Ruang ballroom Hotel Nusantara terang benderang. Lampu kristal menggantung tinggi, memantulkan cahaya ke gaun-gaun mahal dan gelas champagne yang saling berdenting pelan. Di luar, hujan turun deras. Di dalam, semua orang berpura-pura peduli.
Evelyn Mahesa berdiri di sudut ruangan, memegang nampan berisi brosur donasi. Ia bukan tamu undangan. Ia hanya relawan.
“Pak, cuma 500 ribu. Itu cukup buat obat ibu satu minggu,” katanya pelan pada seorang pengusaha paruh baya dengan dasi emas.
Pria itu menatapnya dari atas ke bawah, lalu tersenyum miring.
“Kalau kamu mau duduk sama saya 10 menit, saya kasih 10 juta.”
Evelyn menahan napas. Bukan pertama kalinya.
Sejak ibunya stroke enam bulan lalu, tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk. Asuransi habis. Pekerjaan desain lepasnya sepi.
“Nggak, Pak. Terima kasih.”
Suaranya datar, tapi telapak tangannya dingin.
Pria itu tertawa kecil. “Semua orang ada harganya, Neng.”
Sebelum Evelyn bisa menjawab, sebuah suara dingin memotong dari belakang.
“Menjauhlah dari relawan saya.”
Pria paruh baya itu langsung pucat.
“Pak Matthias… saya nggak tahu dia—”
Matthias Virel berdiri di sana. Jas hitam, tinggi 188 cm, wajah seperti dipahat dari es.
CEO Virel Group. Nama yang cukup disebut sekali untuk membuat satu meja rapat terdiam.
Matthias menatap Evelyn sebentar. Ia ingat. Dua minggu lalu, berkas beasiswa desain untuk anak panti yang ia danai ditolak karena “tidak lengkap”. Yang mengurus berkas itu adalah Evelyn.
“Kamu Evelyn Mahesa?” tanyanya pelan.
Evelyn mengangguk, kaget. “Iya. Pak… Matthias Virel?”
“Utang ibumu 200 juta di RS Sentosa.”
Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Evelyn menegang. “Dari mana Bapak tahu?”
“Saya cek. Saya mau biayai operasinya.”
Matanya menatap lurus ke mata Evelyn. “Dengan satu syarat.”
Evelyn sudah tahu ke mana arahnya.
Selalu ada syarat.
“Saya nggak jual diri,” katanya cepat, suaranya pelan tapi tegas.
Matthias mengangkat alis. “Saya juga nggak beli. Saya butuh istri.”
Hening.
Pria di samping mereka mundur pelan, pura-pura sibuk dengan champagne.
“90 hari,” lanjut Matthias. “Kamu jadi istri saya di depan publik. Nenek saya sakit. Dia ingin lihat saya menikah sebelum terlambat. Setelah itu, kontrak selesai. Kamu dapat 4,5 miliar. Utang lunas. Operasi ibu jalan.”
Evelyn menatapnya.
Tidak ada rayuan. Tidak ada janji manis.
Hanya transaksi. Dingin seperti ruang rapat.
“Kenapa saya?”
“Kamu jujur. Kamu nggak minta-minta. Dan kamu nggak akan ribut di media.”
Matthias menatapnya tanpa berkedip. “Pilihannya sederhana. Tolak, dan besok ibu kamu dipindah ke bangsal umum. Terima, dan malam ini juga tagihan lunas.”
Evelyn mengepalkan tangan di balik nampan.
Di kepalanya, suara mesin EKG ibu menggema. _Tit… tit… tit…_
Ia benci dipaksa.
Tapi ia lebih benci melihat ibunya menderita.
“Kalau saya setuju, saya nggak tidur sekamar dengan Anda,” katanya cepat.
“Deal. Kamar terpisah.”
Matthias mengulurkan tangan. “Selamat, Nyonya Virel.”
Evelyn menatap tangan itu tiga detik.
Lalu menjabatnya.
Dingin. Kering.
Seperti menyentuh kontrak, bukan manusia.
“Besok jam sembilan, pengacara saya datang ke apartemenmu,” kata Matthias sebelum berbalik.
“Dan Evelyn… jangan coba kabur. Kamu nggak akan menang melawan saya.”
Evelyn menatap punggungnya yang menjauh.
Ia baru saja menjual 90 hari hidupnya.
