Ada yang bilang usai remaja adalah usia yang rentan patah hati. Tidak juga. Ningsing Arumi, panggil saja Ning. Usia tiga belas tahun, siswi berpenampilan jadul yang menjadi juara tetap nomer dua di SMP Merdeka.
Pagi yang seperti biasanya, sebelum embun disengat sinar mentari langkah mungilnya sudah menerobos sepi jalanan.
"Cari koin jatuh, Ning?" Pak lurah berdiri di depan rumah, sudah pasti niatnya untuk berjemur. Senyum simpul menarik ujung bibir Ning, hingga memberi jejak dekik kecil yang nyaris 'tak terlihat karena terhimpit oleh ujung jilbab.
Perjalanannya tidak terlalu jauh untuk waktu yang sering Ning tempuh, hanya beberapa ratus meter dari gubuk tempatnya dibesarkan. Tersisa sekitar dua ratus meter, motor dengan dua nyawa dan raga melesat dari belakangnya. Berkendara dengan lagak yang bisa dibilang ugal-ugalan, Ning paham ada yang mencari perhatian.
"Paling juga jatuh."
Hanya berjarak hitungan menit, apa yang ada di batin Ning terlihat oleh kedua matanya. Sama persis. Dua bujang itu cengar-cengir dan kemudian kembali menaiki motor, meskipun kepalanya terbentur aspal. Pasti sakit.
***
Suasana tenang. Hanya menyisakan gema dari Bu Ais yang menerangkan mata pelajaran pengetahuan alam. Ning duduk paling pojok belakang, karena memang setiap minggu ada rolling dan kini jatahnya di belakang. Jemarinya lihai menulis setiap penjelasan yang belum ada di papan tulis mau pun buku paket.
"Sshhhstshh," bisik dari kanan. Ning refleks menengok, Rama menutup hidung menahan napas. Tentu saja dia bingung ada apa dengan teman sebangkunya ini? Kesurupan?
Trettt.
Terompet kiamat berbunyi, serentak deretan bangku bagian pojok tempatnya duduk mengibas-ngibas tangan menyapu angin yang mengandung racun Rama. Sesaat kelas menjadi gaduh. Semua murid dalam kelas diperbolehkan untuk keluar sejenak mengirup oksigen segar.
Karena pintu kelas untuk keluar-masuk hanya satu, murid-murid berdesakan untuk keluar.
"Awww," lirih Ning saat jari kakinya dipijak Nunung.
"Ya maaf, kamu kecil jadi gak terasa kalau keinjek." Nunung berlalu, melenggak-lenggokkan deret belut yang melingkar di tubuhnya.
"Kesandung baru tahu rasa," batin Ning. Jengkel? Bayangkan sendiri bagaimana.
Tiga menit setelah Nunung menuruni tangga teras dengan santai, saat itu tubuh berisi miliknya menampar ubin teras. Mengakibatkan kakinya terkilir lumayan parah, sehingga harus di bawa ke klinik terdekat. Melihat itu Ning sekilas teringat satu perkataan tentang berbaik-baiklah dalam prasangka, berucap, dan bertindak.
Tumit~