"Gila ya netizen! Muka bokap gue seganteng ini dibilang om-om girang?!"
Sienna Rose menghempaskan ponselnya ke atas sofa marmer kantor manajemen. Napasnya memburu. Gaun merah rancangan desainer Paris yang melekat di tubuh indahnya sampai ikut naik turun menahan emosi.
"Sienna, tenang dulu. Duduk," sahut Maya, manajer Sienna, yang sibuk memijat pelipisnya di depan laptop.
"Tenang gimana, Mbak?! Lihat nih!" Sienna menyambar kembali ponselnya, membacakan komentar dengan suara melengking. "'Oh, jadi ini rahasia body goals Sienna Rose, dapat asupan dana segar dari sugar daddy kearifan lokal.' Kurang ajar banget nggak sih?! Itu bokap gue! Vincent DuBois! Bukan om-om yang bisa mereka sewa pake duit!"
"Iya, gue tahu. Tapi masalahnya, identitas bokap lo itu nggak bisa dibongkar, Sienna. Lo mau besok kepala kita semua hilang karena musuh mafia bokap lo tahu dia punya anak supermodel di Indonesia?"
Sienna bungkam. Dia menghentakkan kakinya kesal. "Ya tapi nggak gini juga! Kontrak kosmetik global gue terancam batal gara-gara gosip simpanan ini!"
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi masuk dengan wajah tegang. Itu Bram, pemilik agensi yang menaungi Sienna.
"Bram? Gimana? Ada solusi?" tanya Maya cepat.
Bram menghela napas berat, lalu melemparkan sebuah map dokumen ke atas meja. "Ada satu cara. Gila, tapi ini satu-satunya jalan buat menyelamatkan saham agensi dan nama baik Sienna dalam waktu tiga bulan."
Sienna menyipitkan matanya curiga. "Cara apa?"
"Gue udah nego sama agensi sebelah. Kita bakal bikin proyek settingan. Lo bakal masuk ke acara reality show 'We Got Married'."
Sienna langsung melotot. "Pernikahan palsu? Di depan kamera? Sama siapa? Ogah ya, kalau sama model-model baru yang mau pansos!"
"Bukan model baru," potong Bram tegas. "Sama Declan Bryer."
Ruangan itu mendadak hening. Sienna membeku. Telinganya seperti salah mendengar nama.
"Siapa? Declan? Declan Bryer yang mukanya sok ganteng dan baru pulang dari Italia itu?"
"Iya. Dia juga lagi kena skandal diduga gay gara-gara foto pelukan sama model pria di Milan kemarin. Agensinya juga lagi pusing. Jadi, kita sepakat buat nikahin kalian di layar kaca. Netizen bakal lupa sama isu sugar daddy lo, dan fans Declan bakal percaya kalau dia masih doyan perempuan." Bram menjelaskan panjang lebar tanpa jeda.
Sienna langsung berdiri, memukul meja. "Nggak! Nggak mau! Nyari mati apa?! Dari jutaan cowok di dunia ini, kenapa harus si kutub utara itu?!"
"Sienna, ini demi karier lo—"
"Mbak Maya, lo nggak tahu aja! Dia itu musuh bebuyutan gue dari zaman main tanah! Gue mending pensiun jadi model daripada harus akting jadi istri dia!"
Tepat setelah Sienna menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan kembali terbuka.
Seorang pria tinggi dengan jaket kulit hitam dan kacamata gelap melangkah masuk. Dia melepas kacamatanya, menampilkan sepasang mata tajam yang menatap Sienna dengan tatapan meremehkan.
"Sama. Gue juga mendadak mual begitu tahu harus akting mesra sama cegil kayak lo," ucap Declan dingin. Suaranya berat, ketus, dan langsung membuat darah Sienna mendidih.
"Lo ngomong apa tadi? Cegil?!" Sienna langsung maju selangkah, menunjuk wajah Declan tepat di depan hidungnya.
Declan bahkan tidak berkedip. Dia menepis jari Sienna dengan santai. "Kenapa? kesindir lo? Lagian, selera lo rendah banget ya sekarang. Dari zaman SMA ketipu taruhan cowok, sekarang malah kena gosip sama om-om. Benar-benar nggak berkembang."