Tapi ia bersumpah dalam hati: ia nggak akan jadi boneka siapa pun.
---
Jam dua pagi, Evelyn duduk di samping ranjang ibu di RS Sentosa.
Status tagihan sudah berubah menjadi _LUNAS_.
“Ma, maafin Evelyn ya,” bisiknya sambil menggenggam tangan ibu yang kurus.
“Evelyn harus jadi istri orang lain biar Mama sembuh.”
Di luar jendela, hujan masih turun.
Dan di penthouse seberang kota, Matthias Virel menutup laptopnya.
Ia baru saja membeli istri.
Tapi ia belum tahu, wanita itu akan jadi satu-satunya hal yang nggak bisa ia kendalikan.
---
*[Bersambung...]*
Mansion Virel berdiri megah di kawasan elite Jakarta Selatan. Tembok tinggi, gerbang besi hitam, dan taman yang dijaga 24 jam dengan kamera di setiap sudut.
Bagi orang luar, tempat ini seperti istana. Bagi Evelyn, rasanya lebih mirip penjara emas.
Koper kecilnya terlihat konyol di tengah lantai marmer yang mengkilap dan lampu kristal yang tergantung tinggi.
Bau kayu jati mahal dan lilin aromaterapi memenuhi udara. Semuanya sempurna, tapi tidak ada yang terasa seperti rumah.
“West Wing. Kamar paling ujung. Jangan ganggu Tuan Matthias setelah jam 10 malam,”
kata kepala pelayan dengan nada datar sebelum membungkuk dan pergi.
Suaranya formal, seolah Evelyn cuma tamu biasa, bukan istri.
Evelyn menghela napas panjang, Tangannya meremas gagang koper.
_Jadi ini hidup baruku. Mewah, dingin, dan sepi._
Malam itu, jam menunjukkan 23.17.
AC di kamarnya mati.
Teknisi bilang baru bisa datang besok siang.
Udara panas dan lembap Jakarta membuat tidurnya berantakan. Ia sudah coba nyalain kipas kecil, buka jendela, bahkan mandi air dingin dua kali.
Tetap saja, keringat menempel di punggung. Rasanya seperti dikurung di sauna.
Setelah berguling-guling selama satu jam, ia menyerah.
Kalau ia diam saja, besok pagi ia pasti bangun dengan sakit kepala dan mood ancur.
Dan kalau mood-nya ancur, Matthias yang bakal jadi sasaran omelannya.
Dengan langkah pelan, ia berjalan ke kamar utama di lantai dua. Jantungnya berdebar bukan karena takut, tapi karena kesal.
_Tok. Tok._
Suara ketukannya pelan, hampir tidak terdengar.
Pintu terbuka dalam tiga detik.
Matthias berdiri di sana dengan kaos hitam polos dan celana panjang.
Rambutnya sedikit acak-acakan, tanda baru selesai kerja. Tatapannya tetap dingin seperti biasa, tapi ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Lelah.
“AC kamarku mati,” kata Evelyn,
suaranya sengaja dibuat polos.
“Panggil teknisi besok pagi,” jawab Matthias singkat.
Suaranya serak, seperti baru bangun tidur.
“Tapi kan kita suami istri. Masa nggak boleh ganggu dikit?”
Sebelum Matthias sempat membantah, Evelyn sudah menyelinap masuk, membawa bantal dan selimut tipis di tangannya. Ia duduk di ujung kasur besar itu dengan wajah santai seolah ini kamar sendiri.
“Keluar,” kata Matthias datar.
“Nggak.”
Matthias menghela napas panjang.
“Evelyn, baca lagi kontraknya. Pasal tiga ayat dua. Tidak ada interaksi di luar jam kerja kecuali darurat.”
“Ini darurat. Aku mau mati kepanasan,” balas Evelyn sambil mengipas-ngipaskan tangan di depan wajahnya.
Matthias menatapnya lama.
Ada sesuatu di balik matanya yang dingin—lelah,Kecewa, mungkin juga. Akhirnya ia melempar selimut lain ke arah Evelyn.
“Ambil. Jangan lebih dari satu meter dari kasurku.”
Evelyn menangkapnya dengan senyum menang.
“Siap, Pak Suami.”
“Jangan panggil aku begitu.”
“Tapi lucu kedengerannya.”
