Gelap! Semua yang ku lihat disini hanyalah gelap. Bahkan aku tidak bisa melihat diriku sendiri. Sementara itu, tubuhku terikat kuat di kursi tua ini dengan rantai. Ya, aku dapat merasakannya. Entah sejak kapan, aku berada di sini. Yang pasti, setelah aku bangun aku sudah ada di tempat asing ini.
Tuhan, tolong aku. Aku sangat takut.
Seketika suara pintu terbuka pun terdengar. Perlahan cahaya pun masuk ke dalam ruangan, berhasil menyilaukan mataku. Mataku menyipit, ku dapati sebuah siluet seseorang yang ku yakini ia mengenakan jubah, dan ... kapak di tangannya.
Gila, ini benar-benar gila! Untuk apa dia membawa kapak? Tidak, tenanglah! Mungkin dia ingin melepaskan rantai ini dengan kapak itu. Iya, aku harus berpikir positif.
Dia semakin mendekatiku, bahkan semakin dekat. Disini sangat gelap, aku tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana wajahnya. Apa dia perempuan atau laki-laki?
Ia mendekatkan wajahnya padaku, mendekatkan bibirnya ke telingaku. Lantas bersuara dengan lirih. “Maaf, sudah membuatmu menunggu lama.”
Ia pun menjauhkan wajahnya dariku, sambil mengangkat tinggi kapak itu. Kemudian menebaskannya ke bawah.
ARGH! Aku menjerit kuat, kapak yang ia gunakan justru mengenai kakiku. Kakiku hampir terputus! Cairan kental pun bercucuran, darah segar merembes keluar, keringat membasahi tubuhku. Kenapa dia tidak hati-hati?
“Maaf,” ucapnya kemudian mengangkat kapak itu sekali lagi, dan mengarahkannya ke bawah.
ARGH! Sekarang kakiku benar-benar putus, jantungku terus saja berdegup kencang. Aku ketakutan, sangat ketakutan! Dapat ku dengar ia tertawa pelan kemudian tawanya berubah menyeramkan. Rupa-rupanya ia sengaja melakukan ini.
Ia kembali mengangkat kapaknya, bersiap seolah ingin menebas sesuatu. Satu, dua, tiga. Yak! Kapak itu mengarah ke kepalaku. Dengan sigap, aku kembali tersadar.
Ini hanya mimpi, ku lihat kakiku ... tidak putus sama sekali. Dan kepalaku ... Tunggu! Tanganku terikat ke belakang kursi, dapat ku ketahui bahwa aku diikat dengan sebuah rantai. Mulutku pun tertutup dengan lakban, tak hanya itu kakiku juga diikat dengan rantai. Bedebah!
Krieett. Suara pintu terbuka terdengar jelas di telingaku. Menampakkan sebuah siluet seseorang berjubah dengan tangannya yang memegang sebuah ... kapak! Persis seperti mimpiku.
Ia pun melangkah mendekatiku, suara sepatunya sengaja ia bunyikan dengan nyaring, menambah kesan mengerikan di ruangan gelap ini.
“Maaf, sudah membuatmu menunggu lama.” Ucapan yang sama seperti di mimpiku. Apa setelah ini, dia akan memotong kakiku?
Tidak! Jangan sampai itu terjadi. Kakiku, aku tidak ingin kehilangan kakiku. Aku menjerit sekuatnya, berteriak meminta tolong, yang pastinya mustahil didengar. Gila! Kenapa hal ini terjadi padaku?
Bukan seperti ini cara membalas dendam! Aku tahu, kaki yang sering ku gunakan untuk melangkah ini telah sering ku gunakan untuk menyiksa mereka. Tapi, apa tidak ada ampunan untukku? Ku akui, aku menyesal sekarang. Tolong, beri aku kesempatan!
Sosok berjubah itu pun mengayunkan kapaknya tinggi, kemudian menebaskannya tepat di kedua kakiku. Aku menangis kesakitan, jantungku berdebar tak karuan. Ini sangat menyakitkan! Aku kehilangan kedua kakiku.
Dia pun tertawa lepas, kemudian diiringi dengan suara tangisan. “Ini untuk mereka yang terpaksa bisu karena dirimu,” ungkapnya kemudian mengangkat tinggi kapak itu, dan menebaskannya tepat di kepalaku.
Ya, dia berhasil membunuhku. Setidaknya, aku tidak menjerit kesakitan lagi, bukan?