa sayang untuk menginjakkan kakinya disana.
"Sayang sekali, padahal ini yang paling sulit dicari. Dan Toni menginjaknya. Bagaimana kalau nanti mati." Dion berbicara dalam hati.
Jalan menuju hutan dan sungai adalah jalan yang sama. Sayang sekali kemarin Kakek dan Dion tidak melihatnya. Dion mencari sebuah ranting pohon dan mengikat batang tanaman obat tersebut yang bengkok akibat terpijak oleh Toni lalu melanjutkan perjalanannya. Toni sudah tidak terlihat, tapi Dion yakin kalau dia sudah sampai kesungai.
Saat berjalan kesungai Dion melihat orang-orang ramai melewatinya menggunakan pakaian yang tampak seperti kulit kayu. Dan tak seorangpun yang menggunakan alas kaki. Mau kemana mereka pikir Dion. Tapi setelah semua orang lewat Dion melanjutkan perjalanannya. Lagi-lagi orang-orang yang berpakaian aneh mucul. Sama seperti yang tadi dan mereka mengangkat sebuah tandu. Diatas duduk seorang anak perempuan.
Ada acara apa ini. Dion tau kalau desa kakek masih kental dengan adat istiadatnya. Jadi dia hanya mengira orang yang berpapasan dengannya sedang melakukan upacara adat. Dion pun sampai ke sungau tempat Ia dan kakek serta Toni mancing kalau mereka kedesa. Tapi tak ada Toni disana. Dion mencari dengan menelusuri sungai. Lagi-lagi tidak menumukannya.
"Toni!!"
"Toni!! Kau dimana??"
"Hei... ngapain teriak-teriak."
Muncul seseorang dari balik batu sedang membetulkan celananya. Dion tersadar orang itu buang air besar.Dion tersenyum geli.
Ahh tapi dimana Toni pikirnya kemudian. Dion pun mencari umpan . Siapa tau nanti Toni akan muncul. Namun sampai Dion berhasil memancing ikan Toni tidak muncul juga. Dion sudah tidak tertarik untuk memancing jadi Dia memutuskan kembali setelah menangkap tiga ekor ikan yang bermacam berukuran dan jenis.
Ketika menyusun peralatan pancing muncul anak-anak berlari menuju sungai. Mereka berenang dengan gembira. Dion hanya melihat sekilas dan bergegas pulang.
"Tolong!!!Tolong!!!"
Jeritan minta tolong ! Ada anak kecil yang hanyut. Air sungai tiba-tiba menjadi keruh dan dalam. Anak-anak sudah keluar dari air kecuali yang terseret arus sungai. Mereka berteriak- teriak, sebagian mengikuti anak yang hanyut dari pinggir sungai. Anak tersebut berusaha berenang dan menangkap sesuatu sebagai pegangan. Dion berlari mengejar dari tepi sungai dan dari atas batu besar , dia melompat kesungai untuk menangkap anak tersebut. Lalu membawanya ketepi sungai.
Setiba di tepi sungai tidak terlihat seorang anak pun disana. Tidak ada anak yang berteriak dan yang tadi ikut berlari dengannya. Dion menekan dada anak itu. Tampaknya Ia banyak meminum air sungai. Anak itu memuntahkan banyak air. Tapi dia tak sadar juga. Dion menampari pelan pipi anak tersebut.
"Heiiii sedang apa kau?!"
Dion terkejut mendengar suara teriakan dari atas. Pria paruh baya turun menuju tempatnya berada.
Dion berdiri dan mencoba menjelaskan . Dia khawatir kalau pria paruh baya itu salah paham.
"Begini pak! Sebenarnya.."
"Pulang!!!" Hardik pria itu memotong kalimat Dion.
"Tapi.. tadi saya."
"Kamu tidak dengar tadi saya bilang apa. Pulang sana!" Lagi, dia memotong ucapan Dion.
"Tapi.. bagaimana dengan anak ini?"
Dion menujuk kebawah kakinya dan ketika melihat kebawah tak ada siapapun disana. Dan ketika menoleh lagi, pria yang tadi membentaknya pun sudah tidak ada.
Dion bergidik tiba-tiba sekelilingnya menjadi gelap alat pancing dan ikannya entah dimana. Apa yang terjadi pikirnya.Dion sudah tidak menghiraukan alat pancing dan hasil tangkapannya. Ia hanya ingin pulang. Diperjalanan hujan turun dengan lebatnya.
"Hei nak... berteduh dulu... hujan deras.!
Dion menoleh. Seorang kakek tua yang ramah menawarkannya tempat berteduh. Tapi Dion kepalang basah.
"Terima kasih kek. Saya langsung pulang . Sudah terlanjur basah."