"Heh! Mulut lo dijaga ya! Itu bukan—"
"Sienna! Declan! Cukup!" bentak Bram, membuat kedua megabintang itu menoleh serempak dengan wajah masam.
Manajer Declan, seorang pria berkacamata bernama Rian, ikut menengahi. "Kalian berdua ini udah dewasa, posisinya lagi di ujung tanduk. Declan, saham agensi kita turun lima persen sejak foto lo di Milan kesebar. Sienna, tiga brand besar udah siapin surat penalti. Mau egois terus?"
Declan mendengus, melipat kedua tangannya di dada. Dia melirik Sienna dari atas ke bawah. "Gue terpaksa. Kalau bukan karena bokap gue di Italia ngancem bakal motong aliran dana investasi agensi, gue nggak bakal sudi berdiri di ruangan yang sama kayak cewek ini."
"Pikir lo gue sudi?!" semprot Sienna. "Gue juga kepaksa ya! Jangan kegeeran!"
Bram menggeser dua lembar kontrak di atas meja. "Kamera bakal mulai rolling besok pagi. Konsepnya live broadcast untuk episode pertama pas kalian ketemu di rumah baru. Di depan kamera, kalian harus kelihatan kayak pasangan yang udah lama pacaran diam-diam tapi terpaksa go public karena skandal ini. Paham?"
Sienna dan Declan saling melempar pandangan tajam. Kalau pandangan mata bisa membunuh, ruang rapat itu sudah dipenuhi darah.
"Ada aturan tambahan," ucap Declan tiba-tiba sambil menyambar pulpen. "Di luar jangkauan kamera, jangan pernah sentuh gue. Jangan campurin urusan pribadi gue. Dan yang paling penting... jangan berisik."
Sienna tertawa sinis, merebut pulpen dari tangan Declan kasar. "Lo pikir lo siapa? Pangeran Inggris? Tenang aja, Declan Bryer. Gue juga ogah nyentuh cowok sekaku kanebo kering kayak lo. Begitu kamera mati, lo itu cuma angin lalu buat gue!"
Sienna langsung menandatangani kontrak itu dengan coretan besar yang agresif. Declan menyusul di bawahnya dengan tanda tangan yang tajam dan tegas.
"Selesai. Besok jam tujuh pagi, tim produksi jemput kalian," kata Bram lega.
Keesokan paginya, di depan sebuah rumah mewah di kawasan Jakarta Selatan.
Tiga kamera besar sudah siap menyorot. Sutradara memberi aba-aba dengan jarinya. Three, two, one... Action!
Pintu mobil Alphard terbuka. Sienna turun dengan senyum paling manis yang pernah dia miliki. Wajah galaknya hilang total, digantikan binar mata penuh cinta yang tampak sangat meyakinkan.
Declan sudah berdiri di dekat pintu pagar, mengenakan kemeja kasual yang sengaja dibuka dua kancing teratasnya. Saat melihat Sienna berjalan mendekat dengan koper, Declan langsung melangkah maju.
Di depan kamera yang menyala, Declan mengambil alih koper Sienna, lalu mengacak rambut Sienna dengan sangat lembut.
"Kamu telat sepuluh menit, Sayang," bisik Declan dengan suara yang begitu seksi, membuat kru di belakang kamera langsung menahan jeritan baper.
Sienna mengerucutkan bibirnya manja, memeluk lengan Declan erat-erat. "Maaf ya, macet banget tadi. Kamu udah nunggu lama?"
Namun, begitu tubuh mereka merapat dan wajah mereka saling berdekatan di bawah sudut yang tidak tertangkap mikrofon dengan jelas, Sienna berbisik lewat sela-sela senyum paksa pribadinya.
"Awas lo ya, sengaja banget ngacak-ngacak rambut gue. Ini hairstyle mahal, babi!" bisik Sienna penuh dendam.
Declan tetap tersenyum tampan ke arah kamera sambil membalas berbisik di telinga Sienna, "Akting lo murahan banget. Kurangin manjanya, geli gue dengernya."
