"Bang, hawanya enak, ya, semilir-semilir gini!" ungkap Pie NduutnYa Jutek yang sedang berada di boncengan Abi Doo.
Karena merasa tidak ingin membuat sang pujaan hatinya ini yang baru saja satu menit diresmikan itu berubah pikiran untuk menerimanya, ia mengais sepeda berwarna hitam kesayangannya itu dengan penuh semangat. Ditambah dengan tangan Nisa yang melingkar bak ular piton yang tengah melilit membuat Aby dalam hatinya sangat kegirangan dengan itu.
Maklum sudah, dalam fase yang masih anget-angetnya suatu hubungan. Lihat saja kalau sudah enam puluh tahun ....
"Bang, dari tadi kok diem bae, Abang ini hidup apa mati, seh?" tanya Nisa memanyunkan bibir lima meter. Mencubit pelan punggung pemuda itu, tetapi malah terdengar tawa kecil yang mengiringi. "Ah, Abang, mah!"
"Iya, apa, Neng?" Kali ini Aby berkeinginan menjawab.
"Lah, kok jadi, Neng, sekarang yang marah?" Merasa tak digubris, Adi berinisiatif untuk melontarkan suatu gombalan.
"Yah, padahal tadi mau aku belikan cupang, loh!" Senjata rayuan Aby yang sudah mendunia itu dengan bangga ia katakan, tetapi lain hal dengan insting indra ke enam yang tidak ia miliki.
"Kok, cupang, seh, Bang? Paus napa kan gede, cupang ma apa? Kecil, mana gak ada dagingnya coba?" keluh Nisa dengan menerawang hawa di tengah persawahan yang mereka lewati. Membuang muka di antara daun padi yang melambai tertiup angin.
"Wealah, toh, Neng, ikannya, ya, jangan dibuat lauk makan, atuh!" Kini logat sunda Aby tiba-tiba kumat. "Ya, tentunya buat dipelihara, layaknya cinta kita."
"Ah, Abang!" ujar Nisa malu-malu dengan pipi yang sudah memerah semerah lipstik ibu-ibu kondangan. Tangannya menyambar kembali punggung itu.
"Entah mengapa cewek kalo ketawa bukannya nyenengin, tapi malah kek nyiksa gini, ya? Mana ada bisul yang lima hari mau meletus juga!" pikir Aby yang hanya bisa membatin dengan wajah yang sudah menahan ngilunya bisul itu.
Mendengar gombalan dari Aby percikan-percikan bungah hendak membara di dalam batin Nisa. Kembali lagi telapak tangan yang tebal milik Nisa menyambar punggung Aby kali ini sangat tepat sekali dengan sasaran. Nisa yang hendak kembali ia memeluk dari belakang pun terkendala.
Karena sepeda hitam yang tengah mereka tumpangi tiba-tiba bergoyang, membuat Aby mengendarainya berlenggak-lenggok bak seorang penari yang lihai.
Nisa yang ada di belakang pun ikutan. Seperti sedang naik roller coaster dengan ketinggian lima ratus meter dari permukaan tanah, waduh kayak apa itu? Keringat dingin membendung pada dua pasangan yang baru jadi itu.
Seharusnya mereka tengah beromantis ria, tetapi ini malah berbanding terbalik dengan perkiraan Aby.
"Wah, Abang ini kenapa?" pekik nisa menjadikan leher Aby pegangan.
"Aduh, Neng, Abang juga bingung napas kalo kayak gini!" Aby memejamkan sebelah mata.
"Wah, lupa, Bang, maaf-maaf."
Mengelus-elus lehernya, Aby meneguk saliva dengan berat. Belum sampai di kerongkongan, kini mereka sudah berubah menjadi ironman. Wajah yang menghitam dan basah kuyup. Sepeda yang tengah mereka kendarai sudah masuk selokan sawah.
"Abanggg!" rengek Nisa manja melihat dirinya sendiri yang berlumur dengan tanah.
"Aduh, bisulku!"
***
"Makanya jangan gombal mulu! Pasti habis bilang mau kasih ikan cupang untuk dipelihara, layaknya cinta kita. Dih, bulshit!" sorak Gusti Dyna Damayanti dan Kiya Lintang Semesta Publisher menepuk tangan dengan dugaan yang nyaris benar.
"Iya, kemarin juga bilang gitu ke aku, gak kreatip sekali itu Adi masa ngulang sama yang baru!" Kia menutup mulut dengan jemari lentiknya yang merekat.
"Kreatif, Kiya!"
"Aku tadi bilang apa?" tanya polos Kiya yang memang langsung lupa dengan ucapannya tadi.
"Ah, sudah lupakan!"
Tumit.
Halu, 5 Oktober 2020