Dion lanjut berjalan.Sejak kapan ada gubuk disana pikirnya. Dan ketika berpaling, lagi-lagi gubuk tersebut hilang.Hujan tiba-tiba terhenti. Langit cerah kembali. Dion menyadari, jalan yang Ia tempuh bukanlah jalan yang Ia lewati tadi saat datang kesungai. Jalan ini menuju sebuah desa tapi bukan desa kakeknya.
Dion bingung haruskah Ia ke sana atau ke arah sebaliknya . Bagaimana dia bisa sampai tersesat padahal dia sangat yakin dengan ingatannya. Tapi kenapa sekarang semua tampak berbeda. Seharusnya jalan ini menuju desa kakek tapi desa ini terlihat lebi kumuh . Semua rumah atapnya terbuat dari daun pohon sagu dan dinding bambu. Tempat kakek tidak begitu. Bahkan didesa kakek sudah tidak ada rumah beratap daun pohon sagu dan berdinding bambu.
Dion memutuskan masuk kedesa itu anak-anak kecil kebanyakan hanya pakai celana tanpa baju dan tanpa alas kaki bermain . Dion bertemu seorang ibu dan menanyakan nama desa kakeknya. Ibu itu mengeleng mengatakan tidak tahu.
"Nama desa ini Desa Kenari, belum pernah aku mendengar nama desa Kenangan." Jawabnya.
Ibu tersebut hanya menggunakan kain melilit tubuhnya. sedangkan anaknya yang kelihatan baru dua tahun telanjang.
Kuno sekali tempat ini. Lalu kemana aku harus bertanya tentang desa kenangan. Angin kencang bertiup . Anak-anak berlari kerumah masing-masing. Penduduk desa tampak sibuk . Para orang tua memanggil anak-anaknya lalu setelah itu mereka mengunci pintu.
Dion melewati jalan ditengah desa itu. Tidak ada orang yang menegurnya. Ada anak kecil yang diam saja bermain congklak sendirian diluar . Rasanya ganjil, saat yang lain berlari kerumah masing-masing baik anak kecil mau pun orang dewasa, anak ini tampak santai bermain ditengah kencangnya angin.
"Dik kamu tidak pulang kerumahmu?"
Anak itu diam saja . Dion mencolek bahu anak itu. Anak itu mentap Dion dengan tajam. Dion bergidik, jangan-jangan dia bukan manusia. Mengingat kejadian yang menimpanya. Dion memutuskan untuk menjauh dan saat berpaling seluruh desa telah hilang. Dion tidak berani menatap kebelakang untuk melihat apa yang terjadi pada anak tersebut. Seandainya dia roh halus, pilihan yang tepat adalah menjauh.
"Dasar anak nakal, tidak bisa dibilangi! Ngapain kamu di sini sendirian."
"Ampun....pak ampun ..."
Dion menoleh anak itu ditarik paksa ayahnya dan dipukuli menuju sebuah tempat.
"Apa lagi ini sekarang? Ini asli atau hanya halusinasi. Apa aku sudah gila. Melihat yang tidak ada." Dion berbicara dalam hati.
"Anak itu memang nakal. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Dia suka menjahili temannya sehingga tidak ada yang mau bermain dengannya. "
Sebuah suara dari belakang. Dan seseorang mendekati Dion. Dion diam saja, tidak berani melihat kebelakang. Akhinya pemilik suara tersebut tepat berada di depan Dion.
"Bukan orang sini ya?Heii jangan melamun. Di tempatmu berdiri ini dulunya kuburan. Kalau melamun nanti kau melihat yang tidak-tidak."
Seorang wanita paruh baya berjalan tergesa-gesa kearah Dion.
"Patih....Tolongin... tolong panggil tukang pijat di kampung kenangan. Bapakmu jatuh dari pohon jati."
"Apa!!! Bapak!!! Oh!! oh iya saya panggilkan!"
Patih pergi berlari kesebuah arah. Dion memutar bola matanya.
" Kampung kenangan? Maksudnya desa kenangan kan?" Dion seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Ibu itu mendengar lalu menjawab :" ya iya memang kampung apalagi?"
Dion segera tersadar, lalu berlari kearah Patih pergi. Tapi patih sudah jauh. Ada Pria yang membawa cangkul lewat dari jalan itu.
Dion mencoba memberanikan diri dan bertanya :"Bapak tahu desa kenangan?"
"Kampung kenangan? Lurus saja ikuti jalan ini. "
"Makasih pak."
"Iya iya... sama-sama."