Lampu dimatikan.
Ruangan jadi gelap, hanya menyisakan cahaya kota dari jendela besar setinggi dinding.
Dingin AC langsung menyapu ruangan, membuat Evelyn menghela napas lega.
Ia berbaring di lantai dengan selimut melilit tubuhnya. Dingin. Nyaman.
Dari atas, ia bisa mendengar napas Matthias yang pelan dan teratur. Pria itu tidak langsung tidur. Ia masih duduk di tepi kasur, menatap ke arah jendela.
“Kamu nggak takut aku ngapain-ngapain?” tanya Evelyn tiba-tiba, memecah keheningan.
“Tidak,” jawab Matthias singkat. “Kamu terlalu benci aku untuk itu.”
Evelyn terkekeh pelan. “Pintar juga kamu.”
Beberapa menit berlalu. Keheningan kembali menyelimuti.
“Aku nggak benci kamu,” katanya pelan, hampir seperti bisikan. Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa ia rencanakan.
Matthias tidak langsung menjawab.
“Tidur, Evelyn.”
“Selamat malam, Pak Suami.”
Matthias tidak menjawab lagi.
Tapi ia juga tidak menyuruh Evelyn keluar. Ia hanya merebahkan diri, membelakangi Evelyn, dan menutup matanya.
Di luar, hujan masih turun pelan, mengetuk kaca jendela dengan ritme yang menenangkan.
Di dalam, dua orang asing berbagi satu ruangan, satu kontrak, dan mungkin… awal dari sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan.
Evelyn memejamkan mata. Untuk pertama kalinya sejak menandatangani kontrak itu, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian.
Dan itu membuatnya takut.
---
*[Bersambung –]*
Pagi datang terlalu cepat untuk Evelyn.
Jam baru menunjukkan pukul 7.12 ketika suara ketukan keras membangunkan seluruh mansion.
Suaranya ceria, nyaring, dan penuh energi—sangat kontras dengan suasana dingin kamar utama itu.
“Matthias! Sayang! Mama datang bawa bubur ayam favoritmu!”
Evelyn langsung melek.
_Ibu mertua? Jam segini?_
Ia duduk di lantai, masih melilit selimut, panik setengah mati. Mata melirik ke kasur—Matthias sudah bangun.
Dia bersandar di headboard, rambut acak-acakan, tatapannya datar seperti biasa. Tapi ada sedikit... panik di sana. Jarang banget.
“Jangan bergerak,” bisik Matthias pelan, suaranya masih serak karena baru bangun.
“Lo yang suruh gue tidur di sini!” bisik Evelyn balik, suaranya tercekat. Wajahnya merah padam.
Ketukan makin kencang.
“Matthias, Mama masuk ya! Mama kangen!”
Pintu terbuka tanpa menunggu jawaban.
Nyonya Alina Virel masuk dengan senyum lebar dan tupperware di tangan. Pakaiannya rapi, blazer krem dan rok plisket, rambutnya disanggul sempurna. Tapi senyumnya membeku saat melihat pemandangan di depan matanya.
Evelyn di lantai.
Matthias di kasur.
Selimut satu.
Suasana canggung tingkat dewa.
“Oh.”
Satu kata itu cukup untuk membuat telinga Evelyn panas sampai ke ujung rambut.
Nyonya Alina langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya berbinar seperti baru dapat hadiah ulang tahun.
“AKU TIDAK MELIHAT APA-APA! LANJUTKAN SAYANG!”
Dan pintu langsung ditutup lagi dengan bunyi _bam_ yang memekakkan. Langkah kakinya menjauh tergesa-gesa, tapi Evelyn bisa dengar dia ketawa kecil di luar.
Hening 3 detik.
Lalu Evelyn melempar bantal ke arah Matthias dengan tenaga penuh.
“KAN BILANG JANGAN MASUKIN GUE KE SINI!”
Matthias menangkis bantal itu dengan satu tangan, wajahnya tetap datar.
“Kamu yang maksa masuk.”
“Aku maksa karena AC mati! Bukan karena mau skandal!”
Evelyn berdiri, selimut masih melilit badannya seperti toga darurat.
“Gimana gue jelasin ini ke Mama lo?!”
“Jangan jelasin apa-apa. Mama sudah paham sendiri,” jawab Matthias tenang, seolah ini hal biasa.