Selamat datang di pernikahan palsu paling penuh dendam abad ini.
"Cut! Oke, bagus banget! Interaksi awal kalian dapet banget gregetnya!" teriak sutradara dari balik monitor.
Begitu kata cut menggema, senyum manis di wajah Sienna langsung lenyap. Dia menyentak lengannya yang sejak tadi memeluk mesra tangan Declan, lalu mundur tiga langkah seolah pria itu adalah tumpukan sampah yang mengeluarkan bau busuk.
"Maju lo sini, kanebo kering!" desis Sienna, merapikan tatanan rambutnya yang agak berantakan gara-gara ulah Declan tadi. "Maksud lo apa tadi ngacak-ngacak rambut gue? Cari mati?!"
Declan mengabaikan omelan Sienna. Dia mengangkat kopernya sendiri dan koper Sienna dengan santai, lalu berjalan mendahului menuju pintu utama rumah mewah bergaya modern minimalis itu.
"Gue cuma akting, Cegil. Biar natural. Lo aja yang baperan," sahut Declan tanpa menoleh.
"Baper dari mana?! Rambut gue ini disalon tiga jam ya, babi! Sengaja banget lo nyari gara-gara!" Sienna menghentakkan kakinya, berjalan cepat menyusul Declan ke dalam rumah.
Rumah itu luas, berlantai dua, dan dipenuhi oleh kamera tersembunyi di setiap sudutnya. Menurut kru, ada sekitar dua puluh kamera yang menyala 24 jam untuk menangkap momen "kehidupan domestik" mereka, kecuali di dalam kamar mandi dan area pribadi tertentu.
Sienna melirik ke sekeliling ruang tamu yang mewah, lalu matanya tertuju pada tangga. "Kamar gue di mana? Gue mau tidur. Pusing gue lihat muka lo lama-lama."
"Kamar kita," potong Declan dingin sambil meletakkan koper di ruang tengah.
Sienna membeku. "Hah? Lo ngomong apa tadi? Coba ulang?"
Declan berbalik, menatap Sienna dengan tatapan datar andalannya. "Kamar kita. Cuma ada satu kamar utama di rumah ini yang dipasangin kamera untuk pasutri. Lo pikir ini acara reality show beda rumah?"
"Nggak! Nggak bisa!" Sienna langsung panik, wajahnya memerah menahan kesal. "Gue nggak mau sekamar sama lo! Siapa yang tahu lo tiba-tiba khilaf terus macem-macem sama gue?!"
Declan tertawa sinis. Dia melangkah mendekati Sienna, membuat Sienna refleks mundur sampai punggungnya membentur dinding. Declan menumpu satu tangannya di tembok sebelah kepala Sienna, mengurung cewek itu dalam jarak yang sangat dekat. Aroma parfum maskulin Declan yang mahal langsung menusuk indra penciuman Sienna.
"Macem-macem sama lo?" Declan menunduk sedikit, berbisik tepat di depan wajah Sienna. "Sienna Rose, denger ya. Selera gue nggak seburuk itu sampai harus napsu sama cewek galak, ceroboh, dan nggak punya otak kayak lo. Jadi, turunin tingkat kegeeran lo yang setinggi langit itu."
Sienna menggertakkan giginya. Tangannya sudah gatal ingin menampar wajah tampan yang sok suci di depannya ini. "Terus kenapa lo mau sekamar sama gue?!"
"Karena itu perintah kontrak. Tapi tenang aja," Declan menegakkan kembali tubuhnya, menjauhkan diri dengan wajah tak acuh. "Gue bakal tidur di sofa panjang kamar. Ranjang king size itu jatah lo. Puas?"
Sienna mendengus, melipat tangannya di dada. "Baguslah kalau lo tahu diri. Pokoknya, bikin garis pembatas! Lo nggak boleh ngelewatin batas sofa kalau malam!"
"Pikir gue mau? Malah gue yang takut lo jalan sambil tidur terus tiba-tiba meluk gue," sindir Declan tajam sembari berjalan menaiki tangga menuju kamar utama.