Dion berlari namun kemudian dia memperlambat temponya mencoba melihat kebelakang. Jangan-jangan ini halusinasiku saja pikirnya. Tapi bapak tersebut masih ada dan berjalan kearah yang berlawanan dengannya.Berulang kali Dion melihat kebelakang dan akhirnya dia menubruk seseorang.
"Kalau jalan. Liat liat dong . Punya mata nggak?!!"
"Maaf buk maaf... saya nggak lihat."
Ibu itu pergi kearah Bapak yang memberitahu jalan tadi.
" Sepertinya kali ini manusia asli, "pikir Dion.
Dion semakin yakin dengan jalan yang dia tempuh, namun ujung jalan tersebut menuju sungai. Sungai yang tidak asing. Itu tempatnya memancing tadi.
Diseberang sungai tampak alat pancing dan hasil tangkapannya. Lalu Dion mencoba menyebrangi sungai itu. Tiba-tiba tangannya ditarik seseorang. Badannya pendek hanya sepinggang Dion. Rambut putih panjang, daun telinga selebar telapak tangan dan mata merah serta gigi taring membuat penampilannya tampak menyeramkan.
" Agkkkk !!" Dion berteriak terkejut dan takut.
Menghempaskan tangan yang memegang tangannya dengan kasar. Melompat ke batu yang terdekat. Mencoba menyebrangi sungai, namun saat melocat ke batu yang ketiga kakinya tergelincir kepalanya terbentur batu. Dion tercebur ke dalam sungai tak sadarkan diri.
Saat sadar Dion mendapati tubuhnya diatas bambu beralas tikar pandan. Sesosok menyeramkan berdiru disampingnya. Dion berguling menjauh dan berteriak.
"Aaakkkk siapa kau, mau apa kau kenapa menggangguku."
Dia tidak menjawab Dion tapi malah memanjat naik keatas tempat Dion berbaring tadi. Dion mencoba mendorongnya dan berusaha lari dari tempat itu tapi dia merasa pusing ketika berhasil keluar dari gubuk tempatnya berbaring.
Mahluk menyeramkan itu mendekati Dion . Dion mencoba melawan mengambil sebatang ranting dan mahluk itu mundur. Dion pergi menjauh dari tempat itu. Dengan sempoyongan dia berjalan dengan alat bantu sebatang kayu. Dia tidak diikuti.
Tapi Dion tidak mengenal daerah tersebut. Beruntung seorang pencari kayu bakar ada di sana. Tapi Dion ragu. Dion berpikir bagaimana kalau itu juga halusinasi atau hantu. Dengan perlahan Dion mendekat. Orang itu terkejut melihat Dion. Dan bertanya apa yang terjadi padanya karna penampilannya tampak kacau. Dion bingung harus bercerita dari mana.
"Kau diganggu roh halus dihutan ini ya?"
Dion membelalakkan matanya, dengan cepat mengangguk.
"Ikutlah denganku."
Tanpa rasa curiga Dion mengikuti. Bapak itu membawa Dion ke tempat dia bertemu Patih. Beberapa orang yang bepapasan dengan mereka bertanya pada pencari kayu bakar.
"Siapa dia?"
"Ohhh keponakanku."
Tampak warung kopi ditengah desa dan Dion melihat bapak yang memberitahu arah desanya disana. Sampai dirumah pencari kayu tampak seorang ibu dan anak kecil menyambut.
"Kita ada tamu masaklah yang banyak."
Dion pun mendapatkan perlakuan yang baik. Makanan, minuman dan pakaian diberikan padanya. Dan Dion juga akan diantar ke desanya besok. Karna kebetulan Bapak tersebut akan ke desa kenangan mengantar kayu pada langganannya .
Dion tertidur dengan lelap. Kemudian dia merasa terganggu karna tubuhnya seperti diikat diatas sebuah kayu. Dion terbangun, tampak orang berpakaian kulit kayu . Mereka menari dan bernyanyi mengelilingi api unggun . Tampak seorang diatas singasana membuat gerakan mengangkat tangan . Semua diam, berhenti menari dan bernyanyi. Pencari kayu dan Bapak yang menunjukkan jalan muncul dengan tampilan seperti dukun. Lalu muncul pula Patih memakai pakaian serba hitam. Dengan sebilah pedang ditangannya, mengayunkan pedangnya kearah leher Dion. Dion yang terikat tangan dan kakinya disebuah kayu besar hanya bisa teriak.
Pedang yang diayunkan kearahnya hancur. Mahkluk yang muncul disungai datang. Dengan jentikan tangan orang yang ada disana terbakar . Suasana kacau, ikatan tangan dan kaki Dion terlepas dan orang orang yang ada didekatnya tercampak . Semua itu hanya dengan gerakan tangan mahluk bertelinga besar itu.
