Tak Sepadan
Chairil Anwar
Aku kira :
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak, dan bahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpenggal tinggal rangka.
Februari 1943
Sumber : buku 'Aku Ini Binatang Jalang'
***
"Kau yakin nak masuk?" Beni menepuk pundaku saat sebelum kaki ini melangkah maju ke depan sana. Lamunanku buyar bercabang entah ke mana arah tujuannya. Hanya sedikit menyeka titik bening yang membendung di atas kelopak mata.
"Aku tak selemah itu," ucapku berdusta pada diri sendiri.
Apalah daya hati yang sekarang tengah meringkuk di sudut paling sunyi? Keadaan memaksa untuk tegar meski aku tidak menginginkannya. Engkau jahat! Hanya satu kata itu yang ingin kuteriakkan di hadapan wajah seorang yang pernah mengikrarkan janji manis yang ternyata lebih busuk dari sayur basi.
Pikiranku melayang ke mana-mana ingin mundur, tetapi sudah sedekat ini aku melangkah. Sungguh menyebalkan, senyum manis kulengkungkan kala baru masuk serambi dengan janur kuning melengkung itu. Suara irama dendang lagu yang baru-baru tenar itu mengiang menembus relung jiwa.
Dinamika lantunan nada dari piano itu berhasil membuat kembali meloloskan beningnya air mata yang tidak kusadari. Ditambah dengan suara melengking sang penyanyi.
'Selamat kuucapkan padamu
Wahai orang yang pernah paling aku sayang
Kulepas dirimu dengan ikhlas
Semoga Tuhan jaga dirimu dan dia ....'
"Ayo," ajak Beni mencegah bahuku yang berbalik ingin pulang. "Kalau sudah masuk, ya, dihadapi."
Kata itu membuatku ingat satu prinsip hidup yang selama ini digenggam. Teruntuk aku mohonlah bekerjasama dengan keadaan, jangan teteskan air mata saat sudah ada di depannya nanti. Aku kembali berbalik dan menegakkan pandangan, dengan lagak jalan bak model hendak fashion show.
Namun, lagu yang dipopulerkan oleh biduan cantik Lesti itu malah membuatku semakin ciut saat lirik kelanjutan dinyanyikan.
'Kudatang memberikan selamat
Walau langkah kaki gamang
Untuk kamu aku datang
Semoga dirimu bahagia ....'
Ah, sungguh ingin kurampas saja itu mikrofon!
Tumit.
10-10-2020/kota tahu