"Declan Bryer! Sialan lo ya!" teriak Sienna dari lantai bawah, wajahnya sudah kepalang kesal.
Satu jam kemudian, kamera di ruang tengah kembali diaktifkan untuk sesi makan siang pertama mereka. Di depan kamera, mereka harus terlihat sedang memasak bersama.
Sienna berdiri di depan konter dapur dengan canggung. Jujur saja, memasak adalah kelemahan terbesarnya. Dia memegang pisau seperti orang yang ingin mengajak perang, bukan memotong sayur.
"Kamu mau aku potongin wortelnya seukuran apa, Sayang?" tanya Sienna dengan suara yang dibuat selembut sutra, menghadap ke arah kamera tersembunyi di sudut dapur.
Declan yang sedang memakai celemek hitam—yang sialnya membuat pria itu kelihatan sepuluh kali lipat lebih tampan—melirik Sienna dengan tatapan ngeri.
"Potong biasa aja, Sayang. Jangan tegang gitu pisaunya, aku takut jari kamu yang kepotong," balas Declan dengan senyum termanisnya, meski matanya mengisyaratkan hal lain: 'Lo kalau nggak bisa masak, mending diam.'
"Ih, kamu perhatian banget deh," ucap Sienna, berpura-pura manja sambil mulai memotong wortel dengan kasar. Tok! Tok! Tok! Suara pisau membentur talenan terdengar sangat agresif.
"Sienna," bisik Declan, bergeser mendekati Sienna agar suara aslinya tidak tertangkap mikrofon terlalu jelas. "Lo mau masak apa mau bunuh orang? Pelan-pelan."
"Berisik lo! Gue lagi fokus nih!" balas Sienna berbisik dengan gigi rapat, masih sambil tersenyum ke arah kamera luar.
Aww!
"Sienna!"
Detik berikutnya, pisau itu benar-benar meleset dan menggores jari telunjuk Sienna. Darah segar langsung keluar. Sienna meringis, refleks menjatuhkan pisaunya.
Tanpa diduga, Declan langsung menyambar tangan Sienna. Wajah ketusnya lenyap, berganti dengan raut wajah panik yang teramat nyata. Dia menarik jari Sienna ke bawah pancuran air mengalir untuk membersihkan darahnya, lalu menghisap jari Sienna sekilas demi menghentikan pendarahan sebelum berteriak ke arah kru.
"Tim medis! Ambilin kotak P3K sekarang!" teriak Declan tegas, suaranya menggema di seluruh ruangan.
Sienna terpaku. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Bukan karena luka di jarinya, tapi karena melihat bagaimana ekspresi Declan saat ini. Mata tajam pria itu memancarkan rasa khawatir yang luar biasa. Tatapan yang sama... seperti saat mereka masih duduk di bangku SMA dulu, sebelum segalanya hancur.
"Lo tuh bener-bener ya, cerobohnya nggak ilang-ilang dari kecil," omel Declan dengan suara rendah sambil menekan luka Sienna dengan tisu bersih. Kali ini, nadanya tidak ketus, melainkan penuh dengan kekhawatiran yang tertahan.
Sienna menelan ludah, buru-buru menarik tangannya dari genggaman Declan setelah kru medis datang membawa plester. "Gue... gue nggak apa-apa. Cuma luka kecil."
"Nggak apa-apa matamu. Kalau sampai infeksi dan syuting ketunda, reputasi kita berdua yang jadi taruhan," sahut Declan, kembali ke mode ketus dan dinginnya dalam sekejap begitu menyadari beberapa kamera masih menyorot mereka dengan tajam.
Sienna mencibir dalam hati. Dasar cowok labil! Tadi panik kayak orang mau mati, sekarang malah galak lagi!
Malam harinya, setelah makan malam delivery yang canggung (karena insiden potong jari), mereka akhirnya berada di dalam kamar utama. Kamera di dalam kamar diatur dalam mode night vision untuk menangkap momen tidur mereka.
Sienna sudah berganti pakaian menggunakan piyama satin pink, sementara Declan hanya memakai celana training abu-abu dan kaos oblong putih tipis.