Mahluk aneh itu diserang dari segala arah. Namun Dion tidak tahu harus berbuat apa. Tapi semua yang menyerang mahluk itu kalah dan terbakar mengerang kesakitan lalu jadi debu .
Hingga tinggal beberapa orang yang tersisa.
Mahluk asing bertelinga besar dan berambut putih itu mendekati Dion. Melindunginya dari orang desa yang tinggal beberapa orang saja. Mereka mencoba melukai Dion.
Pertarungan sangat sengit dan memakan waktu.Mahluk asing kelelahan hingga seseorang berhasil menyayat leher Dion. Darah menetes dari lehernya dan disambut gembira penduduk desa yang tersisa. Dion tersungkur ke tanah.
Mahluk asing itu marah dan kemudian dengan sisa kekuatannya menghabisi penduduk desa yang tersisa. Penduduk desa terbakar dan leyap. Dion merangkak kearah mahluk asing yang tidak berdaya. Tangannya memegang mahluk tersebut. Seketika tubuh mahluk itu menyusut demikian pula pakaiannya. Dan kemudian berubah jadi debu. Tapi kemudian ditempat itu muncul tanaman berdaun merah. Dion kehilangan kesadarannya. Tubuhnya terkulai bersimbah darah. Dan tangannya memegang tanaman berdaun merah.
"Dion... Dion... Dion... bangun... matahari sudah terbenam."
Dion terbangun karna guncangan ditubuhnya dan juga suara kakek.
"Pulang mancing bukannya langsung mandi malah tidur diteras."
"Dimana Toni!! Kakek dimana Toni."
"Aku disini. Sudah mandi, tidak sepertimu."
Toni menjawab dari dalam rumah. Lalu Dion memegang kepala dan leher . Tidak ada bekas luka.
"Apakah tadi aku bermimpi ?"pikirnya dalam hati.
Nenek mengatakan kalau Ikan hasil pancingan Toni dan Dion sudah masak dan mengajak makan. Hari itu semua bersikap biasa kecuali Dion. Dia menanyakan Toni kemana, kenapa tidak datang kesungai.
"Bukannya kita tadi kesungai barengan ya? Baru dengar aku kalau orang tidur sore hari bisa hilang ingatan. Hahaha .."
Malam itu Dion gelisah teringat kejadian yang menimpanya. Tapi kenapa tidak seorang pun merasakan hal yang ganjil.
Selesai makan mereka duduk diruang depan. Kakek dan Tomi bercerita seolah mereka bertiga memancing bersama. Dari cerita mereka Dion mengerti kalau ternyata kakek menyusul kesungai setelah selesai mengusuk pasiennya. Tapi tidak ada dalam ingatan Dion hal yang mereka ceritakan. Dion juga tidak bisa membantah meskipun mengalami hal yang berbeda karena tidak bisa dibuktikan.
Akhirnya Dion memutuskan berpikir kalau kejadian yang dialaminya hanyalah mimpi.Hari berikutnya mereka berburu kehutan dan melewati jalan yang ada tanaman berdaun merah yang terpijak oleh Toni. Tanaman itu tidak ada. Bekas dicabut pun tidak ada sama sekali.
*****
"Hati-hati dijalan . kirim salam buat ayah dan ibumu." Nenek melepas cucu kesayangannya.
"Jangan lupa datang lagi kalau kalian libur ." sambung kakek.
Bus datang dan mereka naik . Diatas bus ada seorang nenek dan cucu perempuannya . Dion dan Toni memilih kursi dibelakang mereka. Bus berjalan. Dan beberapa menit kemudian.
"Lihat nek itu rumputnya daunnya merah! Cantik ya nek ?"
"Oh iya .... menurut legenda tanaman itu dulunya makluk langit yang turun kedunia untuk menolong manusia. Tapi mereka harus menyembunyikan wujudnya. Dengan wujud tanaman mereka mengawasi manusia, kalau ada yang terluka mereka akan berubah wujud."
"Wujud apa nek?"
"Manusia kerdil."
"Seperti kurcaci?"
"Ya... seperti itulah."
"Atau seperti peri yang cantik ya nek?"
"Hemmm mungkin... nenek juga tidak tau pasti ."
"Itu nek itu... ada lagi..!"
Kali ini Dion ikut melihat keluar jendela Ia tidak melihat tanaman merah tapi melihat manusia kerdil yang bertelinga sebesar telapak tangan, bermata merah, bertaring panjang, dan berambut putih. Berdiri diam disana seperti patung. Dion kembali melihat ke dalam bus. Dan ketika dia berpaling mahluk itu tersenyum seolah berkata.
"Sampai Jumpa Lagi."