"Duh sakit tau beb!"
"Biarin suruh siapa ngabisin coklat ku ha!" marah Bulan memajukan bibirnya hingga beberapa senti, oh ayo lah! hari ini waktunya datang bulan dan dengan seenak jidatnya pria didepannya ini memakan habis coklat yang susah payah ia mengantri dikantin.
Memang benar-benar cari mati! untung sayang!
"Kan cuman sepotong doang kok beb" Bintang tertawa puas karena berhasil menjahili sang kekasihnya.
"T t tapi kan-" mendadak mata Bulan berkaca-kaca menatap Bintang, membuat Bintang kalang kabut dibuatnya.
"Siaga satu! sang istri mulai nangis!"
"Huwaaa jahat huwaaa" pecah sudah tangisan Bulan, bukannya menolong Bintang malah tertawa lantas memeluk sayang sang kekasih.
Bintang melepaskan pelukannya saat dirasa Bulan agak berhenti nangis "Yaudah kita beli yang baru yuk!"
"Ihhh nyebelin! kamu gak tau ya! kalau aku tuh dari tadi duduk disini gara-gara-" Bulan nampak malu mengucapkannya, membuat Bintang mengangguk paham.
"Coba berdiri" Bulan menatap aneh Bintang namun tak ayal gadis itu menuruti apa kata sang kekasih, Bintang langsung mengikat jaketnya ke gadisnya.
"Sekarang masalahnya sudah selesai buk bos" Bintang berucap serius sembari hormat yang langsung mengundang gelak tawa Bulan "Mari tuan putri biar saya antarkan ke warung Mak ijah"
"Di traktir juga dong! masa dianterin doang"
"Apapun untuk mu tuan putri"
Lagi-lagi Bulan tertawa,kini moodnya telah kembali "Tapi kan mak ijahnya lagi pulang kampung! ini aja stok terakhir" Bulan memperlihatkan wajah sedihnya ke Bintang.
"Mari ikut saya Putri menuju kereta kuda kita untuk ke indoapril buat beli semua stok coklat kesukaan putri"
"Yeyyyy" memang berpacaran dengan lelaki fomus disekolahannya tidak lah mudah, banyak sekali para cewek haus belaian ingin di posisi Bulan saat ini namun Bintang seakan buta akan semua dan pandangannya hanya tertuju pada gadis pendek seperti Bulan.
Bulan tak tau apa istimewanya dia? menurutnya dia hanya gadis beban pikiran lelaki itu saja namun Bintang malah sweet seperti ini!
"Tapi..." Bintang seakan mengerti, lelaki itu berbalik lalu menunduk.
"Silahkan naik kereta kuda tambahan putri" Bulan tertawa lalu mulai naik diatas punggung tegap Bintang.
Bintang memang lelaki sempurna, dia peka akan sekitar walau terkadang sifat jahilnya sangat tak mengenakan.
"Ciee yang berduaan mah beda ye kan!" sahut pak satpam yang tengah memperhatikan mereka berdua.
"Wohiya dong pak!" teriak Bintang yang mulai menjauh dari perkarangan sekolah, kini mereka berdua telah sampai ditempat parkiran disana hanya ada motor ninja milik Bintang saja.
Bintang menurunkan Bulan perlahan lalu menyodorkan helm berbentuk hello kitty ke arah Bulan, itu helm favorit Bulan "Pakai dulu dong"
"Sudah?"
"Sudah!"
"Ayo kita menuju indoapril buat borong semua coklat"
"Gooo" sahut Bulan tertawa keras.
Perjalanan itu tak terlalu hening karena Bintang yang sedari tadi melemparkan gombalan aneh, kadang juga Bintang sengaja menambah kecepatan laju kendaraannya agar Bulan memeluk dirinya. Dasar kang modus.
Sesampainya mereka berdua ditoko Bintang dengan sigap membantu Bulan melepaskan helmnya "Cantik banget sih sayangnya Bintang" Bulan tersipu mendengarkannya.
"Cieee malu ciee padahal biasanya malu-maluin"
"Dih!" Bulan menghentakkan kakinya kesal lalu berjalan mendahului Bintang.
Bintang belari mengejar Bulan lalu mengandeng tangan gadis tersebut "Tuan putri dilarang berjauhan pada prajurit Bintang" lagi-lagi Bulan tersipu malu.
"Eh beb ini kenapa gak bisa ditarik pintunya?"
Bulan memutar bola matanya malas "Ya jelas lah dodol itu tulisannya didorong bukan ditarik ish!"
"Pinter banget sih pacarnya Bintang!" Bintang mendorong pintu tersebut hingga mereka berdua masuk kedalam tentu saja disambut hangat oleh pegawai di indoapril tersebut.
"Anak TK juga tau kalik!" Bintang tertawa mendengar nada judes itu lalu mulai mencari rak berisikan coklat dengan Bulan digandengannya.
"Lihat nih beb coklatnya! beli satu dapet lantainya indoapril!"
"Dodolnya udah mendarah daging" hela nafas kasar Bulan.
"Loh Bintang?" sapa seseorang, membuat Bulan mengeratkan gandengannya pada Bintang sekaligus membuat terkekeh. Mengemaskan sekali kekasihnya itu saat cemburu.
"Apa?"
"Dih! masih sama ya? masih sama ma si cebol!"
"Lo juga masih sama ya? sama-sama jomblo" pecah sudah tawa Bulan begitu juga dengan Bintang.
Wajah Kejora pun memerah pertanda mulai kesal sekaligus malu "Lo kenapa sih mutusin gue demi cewek gak jelas macem dia? harusnya lo sama gue! sama-sama kaya! bukan sama dia! udah jelek, pendek, miskin lagi! curiga nih gue kalau lo cuman diambil hartanya doang" Bulan menunduk mendengarkannya.
Bintang menatap tajam Kejora lalu memasukkan bebarap coklat kedalam keranjang "Kalau gue cintanya sama dia lo mau apa?" lelaki itu berbalik pergi meninggalkan Kejora yang diam mematung ditempat.
Bintang tanpa berucap apapun langsung membayar semua coklat-coklat itu lantas pergi menuju sepedanya berada masih mengenggam jari jemari Bulan.
Bintang memasangkan helm diatas kepala Bulan "Gak usah dengerin kata dia okey? kamu milik ku begitu juga dengan aku! aku milik mu" Bintang tersenyum membuat Bulan mati-matian menahan tangisannya namun tak bisa.
Gadis itu memeluk Bintang erat "Aku gak sederajat sama kamu tapi kamu mau mempertahanin gadis gak jelas seperti aku hiks" Bintang terkekeh sembari menepuk pelan bahu gadisnya.
"Seorang putri duke tiba-tiba nangis didepan pasar saat mengetahui bahwa dirinya telah jatuh kedalam pesona seorang prajurit tampan nan gagah" tabokan keras meluncur begitu saja dilengan Bintang.
"Galak banget sih cintanya Bintang"