Declan melempar sebuah bantal dan selimut tebal ke atas sofa panjang di sudut kamar. Dia merebahkan tubuh tingginya di sana dengan posisi kaki yang agak menekuk karena sofa yang kurang panjang.
Sienna yang sudah nyaman di atas kasur king size menatapnya bersalah, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya.
"Hei, kanebo," panggil Sienna lirih.
"Apa?" sahut Declan, menutup matanya dengan salah satu lengan.
"Hm... makasih soal yang di dapur tadi," ucap Sienna, suaranya pelan hampir tak terdengar.
Declan membuka matanya, menoleh ke arah kasur. Dalam kegelapan kamar yang hanya disinari lampu tidur remang-remang, dia menatap Sienna lekat-lekat.
"Nggak usah makasih. Gue cuma nggak mau disalahin netizen kalau lo kenapa-napa selama acara ini," balas Declan dingin. Dia kemudian berbalik memunggungi Sienna. "Tidur. Besok jam enam pagi kita udah harus syuting episode outdoor."
Sienna memutar bola matanya kesal, lalu menarik selimutnya sampai ke dada. "Dasar cowok kaku. Untung ganteng, kalau nggak udah gue racun lo dari tadi!" gumam Sienna pelan sebelum akhirnya memejamkan mata.
Di sudut kamar, dalam posisinya yang memunggungi kasur, Declan perlahan membuka matanya kembali. Dia menatap jemarinya yang tadi sempat menyentuh kulit Sienna.
Kenapa lo nggak pernah berubah, Sienna? Tetap bodoh, ceroboh, dan bikin gue nggak bisa berhenti buat jagain lo, batin Declan miris, teringat kembali luka lama di masa SMA yang masih membekas jelas di hatinya.
"Satu, dua, tiga... Live!"
Layar monitor di ruang kontrol tim produksi langsung dipenuhi oleh puluhan ribu komentar yang masuk dalam hitungan detik. Hari ini adalah hari kedua syuting We Got Married, dan konsepnya adalah live streaming pagi hari dari rumah baru mereka.
Sienna duduk di sofa ruang tengah, mengenakan oversized hoodie putih yang membuat tubuh mungilnya tenggelam. Wajahnya masih agak mengantuk, tapi matanya langsung membelalak saat Declan berjalan mendekat dari arah dapur.
Pria itu membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan sepiring roti bakar. Yang membuat Sienna cengo adalah, Declan meletakkan cangkir itu tepat di sebelah kirinya.
"Teh kamomil, gulanya cuma setengah sendok teh. Diminum, Sayang, biar nggak lemes," ucap Declan dengan nada suara berat khas orang baru bangun tidur. Wajahnya datar, tapi gerakannya sangat telaten.
Sienna berkedip beberapa kali, otaknya agak lambat memproses. "Lo... kamu kok tahu aku sukanya kamomil setengah sendok teh?" tanya Sienna keceplosan, wajahnya benar-benar bingung tanpa rekayasa.
Declan mendengus pelan, hampir tak terlihat oleh kamera. Dia duduk di sebelah Sienna, lalu menyentil dahi cewek itu gemas. "Kita udah kenal berapa tahun, hm? Masih aja nanya hal sepele kayak gitu. Makanya kalau tidur jangan kemaleman, jadi linglung kan."
Sienna spontan memegangi dahinya, bibirnya mengerucut sebal. "Sakit, Declan!" Omelan itu keluar begitu saja, ketus dan galak, persis seperti sifat aslinya kalau sedang kesal.
Namun, di kolom komentar live chat, reaksi netizen justru berbanding terbalik.
@chachaa_: WEIII LUNALICIOUS!! Declan tahu detail sekecil itu?! Ini mah fix udah pacaran lama banget sebelum skandal!
@rahasia_ilahi: Sienna mukanya cengo banget pas diperhatiin wkwkwk. Gemes bgt mukanya kayak minta ditampol tapi cantik.
@pencinta_kanebo: Gila ya si Declan mukanya cuek bebek tapi tangannya langsung ambilin teh. Cowok kaku kalau udah bucin emang beda!