Di luar pintu terdengar suara Nyonya Alina berbisik ke kepala pelayan:
“Dengar itu? Mereka berantem! Romantis sekali!”
Evelyn menutup wajah dengan kedua tangan.
“Gue malu, Matthias. Gue malu banget. Ini lebih parah dari ketahuan nggak bayar utang.”
Matthias menghela napas panjang, lalu turun dari kasur. Ia mengambil jaket jasnya yang tergantung di kursi dan melemparkannya ke Evelyn.
“Pakai itu. Turun ke bawah. Sarapan.”
“Lo mau gue ketemu Mama lo pakai muka kayak abis begadang nggak jelas gini?”
Evelyn menunjuk wajahnya sendiri yang kusut dan rambutnya yang berantakan.
“Iya,” jawab Matthias singkat. Tanpa ampun.
“Kalau kamu nggak turun sekarang, Mama akan naik lagi. Dan kali ini dia bawa kamera.”
Evelyn mengumpat pelan. Dengan enggan ia memakai jaket itu. Kebesaran, tapi setidaknya menutupi kaos lusuhnya.
---
Lima menit kemudian, Evelyn duduk di meja makan panjang yang bisa muat 12 orang.
Sendirian.
Nyonya Alina duduk di seberangnya, senyumnya nggak lepas sama sekali. Di tangannya ada tupperware bubur ayam yang uapnya masih mengepul.
“Jadi... malamnya gimana? Nyaman?” tanya Nyonya Alina
dengan nada polos yang jelas-jelas pura-pura. Matanya berbinar penuh penasaran.
Evelyn hampir tersedak teh.
“Bu... itu salah paham—”
“Oh iya, salah paham. Mama ngerti. Anak muda zaman sekarang kan suka ‘salah paham’,” kata Nyonya Alina sambil mengedip nakal.
“Waktu Papa kamu dulu juga gitu. Bilangnya lembur, taunya ketiduran di sofa ruang tamu.”
Evelyn menoleh ke arah pintu.
Matthias baru turun, rambutnya sudah rapi, jas hitamnya sempurna. Wajahnya tetap dingin seperti biasa, tapi langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Mama, stop,” kata Matthias datar begitu duduk di sebelah Evelyn.
Suara itu tegas, tapi tidak marah. Hanya peringatan.
“Oh, membela istri ya sekarang?” Nyonya Alina tertawa kecil, senang sekali.
“Bagus. Bagus sekali. Mama senang lihat kalian akur.”
Evelyn menatap Matthias diam-diam dari sudut mata.
Dia nggak membantah.
Dia nggak menjelaskan.
Dia cuma menuang bubur untuk Evelyn dan meletakkannya di depan dia dengan hati-hati.
“Dimakan. Nanti pusing,” katanya pelan.
Nyonya Alina berseru pelan, hampir berbisik tapi cukup keras untuk didengar semua orang:
“Lihat itu! Perhatian sekali! Anak mama memang paling romantis!”
Evelyn menatap semangkuk bubur itu, lalu menatap Matthias.
Untuk pertama kalinya, ia nggak tahu apakah harus marah atau... tersenyum.
Hangatnya bubur ayam itu anehnya mengusir dingin di dadanya.
Bukan karena buburnya enak.
Tapi karena cara Matthias melakukannya—tanpa diminta, tanpa drama, seperti hal yang paling wajar di dunia.
“Habiskan,” kata Matthias pelan.
“Kalau nggak, Mama akan paksa kamu nambah dua mangkuk.”
Evelyn mendengus kecil. “Ngancam ya?”
“Tidak. Itu fakta.”
Nyonya Alina tertawa pelan di seberang meja, matanya berkaca-kaca.
“Lihat anak-anakku. Akur sekali.”
Evelyn menunduk, pura-pura fokus makan. Tapi di dalam hati, ada sesuatu yang aneh.
Sesuatu yang rasanya... tidak seperti kontrak.
---
Di ujung meja, kontrak 90 hari itu terasa makin kabur.
Karena di mata Nyonya Alina, ini bukan kontrak lagi.
Ini awal dari cucu.
Dan di kepala Evelyn, ada satu pertanyaan yang mulai mengganggu:
_Kalau ini cuma pura-pura... kenapa rasanya jadi nyata?_
---
*[Bersambung – ]*
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!