@netizen_julid: Tapi kok Sienna manggilnya ketus banget ya? Real banget berantemnya kayak pasutri asli wkwk.
Sutradara di balik layar tersenyum lebar melihat grafik penonton yang naik tajam. "Bagus, pertahankan tektokan natural kayak gini!" bisiknya lewat earpiece Declan.
Sebelum Sienna sempat membalas sindiran Declan, pintu depan tiba-tiba diketuk dengan heboh. Suara tawa akrab terdengar dari luar.
"Halo! Pengantin baru! Ada orang di dalam?!"
Pintu terbuka, memunculkan pasangan legendaris dari WGM musim lalu yang akhirnya benar-benar menikah di dunia nyata: pasutri aktor-aktris papan atas, Kenzo dan Laura.
Sienna langsung berdiri, wajah cerobohnya mendadak berubah ceria penuh fansgirling. "Kak Laura! Kak Kenzo! Ya ampun, kok bisa ada di sini?!"
Laura langsung memeluk Sienna erat, lalu berbisik licik, "Kita diutus tim produksi buat menguji mental kalian. Siap-siap ya, Declan itu terkenal kaku banget di industri, gue mau lihat seberapa tahan lo ngadepin dia."
"Oh, sangat tidak tahan, Kak," jawab Sienna jujur setengah mati dengan senyum paksa yang lebar ke arah kamera.
Kenzo terkekeh, menjabat tangan Declan lalu menepuk bahunya. "Gimana, Dec? Seru kan rasanya serumah sama cewek galak? Gue udah ngerasain duluan nih."
Declan melirik Sienna yang sedang asyik mengobrol dengan Laura. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Merepotkan, Bang. Tapi kalau nggak ada dia, rumahnya sepi."
"Anjay! Mulutnya pinter banget ya sekarang!" seru Kenzo tertawa keras.
@bucin_wgm: HEBOH! Pasangan sesepuh datang bawa ujian!
@riri_anti_gimmick: Mata Declan pas mandang Sienna pas ngomong 'merepotkan' itu dalem banget woii. Nggak bisa dibilang akting ini mah!
Dua jam kemudian, syuting dipindahkan ke area outdoor di sebuah taman bermain yang sengaja disewa penuh oleh tim produksi. Cuaca Jakarta siang itu cukup terik, membuat dahi Sienna mulai dibanjiri keringat.
Sutradara mengumumkan tantangan hari ini lewat megafon. "Oke, tantangan kekompakan untuk menguji seberapa dalam kalian saling mengenal! Lomba estafet balon air. Pasangan harus menjepit balon air di antara dada mereka dan berjalan cepat sepanjang jalur tanpa memecahkannya. Pasangan yang paling lambat harus menerima hukuman bersihin dapur rumah WGM selama seminggu!"
Sienna langsung menoleh ke arah Declan dengan panik. "Hah? Menjepit di dada? Berarti kita harus..."
"Harus pelukan, Sienna. Jangan bego," potong Declan santai sambil menggulung lengan kemeja putihnya sampai ke siku.
"Gue nggak bego! Masalahnya... ah, sudahlah!" Sienna menghentakkan kakinya. Gengsinya menjerit, tapi bayangan harus mencuci piring dan membersihkan dapur yang luas itu sendirian membuat jiwa cegilnya bangkit. "Pokoknya kita harus menang! Gue ogah bersihin dapur!"
"Makanya jangan ceroboh. Ikutin langkah gue nanti," jawab Declan tegas.
Lomba dimulai. Kenzo dan Laura maju duluan. Sebagai pasangan yang sudah menikah benaran, mereka bergerak sangat mulus dan cepat. Penonton di lokasi dan di live stream bersorak heboh.
"Sekarang giliran Declan dan Sienna! Tiga, dua, satu... Mulai!"
Sienna langsung menyambar balon air dari wadah, meletakkannya di dada Declan, lalu sedetik kemudian tubuh mereka berbenturan erat. Declan refleks melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggang Sienna untuk menahan keseimbangan, sementara tangan Sienna mencengkeram bahu tegap Declan.
Jarak mereka terkikis habis. Sienna bisa merasakan dada bidang Declan yang naik turun karena napas pria itu, serta detak jantung Declan yang... entah kenapa berdegup sangat kencang.
"Dec, jalannya gimana?!" tanya Sienna panik saat kaki mereka malah saling tersandung di langkah pertama.
"Diam dulu. Ikutin aba-aba gue. Kiri, kanan, kiri..." Declan berbisik di dekat telinga Sienna, suaranya rendah dan fokus.
Mereka mulai bergerak maju. Namun, karena Sienna terlalu bersemangat dan terburu-buru, kakinya tidak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri yang terlepas. Tubuh Sienna limbung ke depan, siap menghantam tanah bersama balon air yang dipegangnya.
"Sienna!"
Dalam sepersekian detik, sebelum tubuh Sienna menyentuh tanah, Declan memutar posisi tubuh mereka dengan sangat cepat. Pria itu menarik pinggang Sienna masuk ke dalam dekapannya, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai bantalan pelindung.
BYURRR!
Balon air itu pecah tepat di antara mereka, membasahi seluruh bagian depan baju Declan dan sebagian piyama luar Sienna. Mereka berdua berguling kecil di atas rumput taman dengan posisi Declan memeluk kepala Sienna agar tidak terbentur.
Suasana mendadak hening. Semua kru dan pasangan Kenzo-Laura menahan napas.
Sienna membuka matanya yang sempat terpejam erat. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Declan yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Declan sedang meringis menahan perih karena sikutnya menghantam tanah cukup keras demi melindunginya.
"Lo... lo nggak apa-apa?" tanya Sienna gagap, wajahnya memerah sempurna. Dia benar-benar cengo. Sifat protektif Declan yang satu ini sama sekali tidak ada di dalam skenario manajemen.
Declan membuka matanya, menatap Sienna dengan tatapan galak yang campur aduk dengan rasa khawatir. "Lo tuh bisa nggak sih sehari aja nggak nyari mati? Kalau tadi kepala lo yang kena batu gimana, hah?!" bentak Declan ketus, suaranya agak bergetar.
Sienna terdiam, matanya berkaca-kaca karena kaget dibentak, tapi juga karena ada rasa hangat yang aneh menjalar di dadanya. Pria ini... benar-benar masih menganggap dirinya sebagai teritorinya, sama seperti dulu.
Sementara itu, di layar monitor tim produksi, grafik rating langsung menembus angka tertinggi sepanjang sejarah penayangan acara tersebut. Komentar netizen meledak total, server aplikasi bahkan sempat lag selama beberapa detik.
@istri_sah_declan: DEMI APA DECLAN LANGSUNG PASANG BADAN?! ITU REFLEKS BANGET WOII BUKAN SETTINGAN!!
@sienna_slay: Lihat muka Declan pas panik, ya ampun dia tulus banget takut Sienna luka. Fix ini mah cuek tapi cinta mampus!
@wgm_lovers_id: Muka Sienna yang cengo pas dipeluk itu real banget kagetnya wkwkwk. Tolong ini kapal kita berlayar ugal-ugalan!
@pakar_ekspresi: Tatapan mereka berdua pas di tanah itu dalem banget. Ada sejarah di antara mereka, fix bukan hubungan baru setahun dua tahun.
Kenzo langsung berlari mendekat, membantu Declan berdiri. "Gila, Dec! Totalitas banget lo ya! Tapi aseli, protektif lo keren parah!"
Declan berdiri sambil membersihkan rumput di bajunya yang basah kuyup, lalu mengulurkan tangannya pada Sienna yang masih duduk di tanah dengan wajah linglung.
"Bangun, Cegil. Malu dilihatin orang," ucap Declan, kembali ke mode ketus andalannya, meski telinganya terlihat memerah menahan malu.
Sienna menerima uluran tangan itu, merasakan kehangatan yang sudah sangat lama tidak dia rasakan. Sandiwara ini baru dimulai, tapi kenapa hatinya sudah mulai goyah?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!